
Owen
Di antara waktu rilis single pertama gue dan gig gue di Jakarta. Of course di waktu tersibuk gue setelah debut. Gue bisa dibilang hampir tidak pernah memegang ponsel di waktu-waktu tersebut. Jangankan bermain ponsel, mengurusi berkas dan mengirimkannya ke Olavia, waktu untuk makan saja rasanya sempit sekali.
Dan satu lagi, gue sudah lama tidak menggunakan nomor ponsel gue yang lama. Bisa dibilang semenjak gue menandatangani kontrak dengan Warner. Gue tidak mau dihantui oleh cewek-cewek dari masa lalu gue yang mau mengambil keuntungan dari hasil kerja keras yang gue lakukan selama ini. Nope. Gue tidak mau ditempeli oleh cewek-cewek lintah yang berpikir mereka bisa menempel ke gue setelah gue menjadi seorang penyanyi yang sukses dan terkenal.
"Olavia, masalahnya gue udah gak pake nomor itu lagi semenjak tanda tangan kontrak sama Warner. Abis tanda tangan dan ketemu sama manajer gue, gue buang kartunya. Eh, bukan buang, sih. Gue keluarkan itu kartu sim dan gue kaaih ke manajer gue. Bram. Jadi, ya. Gue gak pernah menerima telepon ataupun pesan dari lo."
"Tapi, Owen, telepon itu tersambung. Pesan-pesan gue juga terkirim. Makanya gue dikirimin berkas-berkas legal itu. Lo pikir kalau pesan gue diterima oleh orang yang salah, kalau pesan gue nyasar, lo pikir gue bakal menerima surat pernyataan harus menutup mulut gue soal anak yang gue kandung karena anak itu diduga adalah anak seorang Owen Miller dan surat yang basically mempertanyakan kebenaran omongan gue? Paternity test is a total bullshxt karena elo adalah satu-satunya orang yang menyentuh gue saat itu!"
Suara Olavia semakin meninggi saat dia mencapai akhir dari penjelasannya. Gue tidak bisa menyalahkan dia. Hal ini benar-benar kacau. Gue tidak pernah menerima telepon dan pesan dia, akan tetapi sementara itu dia menerima surat-surat aneh yang memakai nama gue. Gue paham kenapa dia menjadi ngotot. Dia pasti juga bingung banget dengan apa yang terjadi waktu itu.
Baiklah. Sekarang saatnya untuk mengalihkan topik pembicaraan. Yang jelas gue sudah tahu apa yang harus gue temukan. Siapa yang menggunakan nomor gue dan apa tujuannya melakukan semua yang dilakukan. Orang-orang tersebut pasti adalah orang-orang terdekat gue karena merekalah yang memiliki akses ke orang-orang di label.
"Okay, okay. Tenang. Menurut gue kita kesampingkan masalah itu dulu. Hal tersebut akan jadi pekerjaan rumah buat gue. Meskipun masalahnya sudah tidak bisa dibatalkan dan konsekuensinua sudah tidak bisa diubah, akan tetapi gue masih ingin mengetahui kebenaran di baliknya. Lo gak usah ikut mikirn itu. Sekarang ayo lanjutin cerita lo. Apa yang lo lakukan sama surat-surat itu?"
__ADS_1
Gue melihat Olavia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia melakukan itu dengan sangat, sangat, sangat pelan seperti ingin menyembunyikan apa yang dia lakukan dari gue. But you know what? Gue sudah mengetahui hal ini dari tadi. Dia sudah melakukan ini beberapa kali sejak kami memulai, bahkan sebelum pembicaraan ini.
Wanita di seberang meja memberikan jawabannya. "Gue melakukan apa yang semua ibu yang gak peduli dengan kepopuleran dan duit orang seperti lo lakukan. Gue tanda tangani surat pernyataan tutup mulut itu dan gue buang surat persetujuan untuk melakukan paternity test bullshxt-nya. Gue gak butuh apa pun dari elo. Niat gue memberi tahu elo hanya karena gue pengen lo tahu juga dan ikut bahagia sama gue. Gue gak pernah melakukan itu karena alasan uang."
