Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
38. We Need to Stop


__ADS_3

Angga


Gue tidak menyangka Olavia akan berpikiran seperti itu. Bagaimana bisa gue membawa cewek lain ke rumah yang gue buat untuk dia? Bagaimana bisa gue bersama dengan cewek lain saat jiwa dan raga gue masih sepenuhnya untuk dia? Gue tidak akan menjadi munafik dan berkata kalau gue tidak pernah mencoba untuk membuka hati gue kembali setelah meninggalkan Olavia, gue pernah melakukan itu beberapa kali, akan tetapi yang terjadi adalah gue tidak pernah bisa memberikan seratus persen untuk mereka. Selalu saja ada Olavia yang membayangi sudut otak gue. Selalu saja ada rasa untuk Olavia yang memblokir usaha gue untuk merasakan sesuatu buat orang lain. Oleh karena itu gue tidak dapat berkutik dan memilih untuk menyerah. Gue benar-benar berhenti mencoba.


Gue tahu mungkin sumber kesalahan itu juga dari gue karena selama ini gue mencoba untuk mencari pengganti wanita pujaan yang gue cintai itu. Seharusnya gue sadar kalau wanita seperti dia tidak akan pernah terganti. Kalau dia bukan sosok yang diciptakan Tuhan untuk begitu saja dilupakan. Dia, dengan segala kelebihan serta kekurangannya, adalah seseorang yag meninggalkan bekas dalam di tempat-tempat yang pernah dia singgahi. Dan bagi gue, dia dengan gampang telah mencuri hati gue semenjak pertama kali kami bertemu. Suatu hsri gue masih merupakan seorang bocah yang polos dan lugu, akan tetapi setelah mengenal Olavia, gue mulai berubah menjadi seorang laki-laki.


Sampai sekarang.


"Kamulah satu-satunya wanita buat aku."


Gue menyegel pernyataan gue dengan memberikan wanita yang paling gue cintai di dunia ini sebuah kecupan di bibirnya. Kecupan yang awalnya hanya sebatas kecupan sekilas, akan tetapi dalam sekejap berubah menjadi lebih panas kala Olavia menggunakan bibirnya untuk menangkap bibir gue. Dan who am I to deny her wants?


Fxxxxck. I miss this. It's been only three days and I miss her like crazy. Gue tidak hanya merindukan dia; dirinya, sentuhannya, akan tetapi yang lebih gue rindukan adalah kebersamaan kami dan Ole. Membesarkan seorang anak bersama-sama ternyata bisa menumbuhkan rasa intimacy, dan rasa itu bahkan lebih intimate lagi daripada hubungan intim itu sendiri. You know, it's like another level of intimacy and it's beautiful. I miss it the most.


"Fxck, Baby. I miss you."


Olavia membalasnya dengan semakin mempererat pagutan bibir kami.


"Fxck, Olavia. Fxck, Baby." Tangan gue segera saja mengangkat tubuh kecil di depan gue dan seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan dia pun langsung mengalungkan kedua kaki jenjangnya di pinggang gue. Much like what we did when she first got here but with so much more heat.


Gue bawa kami ke dinding terdekat dan gue sandarkan punggung Olavia di sana untuk men-support tubuhnya. Semakin lama udara terasa semakin panas saja. Semakin lama darah kami semakin menggelegak, membuat kami berusaha untuk mengejar rasa puas yang begitu dirindukan. Kami saling menggesek, mengadu, berlomba-lomba membuktikan siapa yang paling hebat dalam mencari celah di antara pakaian-pakaian yang melapisi.

__ADS_1


Oh, my fxcking God. Damn it to hell. This is so fxcking hot. She is so God damn hot.


Baru tiga hari berlalu semenjak kami terakhir berbagi saliva, mencuri-curi kesempatan di antara pekikan dan tuntutan Ole, akan tetapi gue akui sudah jauh, jauh, jauh lebih lama semenjak terakhir kali gue mendapatkan sebuah aksi. Sudah, ehem, lebih dari sepuluh tahun yang lalu.


What? Terserah kalau tidak ada yang mau percaya. Namun, jangan judge gue sebagai pembohong hanya karena kalian tidak mau mempercayai apa yang baru saja gue katakan. Ketidakpercayaan kalian bukan indikasi dari kebohongan gue. So, that's on you not me.


