Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
26. Rengsa


__ADS_3

Angga


Setelah itu, pengakuan demi pengakuan meluncur dengan lancar dari mulut gue.


"Aku sengaja menemui Owen untuk meminta dia menandatangani surat pernyataan persetujuan pengangkatan anak yang sedang aku urus. Aku ... aku berniat untuk menghadiahkan surat pernyataan itu untuk kamu di hari pernikahan kita."


"What?!"


"Tapi ...."


"Tapi, dia gak tahu sama sekali kalau Oleander ada." Suara Olavia terdengar seperti bisikan makhluk halus; jauh namun dekat dalam waktu yang bersamaan.


Gue tidak berani untuk mengangkat kepala dan menyaksikan apa yang ada di dalam ekspresinya sekarang. Gue tidak berani untuk melihat kebencian dan kemarahan yang berseliweran di sana secara langsung. Yang paling gue takutkan adalah jika gue menengadah dan melihat kekecewaan menatap kembali ke arah gue.


Fxck. Gue tidak bisa melakukan itu. Kalau gue melihat kekecewaan yang ada di salam tatapannya, gue tidak akan bisa hidup dengan tenang setelah itu.


Begini saja rasanya sudah setengah mati.


"Dia gak tahu soal Ole. Aku pikir ... aku pikir selama ini dia enggak mau ada di dekat kamu karena dia gak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan. Tapi ... tapi .... I guess kenyataannya tidak begitu." Gue mengedikkan bahu.


"Setelah dari tempat di mana Owen menginap untuk sementara waktu, aku lalu mengunci diri di kamar hotel seharian. Aku ... aku ...."


"Tapi, kamu malah bilang ke aku kalau waktu itu kamu lagi sibuk, kan?" Di area pandangan gue, gue dapat melihat kaki wanita yang paling gue cintai di dunia ini mengambil satu langkah, ke belakang.


Dia mulai menjauh dari gue. Dia mulai mengambil langkah mundur untuk menjauh dari gue.


Fxck.


Somebody just kill me now.

__ADS_1


Kepala gue semakin tertunduk, pundak semakin berat akan rasa menyesal. Semakin ke sini, semakin terbuka satu per satu, semakin menumpuk dosa-dosa yang gue telah kerjakan. Semakin lama waktu yang berlalu, semakin menggunung sakit yang gue rasakan di dalam diri. Meski sudah bersimbah air mata, ini tidak ada apa-apanya dengan perasaan gue yang sebenarnya.


Nope. Not in the slightest.


"Yeah," jawab gue dengan lemah. "I did say that. I am so sorry, Baby."


Gue tahu permintaan maaf gue itu tidak ada artinya. Bukan hanya karena Olavia tidak akan mau memaafkan gue, akan tetapi juga karena gue hanya meminta maaf pada lantai kamar yang beralaskan karpet. Semakin tidak ada alasan bagi dia untuk memberi gue maaf.


Diam.


Wanita yang gue cintai itu, calon istri gue itu kini hanya diam. Gue pun tidak punya apa pun lagi yang bisa gue jadikan alasan untuk menambal keheningan ini. Karena gue tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Karena apa pun yang ke luar dari mulut gue tidak akan ada gunanya lagi. Semuanya telah terjadi. Tidak bisa dibatalkan.


"Get out, Ngga. Get out of my room."


Olavia mengatakan kalimat itu lagi. Gue tidak menyangka bahwa gue akan mengalami situasi yang seperti ini untuk kedua kali. Walaupun kali ini dengan nada yang lebih lunak, lebih lirih, akan tetapi dengan begitu kalimat itu terasa lebih menyakitkan. Terasa lebih serius. Lebih final. Ke luar dari tempat yang lebih dalam.


Kali ini pun, aku diusir dari dalam kamarnya karena alasan yang sama. Sebab orang yang sama.


Kalaupun dia masuk neraka untuk selamanya, kemungkinan besar gue akan bertemu dia di sana. Karena kami sama-sama akan masuk neraka setelah kehidupan ini.


