Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
27. Gue Tidak Tahu Lagi


__ADS_3

Angga


"Bro."


Gue dikagetkan oleh suara Oliver yang memanggil gue saat gue mendaratkan kaki di dasar tangga. Walaupun begitu, gue hanya mempunyai kekuatan untuk mengangkat kepala sekilas dan kembali menunduk.


Gue bisa mendengar suara napas yang keras ke luar dari hidungnya. "Come on. Pulang bareng gue." Dia di kalakian memagut bahu gue dari samping dan mulai berjalan.


Namun, gue tidak bisa mengiringi langkah sahabat gue itu. "No." Kini giliran gue yang mendesah. "Gue masih harus ngomong sama bokap dan nyokap lo. Mereka pasti lagi nunggu gue di ruang tamu depan bareng si Bxrengsek itu."


"Ah, udahlah. Gak usah dipusingin. Mereka udah suruh dia pergi dari tadi."


Keterangan dari Oli membuat gue tersentak. Kepala gue otomatis terangkat dengan cepat. "Apa? Mereka melakukan apa?"


Dia mengedikkan bahunya. "Bokap bilang kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas semuanya sekaligus. Kita perlu membicarakan soal ini dulu secara internal sama Lala. Jadi, mau gak mau dia harus nunggu. Sampai batas waktu yang tidak ditentukan."


"What?"


"Yeah." Dia mencibir.


"Serius lo?"


Oliver mengerang. "Iya, Kunyuk. Gue serius. Masa gue berani bercanda di saat-saat kayak gini, sih? Gue gak sebebal itu kali!"


Gue kembali mengembuskan napas panjang. Gue tidak tahu harus berterima kasih kepada Om Arif dan Tante Yuni karena sudah memutuskan untuk melakukan hal yang tampaknya tidak bisa gue lakukan, berkomunikasi dan menjadi bijaksana, atau gue harus bersujud di kaki mereka untuk mengemis maaf.

__ADS_1


Namun, setelah dipikir-pikir, gue sepertinya harus melakukan kedua hal tersebut.


For the love of all things holy, Angga! Stop mengerjakan sesuatu hal yang bodoh dan mengacaukan hidup lo sendiri!


"Kalau gitu kayaknya gue sekarang harus ngomong sama bokap dan nyokap lo." Gue mengungkapkan setelah mengetahui kepergian Owen. Meski dia tidak ada di sini lagi, itu bukan berarti bahwa semua masalah sudah selesai. Tidak adanya dia hanya mencentang satu dari sekian banyak tugas di tumpukan hal-hal yang harus gue selesaikan.


"Kan, udah gue bilang. Udah lah, bro. Lo gak usah mikirin apa-apa lagi sekarang. Yang jelas, sebaiknya lo istirahat dulu. Tenangkan pikiran dan perasaan masing-masing sebelum kita ngumpul lagi buat membicarakan ini baik-baik." Dia menepuk pundak gue beberapa kali. "Lo dengar gue, kan? Yok, istirahat dulu."


Oliver kini mendorong tubuh gue dengan sedikit lebih keras. Tubuh gue yang sudah tidak berdaya itu dengan mudah dibawanya bersama langkah besar-besar pemuda itu.


"Eh, by the way, lo nginap di mana? Udah pesan hotel apa belum? Atau mau langsung balik ke Jakarta aja? Kita pakai satu mobil aja. Urusan mobil lo gampang lah. Nanti minta antar sama siapa gitu." Oliver membuat penawaran.


Gue sangat bersyukur dengan keberadaan dia saat ini. Gue benar-benar tidak mempunyai tenaga untuk melakukan apa-apa lagi. Atau, lebih tepatnya gue tidak punya setitik pun niat untuk melakukan apa pun lagi. Gue hanya ingin jatuh ke lantai dan bersatu dengan debu-debu yang ada di sana.


Fxcking hell! Gue terdengar seperti lirik dari sebuah lagu yang super duper melow itu.


