Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
6. Reflection of A Man


__ADS_3

Owen


Jam sembilan pagi tadi gue masih di apartemen gue, dihajar sama kata-katanya si Bram, dan jam tiga sorenya gue sudah masuk ke rumah orang tuanya Bram di kawasan Jatiluwih, dua jam dari Bandara Ngurah Rai.


Yes. You heard that right. Rumah orang tuanya Bram. Bangunan semi permanen sederhana yang hanya terdiri dari dua buah kamar tidur berukuran dua kali tiga meter, ruang tamu kecil, dan satu ruangan lagi. Di dalam sana terdapat satu sudut yang digunakan untuk dapur, kamar mandi kecil di sudut yang lain, dan ruang lepas dengan satu buah televisi serta receiver.


A far cry from my state of the art condo, but this will have to do.


Pada saat Bram memberi tahu kalau dia akan mendeportasi gue ke Bali, kalian tidak berpikir bahwa dia akan menyuruh gue untuk bersembunyi di pusat kota, kan?


Awalnya pasti kalian akan berpikir kalau Bali bukanlah tempat yang tepat untuk lay low se-low-low-nya. Awalnya sebagian besar dari kalian pasti berpikir seperti ini, "Ya, elah. Ngapain si Bram malah nyuruh si Troublemaker Owen itu ke Bali? Yang ada malah dia tambah bikin rusuh nanti di sana. Di Bali, kan, lebih banyak lagi godaannya."


Well, look at that. Apa yang akan menggoda gue di rumah yang terletak di tengah-tengah sawah ini?


Sekarang kalian tahu bahwa si Bram adalah sosok yang bukan untuk diremehkan.


Setelah sopir taksi mengeluarkan koper gue dari bagasi dan meletakkannya di dekat pintu masuk, di mana gue berada sekarang setelah selesai melakukan tur di bagian dalam rumah, gue beri pria paruh baya itu lima lembar uang seratus ribuan. Dari sudut mata gue yang tertutup oleh kacamata, gue bisa melihat ekspresi bapak itu. Matanya membesar untuk beberapa saat sebelum dia melangkah terbirit-birit menuju mobilnya.


Mungkin dia pikir gue khilaf memberikan uang sebanyak itu dan memilih untuk buru-buru kabur sebelum gue sadar dan mengambil uang itu kembali.


Gue hanya bisa tergelak sambil menggeleng-geleng melihat tingkahnya. Semenjak uang bukan jadi masalah lagi buat gue, gue berusaha untuk selalu memberi lebih kepada orang-orang yang sudah membantu gue. Karena gue masih ingat rasanya kelaparan. Gue masih ingat gimana rasanya putus asa. Gue masih hafal gimana rasanya tidak punya uang. Dan gue akan coba untuk terus mengingat rasa-rasa tersebut.


Gue bisa meng-handle masalah duitnya, akan tetapi gue rasa gue tidak bisa melindungi diri dari dampak yang dibawa oleh popularitas menjadi seorang Artis Pop Pendatang Baru Terdahsyat di tahun pertama kemunculan gue di dunia hiburan.


Fxck. Baru sepuluh menit di rumah ini dan gue sudah berpikir terlalu dalam.


Seperti biasa. Bram knows what Bram does. Dasar sialan.


Gue dorong koper berukuran sedang itu ke dalam rumah. Setelah mengunci pintu, gue langsung menuju ke kamar. Gue duduk di atas tempat tidur kayu dengan kasur kapuk yang akan menjadi tempat peraduan gue selama beberapa hari ke depan.


Owen : gue udah sampai


Butuh waktu ekstra buat pesan gue agar terkirim ke nomor ponsel Bram. Namun, entah kenapa, tak lama kemudian gue bisa menerima pesan balasan dari Bram.


Sinyal ponsel jangan ikut-ikutan menghukum gue, deh.


Si Brewok yang galak itu mengirimkan beberapa pesan sekaligus.


