
Olavia
Aku jadi ikut-ikutan tidak tidur semalaman. Oleander akhirnya demam. Suhu tubuhnya tinggi sekali ketika aku cek pada pukul tiga dini hari. Tiga puluh sembilan koma lima derajat Celcius.
Oh, my God.
Karena tidak ingin meninggalkan Oleander sendirian, aku segera menelepon Mama yang sedang terlelap di kamar utama di bagian sayap barat rumah ini. Tak berapa lama kemudian orang tua perempuanku itu muncul di depan kamar. Di tangan Mama sudah ada kompres demam anak sekali pakai yang selalu kami sediakan di dalam kulkas untuk keadaan seperti ini.
"Jadinya demam, ya?" tanya Mama yang duduk di tepi tempat tidur.
Aku hanya mengangguk.
"Ada apa, sih, Sweetie? Kamu dan Ole, kok, dari kemarin kelihatannya gak tenang gitu. Gelisah terus." Wanita yang telah melahirkan aku itu melanjutkan. Diusap-usapnya punggung tanganku yang sedang dalam genggamannya dengan lembut.
"Aku gak gelisah, kok, Ma. Oleander aja yang enggak tenang. Gak tahu kenapa."
Mama tersenyum, akan tetapi kepalanya menggeleng. "Sweetie, hati anak itu tersambung langsung dengan hati ibunya. Apalagi kalau dia masih sekecil ini. Dia masih peka sekali sama perasaan kamu. Jadi, ya, kalau hati kamu gak nyaman sedikiit saja, dia pasti merasakan. Dia juga jadi tidak tenang dan gelisah akhirnya."
"Iya, ya, Ma?" Aku bertanya dengan ragu-ragu.
"Hm-mm," gumam Mama mengkonfirmasi.
Aku hanya bisa mengembuskan napas panjang.
"Kenapa, sih, Sweetie? Apa yang sudah terjadi? Apa kamu dan Angga sedang ada masalah?"
"Enggak tahu, Ma," jawabku dengan segera. "Aku gak tahu kenapa, tapi rasanya ada yang aneh aja. Padahal kami gak berantem, kok. Mama lihat sendiri gimana Angga. Dia gak permlnah mempermasalahkan apa pun tindakan kekanak-kanakan aku. Dia selalu dukung aku. Apa akunya aja yang berlebihan kali, ya, Ma? Karena ini pertama kalinya Angga ke luar kota setelah kami tunangan, makanya aku jadi parno sendiri."
Mama memberiku senyuman penuh pengertian dan kelembutan khas seorang ibu. "Mungkin aja begitu. Kamu percaya Angga, kan?"
Untuk yang satu itu tidak perlu diragukan lagi. Dengan cepat aku mengangguk pasti. "Hu-uh," jawabku.
Di kalakian Mama bangkit dan merapihkan selimut yang menutupi tubuhku dan Oleander. "Ya, sudah. Apa yang perlu dicemaskan lagi kalau begitu? Sekarang kamu istirahat juga, ya. Nanti Ole tambah kaaihan kalau kamunya ikut-ikutan jatuh sakit."
****
Angga
Begadang semalaman tidak membuat gue menjadi tidak bersalah. Meratap sepanjang waktu tidak akan membuat apa yang sudah terjadi, berubah. Menghindari panggilan dari wanita yang paling gue cintai di dunia ini tidak akan bisa membikin perasaan gue menjadi lebih baik.
Oleh karena itu, gue memutuskan untuk berhenti mengerjakan semua hal sia-sia tersebut.
__ADS_1
Sudah cukup acara bertangis-tangisan dan menyesal yang gue lakukan seharian kemarin dan semalaman ini. Audah saatnya gue menjadi seorang laki-laki dan mengakui apa yang telah gue perbuat.
Namun, tetap saja. Itu semua terlihat lebih mudah dilakukan saat bentuknya hanya kata-kata.
Namun, mau bagaimana lagi? Gue tidak bisa terus-terusan bersembunyi di sini. Cepat atau lambat gue pasti harus tetap melakukannya.
Baiklah.
Dimulai dengan hal yang paling mudah dulu. Memberikan kabar kepada calon istri gue.
Shxt. Gue akan menikmati panggulan itu sebelum Olavia mencabut hak gue untuk memanggilnya dengan sebutan tersebut.
