
"Dari mana, Bib? Jalan-jalan kok gak ngajak-ngajak?" tanya Raya heran melihat suaminya datang entah darimana sambil cengengesan.
"Aku habis ngintipin Firman, Yank."
"Hah?! Ngapain ngintipin abang?" tanya Raya bingung. "Awas, ntar bintitan loh!"
Dian nyengir.
"Eh Yank... kayaknya Firman terlibat affair deh sama kak Len."
Raya melongo.
"Kalo ngomong dipikir dulu napa, Bib? Gak enak kalo kedengaran Lena sama abang." tegur Raya. Kepalanya celingak-celinguk menoleh kiri-kanan takut terdengar sahabat dan iparnya itu.
"Aku ngomong apa adanya, Yank. Antara kak Len dan Firman sepertinya ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Soalnya tadi aku lihat mereka sedang ciuman."
"Hah?! Serius, Bib?" seru Raya kaget. Mulutnya ampe nganga.
"Biasa aja mukanya!" Dian menangkup muka bininya.
"Kayak gak pernah dicip*k aja kamu, Yank." celutuknya lagi.
Raya merengut. Lalu,
"Eh, Bib. Beneran kan yang kamu bilang tadi?" tanya Raya penasaran.
Dian mengangguk, membenarkan.
"Alhamdulillah, Bib. Berarti Lena udah bisa move on dari Sena." seru Raya, girang.
"Bukan hanya kak Len, Yank, Firman juga harus move on dari kamu."
"Heh?! Apa hubungannya sama aku?" Raya mengernyit bingung.
"Mesenge. Pura-pura bloon? Firman kan juga salah satu fans kamu selain bang Aji, Yank?!" Dian berkata dengan wajah ditekuk, cemberut.
Raya melengos, sebal. "Mulai lagi cemburuan. Kayak istrinya ini Dilraba Dilmurat aja banyak yang demen. Hadeeuh! Kapan dewasanya nih laki?" Raya menepuk jidatnya, pasrah.
"Bib... kayaknya kita harus break dulu deh."
"Hah?! Maksudnya?" tanya Dian tak mengerti.
"Capek aku kamu gak berubah juga, Bib." ujar Raya lirih.
"Loh... aku bukan power rangers, Yank. Aku..."
"Kamu ngerti apa maksudku, Bib. Jadi, jangan cari gara-gara." Raya menatap tajam sang suami.
Dian pun ngeper.
__ADS_1
"Buk... bukan gitu maksudku, Yank." Dian gelagapan. Ia tau istrinya tersinggung dengan ucapannya. "Gawat. Ayang beb ngamuk lagi."
"Maksudku..."
Raya pergi meninggalkan suami brondongnya dengan wajah kesal. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran sang suami yang selalu cemburuan.
"Bukankah sekarang kami sudah menikah dan menikmati indahnya pernikahan walau hanya berawal dari keterpaksaan? Belum cukupkah bukti bahwa aku kini sudah jadi milik dia seutuhnya?" keluh Raya dalam hati. Kecewa, sakit dan terluka, itu yang Raya rasakan saat ini atas sikap Dian.
Dian mengejar Raya yang sudah berjalan menjauhinya.
"Yank, maafin aku. Aku gak bermaksud kayak gitu tadi. Aku hanya..."
"Cukup, Bib. Aku capek. Aku mau kit..." Raya pun terdiam ketika tangan Dian menutup mulutnya, menahannya jangan sampai keluar kata-kata yang tidak ingin Dian dengar sambilĺ memeluk erat tubuh sang istri.
"Aku mohon, Yank. Aku tadi hanya ingin mengatakan bahwa aku berencana untuk menyatukan kak Len dan Firman. Karena aku lihat kayaknya Firman ada rasa sama kak Len. Hanya itu, Yank. Maaf kalo aku mengungkit soal itu lagi." dahi Dian bersandar lemah di bahu Raya.
"Untung hatiku ciptaan Allah. Kalo buatan cina, aku jamin udah dari kemarin-kemarin out jauh dari laki-laki cemburuan kayak Dian. Nasib nasib!"
Raya menghempas napas kasar dan beristighfar dalam hati. "Astagfirullahaladziim."
"Maafin aku ya, Yank, ya? Ya? Please?!!" Dian terus memohon dan menghiba.
"Aku minta... ini yang terakhir kalinya kamu bersikap ngeselin kayak gini, Bib. Jangan sampai..."
"Siap, Yank! Ini yang terakhir. Aku janji!" Dian langsung hormat komandan.
Raya berbalik menatap sang suami, dan mendapati cengiran tengil Dian.
