Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
58. Pulang


__ADS_3

Olavia


Angga sedang mengendarai Rubicon-nya di jalanan menuju ke Bogor. Dari awal perjalanan kembali sampai saat ini, kira-kira tiga puluh menit kemudian, tidak ada satu pun kata yang ke luar dari mulut kami. Dan aku baik-baik saja dengan kenyataan itu.


Setelah aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Owen, aku memutuskan untuk mengakhiri pertemuan. Aku memberikan nomor ponselku, in case si private investigator yang disewa oleh Owen tidak dapat menemukan informasi itu, agar dia bisa menghubungi untuk bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan Oleander. Aku sempat menegaskan bahwa dia hanya diperbolehkan untuk menghubungiku dengan alasan itu.


Owen mengangguk lalu terlihat memasukkan kartu nama itu ke dalam saku celana jinsnya. Aku berdiri dan segera berjalan ke pintu belakang. Bang Oli masih berdiri di sana dengan mata yang ... penuh pengertian.


"You did great," bisiknya sembari melingkupiku dengan pelukan hangatnya.

__ADS_1


Aku hanya bisa mengembuskan napas panjang. Lega dan lelah dalam waktu yang bersamaan. Di kalakian aku mengangguk padanya saat dia membukakan pintu.


Belum-belum saja, pintu ruang kerja Angga sudah terbuka. Ke luarlah dari bangunan seperti cottage kecil itu calon suamiku dengan langkah besar-besarnya. Ekspresinya penuh determinasi. Dalam sekejap aku kembali merasakan pagutan yang super duper spesial. Aku akhirnya kembali pulang ke ... rumahku. "I love you." Kubisikkan tiga kata itu pada dadanya. Suara jantung yang berdetak dengan stabil di bawah telingaku menjadi musik pengiring dari pengakuanku tersebut.


"I love you, Sayang." Angga mengatakannya di telingaku dengan keyakinan yang begitu kuat sampai-sampai kata-kata itu menghantam hatiku dan membuatku ingin bertekuk lutut di hadapannya sekarang. "I love you so much."


Kubalas pelukan Angga dengan sama eratnya, kalau-kalau aku tidak bisa melakukan lebih daripada yang dia lakukan. Kupagut tubuh dan jiwa yang menjadi pelengkap eksistensi seorang Olavia Marie Arifin di atas bumi ini. Bila tanpa dia, aku tidak akan ada apa-apanya. Mungkin Tuhan juga tidak akan menciptakan aku jikalau tidak ada Angga.


Namun, aku tidak membiarkannya pergi terlalu jauh. Kupertahankan lingkaran tanganku di sekeliling pinggangnya. "Yeah," ungkapku dengan serak. Serak yang dibawa oleh emosi yang membuncah di dada. Segera kubersihkan tenggorokan. "Yeah." Aku mengulang jawabanku lagi. "Everything is more than alright. Every single thing in my life is perfect now."

__ADS_1


"Yeah?" Angga meminta konfirmasi dengan kening yang berkerut. Kenapa keningnya berkerut? "Kamu gak bakal ninggalin aku, kan, Sayang?"


Say what now? Aku tersentak, kepalaku terdorong ke belakang sedikit setelah mendengar pertanyaan yang paling konyol sejagat raya itu. "Kamu ngomong apa, sih?"


Seperti seekor beo, dia mengulang pertanyaannya lagi. "Kamu gak bakal ninggalin aku, kan, Sayang?"


Aku tidak tahan untuk tidak memutar bola mataku dan mengerang. "Eergh, aku dengar apa yang kamu bilang saat kamu mengucapkannya pertama kali, Angga. Tapi, yang bikin aku gak habis pikir itu, ya, kenapa kamu perlu mempertanyakan hal itu, ha? Jangan aneh-aneh, deh, jadi orang. Aku terlalu capek untuk menghadapi segala bentuk keanehan sekarang. Dari tadi aku udah puas naik rollercoaster pperasaan ini, aku sekarang mau yang tenang-tenang aja. Yang damai-damai aja. Aku rasa aku gak bisa meng-handle apa pun yang menguras perasaan lagi."


Dengan begitu Angga kembali membenamkan tubuhku ke dalam pelukannya yang benar-benar mendamaikan. "Kalau gitu, ayo, pulang. Ole pasti udah nyariin kita."

__ADS_1


Pulang. Iya, pulang.


Bersambung ....


__ADS_2