Sialan. Sialan. Sialan. Sialan. Seeing and experiencing this side of Olavia always brings me to my knees. She's like the God damn heroine; fighting for what she wants, chasing for what she needs, and not allowing anything to put her down before she gets what she came for. So pardon my French if my junk is so, so, so supportive of what she's doing to me right now.


Apalagi ditambah dengan suara-suara yang ke luar dari dalam dadanya. Lenguhan itu .... Fxxxxxck me seven ways to Sunday.


Namun, pemikiran bahwa gue tidak akan bertahan lama dalam permainan ini memberikan sebuah hambatan yang membuat gue berpikir ulang untuk melanjutkan tarian kami. Ingatan bahwa gue akan "selesai" dengan cara seperti ini mengerem libido yang mengarungi darah gue, melingkupi kebakaran yang gue rasakan di dalam sini dengan siraman kenyataan sehingga apinya dengan cepat mulai padam. "Yang, Sayang," panggil gue di antara napas yang terengah-engah.


It's really fxcking nice to know that she is indeed as aroused as I am.


But we need to stop. We need to stop this before I embarrass myself with blowing off my fxcking load just from the little grinding and dry humping we're doing in the hallway of our house.


"Babe, please." Gue tidak malu untuk memohon di saat seperti ini. Kalau gue tidak melakukan itu sekarang, apa yang terjadi nanti pasti akan jauh lebih memalukan lagi. "Yang, please, stop. Stop, Yang. Please." Gue lagi-lagi memohon. "Atau aku bakal bikin malu diri aku sendiri di depan kamu."


Yeah, never thought I would ever say that kind of thing, would plead her to stop that over the top kiss like an idiot, but I just did. Benar kata orang kalau kita tidak boleh sekali pun berkata "never".


Never say never.

__ADS_1


Wanita pujaan gue itu tidak serta-merta menurut. Dia merasa perlu untuk merengek lagi seperti seekor anak kucing yang kehilangan induk, membujuk gue untuk mengalah pada keinginannya, akan tetapi mulai memperlambat irama gerakannya ketika dia sadar bahwa gue benar-benar serius. Akhirnya dilepaskannya lilitan bibir dia dari bibir gue meski masih saja menyempatkan diri untuk menggigit lembut bibir bawah gue dan menyeret giginya dengan nakal di saat terakhir.


Daaaaamn. Godaan cewek ini. Betul-betul!


Kami saling bertatapan sembari mengatur napas yang masih berpacu, menaik-turunkan bahu kami dengan cepat. Manik-manik cokelat gelap Olavia yang terbakar oleh api hasrat lama-kelamaan mendingin dan berganti dengan sinar yang lain.


Bahagia.


Gue suka sekali ketika melihat matanya yang indah oenuh kilatan karena perasaan senang seperti sekarang ini. Sedikit demi sedikit bibirnya yang masih basah mengembang sebelum menjadi sebuah senyuman yang mengalahkan hal-hal yang dicap paling indah di muka bumi ini.


Bagi gue, tidak ada yang lebih indah dari senyum Olavia.


Wanita gue kemudian menyurukkan kepalanya di leher gue, mungkin saja karena rasa malu yang akhirnya menghampiri.


Gue tergelak. "Apaan, sih, kamu pake acara malu segala, Yang. Kan seharusnya aku yang malu," seloroh gue.


Tawa Olavia menggelitik kulit-kulit sensitif gue yang ada di dekat bibirnya.


Thank fxcking God. Gue benar-benar mencintai wanita ini. Gue benar-benar tidak ingin berpisah dari dia lagi. Gue peluk dia erat-erat, gue hirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Wangi parfum dan keringat yang dihasilkan oleh kegiatan kami tadi seketika merasuk ke dalam paru-paru gue. It's fxcking heaven. Pada akhirnya gue kembali berada di dalam surga gue lagi. "Please, jangan pernah lakuin hal yang kayak kemarin lagi, Sayang. Please. Aku gak akan bisa menghadapi hal itu untuk kedua kalinya. Kalau kamu mau sesuatu, silakan langsung bilang ke aku. Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga aku untuk mewujudkan semua keinginan kamu itu. Tapi, jangan pernah perlakukan aku seperti aku gak ada arti apa-apa buat kamu. Jangan pernah kirim pesan seperti itu lagi ke aku. Olavia, tiga hari kemarin itu benar-benar neraka bagi aku. Aku gak janji bakal sanggup melaluinya jika itu terjadi lagi nanti."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2