"Gak apa-apa. Gue masih bisa bawa mobil, kok." Gue berusaha untuk tetap kuat. Karena pasti akan berat untuk mengambil mobil gue dari rumah ini nanti. Gue tidak mau menunda-nunda kiamat yang akan menghantam hubungan kami dengan meninggalkan barang-barang atau menyisakan hal-hal untuk diurus di masa depan. Kembali ke sini untuk mengambil mobil mewki gue tahu Olavia tidak menginginkan gue lagi adalah hal yang mustahil. Apalagi kalau gue harus menahan diri agar tidak bertemu dengan Ole.


Nope. Gue tidak akan membuat diri gue sendiri mengalami hal itu. Sudah cukup oedih yang harus gue tahan. Tidak perlu ditambah-tambahkan lagi.


Sekarang giliran sahabat gue yang terdengar ragu-ragu. "Beneran lo, bro?"


"Hm." Gue bergumam sembari mengangguk sekali dengan lemah.


"Oh, oke." Oliver aetuju setelah terdiam beberapa saat. Memanglah butuh waktu yang agak lama bagi dia untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau keadaan gue cukuo baik untuk mengendarai mobil seorang diri. "Gue ikutin lo. Nyantai aja juga gak masalah. Lakukan apa pun yang lo inginkan."

__ADS_1


Nah, man. Gue tidak bisa melakukan itu. Sekarang jelas gue tidak bisa melakukan apa pun yang gue inginkan lagi.


Gue menganggukkan kepala sekali tanpa berkata apa-apa.


****


"Rumah siapa, nih, Ngga? Keren banget, parah," komentar Oliver setelah kami menginjakkan kaki di dalam rumah gue. "Vibes-nya cocok banget buat keluarga-keluarga muda yang baru nikah atau udah punya anak kecil, tahu!"


Yeah, man. Gue tahu itu. "Rumah gue." Gue menjawab singkat sambil meletakkan kunci di atas counter berwarna broken white yang ada di dapur.


"Apa?" Dia terbelalak. "Serius lo?"


Gue hanya mengedikkan bahu.


"Sejak kapan lo punya properti di sekitar sini? Kok, lo gak ngasih tahu gue kalau mau beli? Gue, kan, juga bisa sekalian lihat-lihat buat investasi." Oliver langsung mengomel.


Rajukan Oliver yang menggema di tengah rumah membuat rumah ini tidak terasa begitu kosong lagi. Namun, kita tidak bisa melakukan apa pun terhadap rongga yang diciptakan oleh kepergian hati dan perasaan gue.


Lagi pula, pertanyaan-pertanyaan itu membuat pikiran gue terpusat kepada wanita dan bocah yang ada tidak jauh dari sini. Sebenarnya, pikiran gue tidak pernah lepas dari mereka. Hanya saja, terkadang kepala gue mengizinkan mereka untuk mengambil urutan kesekian karena hati gue mendapatkan jaminan bahwa mereka tidak akan ke mana-mana. Namun, jika melihat keadaan sekarang, sepertinya ingatan gue menggenggam mereka dengan semakin erat mengetahui bahwa mereka tidak ada lagi di dalam kehidupan nyata gue.


Betapa menyedihkannya itu? Berpegangan dengan penuh keputusasaan pada kenangan yang tergelincir dari sela-sela jari gue setiap harinya.


Melakukan hal tersebut benar-benar menguras tenaga. Baru beberapa menit saja dan gue sudah merasa di awang-awang. Bukan karena senang, melainkan karena gue kehilangan diri gue sendiri seiring dengan waktu yang bergulir tanpa kehadiran mereka di sisi gue.


Gue rasa gue harus mulai membiasakan diri untuk menikmati rasa tidak enak seperti yang gue rasakan sekarang. Lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya gue mengembuskan napas panjang. "Udah lama. Gue belinya udah lama, sekitar sepuluh tahunan yang lalu. Lalu gue renovasi sesuai dengan bentuk rumah impian Olavia. Gue berencana menjadikan ini sebagai hadiah pernikahan kami. Tapi, sekarang gue kira udah gak ada gunanya lagi. Gue gak tahu apakah pernikahan itu masih akan tetap dilaksanakan atau enggak. Gue bahkan gak tahu apakah Olavia masih mau sama gue apa enggak."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2