
Owen
Buldoser yang datang menjemput gue adalah kakaknya si Cantik yang juga merupakan sahabatnya si Angga Sialan sekaligus omnya anak gue. Kenapa gue menjelaskannya dengan cara seperti itu? Karena otak yang masih diselimuti kabut mabuk kepunyaan gue ini tidak dapat menemukan nama dari si Buldoser. Siapa, ya, namanya?
Ah, persetan lah!
Yang jelas, ketika gue menyadari bahwa yang akan menjadi sopir gue untuk hari ini adalah dia, gue segera bergerak untuk membersihkan diri. Bagaimana tidak? Gue tidak mau si Buldoser itu menawarkan dirinya untuk sekalian menjadi pengasuh dan berpikiran untuk membantu gue membersihkan badan hanya karena dia terlalu terganggu dengan penampilan serta bau mulut gue yang memang seperti ingin mengajak orang lain untuk tawuran.
Setelah gue selesai mandi dan berganti pakaian dengan cepat dan juga limbung, gue kembali menemui si Buldoser yang menunggu di depan pintu kamar gue sambil menyilangkan tangan di depan dadanya yang seluas satu hektare itu. Dia tidak menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dia tidak berdiri seperti orang normal lainnya dengan postur yang agak membungkuk.
Tidak. Tidak. Kakaknya si Cantik dan omnya anak gue ini berdiri setegak besi, tubuhnya lurus dan tegang, kekar dan tinggi. Dia terlihat seperti seorang anggota dari pasukan khusus pengamanan presiden atau pekerjaan lain semacamnya. Dia terlihat begitu tidak cocok berada di kawasan kos-kosan sederhana seperti ini dengan pakaian yang dia pakai sekarang. Orang sehat mana yang menggunakan pantalon dan kemeja di hari libur?
Pun dia tidak tampak seperti seseorang yang memedulikan pendapat orang lain atau orang lain pada umumnya. Lihatlah betapa tidak acuhnya dia terhadap perhatian yang dia dapatkan dari anak-anak penghuni kos ini dan sekitarnya. Mereka practically menelanjangi si Buldoser dengan mata mereka dan bahkan ada yang air liurnya sudah menetes-netes di sudut bibir. Namun, bisa-bisanya kakak si Cantik dan omnya anak gue itu tidak bereaksi apa-apa.
Kalau gue ... beuh! I will surely ate it up, lapping at their attention.
"Gue udah siap." Gue memberi tahu dia setelah gue mengunci pintu kamar.
Dia hanya bergumam tidak jelas dan mulai berjalan. Apa pun jenis suara yang dikeluarkannya barusan benar-benar terdengar tidak ramah sama sekali.
What? Dia pikir gue akan mengikutinya dengan begitu saja seperti seekor anying?
Gue hanya bertahan selama beberapa detik di tempat gue berdiri dengan sok keras kepala dan akhirnya mengejar si Buldoser juga. Sialan! Apa dia tidak mengenal kata sopan santun?
__ADS_1
"Shxt, man. Lo jalan apa naik eskalator, sih? Kok cepat banget," canda gue dengan kagok. Entah kenapa gue masih mencoba untuk menciptakan percakapan. Dan entah kenapa gue masih mengharapkan sebuah reaksi dari si Buldoser ini.
Fxck. Kenapa dia tidak bisa menghargai usaha gue untuk menjalin pertemanan di saat gue tengah melawan hangover sisa alkohol semalam? Shxt. Kenapa gue harus mengingat hal itu juga? Gue jadi sadar akan dentuman yang masih meraja di kepala gue.
God damn it to hell! Untung seragam menyamar yang gue pakai sekarang, yang terdiri dari setelan biasa gue; baju kaus oblong, celana jins belel, dan Converse, dan kali ini ditambah dengan kacamata hitam dan topi bucket untuk menutup sebagian besar muka gue tidak hanya melindungi identitas gue, akan tetapi juga melindungi mata gue dari serangan cahaya matahari. Belum-belum itu bola api di atas langit sudah mau pamer kekuatan saja rupanya.
Sepertinya tidak ada yang mau berteman dengan gue hari ini.
Lampu sebuah mobil berwarna hitam mengilap berkedip dua kali saat kami berada hanya beberapa langkah di depannya. Gue tidak tahu persis apa merek mobil itu dan apa serinya, yang jelas, dilihat dari bagaimana kilatan cat body dan bentuk tampilannya, gue yakin mobil ini adalah mobil mahal. "Shxxxxt," umpat gue sambil terkekeh. "Mobil lo keren banget, Bro! Sumpah!"
