
Angga
Gue sedang mengebut di jalan tol Jagorawi ketika speaker mobil mengumumkan adanya panggilan masuk ke ponsel gue yang tersambung dengan bluetooth. Gue segera menerima telepon tersebut.
"Halo?"
"Angga."
Gue akui agak mengagetkan mendengar suara Om Arif di seberang sana. Karena sedang fokus menyetir, jadi gue tidak sempat mengecek siapa yang menelepon sebelum mengangkatnya. "Eh, iya, Om."
"Kamu sekarang ada di mana?"
It's nice to know that your future father in law care about your whereabout, right? But, it also brings out some unnerving feeling with it. Gue berada di tengah-tengah perasaan senang dan tegang. Namun, semakin dipikirkan, semakin perasaan ini dibuat berat ke arah tegang.
Kenapa Om Arif nelepon gue? Ada apa? Apakah ada yang terjadi pada Olavia dan Ole?
Fxck. Fxck. Fxck. No. Jangan sampai itu terjadi!
"Saya lagi di tol, Om. Sebentar lagi mau keluar. Setengah jam-an lagi lah, Om." Gue menjawab.
"Oh, oke. Oke." Om Arif kemudian terdiam sejenak. "Kamu langsung ke sini, kan?"
Pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan. Jelas gue akan langsung menemui wanita gue terlebih dahulu, tidak peduli apa pun yang menghadang. Apalagi di saat seperti saat ini. Gue perlu bertemu dengan Olavia secepat yang gue bisa. "Iya, Om. Of course."
"Good, good." Gue bisa membayangkan anggukan penuh perhitungan yang dilakukan Om Arif saat mengucapkan kata-kata itu. Gue yakin kepalanya akan bergerak ke atas dan ke bawah dengan perlahan, ekspresinya serius. "Kalau begitu Om tunggu di rumah, ya."
God damn it. Kalimat itulah yang akhirnya membuat diri gue semakin was-was. Kalau awalnya telepon Om Arif ini hanya membikin gue bimbang, apa yang dia katakan berhasil menyebabkan bulu kuduk gue berdiri. "Kalau Angga boleh tahu, ada apa, Om?"
"Ah, enggak apa-apa, Ngga. Om cuma mau ngecek aja."
__ADS_1
Cuma mau ngecek aja dari Om Arif yang jujur saja baru pertama kali terjadi. Om Arif tidak pernah sekali pun menelepon gue hanya untuk mengecek keberadaan gue. Tidak pernah. Baru kali ini.
"Ada apa, Om?"
"Kalau begitu–"
Kami mengucapkan itu berbarengan. Di saat gue dia dengan maksud memberikan kesempatan kepada Om Arif untuk menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu, calon mertua laki-laki gue itu malah menggunakan kesempatan itu untuk berpamitan. "Kalau begitu, hati-hati nyetirnya, ya, Ngga. Kami tunggu di rumah."
Klik. Sambungan terputus.
What in the actual hell is going on? Tidak cukup perasaan di dalam diri gue saja yang memporak-porandakan hati dan kepala, kehidupan merasa mereka dapat mengirimkan Om Arif sebagai agen untuk semakin mengacaukan gue dari luar.
Fxcking hell! To hell dengan slogan yang menganjurkan pengendara untuk menyetir dengan hati-hati dan dalam kecepatan yang normal. Gue sedang tidak butuh dengan kenormalan sekarang. Normal wouldn't work for me at this very time space. Gue harus berada di sana secepatnya.
Dengan begitu gue tekan pedal gas lebih dalam lagi.
****
Gue segera berlari untuk masuk ke dalam rumah. Langkah gue yang berserakan sekonyong-konyongnya terhenti ketika gue melewati ruang tamu.
Oh, my fxcking God. No.
No, no, no, no.
Gue salah lihat. Gue tidak sedang melihat Owen duduk di kursi sebelah kiri Om Arif. Gue tidak sedang melihat kedua orang itu menatap ke arah gue. Owen menoleh dengan sebelah alis terangkat tinggi di dahi dan salah satu sudut bibirnya juga terangkat. Kalau gue tidak tahu apa yang dia kerjakan dengan lebih baik, gue yakin gue akan menganggap dia sedang terkena serangan stroke ringan pada bagian tubuhnya yang sebelah kanan. Sementara Owen mati-matian mengejek gue, wajah Om Arif terlihat penuh dengan guratan yang tidak bisa gue artikan sekaligus. Gue sepertinya harus memilah satu per satu agar mampu memahaminya dengan lebih baik lagi. But, one thing for sure ....
Oh, for the love of all things holy. Apakah Owen sudah bertemu dengan Olavia? Dan Ole?
Ole! OLEANDER?!
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang lagi gue segera melesat meninggalkan kedua orang laki-laki itu. Gue tidak bisa memedulikan soal mereka. Yang ada si dalam kepala gue sekarang adalah menemui tunangan gue.
Fxck. Fxck. Fxck. Fxck. Fxck. I fxcking fxcked up. Apa yang sudah gue pikirkan, ha? Agaknya gue tidak berpikir apa-apa karena gue tidak menduga akhirnya akan jadi seperti ini.
Dasar Angga tolol!
Gue menaiki dua anak tangga sekaligus untuk bisa sampai di kamar Olavia dengan cepat. Karena gue tidak melihat dia dan Ole di luar, jadi asumsi terkuat gue mereka sedang berada di dalam sana.
Terlebih lagi jikalau mereka sudah bertemu dengan Owen.
Fxxxxxck. Gue tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Olavia sekarang. Bagaimana perasaan dia bertemu dengan Owen setelah sekian lama berlalu. Bagaimana perasaan dia ketika dia melihat Owen yang melihat versi mini dari dirinya dengan mata dan kepalanya sendiri.
Ini semua salah lo, Angga!
Aargh! Sialan!
Gue lantas memutar kenop pintu saat sampai di depan kamar Olavia. Ternyata pintunya dikunci dari dalam.
Fxck.
Tangan gue otomatis terangkat untuk mengetuk pintu itu. "Sayang." Tok, tok, tok. "Olavia, ini aku." Tok, tok, tok. "Buka pintunya, Yang."
Seketika saja daun pintu itu berayun secepat kilat dan Olavia langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan gue. Tindakan yang juga tidak gue sangka-sangka itu menghantam tubuh gue dan membuat gue terhuyung sedikit. Namun, gue bisa dengan lekas mengembalikan pijakan dan berdiri dengan lebih tegap lagi.
Gue balas pelukan wanita yang paling gue cintai di dunia ini itu sama eratnya kalaupun tak lebih erat dari yang dia lakukan.
Olavia kemudian melepaskan pagutannya dan mulai berbicara dengan terburu-buru. "Ngga, ada Owen di bawah, Ngga! Ada Owen di bawah! Tadi kami lagi main-main di ruang tengah sambil nungguin kamu dan tiba-tiba aja dia ada di belakang Bi Jumi. Ada Owen, Ngga! Ada Owen di bawah! Owen, Ngga, Owen. Ada Owen. Aku takut. Ada Owen, Ngga. Aku takut."
Hati gue retak melihat dia seperti ini. Gue baru sadar tubuhnya gemetaran. Gue masukkan lagi dia ke dalam pelukan gue. Gue peluk lagi dia dengan lebih erat, berharap kehadiran gue bisa meredakan rasa takutnya sebelum perasaan yang lain mengambil alih setelah dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang membuat Owen sampai di rumah ini.
__ADS_1
Bersambung ....