
Owen
Gue hanya duduk dan mendengarkan semua yang perlu dikatakan oleh Olavia. Gue awalnya hanya akan duduk di sana dan mendengarkan apa yang dia katakan setelah itu gue bisa memikirkan cara agar dia bisa mendengarkan apa yang perlu gue sampaikan juga. Meskipun gue masih ingat dengan peringatan yang tadi dia berikan, akan tetapi gue yakin jika gue bisa memainkan kartu yang gue punya dengan benar, kami bisa mencapai suatu kesepakatan yang dapat menyelamatkan semua pihak.
Shxt. Oke. Oke. Setelah dia mendengar apa yang ingin gue katakan, gue harap dia bisa membantu gue melakukan rencana yang sudah gue susun di dalam kepala demi menyelamatkan muka gue di hadapan publik.
There. I said it.
Dia bilang waktu itu dia masih memiliki perasaan untuk gue, kan? Walaupun gue sudah meninggalkan dia dan "mencampakkan"nya—kalimat dia, lho, bukan gue karena gue tidak merasa mencampakkan dia sama sekali. Gue hanya mengakhiri sesuatu yang gue pikir sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan gue yang baru. Itu saja—akan tetapi dia masih berharap bisa bersama lagi dengan gue. Iya, kan? Nah, gue bisa memanfaatkan angle ini.
Namun, namun, niat gue berubah setelah dia menyinggung soal sebuah amplop cokelat berlogo perusahaan rekaman yang diterimanya di apartemen. "Apa isi amplop itu?" Gue bertanya dan dengan tidak sengaja memotong pembicaraan dia karena gue sudah tidak sabar lagi.
Alis terawat Olavia yang sebelah kanan seketika naik ke dahinya setelah mendengar pertanyaan dari gue. "Oh, please. Don't do that," jawabnya dengan skeptis. "Jangan sok gak tahu sama apa yang sedang gue bicarakan."
What?! "No!" Gue sekonyong-konyongnya menolak. "Gue beneran gak tahu apa yang ada di dalam amplop yang lo maksud. Gue benar-benar gak tahu. Soalnya gue pribadi tidak pernah mengirimkan apa pun ke apartemen lo. No offense, ya, tapi gak gue banget mengirimkan sesuatu untuk cewek yang udah gue ... tinggalin."
Mengakui hal itu betul-betul terasa seperti menelan bola-bola panas yang gue pegang di tangan gue tanpa memakai alas apa pun. Apa pun yang gue lakukan tetap akan berakibat fatal terhadap gue sendiri. Mengakui hal itu berarti sama dengan melakukan pembenaran terhadap komentar yang menyatakan bahwa gue sungguh-sungguh seorang bxrengsek yang meninggalkan cewek setelah gue puas "menggunakan" dia. Mengakui hal itu berarti gue membenarkan kalau selama gue dekat dengan Oalvia, gue memang "memakai" dia untuk tujuan kesenangan semata.
Namun, kalau dipikir-pikir lagi memang begitulah kenyataannya. Gue hanya tidak suka mengakui hal itu pada diri gue sendiri. Sial.
__ADS_1
Gue rasa Olavia sudah menangkap keseriusan di dalam suara gue karena kini sikap skeptisnya yang tadi ada telah berubah menjadi sebuah pandangan yang menyelidik. "Owen, gue gak sedang bercanda, ya. Gue serius. Lo ngirim berkas-berkas dalam amplop cokelat itu ke apartemen gue."
Gue menolak karena lantaran gue tidak melakukan hal itu. "Olqvia, gue serius. Sumpah demi apa pun gue juga mau, deh! Gue gak pernah ngirim apa pun ke siapa pun. Apalagi menggunakan amplop yang berlogo label rekaman gue."
"Terus kenapa ada nama lo di atas amplop itu?" Dia bertanya dengan ... lugu?
