Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
44. Nano-Nano


__ADS_3

Angga


Om Arif menolak tawaran gue untuk menjadi sopir pribadi si Owen Bxjingan Bxrengsek itu. "It would do us no good, Ngga. Om pikir sebaiknya biar Oliver saja yang berkendara bersama dia. Kamu dan Olavia bisa berangkat bersama."


Well, when it comes to my woman .... "Oke, Om." Tidak butuh waktu lama untuk gue memutuskan persetujuan.


"Setidaknya kalau Oliver yang satu mobil dengan pria kekanak-kanakan macam Owen, dia sudah tahu bagaimana suasana persidangan dengan tersangka yang benar-benar bersalah. Tidak ada cara untuk membenarkan tindakan yang telah dilakukan."


Gue otomatis melirik ke arah sahabat gue itu. Gue tidak bisa menahan gelak ketika dia mengeluarkan umpatan di bawah napasnya.


"Gimana kalau pertemuan itu kita adakan jam sepuluh?" saran Om Arif di kemudian.


Kali ini juga sama. Tidak ada yang membantah.


Kepala keluarga Arifin itu menganggukkan kepalanya sekali dan menepukkan tangannya. "Okay, folks. Big day tomorrow. Now is the time to get your special doses of beauty sleep so we can be ready to kick a certain someone's xss. Pertemuan jam sepuluh di Beniqno. Angga akan berangkat sama Olavia dan Oliver akan menjemput Owen di penginapannya. Any question?"


Tidak ada yang perlu ditanyakan lagi. Semua detail sudah jelas. Oh, hell fxcking yeah. Can't wait to meet the sorry excuse of human being. I will gladly kick more than his pathetic and barely there xss by the way.


****


Owen


Sebuah pesan masuk tengah malam, sekitar dua jam setelah gue mengirimkan bubble-bubble itu. Gue sudah setengah jalan menuju surga, dengan isi botol minuman beralkohol yang paling murah yang pernah gue minum selama kehidupan seorang bintang yang gue jalani. Gue sudah tidak ingat lagi gue mendapatkan botol ini dari mana. Wait, apakah gue mendapatkan botol ini dari bawah kasur yang gue pakai sekarang? Hm. Terdengar sungguh memungkinkan.


Setelah membaca pesan singkat yang benar-benar singkat itu—sialan, gue tidak menyangka bokapnya si Cantik bisa melucu selawak ini, gue membalas pesan itu dengan tidak kalah singkatnya.


Bapak Arifin : besok. Beiqno. Jam 10

__ADS_1


Owen : k


Gue terkakah-kakah melihat pesan gue yang masih belum dibaca itu.


Sialan. Akhirnya besok gue akam ketemu dengan si Cantik lagi. Gue mau ngobrolin soal anak kami. Kami ternyata sudah punya anak. Yeay! Yeay! Yeay! Lalalala. Gue udah punya anak. Syalala~


****


Olavia


Angga mencegah niatku untuk mengantarkannya sampai ke depan pintu. "Jangan, kamu gak perlu antar aku. Aku tahu jalan ke pintu depan di mana kok." Dia masih saja berseloroh. "Kamu buruan ke kamar sana. Istirahat. Gak usah banyak mikir. Semuanya akan baik-baik aja. Aku yakin."


"Tapi, Ngga–"


"Gak ada tapi-tapian, Sayang," tukasnya sembari menyelipkan poniku ke belakang telinga. Dielusnya tepi daun telingaku sekilas dengan ujung jari. "Besok kan aku berangkatnya sama kamu, jadi kamu bisa pantau semua kegiatan aku. Aku gak bakal macam-macam juga. Gak sama Owen. Tapi, aku gak janji bakalan gak macam-macam sama kamu."


It's been too long since the last time I got some bedroom action.


Terakhir kalinya adalah saat .... Eewh! No! Aku tidak mau memikirkan saat itu.


