
Olavia
Rasa sesal seketika saja menggelayuti diri. "Maafin aku," bisikku di leher Angga. Tak berapa lama setelah mengirimkan pesan itu, aku sudah merasa sangat bersalah dan menyesal. Aku sudah tahu bahwa aku tak seharusnya melakukan hal seperti itu. Namun, apalah daya. Nasi sudah menjadi bubur.
Sekarang aku hanya harus menikmatinya dengan ayam suwir, kacang kedelai goreng, seledri, bawang goreng, dan kuah kaldu. Eh, jangan lupa sambal hijaunya.
Ckck. Bercanda, deng.
When life gives you lemon, you just have to get creative and make lemonade, right?
Untuk kedua kalinya hari ini aku kembali meluncur di tubuh Angga. Rasa malu yang tadi timbul setelah menyadari apa yang baru saja kami—aku, lakukan dan sempat berganti dengan rasa sesal, saat ini muncul lagi. Terlebih-lebih ketika aku merasakan ketidaknyamanan di bagian-bagian tertentu.
Oh, my God. Aku sungguh-sungguh sangat malu.
"So." Suara dehaman Angga mengalihkan fokus pikiranku. "Kalau boleh aku tahu, apa aja yang terjadi tiga hari kemarin?"
__ADS_1
Topik yang menyangkut soal Owen benar-benar menjadi katalisator yang baik untuk menghilangkan rasa malu dan hasrat yang kurasakan untuk Angga. Dalam sekejap semuanya telah hilang, selayaknya aku mendapatkan siraman air yang sedingin es. Tidak ada lagi sisa-sisa panas membara yang kami bagi beberapa waktu yang lalu. "Enggak terlalu banyak, tapi juga gak bisa dibilang gak ada." Aku mendesah. "Kalau menyangkut kamu, kamu tahu sendiri lah. Bang Oli juga udah bilang tadi sambil lalu, kan? Oleander nyariin kamu sampai-sampai dia merengek sepanjang hari. Dari kemarin dia ngeyel pengen ketemu papanya. Hari ini akhirnya Bang Oli jengah sama sikap bodoh aku, dia yang bilang begitu for your info, dan kasihan sama keponakannya. Dia bilang kalau ada urusan sama Owen bukan berarti aku harus menghentikan kehidupan kita juga. Aku bisa menanganinya sekaligus dengan bantuan keluarga dan kamu. Lagian, yang dimaksud Papa dengan fokus ke urusan ini karena menyangkut Oleander bukan berarti harus membatalkan pernikahan kita. Aku aja yang salah paham dan mengambil keputusan yang salah."
Aku melihat Angga mengangguk dalam. Dia tak pelak lagi setuju seribu persen dengan pemikiran sahabatnya itu. "Yeah," ujarnya dengan suara yang rendah. "Kamu tahu kalau kamu bisa percaya sama aku. Kamu tahu kalau kamu bisa percaya sama kekuatan cinta kita."
Kuembuskan napas panjang, berharap dengannya akan ke luar rasa sesal yang masih saja menumpuk di dada. "Iya, Sayang. Aku tahu. Aku minta maaf."
"It's okay. Let's move on. Jadi?" Dia berusaha mengalihkan pembicaraan ke jalur yang benar lagi.
"Jadi, ya, gitu. Setelah sadar kalau apa yang dikatakan oleh Bang Oli benar, aku ikut dia ke sini."
"I know. You are the right one for me." Hal yang tidak perlu aku ungkapkan secara verbal, akan tetapi tidak ada salahnya juga mewujudkan fakta itu dalam bentuk kata-kata. Anggarasyah Emilio Addams adalah orang yang tepat untukku, rumah bagi aku dan anakku. Tidak ada orang lain yang bisa mengambil posisinya dari hidup kami.
For me, Anggarasyah Emilio Addams is "it". My Mr. "It".
Melihat senyum yang mengembang di bibirnya setelah mendengar pengakuanku itu membuat segala hal, yang baik dan yang buruk, senang dan sedih, yang telah kami lalui hingga sampai di titik ini terasa benar. Aku akan dengan senang hati melalui hal-hal tersebut lagi jika itu yang peelu dilakukan untuk selalu berakhir bersama Angga.
__ADS_1
"Lalu, gimana dengan urusan yang lainnya?" Angga melanjutkan. Pertanyaan yang sudah pasti menghantuinya belakangan ini. Aku tidak tahu apakah Bang Oli telah menceritakan apa yang menjadi hasil dari diskusi kami kemarin lusa itu, akan tetapi sesuatu di dalam hatiku bersikeras mengatakan kalau Bang Oli tidak akan melakukannya. Dia tidak akan membagi cerita apalagi yang dari awal bukain kepunyaannya untuk dibagi.
