
Owen
Apakah salah jika gue merasa bangga karena sudah berhasil kabur dari tempat pengasingan gue selama tiga hari dan belum terdeteksi oleh si Bram itu? Jika dia sudah tahu kalau gue tidak ada di rumah orang tuanya, pasti sekarang dia sudah mencak-mencak, menyerang ponsel gue dengan sumpah serapahnya, dan mengancam untuk berhenti mengurusi bokong gue selamanya.
Gue yakin aemua itu terdengar sangat dramatis, akan tetapi mau bagaimana lagi? Begitulah cara menghadapi gue yang problematik.
Belum lagi selesai soal skandal selingkuh dengan istri seorang pejabat yang terjerat kasus korupsi, kali ini gue dibayang-bayangi oleh keberadaan seorang anak biologis yang baru gue ketahui.
Damn, boy. You sure are some breeds.
Dan sekarang gue mencoba membayangkan bagaimana sikap dan tingkah laku keturunan gue. Siapa namanya? Ole? Oleander? Dsn nama ibunya? Olavia?
Owen. Olavia. Oleander. Wow. Inisial kami sama. Gue jadi mengira-ngira apakah si Cantik masih memikirkan gue saat dia memilih nama untuk anaknya, eh, anak kami. Honestly I still cannot wrap my head around the fact that I have a son.
I, Owen Miller, the infamous popstar playboy, have a son.
Oh, my fxcking God. Apa yang telah gue lakukan? Apa yang harus gue lakukan?
Sekarang gue hanya harus menunggu. Gue yakin pihak keluarga si Cantik tengah merencanakan sesuatu.
Pemikiran itu membuat gue memutar otak lagi. Kalau mereka merencanakan sesuatu, apakah gue sebaiknya juga merencanakan sesuatu? Apayang harus gue rencanakan? Dengan siapa gue harus merencanakan semua itu?
Ah, shxt. Inilah alasannya kenapa gue tidak bisa melepaskan diri dari Bram. Dari awal hanya dialah yang becus mengurus semua urusan gue sampai-sampai gue cuma tahu beres. Gue cuma tinggal menikmati hasil kerja keras gue dan menikmati hidup yang dibawa oleh ketenaran.
Gue sadar baru kemarin ini gue merasa bersalah banget terhadap apa yang sudah gue lakukan, akan tetapi situasi yang sekarang gue hadapi kembali membuat gue kacau. Kehadiran seorang anak membuat gue cukup terguncang.
Apa yang harus gue lakukan terhadap anak itu?
Kalau diingat-ingat, wajahnya sangat mirip sekali dengan gue. Tidak butuh tes DNA untuk membuktikan bahwa kami adalah ayah dan anak dengan kemiripan yang sangat seperti yang kami miliki.
Kenangan juga membawa pikiran gue pada si Cantik, betapa dia memuja gue dulunya. Damn. Saat itu dia adalah seorang dengan spek bidadari. Namun, sekarang? Man, sekarang setelah gue melihatnya sekilas dua hari yang lalu, sebelum dia lari dan menghilang dari pandangan gue, si Cantik malah jadi semakin cantik. Gue tidak menyangka ada wanita yang seperti itu.
Dulu, body-nya sudah memiliki lekuk-lekuk yang indah, akan tetapi sekarang lekukan-lekukan itu semakin tajam dan berisi. Gue yakin itu semua adalah kerjaan anak gue. Dia yang membuat si Cantik jadi semakin padat dan menggiurkan.
Fxck. Beruntung banget si Bxjingan Angga itu. Tangan dia bisa setiap hari menikmati keluk-keluk milik calon istrinya.
__ADS_1
But, wait. Apa yang gue rasa barusan? Kenapa di dalam dada ini rasanya ada yang sedikit menyelekit?
What the fxck?
****
Akhirnya si Bapak Arifin itu menelepon juga. Olavia bersedia bertemu dengan gue untuk menjelaskan semuanya. Namun, si Cantik tidak akan datang sendiri. Dia akan ditemani oleh kakaknya yang juga merupakan sahabat si Angga Sialan.
Hm. Dari mana gue ingat detail itu, ya?
Ah, whatever the fxck. Yang jelas gue akan segera bertemu dengan si Cantik. Meskipun demikian, gue harus menemukan tempat yang "bersih" terlebih dahulu.
Masalah yang sesungguhnya.
Pertanyaan nomor satu. Di mana tempat yang bersih itu? Gue coba berpikir dengan keras, memeriksa semua file di dalam otak gue. Menyisir satu per satu informasi di sana, demi menemukan siapa yang memiliki tempat private di antara orang-orang yang bisa gue percaya?
