
"Kalian berdua serius mau tinggal di bengkelnya Dian, Ray? Emang gak sempit? Tempatnya pasti kecil kan?"
"Cukup kok Ma untuk aku dan Dian tinggal. Kan kami cuma berdua!"
"Tetep aja, sempit, Ray. Mama gak tega liat kalian berdua harus tinggal ditempat kecil begitu." Mama Dian gak rela melepas Dian dan Raya yang ingin tinggal terpisah dengan mereka.
"Gak bakalan sempit, Ma. Ntar Dian peluk aja istri Dian kalo sempit. Ya kan, Yank?" ceplos Dian sambil mengerling genit pada istrinya yang spontan melotot, sebal. Dian nyengir.
Melia terbahak mendengar ceplosan Dian yang seenak perutnya. Sedangkan Firman menatapnya kesal.
"Mau pamer lu ama gue, Yan? Tunggu aja. Gue juga bisa punya istri sebaik dan secantik Kak Ray!" Firman mendengus, kesal, dalam hati.
"Itu sih memang mau kamu, Yan!" Mama tertawa geli. Begitu juga papa.
"Baiklah. Kalau memang itu maunya kalian, mama setuju. Tapi ingat satu hal, mama gak mau mendengar kalian ribut apalagi bertengkar hebat. Dan kalo bisa, secepatnya kasih mama cucu."
Raya mingkem, gak berani ngomong. Sedangkan Dian tersenyum sumringah.
"Ditunggu ya, Ma! Secepatnya kita akan buat cucu...adaww!" Dian mengaduh. "Ishh! sakit, Yank!" Dian meringis kesakitan, dan langsung nyengir melihat wajah istrinya yang memerah.
"Cieee... Dia malu!"
Bukannya diam, Dian malah makin gokil, menggoda istrinya. Raya pun cemberut, kesal. Semua tertawa melihat Dian yang terus menggoda Raya.
"Jangan mau Kak Ray! Dian gak bisa jadi ayah yang baik. Mending Kak Ray cari suami baru aja." Firman yang dari tadi diam akhirnya bersuara.
"Apa lu kata, Man? Minta di tabok kayaknya tuh mulut!" Dian menatap Firman, kesal.
"Coba aja kalo lu bisa? Emang gue takut!" tantang Firman.
"Udah! Jangan berantem!" Papa menengahi pertengkaran Firman dan Dian. "Sebaiknya kita pergi tidur. Besok harus bangun pagi, bantu Dian dan Raya pindahan."
Semua mengangguk, patuh, dan masuk ke kamar masing-masing.
"Kamu kenapa sih, Bib, seneng banget berantem sama Firman? Gak baik sama saudara sendiri berantem."
"Kan Firman yang mulai, Yank! Dia duluan yang julid sama aku."
"Jangan diambil hati, Bib. Firman kan cuma godain kamu aja."
Dian tersenyum sinis.
"Firman emang sengaja lakuin itu, Yank. Dia cemburu sama aku." kata Dian.
Raya menatapnya bingung. "Maksudnya, Bib?"
"Firman tuh sebenarnya naksir kamu, Yank."
Raya melongo.
"Udah lama, sih. Sejak kamu sering datang ke rumah dan main sama kita, Firman udah suka sama kamu."
__ADS_1
Dian tersenyum melihat wajah cengo Raya.
"Mukanya biasa aja!" Dian meraup wajah mungil Raya.
"Ishh! Paan sih?" Raya menepis tangan jahil Dian diwajahnya.
"Kamu lama-lama bikin gemes, Yank. Aku cium, boleh?"
"Eh?!" Raya kaget mendengar ucapan Dian.
Dian menatapnya lembut. Perlahan namun pasti, wajah Dian pun mendekat ke wajah Raya.
"Mampu*s! Aku belum siap ini!"
Raya memejamkan matanya, tak berani menatap Dian. Saat tangan Dian menangkup kedua pipinya, Raya hanya bisa pasrah.
Hmfh!
Raya melotot saat Dian mencium bibirnya, lembut. Raya melihat Dian menciumnya sambil menutup mata. Raya lalu mendorong tubuh tegap Dian, hingga ciumannya pun terlepas.
"Kenapa, Yank?"
"Aku... aku...malu, Bib." Raya menunduk, malu. Dian tersenyum.
