Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
47. Setelah Sekian Puluh Purnama


__ADS_3

Angga


Semalam gue sudah menginformasikan kepada semua staf untuk tidak masuk kerja hari ini. Semua staf kecuali tim keamanan Beniqno yang terdiri dari tiga orang pria berotot baja dan bertulang besi serta bertampang ganas; Bang Kelly sang ketua, Bang Bonar, dan Bang Niko. Ketiga orang ini sengaja gue meminta untuk standby di restoran dan berjaga-jaga. Tidak hanya demi mengamankan situasi dari ancaman luar seperti orang asing dan paparazi, akan tetapi gue lebih fokus kepada keselamatan pihak kami. Gue sudah menjelaskan kepada mereka bertiga bahwa job desc mereka adalah untuk mengawasi gue, Oliver, dan Owen. Karena salah satu dari kami bertigalah yang berkemungkinan besar akan meledak dalam pertemuan ini.


Entah gue, entah Oliver. Namun, jika si Bxjingan Bxrengsek itu sempat menunjukkan emosi sedikit saja, gue tidak akan segan-segan untuk menanganinya sendiri.


If all hell break loose though, gue sudah mewanti-wanti Bang Kelly, sebagai ketiitim, untuk menyelamatkan Olavia terlebih dahulu dan membawanya kembali ke Bogor.


Let's hope nothing bad will happen today.


****


Olavia


Aku berjalan mondar-mandir di ruang kerja Angga yang terletak terpisah dari gedung utama restoran. Angga sengaja menjadikan kantornya sebagai basecamp kami sebelum Owen sampai di sini karena dia bisa mengamati semua kamera CCTV yang terpasang di berbagai sudut dari monitor-monitor yang terpasang di dinding.


Aku tidak menyangka dia akan secemas san segelisah itu. Meskipun dia berusaha menyembunyikan perasaan dia yang sebenarnya, akan tetapi aku juga berhasil memafhumi tanda-tanda di balik sikapnya yang "biasa" saja. Biasa dalam artian dia adalah Angga yang all about business dengan ekspresi seriusnya, tatapannya yang tajam dan teguh, rahangnya yang set, dan kerutan di dahi.


Aku tidak percaya aku akan setegang ini. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, bagaimana aku bisa tidak? Sudah puluhan purnama berlalu semenjak pertemuan terakhir antara aku dan Owen. Beberapa purnama lagi perlu ditambahkan semenjak terakhir kali kami berkomunikasi. Komunikasi dua arah yang hanya mencabik-cabik hati aku yang dulu. Aku yang naif dan percaya bahwa apa yang dia rasakan untuk Owen adalah cinta.


Butuh puluhan purnama untuk membuatku sadar bahwa aku salah. Bahwa perasaan yang kukundang-kundang dulu untuknya bukanlah cinta, akan tetapi hanya sebatas nafsu dan rasa ingin memiliki.

__ADS_1


Nama Owen dan mendekatnya waktu pertemuan kami membuat kenangan-kenangan yang sudah aku simpan rapi di dalam satu sudut otak keluar lagi, busai lagi. Kenangan yang menyenangkan dan yang menyakitkan, keduanya sama-sama tidak ingin kuingat-ingat lagi. Namun, tidak ada yang bisa kuperbuat. Semuanya menerjangku dalam sekejap. Aku hanya harus menerima dan tidak melawannya. Seperti yang sudah kulakukan sebelum-sebelumnya ketika hidup terjadi.


Tahu-tahu dua lengan kokoh dan tubuh yang hangat sudah membungkusku dari belakang. "You okay, Babe?" Getaran suara Angga terasa di punggungku. Vibrasinya menjalar hingga ke seluruh tubuh, mengantarkan hangat yang dengan sekejap berhasil mengusir hantu-hantu dari masa lalu yang beberapa saat yang lalu menguasai indra.


Semakin kubenamkan tubuh ke dalam pelukannya. Di kemudian kuhela napas dalam-dalam dan kulepaskan dengan perlahan. Setelah tenang kembali kurasakan, aku menganggukkan kepala yang masih bersandar di bahunya itu. "I am now," terangku dengan lirih.