Of fxcking course she did not. Dia pasti punya uang yang jauh lebih banyak dari beberapa lembar yang gue miliki sekarang. Dulu gue memang memiliki dugaan dia adalah seorang "princess", akan tetapi gue tidak membayangkan bahwa dia adalah anak dari seseorang yang seberuang itu.
Dan soal surat-surat yang dia tanda tangani. "You did right," puji gue. Gue tidak tahan untuk tidak mengatakan itu pada Olavia. Melakukan paternity test kepada bayi yang bahkan belum lahir ke dunia ini gue rasa merupakan tindakan yang sangat, sangat, sangat kotor. Invasive even.
Fxck. Fxcking fxckity fxck. I have to find those shxtheads who was responsible for this.
Ah. Sekarang gue bisa melihat kenapa gue begitu tertarik pada sosok yang gue lihat dari atas panggung Beniqno. Awalnya gue cuma tertarik dengan penampilan luarnya saja. Namun, setelah menghabiskan beberapa waktu untuk "mengejar" Olavia, gue akhirnya menemukan sisi yang tidak belum gue temui di perempuan lain sebelum itu. Kemurnian hatinya, kegigihannya, dan caranya mencintai. Olavia tidak oernah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah. Dia selalu mendedikasikan seluruh jiwa dan raganya dalam mengerjakan sesuatu. Apalagi kecintaannya terhadap keluarga. Sesuatu yang tidak pernah gue miliki.
Keluarga.
Sekarang gue rasa gue sudah memiliki keluarga. Bukankah sepasang laki-laki dan perempuan yang memiliki anak bersama sudah bisa dikatakan sebagai keluarga? Meskipun pasangan tersebut tidak memiliki ikatan apa pun? Iya, kan? Yang paling penting adalah koneksi yang mereka bagi. Gue dan Olavia memiliki sebuah koneksi yang sangat kuat, yang tidak akan bisa diputuskan sampai kapan pun, bahkan setelah bumi hancur nanti, koneksi kami melalui Oleander akan tetap abadi. Darah yang mengalir di dalam tubuh Oleander adalah campuran yang sempurna antara kami berdua.
__ADS_1
Keluarga.
Gue rasa gue ingin benar-benar menjadi keluarga bersama Olavia dan Oleander.
Gue tertawa mendengar umpatan yang ke luar dari mulut wanita itu. Jika dilihat sekilas, jika baru bertemu, orang-orang pasti tidak akan percaya wanita aelembut, seanggun, dan sekalem Olavia akan memiliki lidah yang bisa mengumpat seperti seorang pelaut. Dan gue menemukan hal itu sebagai kombinasi yang sangat sempurna. "Oke, oke, oke. Gue sudah bilang kalau gue akan mengurus semuanya soal itu. Lo gak usah repot mikirnya. You got me?"
Dia hanya mengedikkan bahu. "Or gue bisa melakukan itu sendiri dengan resources yang kami punya. Sekarang setelah gue tahu dengan pasti kalau lo gak punya andil dalam tindakan itu, gue mau-mau aja menjadikan ini sebuah kasus hukum. Gue yakin ini semua adalah kerjaan orang dalam. Lo yakin bisa menangani orang dalam label lo kalau mereka betul-betul terbukti bersalah, hm?"
Gue bisa menganggap apa yang dikatakan oleh Olavia barusan sebagai tantangan, akan tetapi gue juga bisa menganggapnya sebagai angin lalu. Dan gue lebih memilih untuk melakukan opsi yang terakhir karena ada hal yang lebih penting yang ingin gue ungkapkan kepada wanita yang merupakan ibu dari anak gue tersebut. "Gue akan urus itu semua. Titik. Sekarang gue mau bilang sesuatu dan gue harap lo bisa mendengarkan gue dulu."
"Apa?" tanyanya tanpa syak wasangka.
"Gue mau kita jadi keluarga beneran."
Bersambung ....
__ADS_1