"Kamu belum pernah ciuman, Yank? Bang Aji gak pernah..."
"Dia bukan cowok mesum kayak kamu, Bib! Selama ini dia gak pernah macam-macam kalo kita pacaran. Palingan pegangan tangan aja."
"Berarti aku harus berterimakasih sama bang Aji karna udah jagain jodoh aku." Dian tersenyum, senang.
Raya memutar matanya, jengah.
"Jodohmu di jaga sama Aji, Bib. Lah, jodohku...siapa yang jagain? Pasti tuh bibir udah nyosor kemana-mana." gerutu Raya, protes. Dian nyengir.
"Gaklah, Yank. Aku gak semesum itu, kok. Aku pacaran sama Laura, sama kayak kamu pacaran sama bang Aji. Bedanya, kamu setia dan Laura enggak. Makanya dia selingkuhi aku untuk cari cowok yang mau menciumnya."
Raya memeluk suaminya. "Udah. Lupain yang lalu. Mending kita mikirin masa depan kita."
Dian tersenyum. Dan balas memeluk Raya, erat. "Hanya kamu yang ada dipikiranku sekarang, Yank. Gak ada yang lain."
Dian melepas pelukannya dan menatap Raya, lembut.
"Aku cium lagi, boleh?"
Raya mengangguk, malu-malu.
"Ishh! Gue **** juga lu!"
Dian tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan lembut dan penuh perasaan Dian mengulum bibir Raya yang pasrah menerimanya. Perlakuan lembut yang Dian berikan membuat Raya mendesah, menikmati sensasi 'aneh' yang baru pertama kali ini ia rasakan.
Merasa Raya menikmati ciuman yang diberikannya, Dian pun makin memperdalam ciumannya. Dan bibir Dian pun turun merambat ke leher Raya. Gadis itu pun mendesis lirih.
__ADS_1
"Hish!"
Raya merasakan tubuhnya menjadi panas, penuh gairah. Tangannya merema*s rambut Dian hingga berantakan, saat menahan diri untuk tidak bersuara.
Gairah Raya semakin diubun-ubun akibat permainan Dian. Raya pun menggeliat hebat, menikmati sensasi yang baru pertama kali ini ia rasakan.
"Bib, aku ..."
"Sabar, Yank. Aku akan..."
Tok tok tok
Ketukan dipintu membuat Dian lemas karna Raya dengan cepat mendorong kuat tubuhnya yang sudah siap menaiki istri mungilnya itu.
"Nanti aja buka pintunya, aku masih ber..."
"Gak usah dibuka aja, Yank. Pura-pura gak denger aja!" sahut Dian, lemas karna gairahnya harus berhenti mendadak. "Padahal tadi gue udah mulai on!" sungut Dian dalam hati.
Raya pun membuka pintu kamar setelah merapikan bajunya.
"Dek? Ada apa?"
Dian melihat Firman berdiri didepan pintu kamarnya.
"Ganggu aja lu, Man. Kita mau tidur, nih!" Dian ngedumel, kesal. "Pasti Firman sengaja mau ganggu gue belah duren." pikir Dian, jelek.
"Kak Ray, tolong bikinin aku mie goreng, dong. Laper." rengek Firman tanpa menggubris dumelan Dian.
"Kalo laper makan, Man. Bukan ngerecoki bini gue. Biasanya juga bikin sendiri." dengus Dian. Firman cuek.
"Kak Ray, please! Ini kan malam terakhir Kak Ray disini. Ntar kalo aku kangen mie goreng buatan Kak Ray, gimana?" Firman mengerjab-ngerjapkan matanya, lucu.
"Ya, udah. Aku bikinin. Yuk kita ke dapur." Raya yang tidak tega melihat wajah polos Firman pun menuruti kemauan iparnya itu.
"Yank?"
Raya meringis.
Dian : Sialan lu, Man. Hampir aja gue belah duren. Ganggu aja, lu? π€π€π€
Firman : ππ€ͺπ€ͺπ€ͺ
Otor rese : π€π€π€
Dian : Lu ikutan juga, Thor? π
Otor rese : πππ€ππ
Dian : Ish. Kesel gue.π€ Gue koprol juga, nih!ππ€Έπ€Έπ€Έ
Firman + Otor : π€£π€£π€£πΊππΊπ
__ADS_1