Bram : good


Bram : semua perlengkapan udah disiapin Bli Gedhe


Bram : seharusnya ada di lemari


Bram : di kamar tidur depan

__ADS_1


Tempat gue sekarang berada.


Gue lantas berdiri dan mengecek kebenaran info itu. Benar saja. Di dalam lemari kayu jati yang gue tebak merupakan satu set dengan tempat tidur, gue menemukan handuk bersih, alas kasur, serta selimut.


Kenapa alas kasurnya masih di dalam sini? Kenapa bukan Bli Gedhe saja yang langsung memasangkannya? Tanpa sadar gue mengetik keluhan yang terlintas di dalam kepala gue sebentar ini dan mengirimkannya pada Bram.


Bram : jangan belagu lo


Bram : gue nyuruh lo ke sana bukan buat santai


Bram : tapi buat mikir


Bram : gue sengaja bilang ke Bli Gedhe buat bantu lo nyiapin semua basic needs lo aja


Bram : cuz lo kayaknya udah lupa dari mana asal lo


Bram : sampai kesembronoan lo bisa jadi another level gini


Bram : take the challenge


Bram : remember who you were


Bram : bersihkan otak lo dari racun yang udah disebabkan oleh ke-femes-an lo itu


Bram : kalau lo benar-benar ingin tetap bermusik sih


Bram : gue out


Bram : gue males ngurusin artis yang maunya populer karena kontroversi


Bram : they're piece of shxts


Bram : there's that


Bram : gue pengen lo ingat siapa cowok yang ketemu sama gue empat tahun yang lalu


Bram : gue yakin dia masih ada di dalam sana


Bram : dan ini cara gue untuk membuat dia keluar lagi


Bram : you're not this man, dude


Bram : lo bukan sosok yang ngartis dengan mokondo


Bram : lo punya bakat, man

__ADS_1


Bram : biarkan orang-orang menikmati bakat lo itu


Bram : gue serius Owen


Bram : gue harap lo juga serius


Bram : karena kalau enggak


Bram : gue udah bisa lihat kehancuran karir bermusik lo


Bram : karena itu semua udah di depan mata


Bram : so there you go


Bram : buktikan ke diri lo sendiri kalau lo adalah orang yang sama


Bram : dengan cowok yang fokus membangun karir dan musiknya itu


What the fxck?


Pesan demi pesan masuk tanpa jeda. Gue tidak menyangka kalau keluhan gue soal alas kasur bakalan berbuah pesan sebanyak ini.


Namun ... dia benar. This version of me sudah jauuuh sekali tersesat dari the version of me empat tahun yang lalu. Gue tidak sadar kalau gue sudah membiarkan popularitas menggerus keberadaan cowok yang hanya fokus pada impian dan karir bermusiknya dulu sedikit demi sedikit hingga akhirnya hilang seperti sekarang. Gue tidak sadar kalau gue sudah berubah ke arah yang lebih buruk secara kualitas meski kuantitas digit di rekening bank gue berkata sebaliknya.


Fxck. Fxck me.


Tidak ada lagi titik tiga yang menari-nari di laman chat gue dan Bram. Gue rasa dia sudah menyampaikan semua yang ingin dikatakannya.


Baiklah. Dengan tekad yang bulat, gue ketik pesan balasan untuk manajer yang sudah sangat berjasa buat gue itu sekaligus menjadikan pesan ini sebagai janji pada diri gue sendiri.


Owen : thanks bro


Owen : i will try my very best to be that person again


Owen : i promise


Seketika pesan balasan masuk lagi.


Bram : you bet your xss you will


Bram : or you will lose the best manager you can get in this industry


Gue tergelak, lagi. Sialan dia.


Namun, setelah dipikir-pikir, benar juga. Gue rasa dia memang betul-betul manajer terbaik yang ada di dalam dunia bisnis ini. Atau setidaknya, buat gue, dia memang yang paling baik.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2