
Dara dan Armada. Mereka sudah bersama sejak masih kecil. Dimana ada Armada, pasti ada Dara. Armada yang lebih tua sepuluh tahun dari Dara sangat menyayangi gadis mungil itu. Apalagi adik Armada dua-duanya cowok, makin sayang dia sama Dara.
Begitu juga Dara. Karna sejak kecil dia selalu ikut kemana pun ayah bunda Armada pergi, dia sudah seperti anak sendiri dikeluarga Armada. Bunda Amel, bundanya Armada, suka sekali menggoda Dara kecil.
Waktu itu Dara baru berumur tiga tahun. Biar masih kecil, tapi Dara sudah bisa berbicara dengan lancar. Dara juga lincah dan ceriwis.
"Aya cantik banget. Pacarnya siapa sih?" bunda membelai lembut rambut Dara.
"Bang Dada." jawab Dara kalem. Wajah imutnya tersenyum malu-malu.
"Kenapa pacarnya bang Dada, bukan bang Tio atau bang Abi?" tanya bunda lagi.
"Aya gak mau, Bun. Soalnya cuma bang Dada yang sayang sama Aya. Yang suka nyuapin Aya, gendongin Aya, juga ngajak main Aya." jawab Dara polos.
Bunda mengerling ke ayah dan yang lainnya sambil tersenyum geli. Ayah hanya geleng-geleng kepala melihat ulah jahil istrinya menggoda anak tetangga sebelah rumah mereka. Armada hanya nyengir mendengar ucapan polos Dara. Bang Tio dan bang Abi ngakak tanpa bisa di rem.
"Bini lu imut bener, Da. Jadi pengen gue telen." goda bang Tio, Abang tertua Armada dan Abi.
"Udah kayak anaconda lu, bang." sungut Armada, kesal. Dia malu diledekin orangtua, Abang dan adiknya, Abi.
"Bang Tio, jangan telen Aya. Nanti Aya gak diajak lagi ikut bang Dada metik jambu hutan."
"Gak pa-pa dong. Kan Aya nanti gak digigit nyamuk lagi. Udah aman bang Tio telen."
"Udah deh, bang. Jangan kerjain Aya lagi, kasihan." Armada membelai rambut panjang Aya.
"Ciee, takut bener bini imutnya nangis."
Armada mendengus, kesal.
"Yuk Ay, ikut Abang ke belakang." Armada mengamit tangan Dara.
"Mau ngapain, Da?" tanya bunda.
"Mau bedah kodok."
" Asik. Buat mancing ya kodoknya, bang?" Aya bersorak girang.
"Gak. Buat tugas sekolah. Aya nanti diem aja ya, jangan gangguin Abang."
"Em." Aya mengangguk, mantap.
Jadilah sore itu Dara ikut Armada mengoperasi kodok hasil tangkapannya.
"Bang Dada, ini apanya kodok?"
"Ini isi perutnya. Yang ini ususnya..."
"Pupnya lewat mana, bang?"
"Ya lewat ini. Ususnya."
__ADS_1
"O."
Armada tersenyum.
5 tahun kemudian,
"Bang Dada mana, kak?" tanya Dara pada Ayu, kakak perempuan Armada.
"Lagi ngapel. Kan malam Minggu?!"
Dara manggut-manggut.
"Emang tau artinya ngapel?" tanya Andre, pacarnya Ayu, pada Dara yang saat itu baru duduk dikelas 4 SD.
"Tau. Kayak bang Andre sekarang, kan? Malem-malem kesini mau pacaran sama kak Ayu, kan?"
"Wah! Masih kecil udah tau ngapel sama pacaran. Siapa yang ngajarin?" selidik Andre.
"Ada deh." Dara cengar-cengir, lucu.
"Pasti kamu udah punya pacar ya?" goda Andre. Ayu tersenyum geli melihat Andre yang terus menggoda Dara.
Andre dan Ayu tergelak melihat wajah imut Dara yang tersenyum malu-malu.
"Wah, beneran nih kamu udah punya pacar, Ay. Boleh gak Abang kenalan sama pacar kamu?"
"Hihihi!" Dara terkikik, malu.
"Gak lah. Pacarku sekarang si To'ing, Kak."
"To'ing... anaknya pak Budi, bukan?" tanya Ayu. Dara mengangguk, masih dengan senyum malu-malunya.
"Loh, bukannya dia yang sering ngajakin kamu berantem? Yang dulu kamu tonjok mukanya sampai hidungnya berdarah kan?"
