Kamulah Satu-satunya

Kamulah Satu-satunya
28. This is It for Now


__ADS_3

Angga


"Shxt, Bro. Sorry," ungkap Oliver dengan penuh penyesalan. "Gue ... gue ... gue gak tahu." Dia menggeleng-gelengkan kepala.


Fxcking shitty indeed, man. Fxcking shitty indeed.


Gue ikut-ikutan menggeleng. "Yeah, shxt." Gue mengulang kata-kata dia. "By the way, mau minum apa lo?" Gue berbalik dan segera menuju ke arah lemari pendingin.


Sahabat gue lantas menjawab. "Bir aja, deh. Gue gak mau jadi orang tolol besok pagi karena hangover."


Gue mengambil dua kaleng Bud Light dari dalam kulkas. Fxck. Betapa gue ingin menenggelamkan diri gue ke dalam dasar botol-botol whiskey atau Vodka yang bisa gue dapatkan sekarang. Namun, gue sudah bersumpah untuk tidak mendekati minuman jahanam itu lagi. Gue tidak ingin menjadi bidih dan bertindak lebih gila lagi. Sudah cukup kekacauan yang gue perbuat dalam dua hari ini.


Dengan keyakinan yang melebihi seratus persen, gue benar-benar percaya bahwa hal ini akan bertahan selama gue ada di dunia. Bahkan mungkin ceritanya akan ada sampai setelah gue meninggal nanti.


Fxck. Gue bisa bayangkan seperti apa awal kisahnya.


Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pria yang tidak pernah melakukan sesuatu hal yang benar di atas dunia ini. Namanya adalah Angga. Dia ... merupakan seorang yang lancang dan gegabah dalam mengikuti kehendak hatinya. Ah, benar-benar tipe cowok yang menyedihkan. Begitu mudah dia kalah oleh keinginan yang menyergap rasa.


Pathetic.


Okaaay. Sebaiknya kita beranjak dari jalan yang pasti hanya akan menuju ke satu arah yang tidak ingin gue jejaki sekarang. Setelah semua rasa bersalah dan rasa sesal yang memberatkan diri gue, gue tidak mau rasa rendah diri juga ikut-ikutan menghampiri.


Well, setidaknya tidak terlalu banyak. Tidak lebih banyak dari yang audah hadir dar bergelayutan dari bahu gue.

__ADS_1


"Eh, ngomong-ngomong, kok lo bisa sampai di sini aja?" Gue bertanya kepada Oliver yang audah memarkirkan bokong berototnya di atas stool di seberang counter. "Bukannya lo bilang ada urusan ke luar kota?" Gue menunggangkan beberapa teguk isi kaleng ke dalam kerongkongan gue.


"Oh, itu. Udah selesai. Thank God selesainya lebih cepat dari jadwal," jawab cowok yang sepertinya batal menjadi kakak ipar gue itu setelah meneguk minumannya.


"Yeah, thank God. Kalau enggak, lo gak bisa ada di sini dan menjadi saksi dari clusterfxck ini sekarang." Gue menanggapi. Gue mungkin juga menambahkan sejumput sarkasme di komentar yang baru saja gue keluarkan.


"Jangan ngomong gitu lo," cegahnya. "Ini cuma masalah yang harus kalian hadapi sebelum pernikahan. Kata orang, kan, masa-masa sebelum acara nikah itu adalah masa-masa yang rentan godaan. Masalah pasti bakal ada aja. Jadi, jangan putus semangat, Bro."


"Yeah. Tapi, masalah yang orang-orang itu maksud bukan masalah besar yang kayak begini, man." Gue mengemukakan apa yang gue rasa. "Masalah besar kayak gini gak ada obatnya lagi."


"Fxck, bro. Don't say that."


"Meskipun gue gak bilang kayak gitu, akan tetapi bukan berarti hal tersebut tidak terjadi, kan? Masalahnya udah terjadi. I destroyed all the good things in my life. I fxcked up. I am a fxcked up. Lo tidak bisa memungkiri kenyataan itu."