Bahkan angin pun enggan menanggapi komentar gue.
Tanpa menunggu untuk disuruh, gue membuka pintu penumpang—damn, cuma ada dua pintu di mobil ini, di saat si Buldoser membuka pintu pengemudi dan masuk. Gue kemudian melakukan hal yang sama. Bau khas dari bahan kulit premium seketika menyapa hidung gue. Gue hirup bau kemewahan itu dalam-dalam sembari mencari posisi nyaman dengan menyandarkan tubuh gue sepenuhnya ke jok mobil itu. Demi apa joknya juga terasa sangat berbeda.
Banyak hal yang ingin gue pertanyakan soal dunia, akan tetapi gue tidak tahu kepada siapa gue harus mengungkapkan hal tersebut. Apa gue harus mati dulu agar bisa bertemu dengan Tuhan dan menanyakan itu secara langsung.
Fxcking hell, Owen. Jaga pikiran lo, jangan sampai ngalor-ngidul terlalu jauh lah! Lo tahu, kan, sekarang lo sedang jalan ke mana?
Ow, shxt. Gue lupa.
"Eh, be te we, kita mau jalan ke mana, ya?" tanya gue di antara dengung mesin mobil yang halus, jauh lebih halus dari kulit bokong gue. "Sori, gue lupa. Maklum lah, gue ngebaca pesan balasan dari bokap lo tadi malam pake mata yang udah setengah teler. Jadi info yang gue lihat pun gak bisa disimpan dengan baik sama otak gue yang juga sama puyengnya."
Gue melirik si Buldoser dari balik kacamata gue—ada guna yang lain juga ternyata gue pakai kacamata ini, gue jadi bisa memata-matai orang lain tanpa ketahuan, yes!—dan memilih untuk menutup mata gue lagi. Kalau yang akan selalu gue terima hanyalah kediaman dan ekspresi keras di wajah dia, lebih baik gue tidur saja. Gue sudah tidak peduli lagi untuk tahu ke mana dia akan membawa gue. Gue sudah tidak punya bahan lagi yang bisa digunakan untuk memulai percakapan. Lagi pula kepala gue denyutnya semakin menjadi-jadi. Kalau gue tidak memberikannya waktu istirahat yang dituntut dengan segera, gue takut kepala gue ini akan pecah dan mengotori interior mobil superkece milik doi.
__ADS_1
Bisa-bisa si Buldoser berubah pekerjaan menjadi malaikat pencabut nyawa setelah itu. Kan seram!
****
Angga
Sebuah umpatan lepas dari bibir gue setelah membaca pesan dari Oliver yang sudah lebih dulu berangkat dari kami. Meskipun sudah berusaha gue sembunyikan, akan tetapi ternyata wanita pujaan gue yang baru selesai memasang seat belt di kursi penumpang di samping gue masih bisa mendengarnya.
"What is it?" tanyanya dengan cemas.
Gue sangat tidak suka melihat garis-garis khawatir yang muncul di antara alisnya, seperti yang ada sekarang. Sebelum menjawab gue mendesah karena tidak ada gunanya pula gue berusaha untuk menyurukkan informasi ini dari Olavia. Toh, dia akan mengetahuinya juga ketika dia bertemu dengan si Bxjingan Bxrengsek itu. "Oliver kirim update soal si Owen. Kemungkinanny, sembilan puluh persen cowok itu lagi hangover sekarang."
Kening Olavia semakin berkerut. Rasa cemasnya tadi kini sudah digantikan oleh rasa kesal.
Yeah, Babe. Me too.
Bagaimana gue tidak kesal? Setelah mendapatkan rundown dari pesan yang dia kirimkan ke Om Arif semalam, gue tidak tertarik untuk membaca pesan-pesan itu secara langsung karena gue yakin akan jadi lebih emosi lagi dari ini, sekarang gue mendapat kabar kalau si Bajxngan itu sedang hangover. Berarti dia semalam minum, kan? Sampai teler? Berarti dia tidak oeduli, kan, dengan apa yang akan terjadi hari ini? Dia tidak peduli dengan pokok pertemuan ini, anak kandungnya? Kalaulah si Setan Alas itu peduli barang sedikit saja, dia pasti akan menjaga sikap di depan keluarga yang merupakan keluarga anaknya.
Namun, kenyataannya?
This is bullshxt. Gue sudah tidak sabar untuk bertemu dengan bxjingan itu dan menguras habis sikap sombong di dalam diri manusia yang satu itu.
Bersambung ....
__ADS_1