"Iya."
"Kok kamu mau pacaran sama To'ing, Ay? Dia kan jahil anaknya."
"Takut dia sama aku, mah. Enak pacaran sama dia, kak. Bisa aku suruh-suruh. Duit jajannya juga aku palakin buat ku jajan dikantin." ucap Dara, polos.
Andre ngakak mendengar penuturan Dara yang sungguh-sungguh polos banget. Ayu hanya menepuk pelan jidatnya, kaget campur geli.
****
Selama beberapa tahun, Dara dan Dada sudah sibuk dengan urusan dan aktivitasnya masing-masing. Waktu bertemu pun makin berkurang. Ditambah lagi keluarga Dara harus pindah ke kota lain, dan Dada juga kuliah di luar pulau demi menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang dokter.
Walaupun Dada sering menemui keluarga Dara disela liburannya, tapi hubungan Dara dan Dada tidak seakrab dulu.
"Duh, mantu bunda kayaknya udah lupa nih sama bundanya. Habis gak pernah lagi main ke rumah bunda." sindir bunda ketika main kerumah Dara.
Dara yang saat itu sudah duduk di bangku SMA kelas XI hanya nyengir, malu.
__ADS_1
"Masih ingat gak pacar kecil kamu dulu, Ay? Atau malah lupa karna udah punya pacar baru disini?" goda bunda.
Dara nyengir kuda.
"Temen cowoknya sih banyak, kak. Aku aja sampai bingung yang mana pacarnya Dara. Habis kalo datang ke rumah selalu rombongan. Kayak lagi tur aja." Mimi yang nyaut.
"Iih, Mimi! Nyamber aja kayak gas bocor. Malu-maluin." protes Dara.
"Tapi bener, kan?" sentak Mimi. "Sekarang kamu bilang ke Mimi kamu punya pacar gak? Apa si Vian, Baim, Ari dan Mego bukan pacar-pacar kamu?"
"Diih, Mimi nanyanya kok gitu? Masak aku pacaran sama cowok-cowok tengil kayak mereka? Pacarnya aku nanti tuh harus yang kalem, soleh, gak neko-neko. Ngerti?"
"Paham." Mimi mengangguk. "Udah ketemu belum cowok yang kriterianya seperti kamu bilang tadi?"
Dara menggeleng cepat. Mimi melongo. Bunda dan ayah hanya mingkem mendengar kan mereka.
"Masak dari sekian banyak temen cowok kamu gak ada yang ser dihatimu, Ay?"
"Gak ada!"
"Nungguin Dada ya, Ay? Mau pacaran lagi sama Dada gak?" bunda mengedipkan matanya, menggoda Dara.
"Iih, bunda mah bisa aja. Bang Dada pasti udah punya pacar Bun, disana. Mana mau dia sama aku, kumel gini." Dara merendahkan diri.
"Iya. Udah kumel, dekil, buluk, jarang mandi... Klop deh semua jeleknya di kamu, Ay." celutuk Mimi, cepat.
"Yah, bunda sama Mimi ngeledekin aku terus tuh. Omelin napa. Aku ngambek loh?!" dara mengadu pada ayah Zaenal.
"Diih, ngambek kok bilang-bilang." cibir Mimi.
Ayah Zaenal hanya tertawa-tawa geli melihat ulah kedua ibu itu terus menggoda anak gadisnya.
"Jangan ngambek dong, Ay. Bunda sayang sama Aya dan mau Aya yang jadi mantunya bunda. Mau ya Aya jadi mantunya bunda?"
Aya meringis, kikuk.
"Ini Aya yang baru, Bun. Udah gede. Bukan Aya kecil dan polos, yang gak malu waktu bilang kalo bang Dada tuh pacar Aya. Aya sekarang udah tau malu dan sadar diri."
Dara menghela napas panjang.
Dan begitulah, Dara terus disindir soal Armada bila bertemu bunda.
"Move on dong, Bun. Aya aja bisa move on, apalagi bang Dada yang sama sekali gak pernah menanggapinya. Masak bunda gak bisa?"
author : Sabar, Ra. Namanya juga orang yang udah tua. Kalo lu tua juga nanti kayak gitu.😂
Dara : Diem lu, thor! Nyamber aja kayak setrum.😒😡
author : Diih, dibilangin ngegas.
Dara : Emangnya motor, ngegas!😤
__ADS_1
author : ðŸ¤ðŸ¤