Angga : hi, babe
Angga : sorry aku baru lihat hp
Angga : yesterday was hectic af
Angga : ini aku baru mau istirahat dulu
Angga : tiket aku reschedule
Angga : ke penerbangan sore
Angga : give a kiss from me to Ole ya
Angga : love you
Angga : so much
Setelah menonaktifkan ponsel dna meletakkannya di atas nakas, gue bergerak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Setelah menggosok badan gue dengan bersih sebersih-bersihnya (shxt, luka yang masih dibalut itu terasa sangat perih ketika terkena air hangat dari pipa shower), gue berhenti di depan wastafel untuk menggosok gigi. Ketika gue menengok ke tempat di mana cermin tadi tergantung, hati gue mencelus. Gye ingat kesalahan gue lagi.
Fxcking hell. Gue tidak tahu bahwa suatu saat gue akan merasakan kesedihan seperti yang pernah gue alami, bahkan rasanya sekarang jauh lebih sakit.
Banum, gue pantas menerima rasa sakit ini. Baik yang gye rasakan di dalam, maupun yang berasal dari luka gue yang basah.
Setelah menggisok gigi, gue buka perban lembap itu dan gue buang ke tempat sampah yang ada di bawah wastafel. Gue perhatikan luka-luka yang menganga dan terlihat lunak itu.
Fxck. Jelek banget.
Kayak kelakuan gue.
__ADS_1
Holy fxcking shxt. Meski sudah bertekad untuk menerima kesalahan gue dan akan langsung mengakuinya pada Olavia ketika kami nanti bertemu, tidak membuat perasaan bersalah dan setan yang ada di dalam otak gue merasa puas. Mereka terus saja menyiksa gue dengan pikiran-pikiran beracun seperti ini.
Let's try to turn it off.
Benar. Sudah saatnya gue tidur dan menghentikan kerja otak gue yang jelas sudah overdrive.
****
Olavia
Semua terasa lebih baik setelah aku membaca pesan-pesan dari Angga saat aku bangun tidur. Mama benar. Angga hanya sedang sibuk. Dia baik-baik saja di sana. Aku saja yang berpikir secara berlebihan di sini.
Pun panas badan Oleander sudah turun ketika dia bangun tidur di sekitar pukul sembilan pagi. Setelah memastikannya dengan termometer, thank God suhu tubuhnya sudah mendekati normal.
"Bental lagi Papa pulang, ya, Ma?" Oleander berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama sepanjang hari. Ketika aku mengiyakan, dia akan mengajukan pertanyaan lanjutan. "Belapa jam lagi, Ma?"
Delapan jam.
Enam jam.
Lima jam.
Tiga setengah jam.
Semakin kecil hitungan jam yang tersisa, semakin riang anakku itu.
Oh, my God. Kenyataan ini tidak pelak membuat aku sedikit banyaknya terharu. Bagaimana tidak? Pilihanku dengan membiarkan Angga menjadi bagian dari keluarga kecil kami telah memberikan kebahagiaan sendiri pada bocah itu. Kehadiran Angga tidak membuatnya kehilangan momen-momen yang seharusnya dia lalui bersama sosok seorang ayah.
Jika ada satu hal di dunia ini yang aku lakukan dengan benar, aku rasa ... aku rasa aku benar soal ini.
Pada pukul setengah tujuh malam, seseorang memencet bel ketika kami sedang bermain bersama di ruang tengah. Papa dan Mama sedang duduk di atas sofa, sementara Oleander mengitari mereka dengan sepeda roda tiganya. Aku tengah melipat pakaian Oleander yang telah selesai dicuci oleh Bi Jumi.
Oleander segera saja meninggalkan sepedanya dan berjongkok di belakang kursi. Dia menyentuh bibirnya dengan telunjuk, memberikan tanda pada kami agar tetap diam. "Lele mau cembuni, Ma. Ssst. Sst."
Kami mengikuti permainannya dengan memberikan isyarat yang sama. "Oke, oke." Aku berbisik.
Tak lama kemudian, langkah-langkah kaki terdengar mendekat.
"Tuan, Nyonya. Ada tamu."
Di belakang tubuh Bi Jumi berdiri seseorang yang berbeda sama sekali.
__ADS_1
Oh, my God.
Bersambung ....