Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
33. Omongan Oliver yang Berbelit-Belit


__ADS_3

Olavia


Setelah perbincangan yang cukup alot, kami akhirnya memutuskan untuk mengajak Owen bertemu di suatu tempat yang netral dan jauh dari jangkauan pemburu berita. Kami belum menemukan tempatnya di mana, akan tetapi Bang Oli sudah berjanji akan menemaniku tidak peduli kapan dan di mananya.


Pertemuan antara Owen dan aku dengan Bang Oli sebagai bodyguard-ku.


Sebuah janji yang sungguh menenteramkan sebagian kecil pikiranku. Meskipun begitu, tetap saja hatiku merasa lain.


Sudah tiga hari semenjak aku mengirimkan pesan itu kepada Angga. Pesan yang secara garis besar meminta dia untuk mengerti keputusanku soal penundaan pernikahan kami. Namun, sebenarnya, tidak begitu. Setelah aku baca kembali pesan itu, aku sadar bahwa pesanku terlihat sangat tidak berperasaan dan terlalu klinis. Seakan-akan pernikahan kami hanya masalah sepele yang bisa diubah-ubah sesuka hati dan semudah membalikkan telapak tangan.


Seakan-akan urusan pernikahan kami hanyalah menjadi tanggunganku saja, bukan hal yang memengaruhi kehidupan kami berdua.


Apa boleh buat, menulis pesan itu saja rasanya sudah setengah mati. Entah ada yang akan percaya atau tidak sama sekali jika aku katakan bahwa ketika tanda kirim di bawah pesan itu berubah menjadi terkirim dan tidak ada balasan apa pun dari Angga, rasanya separuh jiwaku tercabik oleh kediamannya. Mengetahui Angga, dia akan menerima keputusanku tanpa perlawanan karena dia yakin itulah yang aku mau. Itulah yang aku butuhkan. Dia akan selalu berusaha untuk memenuhi keinginanku tidak peduli apakah hal itu akan menyakitinya atau tidak.


Namun, bolehkah aku akui bahwa aku ingin dia sesekali menentang keputusan yang aku ambil? Bolehkah aku mengatakan bahwa di saat-saat tertentu aku ingin dia datang, menanyai dan menuntut penjelasan dariku, lalu bersikeras membuktikan bahwa keputusan yang aku ambil adalah keputusan yang salah. Bolehkah aku akui bahwa pada saat ini aku ingin dia menentang kehendakku?


Gila. Aku sudah gila. Aku sudah mendapatkan laki-laki paling sempurna di dunia ini, akan tetapi aku harus terus melukai hatinya.


Sudah tiga hari Oleander menanyakan keberadaan papanya. Papanya, Angga, bukan ayah kandung yang masih belum bertemu dengannya itu. Dan, sudah tiga hari pula aku berkilah dengan mengatakan kalau Angga sedang sibuk dengan urusan di restoran.


Sudah tiga hari pula Bang Oli bertindak sebagai pengalih perhatian keponakannya itu.


Walaupun demikian, hari ini tidak ada usahanya yang berhasil.


"Lele mau ketemu Papa!" raung Oleander di lantai ruang tengah. "Lele mau ketemu Papa Papa Papa!"


Mama melirik ke arahku dengan resah. Papa berdeham, aku yakin untuk membersihkan perasaan bersalah yang menyekat tenggorokannya. Aku sudah mencoba menenangkan Oleander dengan memberikan berbagai macam janji, akan tetapi semuanya terbang di atas kepalanya. Tidak ada satu pun yang menyangkut di hati.

__ADS_1


Dia hanya menginginkan papanya, akan tetapi aku tidak bisa memberikan itu sekarang.


"La." Tahu-tahu Bang Oli sudah duduk di sebelahku di depan Oleander yang masih mengamuk. Dia kemudian menggerakkan kepalanya sekilas, sebagai kode agar aku mengikutinya. Aku menurut setelah melirik Mama yang mengangguk.


Bang Oli mengarahkan langkah kami ke halaman belakang. "Biar Abang bawa Ole ke tempatnya Angga aja. Gimana? Dengan begitu kalian enggak harus ketemu."


