
Olavia
Aku akui perasaanku masih terlalu sensitif jika dihubungkan dengan Owen. Sebagaimana kenangan buruk bisa serta-merta memicu ledakan emosiku, kenangan manis dan cerita yang pernah dia bagi seketika saja menyulut rasa iba. Aku ingat dia pernah menceritakan bagaiaman dia sedari kecil harus berjuang menghidupi dirinya sendiri setelah tumbuh tanpa ayah dan ibu yang seorang budak narkoba serta sering gonta-ganti pasangan. Bagaimana dia harus, basically, mengais rezeki hanya untuk makan.
Aku rasa bagian itu dapat dikatakan sebagai cerita yang nyata. It's nice to know that there was something real between us even though it was just a small tidbit about his life.
Ingatan itu sungguh menyentuh bagian diriku yang sudah menjadi ibu. Aku ... tidak dapat membayangkan apabila itu terjadi kepada Oleander.
Tidak, tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi pada anakku.
Dan rasa sesal dan sungguh-sungguh yang memancar di mata Owen sekarang? Apa aku akan berpura-pura tidak melihatnya?
__ADS_1
Setelah mengucapkan semua yang ingin aku ungkapkan tadi, setelah semuanya keluar, aku tidak hanya merasakan lega, akan tetapi juga sedikit rasa ... bersalah. Apakah aku terlalu keras kepada Owen? Apakah apa yang aku ucapkan audah kelewat batas? Namun, jika segalanya menghantarkan kami pada titik ini, pada titik di mana Owen akhirnya berani untuk berkata jujur—sejujur yang dia bisa, pada titik di mana dia menyadari dan mengakui kesalahannya selama ini, aku tidak akan menyesali tindakanku sedikit pun. Aku hanya akan mengambil hikmahnya.
"Please, Olavia. Gue mohon. Beri gue kesempatan agar bisa menjadi seseorang di kehidupan Oleander."
Aku tidak bisa melakukan itu juga kepada Owen. Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandung dari anakku, dia berhak mempunyai sebuah hubungan dengan anaknya. Begitu juga dengan Oleander. Kalau saja Owen tidak muncul saat ini, suatu saat nanti, ketika waktunya sudah tepat, aku pun akan mengungkapkan kebenaran soal asal usulnya kepada dia. Tidak hanya karena dia tidak berpenampilan mirip denganku atau dengan Angga, akan tetapi karena dia juga berhak tahu siapa ayah kandungnya. Dan, aku rasa, memberi tahu bahwa laki-laki yang selama ini dia kenal sebagai family friend adalah ayah kandungnya jauh lebih baik daripada menunjukkan foto seorang artis kenamaan yang tidak pernah muncul di kehidupan pribadinya sama sekali.
Kesimpulan itulah yang mendorong aku untuk menganggukkan kepala. "Oke, oke." Aku di kemudian mendesah. "Gue akan kasih lo kesempatan. Bukan karena gue udah percaya sama lo seratus persen, akan tetapi karena gue sayang sama anak gue. Dia juga berhak mempunyai kontak dengan ayah kandungnya sekecil apa pun itu."
"Thank you!" Owen bernapas dengan lega.
Oh, my God. Tubuhku rasanya sudah capwk duluan membayangkan apa yang akan menjadi tanggapan Papa, Mama serta Bang Oli dan terlebih lagi Angga dengan keputusanku ini. Mereka akan berpikir kalau aku gila. Mereka tidak akan langsung mendukung apa yang sudah aku pilih. Namun, apalah daya. Aku juga tidak bisa menolak permintaan Owen. "Gue udah bisa membayangkan kalau ini tidak akan menjadi perjalanan yang mudah karena lo harus memenangkan hwti orang-orang yang sudah lo singgung dengan sikap lo yang seenaknya itu. Tapi, apa boleh buat. Lo tetap harus menghadapinya kalau lo benar-benar ingin menjadi bagian dalam hidup Oleander. Sorry to say this, akan tetapi gue rasa lo pantas untuk mendapatkan sedikit hukuman atas semua yang audah lo lakukan. Apalagi sama bokap gue. Lo ...."
__ADS_1
Aku menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir. "Lo beneran bego apa sungguh-sungguh gak tahu siapa Arifin Handoko, ha? Apa orang yang lo auruh untuk nyari alamat rumah orang tua gue gak ngasih tahu elo? Apa elo yang gak ngerjain pe-er dan baca laporan yang dia kasih dengan benar? Owen, Owen. I hate to say this myself because I don't want to sound like an entitled bxtch, but you are fxcked. Even more so now. Tapi, apa yang bisa gue katakan lagi? Lo yang melakukan ini ke diri lo sendiri."
Dia menghirup napas dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Bahunya yang kini membungkuk terangkat sebentar sebelum turun lagi, menjadi lebih rendah. "Fxck," bisiknya setelah itu.
Hati gue terbagi dua. Setengah merasa puas dengan raut wajah menyesal yang digunakan oleh Owen sekarang ini, akan tetapi setengahnya lagi ikut merasakan apa yang dia rasakan. "Ah, udah lah. Gak usah terlalu lo pikirin dulu." Pada akhirnya aku mencoba menghibur laki-laki itu. "Coba aja, minta maaf sama mereka seperti yang lo lakuin ke gue barusan. Benar-benar minta maaf dan buktikan kalau lo memang bisa berubah ke arah yang lebih baik. Really clean your act. Gak ada yang bisa membuktikan kalau lo udah jadi orang yang lebih baik selain betul-betul berusaha. Gue ... gue akan coba memberikan pengertian kepada mereka. Gue akan coba bujuk mereka untuk membuka kesempatan juga buat lo."
Tubuh Owen sekonyong-konyongnya langsung menjadi tegak, lurus tulang punggungnya bahkan melebih lurusnya sebuah besi. "Serius lo? Lo ... lo mau lakuin itu buat g-gue?" tanyanya dengan gagap.
Oh, no. Aku tidak boleh membiarkan dia berpikiran seperti itu. Aku harus segera mematahkan asumsi Owen. "Ya, enggak lah!" Aku membantah. "Gue gak melakukan apa pun demi elo. Camkan itu, ya. Apa yang gue lakukan, gue lakukan semata-mata agar anak gue bahagia. Gue melakukan semua yang gue lakukan untuk Oleander. Bukan untuk lo. Ingat itu."
Owen mengangguk. "Okay, okay. Sorry. I guess I did that to myself. Berharap."
__ADS_1
Ah, Owen. "Kalau hubungan lo dan gue pernah mengajarkan gue sesuatu, Owen, itu adalah kalau kita tidak boleh menggantungkan harapan pada seseorang selain diri kita sendiri. Karena kalau orang lain itu pergi, dia akan membawa harapan yang sudah kita bangun. Lalu, apa yang tersisa bagi kita yang tinggal di sini? Padahal harapan itulah yang paling kita butuhkan untuk bertahan hidup."
Bersambung ....