"Please, Ngga. Please. Get out of my room. I want to be alone right now." Tidak ada yang bisa membuat hati seseorang hancur lebih dari permintaan yang diucapkan dengan suara bergetar dan kesungguhan dari orang yang paling dicintainya.


Gue tidak ingin pergi dari samping dia. Gue tidak ingin meninggalkan dia sendiri. Gue hanya ingin merawat dia, melindungi dia, memastikan dia mendapatkan semua hal yang paling baik yang ada di dunia, akan tetapi gue gagal. Gue sudah gagal. Belum-belum gue sudah menjadi seorang pecundang karena telah gagal terlebih dahulu bahkan jauh sebelum memulai perjuangan gue.


Fxcking hell.


Rasanya sakit banget, bxngsat. Rasanya sakit naget di dalam sini, di bawah rib cage gue ini. Rasanya seperti ada seseorang yang menggebuk hati gue dengan palu gada sampai benyek, lalu giling sampai halus. Hingga hati gue tidak berbentuk lagi.


Hingga gue tidak punya hati lagi.

__ADS_1


No. Kalau Olavia tidak mau mengisi hati gue, kalau dia tidak ingin menjadi pemilik hati gue lagi, lebih baik gue tidak memiliki hati sama sekali. Karena tanpa dia, organ itu tidak ada gunanya buat gue.


"Ngga, please."


Dia menangis. Dia sudah menangis. Gue sudah berhasil membuat dia menangis lagi.


Congratulations, you bastard. Lo sudah jadi alasan bagi air mata yang menetes di pipi wanita itu lagi. You must be proud of yourself, huh? Such a loser.


Gue jadi ingat sebuah kata-kata yang diucapkan oleh seseorang di suatu waktu.


It's better to lose a lover than to love a loser.


Gue tidak tahu kenapa gue bisa ingat dengan kalimat itu dan gue juga tidak tahu gue termasuk di kategori yang mana. Yang jelas, gue hanya mengatakan apa yang ada di dalam pikiran gue.


You better get your loser xss out of this room. Sebelum Olavia memohon lagi.


Kalau lo benar-benar cinta sama dia, lontidak akan membiarkan dia untuk mengemis apapun dari lo.


Okay, then. Gue akan ke luar dari sini.


Gue hirup napas dalam-dalam dan mulai gue embuskan perlahan. Dengan kedua telapak tangan di atas paha, gue menganggukkan kepala yang masih saja menghadap ke lantai. "Oke, Sayang. Oke. Aku akan ke luar. Tapi, izinkan aku mengatakan ini terlebih dahulu."


Olavia tidak mengeluarkan suara atau melakukan tanggapan apa-apa. Gue yang terlalu berharap menganggap tidak adanya tanggapan itu sebagai seuatu bentuk izin dan persetujuan dari dia.


"Izinkan aku untuk mengatakan kalau aku benar-benar tidak bermaksud mengacaukan semuanya. Aku tidak bermaksud untuk membongkar rahasia yang selama ini sudah kamu surukkan dari Owen. Aku mencintai Ole seperti anak kandung aku sendiri. Aku terlalu mencintai dia untuk membiarkan nama ayah di akta kelahirannya kosong.


"Aku tahu tindakan yang sudah aku ambil itu bodoh, tidak penuh perhitungan, dan lancang. Aku tahu dan aku minta maaf. Maafkan aku, Olavia. Aku tidak akan menolak apa pun keputusan kamu setelah bencana yang aku sebabkan ini. Dan kalaupun kamu tidak ... kamu tidak ingin bersama dengan orang yang lancang dan gegabah seperti aku, gak apa-apa. Meski aku tidak akan bisa terima kehidupan tanpa kamu, aku akan tetap menjalaninya. I love you so much, Sayang. I love you and Ole so much it makes me crazy."


Dan dengan begitu, dengan posisi yang masih berlutut gue berbalik dan melangkah ke luar kamar. Meninggalkan hati gue bersama pemiliknya di belakang.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2