"Sweet dream, Sayang. Aku balik dulu. Besok aku bakal datang pagi banget, ya. Mau spend some time with Ole dulu sebelum kita berangkat. Aku rasa aku bisa squeeze one or two cuddle sessions."


Oh, my God. Kenapa aku merasakan perasaan aneh ini, sih? Apakah aku cemburu dengan anakku sendiri? "Aku juga mau dikasih cuddle session, you know." Aku mengaku dengan setengah malu, akan tetapi lebih banyak merajuknya.


Angga tertawa. Sebuah kilatan nakal melintas di matanya. "Nanti. Cuddle session buat kamu spesial." Dia menjawabku dengan berbisik.


"Yeah?" Aku bisa merasakan hasratku perlahan-lahan naik, menjelajahi tubuh lewat aliran darah yang sudah mulai memanas. The suggestive way he said it really gets to me so freaking fast. "Spesialnya gimana?" Aku pun ikut-ikutan berbisik.

__ADS_1


Angga mencondongkan kepalanya sehingga bibirnya berada tepat di samping telingaku. "Spesialnya itu ...."


The suspense is killing me.


"Pake telur dua, pakai ayam, pakai seafood."


Iiiiiiih, Angga!


****


Owen


Suara ketukan pintu mengganggu kenyenyakan tidur gue. Sialan! Siapa, sih, yang mengetuk pintu dengan begitu semangatnya kayak mau merubuhkan kamar ini? Gak tahu apa gue butuh tidur lebih lama lagi?


Namun, ketukan alias gebukan itu tidak berhenti juga. Malah semakin menjadi-jadi. Suara buk! buk! buk! yang bertubi-tubi itu sampai tertanam di dalam kepala gue. Pukulannya seketika pindah ke dalam sini. Fxcking hell! Rasanya ada pekerjaan konstruksi di dalam kepala gue sekarang.


Setelah mengerang dan hampir muntah karena membaui napas gue sendiri—what the fxck? Kenapa napas gue bisa jadi sebusuk ini, ha?—gue akhirnya memaksa tubuh gue untuk bangkit dan duduk dengan perlahan. Pekerjaan konstruksi di kepala gue masih tetap berjalan. Pembuangan sampah akhir yang ada di mulut gue juga masih beroperasi. Dengan membawa semua itu gue berjalan ke arah pintu. Tentu saja langkah gue berserakan karena bumi yang memutuskan saat inilah waktu yang tepat untuk menari-nari.


God fxcking damn it! "Tunggu bentar, Setan! Jadi orang bisa sabar gak lo?!" Gue berteriak kepada sosok yang ada di balik sana. Siapa pun yang memukul pintu dan mengganggu tidur gue sepagi ini pasti akan menerima akibatnya. Lihat saja. Gue tidak akan tinggal diam. Dia tidak tahu siapa gue, ha?


Entah kenapa gue rasa hantaman yang didaratkan di pintu kamar kos-kosan gue itu menjadi semakin keras.


"Ada masalah apa, sih, di hidup lo sampai-sampai lo mukul pintu kayak mukul orang begitu, ha, Kamprxt?! Udah gue bilang sabar, ya, sabar. Gue harus jalan dulu ke pintu ini, bukannya terbang kayak kuntilanak. Awas aja kalau lo ternyata salah kamar atau gak ada urusan apa pun sama gue. Gue hancurin hidup lo!"


"Oh, yeah?" Terdengar suara berat setelah gue membuka pintu. Mata gue beradu dengan bahu yang super lebar dan kekar. Gue harus mendaki leher yang juga berotot, gue baru tahu kalau leher seseorang bisa punya otot, supaya bisa melihat wajah dari pemilik tubuh sebesar buldoser yang berdiri di depan pintu kamar gue. "Lo mau hancurin hidup gue, ha? Boleh. Silakan. Gue pengen lihat gimana cara lo menghancurkan hidup seseorang seperti gue. Buktikan semua omong kosong lo, Setan."


What the fxck?

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2