
Raya dan Dian sibuk membereskan barang-barang yang mereka bawa. Raya menyusun baju mereka ke dalam lemari baju setelah membereskan peralatan dapur. Dian membantu menyapu lantai dan membersihkan kamar mandi.
"Udah selesai, Bib?" tanya Raya saat melihat sang suami yang bersandar lemas di depan pintu kamar mandi.
"Capek, Yank. Laper!"
Raya tersenyum lembut.
"Ya udah. Kamu mandi aja dulu. Ntar aku masakin buat kamu, nasi goreng. Mau?"
Dian tersenyum girang.
"Apapun yang kamu masak aku pasti mau, Yank. Kalo gitu aku mandi dulu."
Raya mengangguk.
Setelah Dian pergi mandi Raya pun mulai memasak nasi goreng untuknya dan suami.
"Udah masaknya, Yank?"
Dian yang sudah selesai mandi menghampiri sang istri.
"Bentar. Aku siapin piringnya dulu."
"Kamu mandi aja. Biar aku yang siapin piringnya. Kita makan sama-sama." ujar Dian.
Raya pun menuruti perintah suaminya dan pergi mandi. Dian menyiapkan piring dan gelas juga sendok untuk makan mereka nanti. Selesai Raya mandi dan berganti baju, mereka pun makan.
"Masakan kamu enak, Yank. Aku suka!" puji Dian.
Raya mencibir.
"Emangnya selama ini masakanku gak enak? Perasaan dulu waktu aku buatin kamu dan Firman nasi goreng bumbunya sama. Gak ada bedanya."
"Ya bedalah, Yank. Dulu kan kamu belum jadi istri aku. Sekarang yang ku makan hasil masakan istriku, jelaslah lebih enak!"
"Huuu. Gombal!"
Dian tertawa.
"Gak pa-pa. Yang digombalin istri sendiri, kok!"
"Emang pernah gombalin istri orang?"
"Ya enggaklah, Yank. Ngapain aku gombalin istri orang. Istri aku cantik dan lucu gini, ngegemesin lagi!" Dian menatap gemas sang istri.
"Diihh! Makin parah gombalnya!"
Dian terkekeh.
Selesai makan dan merapikan piring kotor, Raya mencuci piring bekas mereka makan dibantu oleh Dian. Setelah itu mereka duduk santai sambil menonton komedi di ponsel Dian.
Dian memperhatikan Raya yang terpingkal-pingkal, geli melihat lawakan yang ditontonnya.
"Yank?"
"Hm." Raya hanya mendehem dan masih tertawa-tawa geli.
"Yank?"
"Hm."
__ADS_1
"Ishh!"
Dian yang geram karna dicuekin Raya, tanpa ba bi bu langsung menerkam istrinya itu. (Udah kayak macan si Dian, main terkam aja. Dikira Raya anak kambing apa? ðŸ¤)
"Bib! Mau ngapain sih? Berat tau gak?" protes Raya karna tubuh Dian yang tinggi besar menindih tubuh mungilnya.
"Mau makan kamu!"
Raya bergidik ngeri melihat mata Dian yang menatapnya mesum.
"Bib, aku...mpfh!"
Belum selesai Raya ngomong, Dian sudah menyumpal mulut Raya dengan bibirnya.
"Mmfh!"
"Cium aku, Yank!"
"Eh?" Raya menatap suaminya yang masih asik ******* bibirnya.
"Gak bisa, ya?" Dian menatap lembut sang istri. "Kan udah aku ajarin semalem!"
Pipi Raya memerah. "Waduh! Ini sih, katak yang diajarin berudu!"
Raya benar-benar malu. Dia memang belum pernah ciuman. Hanya Dian yang berani menyentuhnya seintim ini. Itu pun karna Dian suaminya. Aji saja tidak berani melakukan hal itu padanya karna sudah pasti Raya akan menolaknya.
"Ayo aku ajari lagi."
Dengan lembut dan perlahan Dian kembali mencium bibir Raya. Tangannya mengarahkan tangan Raya agak memeluknya. Dan tangan Dian pun memegang tengkuk dan pipi istrinya.
Ciuman pun semakin dalam. Pelan-pelan Raya mulai bisa mengikuti permainan Dian. Tangannya yang memeluk leher Dian, makin dipererat membuat ciuman mereka pun semakin dalam. Lidah Dian bermain, menjelajahi setiap sudut bibir dan lidah Raya ketika mulut Raya terbuka saat mendesah.
"Kita ulang lagi yang semalam, ya?" bisik Dian. Nafasnya yang berhembus di telinga Raya membuat gadis itu bergidik geli.
Tangan Dian pun dengan nakalnya masuk ke dalam kaos Raya.
"Hmfh!"
