
Owen
Gue mendengarkan semua kalimat Olavia dengan perasaan tak menentu. Segala rasa yang bisa dirasakan manusia berpadu di dalam dada ini. Saking banyaknya, gue tidak tahu yang mana yang paling dominan. Gue rasa setiap perasaan memiliki persentase yang sama. Itu pun kalau hal yang demikian benar-benar ada di dunia nyata, bukan hanya sekadar bualan dongeng sebelum tidur saja.
"Thank you, Owen. Dengan meninggalkan gue, lo membuat hidup gue dan anak gue menjadi jauh lebih baik."
Itu kalimat terakhir yang diucapkan oleh wanita ternyata sangatlah berbeda dari sosok yang memuja gue dulu. Kini, setelah hati dan otak gue tidak hanya disentil, akan tetapi juga dihajar habis-habisan oleh kenyataan demi kenyataan yang dibeberkannya barusan, dan jadi benar-benar jernih, mata gue betul-betul terbuka dengan apa yang sedang terjadi, gue bisa melihat kalau Olavia yang sekarang adalah seseorang yang lebih dari segala aspek. Atau, meminjam kalimat wanita itu lagi, hanya gue saja yang tidak melihat itu sebelumnya?
Sepertinya memang begitu. Gue terlalu dibutakan oleh diri gue sendiri sehingga tidak dapat menyadari keberadaan orang lain di sekitar gue.
Dalam keheningan, kalimat terakhir tersebut terus-terusan berputar di dalam kepala gue. Gue tidak menyukai apa yang ucapan terima kasih yang diberikan oleh Olavia lakukan terhadap gue. Gue sungguh-sungguh tidak mau menerima kenyataan bahwa tanpa gue, ayah kandungnya, anak gue tumbuh jadi orang yang lebih baik.
Apakah ada hal yang semacam itu? Apakah benar yang telah dikatakan oleh ibunya Oleander itu? Bapak macam apa gue sampai-sampai kehidupan anak gue lebih baik tanpa kehadiran gue? Bapak macam apa gue yang ketiadaannya ternyata tidak berdampak apa-apa? Bapak macam apa gue yang keberadaannya malah membuat situasi semakin memburuk? Apakah gue sebegitu toxic-nya bagi orang-orang di sekeliling gue? Apakah gue sudah tersesat terlalu jauh sehingga tidak ada suatu kebenaran yang bisa gue lakukan?
__ADS_1
For the love of the fxcking God, apa yang harus gue lakukan sekarang? Dapatkah semua kekacauan dan keserampangan ini bisa dibenahi? Gue tidak hanya berbicara soal apa yang kini berserakan dalam keadaan gue dan Olavia, akan tetapi juga yang terjadi di dalam diri gue.
Apakah gue bisa diperbaiki lagi? Atau ini adalah bentuk gue yang sebenarnya, takaran dan porsi gue yang pas sehingga tidak ada lagi yang bisa dikerjakan untuk mengubahnya? Apakah gue diciptakan oleh Tuhan memang hanya untuk menjadi tontonan hiburan dan sarana pembelajaran bagi orang lain, akan tetapi tidak bagi diri gue sendiri?
Apakah gue ingin terus menjadi seperti ini? Apakah gue tidak ingin memiliki sesuatu yang Olavia punya dengan tunangannya, si Angga Bxrengsek itu, dan Oleander. Apakah gue tidak bisa membangun sebuah hubungan dengan anak gue sendiri selain dari daeah dan DNA yang kami bagi?
Oleander. Setelah mengetahui keberadaan Oleander, apakah gue akan bisa berlalu dan melanjutkan hidup tanpa memikirkan dia sedikit pun? Apakah gue akan bisa melangkah dan tidak melihat ke belakang? Apakah setelah mengetahui adanya versi mini dari gue di dunia ini, setidaknya dalam segi bentuk wajah, gue bisa pergi begitu saja dan tidak menganggapnya ada?
Apakah gue bisa menelantarkan darah daging gue sendiri seperti yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang membawa gue ke dunia ini? Apakah gue akan berkelakuan seperti bxjingan-bxjingan itu? Apakah gue akan membuktikan bahwa pada akhirnya gue hanya akan menjadi sama bxrengseknya dengan orang tua yang selama ini gue rutuki? Apakah gue akan mampu membuat anak gue merasakan apa yang audah gue rasakan dulu? Meski sudah ada orang-orang yang telah menggantikan keberadaan dan fungsi gue sebagai orang tua, apakah gue akan bisa hidup dengan tenang?