Pertanyaan nomor dua. Apakah ada kenalan-kenalan gue yang masuk dalam kategori itu? Secara semua kontak yang gue punya adalah orang-orang dari dunia hiburan. Selain Bram, gue tidak punya siapa-siapa lagi yang gue yakin bisa dititipkan sebuah misi rahasia. Terlebih lagi gue sedang dalam mode incognito. Tidak boleh seorang pun tahu soal keberadaan gue. Atau bisa-bisa publik hanya akan bisa bertemu dengan gue melalui unggahan video dan foto yang diambil sebelum gue terbenam di dalam tanah untuk membusuk dan menjadi santapan cacing dan makhluk kecil-kecil lainnya. Fxck. That's so fxcking dark.
Tidak perlu pertanyaan yang ketiga untuk mengambil kesimpulan bahwa gue tidak bisa melakukan apa-apa soal tempat pertemuan kami. Gue hanya harus mempercayakan semuanya kepada mereka. Lagi pula, gue yakin mereka juga tidak ingin hal ini sampai tercium oleh publik dan media. Dari tampilan rumah mereka saja, gue dapat mengatakan bahwa keluarga Bapak Arifin adalah keluarga yang termasuk golongan nol koma satu persen. Jadi, mereka akan sama takutnya terhadap skandal dengan orang dengan pekerjaan seperti gue.
Balik ke soal tempat bertemu.
Gue menjangkau ponsel yang terletak di atas meja kecil yang terletak di samping kepala tempat tidur. Dari sebuah kamar kos-kosan sederhana di bilangan Madang ini gue kirimkan pesan kepada Bapak Arifin.
Owen : saya rasa saya tidak akan dapat menemukan venue yg tepat untuk pertemuan itu Pak
Tanpa salam, tanpa basa-basi. Just my style.
Owen : mungkin sebaiknya Bapak yg cari saja
Ah, ah, ah. Hal ini membuat gue teringat akan sesuatu.
Owen : in fact, saya yakin Bapak bisa menemukan satu tempat dengan cepat
Owen : siapa tahu calon menantu Bapak mau meminjamkan restorannya sebentar
__ADS_1
Kepalang tanggung, sekalian saja gue minta mereka untuk mengurus transportasi gue.
Owen : dan saya yakin salah seorang dari karyawan Bapak bisa menjadi sopir saya barang sehari dua hari Pak
Owen : Bapak tahu kan saya sedang berada dalam satu situasi yg lain
Owen : saya seharusnya tidak berkeliaran di luar seperti ini
Owen : tapi apa boleh buat
Owen : kalau mau menyalahkan seseorang saya bisa memberikannya pada calon menantu Bapak
Owen : dia yg membuat semuanya jadi rumit seperti ini
Owen : dia bisa saja menutup mulut besarnya dan apa yg kita hadapi hari ini tidak akan kejadian
Owen : saya benar kan Pak?
Owen : oh ya. Saya akan share lokasi saya sekarang
Owen : tapi saya minta kepada Bapak untuk tidak menyebarkan info ini kepada siapa pun
Owen : apalagi sampai tercium media
Owen : kalau itu terjadi saya yakin Bapak juga sudah tahu apa akibatnya
Fxck. Pesan-pesan yang gue kirim terlihat sangat lucu di mata gue. Entah apa uang merasuki gue sehingga gue bisa mengirimkan pesan-pesan itu tanpa banyak pertimbangan. Walaupun begitu, setelah dipikir-pikir lagi, gue merasa seperti ini karena tidak ada, tidak ada satu pun yang gue rasa akan menjadi bumerang buat gue nantinya. Apa yang bisa menyerang balik? Saat ini, untuk urusan ini, semuanya terlihat ada di pihak gue.
Gue perhatikan notifikasi yang ada di bawah bubble pesan tersebut. Saat delivered berubah menjadi read dan tidak ada satu pun balasan yang masuk, gue tidak bisa menahan gelak yang ke luar dari dalam dada.
Shxt. Setidaknya untuk urusan ini gue merasa sudah menang. Siapa suruh menyembunyikan keberadaan anak gue dari ayahnya sendiri, kan? Sekarang mereka pasti sedang ketar-ketir menyiapkan semuanya.
Dan gue? Gue hanya tinggal rebahan enak-enak di atas kasur keras ini sampai ada yang menjemput gue.
Aaah, nikmatnya dunia.
__ADS_1
Bersambung ....