Gue hampir saja memutar bola mata gue. Namun, untung gue masih bisa menaidiri daei keinginan yang akan membuat gue terkesan tidak menghargai atau mengolok-olok dia. "Siapa aja bisa nulis nama gue di atas amplop itu, Olavia. Gak harus gue sendiri yang melakukannya."
Matanya membulat, begitu pula dengan mulutnya yang serta-merta membentuk huruf O. "Jadi ... jadi ... siapa dong yang mengirimkan itu ke gue?"
It is an easy answer. "Kalau gak gue, berarti ya, orang label sendiri yang ngirim itu. Dan mereka merasa perlu menambahkan nama gue di sana juga."
What the heck? Berkas-berkas legal? Maksudnya dengan berkas-berkas legal adalah berkas-berkas yang berkekuatan hukum, begitu? "Maksud lo berkas-berkas legal apa, Olavia? Gue gak ngerti. Serius. Berkas-berkas legal itu contohnya seperti apa? Apa isi amplop cokelat itu sebenarnya, sih?"
Mata Olavia kini mulai menerawang. Sepertinya pikirannya telah pergi entah ke mana.
"Olavia!" Gue terpaksa mengejutkan dia karena gue sendiri hampir mati penasaran di atas tempat duduk gue karena menunggu jawaban darinya.
Cewek itu lantas tergugu. Mulutnya megap-megap, terbuka dan tertutup seperti seekor ikan yang terdampar di daratan dan menginginkan air dengan segera. "Eh, sorry. Gue ... gue ...."
__ADS_1
"Apa yang ada di dalam amplop itu?" Gue merasa gue perlu mengulangi pertanyaan gue lagi jika sekiranya dia lupa dengan apa yang menjadi topik pembicaraan sekarang setelah menghilang entah ke mana untuk beberapa saat di sana.
"Di dalam amplop itu berisi Non-Disclosure Agreement dan surat persetujuan untuk melakukan paternity test."
What the ever loving fxck?! Apa yang baru saja dia bilang? Apa yang baru saja ke luar dari mulutnya? Apa yang baru saja cewek itu ucapkan? "What? Lo bilang apa barusan?"
Rasanya tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan gue sekarang. Gue benar-benar terkejut. Gue benar-benar bingung. Gue benar-benar tidak mengerti. Gue sendiri tidak pernah mengirimkan berkas itu, mengurusnya apa lagi. Gue tidak pernah melihat notifikasi panggilan tidak terjawab dari Olavia. Gue akan ingat kalau gue pernah melakukan itu karena, let me be really honest here, gue akan ingat apa pun yang menyangkut dengan teror dari one of the notches on my bedpost. Gue tidak bisa menggunakan istilah crazy exes because they were not my ex to begin with.
So, gue akan ingat apa pun itu. Gue tidak ingat ada notifikasi panggilan tidak terjawab dari dia dan gue juga tidak ingat pernah membaca pesan-pesan panjang seperti yang dikatakan Olavia. Gue juga tidak ingat pernah melihat foto hasil USG yang juga dia mention tadi.
Gue tidak ingat apa pun. Gue tidak ingat satu pun. Gue tidak merasa pernah menderita amnesia parsial. Gue tidak pernah mengalami kecelakaan yang membuat kepala gue terbentur.
"Kapan semua itu terjadi lo bilang?" Gue perlu memastikan ini karena waktu adalah bagian yang penting dari teka-teki ini.
Perhatian gue kembali berpusat ke arah Olavia. Gue merasa perlu mengamati apa yang melintas di wajah dia karena ekspresi sekecil apa pun bisa menjadi sebuah clue buat gue.
"Hm." Dia bergumam sambil menelengkan kepalanya ke arah kanan ever so slightly. Matanya kembali melihat ke arah atas yang menjadi tanda kalau dia sedang berpikir. "Gue juga gak ingat tanggal pastinya, yang jelas setelah peluncuran single pertama lo dan sebelum gig lo di underground bar yang ada di Jakarta. Ya, di antara kurun waktu itu lah. Gue yakin."
Bersambung ....
__ADS_1