Angga pun sepertinya butuh untuk diyakinkan. Dia di kalakian membenamkan hidungnya di leherku, tempat favorit kami pada satu sama lain, dan mengambil napas dalam-dalam. Aku paham betul apa yang terjadi setelah dia melakukan hal itu karena aku juga seringkali memperbuat perihal yang sama padanya. Ketika aroma tubuh dan wangi produk yang dipakai bercampur dan masuk ke dalam paru-paru, di saat itulah perasaan menjadi begitu damai. Seakan-akan aroma tersebut yang menjadi esensi dari keberadaan kami bagi masing-masing. "Everything will be okay. Semuanya akan baik-baik saja."


Everything will be okay. Semuanya pasti akan tetap baik-baik saja.


Aku butuh semuanya tetap baik-baik saja. Aku butuh semuanya tetap okay. Aku tidak butuh kekacauan yang lain lagi.


****


Gue dipaksa bangun oleh si Buldoser dengan menggunakan hot espresso triple shot yang dibelinya di sebuah coffee shop yang ada di rest area tol Jagorawi. Saat kopi itu habis dan gue benar-benar melek, gue merasa berutang budi sama dia. Karena dia gue akhirnya jadi bisa melihat aktivitas kota lagi setelah beberapa hari mendekam di dalam kamar kos-kosan sempit dan pengap itu. Namun, gue tidak cukup gila untuk mengucapkan terima kasih dan mengungkapkan betapa bersyukurnya gue atas perhatian dia. Karena, siapa yang mau gue kelabui? Dia mentraktir gue kopi bukan dengan alasan yang murni demi kebaikan gue. Dia jelas tidak peduli soal keadaan gue. Yang dia pedulikan adalah pertemuan ini.


Ah, ya. Pertemuan ini. Sebentar lagi gue akan bertemu kembali dengan si Cantik setelah sekian lama.


****


Mobil dikelokkan ke arah kanan dengan tajam dan sekonyong-konyongnya kami sudah masuk ke area parkir Beniqno.

__ADS_1


Damn. It has been a while.


Secara garis besar tampilan restoran ini masih sama, hanya ada perubahan pada letak tanaman-tanaman di depan bangunan dan jenis tanaman yang disusun. Selebihnya ....


Gue merasa seperti dilemparkan kembali ke lima tahun yang lalu.


Damn. It has been a while indeed. Five years is gone in a blink of an eye.


Belum lama mobil berhenti, si Buldoser sopir gue untuk hari ini serta-merta menggertak, "Out!" Setelah itu dia ke luar dari mobil.


Gue pikir dia akan langsung masuk ke dalam sana tanpa menunggu gue, akan tetapi kenyataannya malah terbalik. Setelah keluar, dia berdiri di depan bumper depan mobil dan melanjutkan posisi yang sama. Tangan bersilangan di depan dada dan kaki yang dibuka pas selebar bahu. Ekspresi masih saja seangker yang tadi.


Gue curiga jangan-jangan memang seperti ini setingan standar daei pabrikannya si Buldoser. Namun, si Cantik tampangnya tidak begini-begini amat kok.


Aaah, sudahlah.


Dengan menggunakan spion tengah, gue tidak tahu apakah ada cermin lain di dalam mobil ini dan letaknya di mana, gue mengecek penampilan gue, setidaknya bagian muka. Apakah ada belek yang masih bersarang di sudut mata? No. Apakah ada bekas kopi di sudut bibir atau bahkan gigi gue? No. Setelah merasa sedikit lebih baik—meski akan lebih baik lagi jika gue bisa menemukan permen mint terlebih dahulu, akan tetapi tidak semua keinginan busa dikabulkan oleh Tuhan, gue ke luar dari mobil dan berjalan menuju gedung yang menjadi batu loncatan terakhir gue sebelum nama gue melejit ke angkasa.


Shxt. Entah kenapa gue jadi merasa sedikit emosional. Tempat ini dan pemiliknya—Big Ben, ya, bukan anaknya—akan selalu punya tempat di dalam hati gue.


Sekarang pun gue merasa akan melangkah ke dalam tempat bersejarah ini untuk mengukir sejarah lain di dalam kehidupan gue.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2