
Angga
Gue sedang menikmati cairan yang dikatakan nectar of the gods di dapur ketika Oliver muncul dengan tampilan yang sudah rapi. "Gue balik dulu, Bro. Bokap telepon."
Di balik tulang rusuk gue ada organ yang salah kayaknya. Dari kemarin tidak berhenti menyelekit. Terlebih lagi ketika sahabat yang sekaligus juga merupakan calon kakak ipar gue—atau apa udah jadi mantan kakak ipar?—menyinggung anggota keluarganya. Pikiran gue langsung mengarah kepada dua orang tertentu di dalam keluarga itu.
Gue merasa tidak enak sama sekali. Gue merasa badan gue sedang limbung, layaknya sebuah kapal yang terombang-ambing di tengah lautan. Hanya untuk memberi tahu kalian saja, ya, gue tidak bisa tidur semalaman ini. Badan gue sudah tidak bertenaga, perasaan gue sudah lelah luar biasa, akan tetapi kepala gue tetap bersikeras untuk mengulang-ulang kejadian kemarin, berkali-kali. Bahkan rasanya setiap reka adegan berakhir dengan semakin buruk setiap kalinya.
"Oh, oke. Thanks, Man." Gue menenggak kopi di dalam cangkir yang masih mengepul itu. Cangkir kelima gue semenjak pukul tiga dini hari tadi. Karena tidak bisa tertidur, gue memutuskan untuk menguras sisa-sisa hasrat yang ada di dalam diri gue di home gym yang gue punya di beach house di dekat kolam renang. Setelah itu gue mencekoki tubuh gue dengan kopo sebagai pengganti cekok.
Bukannya langsung berjalan ke pintu depan untuk ke luar, Oliver malah berjalan ke arah gue. "You look like shxt."
"I feel like shxt." Gue menyahut. "No, actually, I am the shxt."
Self pity party mode on. I am so pathetic.
Gue lihat dia menggelengkan kepala. "Nah, jangan ngomong kayak gitu lah, Bro," larangnya dengan nada yang terdengar penuh rasa simpati di telinga gue.
Gue sempat merasakan sesuatu yang hangat di dalam dada gue.
Sampai dia membuka mulutnya lagi. "Gak pantes. Muka sangar kayak lo masa mellow-mellow-nya parah banget gini, sih." Bibirnya berkedut-kedut, gue yakin dia sedang menahan tawanya setengah mati.
Sial. "Sahabat macam apaan lo, Jing. Cih!" Satu sachet kecil gula rendah kalori melayang ke arah si Kunyuk itu. Sayang itu tidak sampai mengenai kepalanya yang menjadi sasaran gue.
Damn him to hell. Kenapa dia harus cekatan seperti itu, sih? Gue menjadi tambah kesal padanya.
__ADS_1
Dia mendesah, tawa yang ada di wajahnya tadi seketika sirna. "Sorry, Bro. Gue cuma mau ... menghibur lo. I guess nothing can cheer you up right now then," ungkapnya sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana kargo yang dipakainya sekarang.
He's fxcking right. Tidak ada yang bisa menyenangkan hati gue sekarang. Hati gue saja sudah tidak ada, lalu apa yang mau disenangkan?
Fxcking hell. Bicara apa gue barusan?
"Yeah, okay. Right. Gue harus cabut dulu. Nanti gue hubungin lo lagi. Okay." Dia mengeluarkan tangan kanannya untuk melambai. "Bye, Ngga."
Yeah, okay. Right. Bye.
Bye.
****
Olavia
Namun, reaksi yang kudapat tidak setenang tadi malam. Belum-belum saja Bang Oli sudah mencak-mencak. "What the fxck, La? What. The. Fxck?!" geram abangku itu. Dia menyisir rambut yang tadinya rapi, akan tetapi kini sudah kusut seperti terkena angin ****** beliung oleh jari-jarinya, lagi. Setelah itu digenggamnya helaian yang bergelombang itu kuat-kuat. Aku takut dia akan mencabut sebagian besar rambut di kepalanya dan menjadi botak di usia tiga puluh tahun.
Ugh.
Membayangkan Bang Oli botak berhasil mengubah mood-ku, menjadikannya lebih baik.
"You need a minute?" Papa bertanya kepada anak sulung keluar Arifin yang masih saja menyemburkan kata-kata sekotor got rumah sakit. "Show some respect. Papa juga marah besar, Papa paham apa yang kamu rasakan, tapi bukan berarti kamu bisa run your mouth like a sailor di depan mama kamu, ya."
Bang Oli mengembuskan napas panjang dan menengok ke arah Mama. "Sorry, Ma." Penyesalan terdengar kental di dalam suaranya. Di antara laki-laki yang kukenal, dia adalah cowok yang paling menghormati ibunya. Sama seperti my man.
__ADS_1
My man.
Bagaimana kabarnya sekarang, ya? Apa yang sedang dia lakukan?
Apa yag sedang dia pikirkan?
Semalam aku menyuruhnya pergi karena terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Aku terlalu shock melihat Owen ada di depan kami. Aku terlalu tidak menyangka kalau dia akan bisa menemukan aku dan Oleander.
Aku juga tidak percaya Angga akan melakukan hal itu. Mencari Owen demi mendapatkan tanda tangannya di atas surat persetujuan pengangkatan anak. Dia mau mengangkat Oleander menjadi anaknya. Dia tidak mau kolom nama ayah di akta kelahiran Oleander kosong seperti itu saja.
Oh, my God. Semalam aku tidak dapat mencerna semuanya sekaligus, akan tetapi setelah mengurai perasaanku, berbicara dengan Papa soal apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan selengkap-lengkapnya benar-benar sangat membantu, aku menyadari bahwa apa yang aku rasakan terhadap Angga adalah sebuah rasa yang kompleks, yang meluap-luap, dan sangat besar sehingga aku pribadi saja menjadi sangat terkejut saat merasakan hal tersebut.
Untuk beberapa saat aku betul-betul merasa marah dengan apa yang sudah dia perbuat. Apa yang ada di dalam pikirannya menemui Owen seperti itu tanpa berkonsultasi denganku terlebih dahulu? Bagaimana dia bisa bersikap lancang dengan mengambil satu keputusan soal anakku tanpa berkomunikasi denganku terlebih dahulu.
Namun, setelah melihat dengan kacamata yang bersih dari emosi, menilik dari sudut pandang calon suamiku, aku rasa aku bisa dikatakan mengerti akan niatnya.
And to think that he did that so he can have it as a surprise for me at our wedding? How sweet of him to think about making Oleander his son in the eyes of the government. And to actually try to make it happen.
I love him. Oleander and I love him so much.
"Sweetie, kamu mau ke mana?"
Suara Mama membuyarkan lamunan. Tanpa sadar aku sudah berdiri, bangkit dari sofa tempatku duduk sedari tadi. Sepertinya alam bawah sadar mengambil alih diri ini, tanpa disadari membuatku bergerak sendiri untuk menghampiri sang pujaan hati. "Aku mau ke kamar, Ma. Ngambil ponsel sama mau telepon Angga." Aku menjawab dengan jujur. Buat apa berbohong, kan?
Mama menoleh ke arah Papa sebelum mengembalikan tatapannya padaku lagi. Papa serta-merta berdeham. "Hm. I'm so sorry, Sweetheart. Tapi, Papa pikir sebaiknya kamu menghubungi Angga nanti saja. Sekarang kita masih punya banyak hal untuk dibicarakan."
__ADS_1
Bersambung ....