Pertanyaan yang jawabannya terlalu panjang dan sebenarnya masih belum aku temukan kepastian soal hal tersebut. "Yaa, gitu lah. Setelah diskusi ke Papa yang juga udah cerita-cerita sama koleganya, kami memutuskan untuk menginisiasi pertemuan dengan Owen. Untuk memantau apa langkah yang akan dia ambil selanjutnya terkait keberadaan Oleander. Kita juga harus bertindak dengan hati-hati karena pekerjaan dia dan skandal yang sedang melekat di namanya sekarang."
I barely able to contain my eyes from rolling at that thought. Betapa bersyukurnya aku menyadari dengan cepat bahwa bersama Owen bukanlah sesuatu yang tepat untukku. Kalau tidak, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Keadaannya kemungkinan besar akan menjadi jauh lebih buruk dari ini.
Keheningan tercipta karena aku yakin Angga masih dalam proses mencerna semua informasi yang aku berikan padanya. Hal itu terlihat dari bagaimana daerah di antara kedua alisnya yang tebal berkerut, sebagai tanda dia sedang berkonsentrasi. Atau menahan emosi. Aku tidak dapat memutuskan mana yang benar pada saat ini. Tak lama kemudian, dia kembali membuka mulut. Sepertinya apa pun yang baru saja dilakukannya sudah selesai. "Kamu belum kasih tahu aku gimana dia sampai gak tahu soal keberadaan Ole. Selama ini aku pikir dia sendiri yang ingin meninggalkan kamu meski tahu kamu sedang mengandung darah daging dia di dalam perut kamu." Angga mengungkapkan apa yang dipikirkan dengan ekspresi yang penuh dengan rasa sakit dan kesedihan. Ekspresi yang ada setiap kali kami membahas soal-soal yang tidak dia sukai atau bahkan yang begitu dia benci.
Jadilah. Untuk kesekian kalinya aku mengulang bagian dari cerita yang sudah kukatakan kepada Papa dan keluargaku yang lain. Bagaimana telepon-teleponku diabaikan. Bagaimana pesan yang kukirim akhirnya berbalas surat-surat legal dari pengacara label yang mengontrak Owen. Bagaimana marahnya aku saat menandatangani surat persetujuan untuk bungkam itu. Bagaimana aku mengabaikan surat permintaan pengecekan DNA dan membakarnya di kamar mandiku di apartemen. Bagaimana semua itu mendukung keputusanku untuk melupakan si Popstar yang dulunya sempat kupuja untuk jangka waktu yang lumayan singkat.
"What the fxck?!" Tanggapan Angga persis sama dengan apa yang dilakukan oleh Bang Oli. Tidak heran kalau persahabatan mereka bisa berlangsung selama ini.
Kuraih kepalan tangannya yang kini menggantung di samping tubuh besar dan kekar itu. Kucium buku-buku jarinya dengan lembut sebelum mencoba untuk membukanya. Satu per satu jari yang terasa begitu maskulin itu terlepas, hingga akhirnya tak lagi membentuk tinju. Kulakukan hal yang sama dengan kepalan di tangan kiri calon suamiku itu.
"It's okay." Aku membujuk Angga. Kutangkupkan tanganku di kedua sisi wajahnya, seperti yang selalu dia lakukan padaku jika ingin mendapatkan perhatian penuh. Jika dia ingin mengatakan sesuatu dan ingin aku benar-benar mendengarkan. Kali ini, kukembalikan lagi trik itu kepadanya. Meski posisi ini membuat Angga harus menundukkan kepala dengan sangat rendah, dia terlihat tidak mempermasalahkannya. "Aku dan Oleander gak apa-apa kok. Kami bahagia sekarang. Karena ada dukungan dari keluarga aku. Karena ada kamu juga. Mostly karena ada kamu. Aku gak mau kamu ikut-ikutan emosi dan mencurahkan semua energi kamu ke urusan ini. Aku dan Bang Oli yang akan melakukan itu. Aku cuma minta kamu jagain Oleander. Ya? Nanti kalau aku sibuk mengurus ini dan itu, aku minta kamu buat jagain anak kita. Aku gak mau dia terjebak di tengah-tengah pusaran masalah ini kalau aku dan kamu sama-sama sibuk menangani Owen. Aku gak mau dia dijadikan tumbal oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Jadi aku pengen seseorang dengan kekuatan yang besar dan yang aku tahu pasti mencintai dia dengan begitu dalam yang melindungi dia. Biar aku tahu semua pada akhirnya akan jadi baik-baik saja."
__ADS_1
Bersambung ....