"Makasih ya, Yank, kamu udah maafin aku. Aku sayang banget sama kamu, Yank. I love you very much! Emmuachh!" Dian mengecup lama bibir sang istri, lalu memeluknya erat.
"Gombal." cibir Raya. Dian hanya terkekeh geli.
"Ini pengantin buluk, ngapain mesra-mesraan di sini? Pamer sama yang jomblo?" ketus Firman yang entah sejak kapan berdiri di belakang mereka. Disebelahnya, Lena cengar-cengir menertawakan pasangan suami-istri itu.
Dian terkekeh.
"Masih jomblo juga lo, Man?" sindir Dian.
Raya dan Lena tertawa geli melihat Firman merengut kesal. (Kasihan Firman, niatnya tadi menyindir Dian, malah dia yang tersindir. 🤭)
"Mau melepas status jomblo lo, gak?" tawar Dian.
"Hah?!" Firman melongo.
"Ada niat punya pacar gak? Atau... punya bini biar enak di manja kayak gue?" pancing Dian.
Firman melengos, cuek.
"Gak ada urusannya ama lo. Jangan sok ribet!" sahutnya ketus.
__ADS_1
"Jangan sensitif gitu, Man. Sebagai saudara yang baik, gue kan cuma pengen bantu lo biar gak jadi jomblo seumur hidup. Baper amat jadi laki." Dian merangkul bahu kembarannya, tapi langsung ditepis kasar oleh Firman.
"Ish! Elo tuh, Man... kayak anak wedok lagi pms aja. Mau gak?" paksa Dian.
"Gak perlu. Gue bisa cari sendiri." jawab Firman datar.
"Bener? Udah ketemu? Cewek mana? Kita-kita kenal gak?" Dian terus memberondong Firman dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Firman.
"Kepo."
Dian tersenyum, kalem.
"Gak usah lo sembunyikan, gue tau kok siapa yang lagi lo incer." sahut Dian santai.
Firman menyipitkan matanya dibarengi dahi yang berkerut.
"Siapa, dek? Siapa?" Lena ikutan kepo. Tak digubrisnya Raya yang hampir tersedak mendengar ucapannya.
"Gak ngeh dia!" kekeh Raya, menertawakan Lena yang belum connect kalo Dian sedang menyindirnya dan Firman. 🤭
"Masak kak Len gak kenal? Apa Firman gak pernah cerita sama kak Len? Kalian kan sering berduaan?" pancing Dian. Geli hati yang ingin ngakak sepuasnya ia tahan melihat ekspresi cengo Lena.
"Jangan ngadi-ngadi lo, Yan!" tegas Firman.
"Gak. Serius gue. Barusan tadi gue liat lo lagi cip*kan ama tuh cewek." ujar Dian dengan wajah sok polosnya.
Alhasil, Firman yang sedang bertolak pinggang langsung membuang wajahnya ke sembarang arah sambil menepuk jidatnya. Dan Lena, tidak bisa digambarkan lagi wajahnya yang sudah kayak rebusan mister crab. 🦀
"Mamp*s gue, terciduk sama si mulut ember!!" batin Firman gusar.
"Gimana, Man? Lo mau ngaku sekarang kalo lo udah punya cewek?" tuntut Dian agar Firman mengakui semuanya.
"Dia bukan cewek gue!" dingin dan datar suara Firman.
Raya menatap iba Lena yang tersenyum kecut.
"Wahh, parah lo, Man. Masak lo udah cip*k dia tapi statusnya lo gantung? Emang tuh cewek jemuran?" ejek Dian, nyinyir.
"Gak gentle amat lo jadi cowok!" ketusnya lagi.
Firman kicep. Diliriknya Lena yang membuang pandangannya ke sembarang arah, seolah menghindari tatapannya. Perasaan bersalah pun hadir di sudut hatinya yang paling dalam.
"Sok tau lu!" Firman menoyor keras kepala Dian. "Itu urusan gue, bukan urusan lo." sahutnya tak kalah ketus.
Dian mendengus.
"Huh! Dasar titisan Mimi peri!" gerutunya kesal. "Cemen!"
Raya hanya diam tak menanggapi sang suami yang terus mengumpat saudara kembarnya. Matanya terus lekat menatap sahabatnya yang tertunduk diam.
__ADS_1
"Sebenarnya, apa yang terjadi antara abang dan Lena? Benarkah antara mereka saling menyimpan perasaan yang sama?" beragam pertanyaan berkecamuk dalam hati Raya.
"Aku harus mengajak Lena bicara dari hati ke hati. Dia pasti butuh teman curhat." batin Raya.