Tidak. Gue tidak ingin membiarkan itu terjadi. Gue tidak akan membuat Oleander berpikir kalau gue menelantarkan dia. Gue tidak mau Oleander berpikir kalau gue adalah seorang bxjingan. Meskipun gue memang seorang bxjingan, akan tetapi bxjingan yang maaih mencoba peduli untuk darah daging yang berasal dari dirinya dan dia bawa ke dunia ini.
Tidak. Gue harus melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Gue ... gue mau ada di dalam kehidupan Oleander," ungkap gue sembari menunduk. Di kalakian rasa malu mengalahkan emosi-emosi yang lain dan muncul ke permukaan. Setelah apa yang gue lakukan, apa yang pihak label (siapa pun itu) lakukan kepada Olavia dan anak gue, dengan tebal muka gue masih ingin berada di dalam kehidupan anak laki-laki tak bersalah itu.
"Maksud lo?" Olavia ternganga keheranan. "Owen. Barusan lo bilang apa?"
Gue kumpulkan keberanian yang tersisa di dalam diri gue yang sebenarnya sudah kepalang segan ini untuk mengangkat kepala gue agar gue bisa menatap dia. Gue berharap ketika Olavia melihat kesungguhan hati gue yang mudah-mudahan terpancar dari sana, dia akan luluh. Atau, setidaknya mulai kembali mempertimbangkan permintaan gue. "Gue ingin berada di dalam kehidupan Oleander."
Tatapan Olavia masih sama tercengangnya.
Tidak ada cara lain. Gue benar-benar harus mengungkapkan semua kebobrokan ghe kepada wanita ini. Demi mendapatkan akses barang sedikit saja di dalam kehidupan anak gue. "Gue minta maaf atas perkataan gue tadi. Gue akui gue tidak berpikir terlalu jauh. Entahlah, gue rasa gue tidak berpikir sama sekali." Gue berdeham. Bagian inilah yang paling sulit mengakuinya. Namun, tidak ada cara lain. "Awalnya gue berpikir untuk memanfaatkan situasi ini demi kepentingan gue. Gue bisa menggunakan elo dan Oleander sebagai alat penunjang dalam perubahan citra gue. Ya ... gue akan memanfaatkan kalian untuk tampil sebagai orang yang baru di mata publik."
"What?" Olavia terkesiap.
Sebelum dia mengatakan lebih banyak lagi, atau memilih untuk ke luar dari pertemuan ini, gue lanjutkan penjelasan gue. "Lo tahu, gue emang butuh itu. Imej gue sudah terlalu rusak di mata orang-orang karena skandal yang baru-baru ini terungkap. Tidak ada yang bisa disalahkan selain diri gue sendiri, sih. Gue akui itu. Dan ... kalian datang. Angga datang menemui gue, mengungkapkan keberadaan Oleander. Hal itu membuat gue lantas berpikir kalau gue harus bisa menggunakan momen ini sebaik mungkin untuk keuntungan pribadi. So, karena itu gue dengan gak punya otaknya mengajak lo membentuk sebuah keluarga. Namun, apa yang gue dengar dari lo setelah itu benar-benar menampar gue. Shxt, Olavia, lo berhasil memukul otak bebal gue sampai nyala dan berfungsi lagi. Kata-kata terakhir lo, terima kasih karena sudah meninggalkan gue, dengan begitu gue dan anak gue bisa hidup lebih baik, sangat, sangat, sangat menusuk. Orang macam apa gue selama ini? Ditambah lagi, lo tahu kalau gue adalah korban tindak pengabaian dari orang tua gue. Gue tidak bisa melakukan hal yang sama ke anak gue sendiri, Olavia. Gue menolak untuk menjadi sama bxrengseknya dengan orang tua gue. Oleh karena itu, gue mohon, kalau perlu gue akan bersujud di kaki lo. Gue mohon, kasih tahu gue gimana caranya agar gue bisa ada di kehidupan Oleander. Kasih gue satu sudut di dalam kehidupan dia sebagai tempat untuk gue membuktikan diri. Lo gak harus mengenalkan gue sebagai ayahnya, gue tahu tempat itu sudah ada yang mengisi, dan gue sadar gue masih belum pantas untuk menyandang titel sebesar itu. Entah gue akan bisa memantaskan diri untuk itu atau enggak. Yang jelas, gue ingin menjadi bagian dalam kehidupan anak gue. Lo bisa mengenalkan gue aebagai teman lo, atau teman Angga, siapa saja. Gue gak peduli. Asal gue bisa ada dan menjalin hubungan, sekecil apa pun, dengan dia. Please, Olavia. Please."
__ADS_1
Bersambung ....