Aku merasakan mataku memanas hanya karena singgungan nama Angga yang kudengar barusan dari Bang Oli. Kugigit bibir bawah yang sudah mulai bergetar. Kututup mulutku dengan telapak tangan saat isak yang lertama melompat ke luar dari dalam dada.


Abangku membisikkan umpatannya. Dia di kalakian memagutku, memasukkan aku ke dalam pelukannya. "Ssh. Ssshh," bujuk Bang Oli sambil terus mengelus rambutku. "Ssh. Udah, udah."


Tak ada yang dapat membendung luapan air mata ini. Tidak hanya Oleander, aku pun sungguh rindu calon suamiku itu. Namun, apalah daya. Aku sudah membuat keputusan, aku harus menjalaninya.


"Lagian, kamu ngapain pake menunda pernikahan kalian segala, sih? Kenapa kamu pake bilang kalau kalian harus break dulu? Padahal kamu bisa diskusikan ini sama Angga. Dia pasti ngerti. Kalau kamu masih kesal karena tindakan dia, ya, bilang langsung juga. Jangan main kirim-kirim pesan begitu, La. Kalian, kan, sama-sama udah dewasa. Hadeeh." Dia mengeluh.


Keluhan yang tidak memperbaiki suasana sama sekali. "Abang!" Aku merengek di dadanya. Kupukul tubuhnya yang keras itu dengan tinjuku yang kecil. "Jangan bilang begitu. Nanti aku tambah menyesal."


Dia punya keberanian untuk tertawa. "Ya, kamunya juga yang gitu," balas Bang Oli. "Laki-laki itu gak punya kekuatan super, La. Kami gak bisa baca pikiran. Satu hal yang bisa kami lakukan untuk orang yang kami cintai adalah menuruti keinginan mereka. Kapan kami tahu kalau di balik semua keinginan itu malah tersembunyi keinginan yang lain? Yang sebaliknya juga malah. Gimana caranya kami bisa tahu? Apa tanda-tandanya?"


Ah, sial. Bang Oli tidak membantuku sama sekali.


"Makanya, dari awal Abang bilang jujur aja. Gak usah pake kode-kode atau sandi morse dan sejenisnya. Kami gak bisa baca begituan. Mwncoba memahami jalan pikiran kalian para wanita saja rasanya sudah sangat rumit, apalahi harus ada pekerjaan rumah untuk menghafal sandi. Kapan kami bisa menikmati hidup dengan kalian kalau begitu ceritanya, ha?"


Sebuah gelak melompat ke luar. Bang Oli ini benar-benar! Dia bisa memarahi dan menghiburku dalam waktu yang bersamaan. Cuma dia. Hanya dia.


"Terus Ola harus gimana, Bang?" Aku bertanya di antara isak yang mengguncang tubuh.


"Kamu mau lakuin apa yang Abang sarankan emang?" tantangnya.

__ADS_1


"Kalau itu bisa menjamin semua kembali jadi baik, iya, aku mau."


"Okay, then. Let's go."


Huh?


****


Angga


"Di mana lo?" Oliver bertanya dari seberang sambungan.


"Gue di rumah." Aku menjawab dengan setengah hati. "Kenapa emangnya?"


"Eh, anu. Gue ... gue mau nyamperin lo. Tapi, gak apa-apa kalau gue ke sana sekarang?"


Gue mengernyit dahi. Apa lagi, sih, masalah si Kunyuk ini? Dia, kan, sudah pernah ke sini. Jadi, apa masalahnya? Kenapa harus minta izin seperti itu segala? Lagi pula dia tahu persis kalau gue sedang tidak melakukan apa pun selain cosplay jadi tanaman layu di atas sofa gue ini. "Kalau lo mau ke sini, ya, ke sini aja kali, Bro. Gak perlu nanya ke gue kayak gitu juga lonya."


"Sekarang emangnya lo lagi apa?"


Kenapa, sih, dia kayak petugas sensus, banyak pertanyaan? "Gue lagi rebahan aja gue, Oliiiii."


Dia malah tertawa. Dasar kamprxt.


"Ya, udah. Yang jelas gue mau ke sana. Kalau gue jadi elo, gue bakal mandi dan beberes sedikit sebelum gue sampai. Kalau gue jadi elo, gue bakal dengerin kata-kata gue."


What the fxck? Dia kenapa, sih? Kenapa bicaranya sampai belibet begitu?

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2