"Nope." Gue lekas-lekas memotong kalimat dia. Jika Oliver hanya ingin memberikan kata-kata motivasi yang dia dapat dari Google, gue tidak akan menerimanya. Gue tidak butuh semua omong kosong itu. "Enggak ada tapi-tapian lagi. Gue gak mau dengar apa pun yang keluar dari mulut lo. Terima kasih banyak atas rasa peduli lo sama gue, akan tetapi gue gak bisa membiarkan hati gue berharap. Karena ini saja rasanya sudah cukup untuk bikin gue mati beberapa kali, man. Kalau gue tetap memberikan kesempatan pada harapwn untuk bersemi, gue easa gue tidak akan bisa menghadapi kekecewaan yang akan timbul dari sana. Gue gak bisa, Oli. Gue gak bisa."


****


Owen


What is the matter with those fxcking people? Huh? Kenapa gue yang diusir dari sana? Kenapa bukannya si Angga sialan itu yang diusur duluan? Ha? Kenapa gue yang harus pergi, coba? Memangnya apa salah gue?


Gue yakin dengan melihat wajah gue saja mereka sudah bisa mengambil kesimpulan kalau bocah itu memang betul-betul berasal dari darah dan daging gue.

__ADS_1


Sialan!


Segera setelah si Angga sampai di mansion kediaman keluarga si Cantik, bapaknya si Cantik langsung mengarahkan tatapannya ke gue dengan lebih serius dari sebelumnya dan berkata, "Senang bertemu dengan kamu, Owen. Tapi, saya rasa kamu harus segera pergi dari sini. Kami harus membicarakan masalah ini secara internal terlebih dahulu sebelum mengambil langkah selanjutnya. Sebagai pegangan, apakah kamu mempunyai kartu nama atau yang lain? Bagaimana cara saya agar bisa menghubungi kamu setelah kami sekeluarga selesai membicarakan masalah tersebut? Adakah nomor telepon standby yang bisa saya hubungi sewaktu-waktu?"


Belum sempat gue menjawab dan mengutarakan pendapat gue yang sebenarnya kepada Bapak Arifin Terhormat yang masih duduk di kursi kebesaran itu, akan tetapi dia sudah kembali berbicara. I guess memang itulah taktik yang dia pakai. Dia tidak membiarkan gue memiliki kesempatan untuk melakukan apa pun selain menurut.


"Kami tahu kamu adalah artis terkenal, apalagi akhir-akhir ini."


Gue sadar betul dengan sindiran yang diarahkan ke gue barusan. Namun, gue memilih untuk bersikap masa bodoh saja.


"Kami berjanji tidak akan membocorkan hal ini kepada media. Seperti yang mungkin sudah kamu ketahui, bahwa kami juga tidak terlalu menyukai pertunjukan sirkus yang mereka lakukan terlebih lagi ikut serta menjadi bagian dari bahan ejekan mereka tersebut. Jadi, kamu bisa mempercayai kami." Bapak Arifin kemudian melemparkan senyuman yang kaku. "Jadi, bagaimana? Apakah saya dapat menyimpan kontak kamu?"


Tidak ada pilihan lain selain dari memberikan nomor ponsel pribadi yang gue pakai saat ini kepada Bapak Arifin tersebut. Setelah mendiktekannya, gue melihat dia menyimpan nomor gue tanpa menghubungi gue terlebih dahulu.


Ah. Jadi dia boleh memiliki nomor kontak gue, sedangkan tidak dengan sebaliknya, huh? Boleh, boleh, boleh. Urusan gampang lah itu. Kalau mencari alamatnya saja semudah membalikkan telapak tangan, gue yakin orang yang gue hubungi untuk mendapat info soal keluarga ini juga bisa mendapatkan nomor ponsel daei seriap anggota keluarga mereka. Bahkan kepunyaan si Bibi Asisten Rumah Tangga tadi sekali pun.


"Baiklah. Kalau begitu sebaiknya kamu pergi sekarang. Saya akan menyuruh driver saya untuk mengantarkan kamu ke tempat tujuan kamu."


Dengan begitu, Bapak Arifin berdiri untuk pertama kalinya dari tempat duduk yang sudah dia tempeli sedari tadi. Diangkatnya tangan untuk gue jabat.


Well, I guess this is it then. For now.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2