Mendengar desahan Raya, gairah Dian makin tinggi. Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dengan semangat '45 Dian pun memulai misinya.
Saat Dian akan memulai aksinya, tiba-tiba
tok tok tok
"Assalamualaikum!"
Refleks, Raya mendorong tubuh tegap Dian hingga terjerengkang ke belakang dan terduduk dilantai.
Gagal maning! Gagal maning!ðŸ¤
"Wa'alaikumsalam!"
Dian mendengus kesal melihat istrinya yang langsung bangun dan buru-buru merapikan pakaiannya.
"Surprise!!!
"Siapa yang datang, Yank?"
"Mel, Lena, sama Firman."
Dian menatap sebal ketiga tamu yang tak diundangnya. Mereka bertiga masuk tanpa memperdulikan Dian yang merengut, masam.
__ADS_1
"Ngapain pada kesini, sih? Ganggu aja!" Dian ngedumel, kesel.
"Eh, Dek. Masak sama tamu begitu? Ntar kita pulang, loh." tegur Mel.
"Pulang aja sana! Gak ada yang ngundang kalian kesini, kok."
"Bib!"
Dian manyun melihat Raya menggeleng pelan. Sedangkan ketiga tamunya tersenyum girang.
"Kita pesta, yuk! Udah gue siapin semuanya." Lena mengacungkan bungkusan yang dibawanya.
"Ayuk!"
Dian terbaring lemas. Firman tersenyum sinis. "Jangan lu kira bisa tidur nyenyak, Yan. Gue akan cari cara biar lu gak bisa enak-enakan ama Kak Ray."
"Ngapain lu cengar-cengir, Man? Ngeledek gue, lu?!" Dian menatap Firman dengan pandangan curiga.
"Emang."
Dian melotot, kesal. "Wah! Bener-bener lu ya?!"
Firman menyeringai sinis.
"Haish! Gue beri juga, lu!" Dian merengut, geram.
"Kak Ray, aku bawain makanan kesukaan kakak. Nih!" kata Firman tanpa menggubris Dian yang melototinya, tajam.
Firman memberi bungkusan yang dibawanya pada Raya. Gadis itu membuka bungkusannya dan tersenyum senang.
"Makasih ya, Dek! Tau aja kamu kalo aku suka gorengan." mata Raya berbinar, senang.
"Eh Yank, gak boleh makan gorengan! Ntar jerawatan, loh!" larang Dian.
"Gak pa-pa, Bib. Aku makannya dikit, kok. Kita kan makannya sama-sama." kata Raya.
"Lebay lu, Yan. Kak Ray gak bakalan jerawatan, mukanya mulus gitu. Cantik!" Firman senyam-senyum, memuji Raya.
"Heh, dodol buluk! Bini gue tuh. Jangan lu godain!" bentak Dian penuh cemburu. Cepat-cepat dipeluknya erat tubuh mungil Raya sehingga gadis itu ngap-ngap, gak bisa napas.
"Haish! Dasar cumi asin!" dengus Firman sebal. "Lepasin!" Firman menarik tangan Dian. "Kak Ray gak bisa napas, tau gak?!"
"Eh?! Maaf, Yank! Gak sengaja!" Dian pun mengendorkan pelukannya.
"Gak sengaja kata lu?" Firman mencibir. "Jelas-jelas lu sengaja, Yan. Lu cemburu kan gue deket ama Kak Ray?" Firman menatap Dian sinis.
"Pake ditanya lagi? Beneran ngajak berantem, lu?" Dian balik menatap Firman, kesal.
"Udah, Dek. Lu jangan ganggu Dian. Wajar aja kalo Dian cemburu, Raya kan istrinya." Lena menenangkan Firman.
Raya pun menenangkan suaminya.
"Kamu juga, Bib. Masak sama saudara sendiri cemburu? Lihat-lihat dong kalo cemburu, Bib!"
"Itu kan artinya aku sayang sama kamu, Yank. Aku gak mau kamu berpaling sama cowok lain!" Dian ngedumel dengan bibir mencibir, lucu.
"Gak akan, Bib. Kamu suamiku. Aku tau kok batasannya sebagai seorang istri." Raya berusaha meyakinkan Dian.
"Tau lu, Yan. Ama bini aja curigaan mulu. Gimana kalo Kak Ray ngobrol berdua bang Aji?" olok Firman, membuat mata Dian terbelalak, lebar, dan refleks menatap sang istri.
"Kamu... jangan terpesona kalo bertemu bang Aji ya, Yank? Kamu jangan balikan lagi ya sama bang Aji?" Dian mengerjab-ngerjapkan matanya, lucu.
__ADS_1
Raya melengos, kesal.
"Alamat gak bisa gerak nih gue!" dengusnya dalam hati.