
Firman menatap malas sepasang suami-istri yang sedang bermesraan di depannya. Sebenarnya gak bisa di bilang bermesraan juga sih, karna Raya dan Dian hanya menonton drama Korea dengan posisi Dian yang menemani Raya nonton sambil membelai rambut istrinya yang berbaring dengan berbantalkan pahanya. Firman aja yang baperan.
"Cihh. Lebay!" desis Firman ketika melihat Raya menyuapkan sepotong keripik singkong balado ke mulut sang suami.
"Ape lo liat-liat?!" Dian melotot pada saudara kembarnya. "Ngiri lo?!" ejeknya.
Firman mencibir.
"Man, gue denger dari yayang gue... lu berantem lagi ya sama kak Len?" tanya Dian yang langsung meringis kesakitan karena kebilan maut sang istri di perutnya.
Firman tak menggubris pertanyaan Dian. Dia malah asik mengenjreng gitarnya. Melihat itu Dian buru-buru mengangkat kepala sang istri agar bangun dan ia pun pindah duduk di sebelah saudara kembarnya.
"Man, nyanyi, Man. Gue mau nyanyi." Dian menepuk-nepuk bahu Firman.
"Mau nyanyi lagu apa?"
"Hal Hebat dari Govinda. Bisa lu?"
"Nyindir gue, lo?!" Firman tersinggung merasa tersindir.
"Ge-er! Ini khusus buat bini gue." dengus Dian, cuek
"I love you, Yank!" Dian melemparkan ciuman jarak jauh ke Raya yang duduk di seberang sofa yang tersipu malu membuat sang suami gemas ingin menciumnya langsung.
Huekk!! Firman berasa mau muntah melihat tingkah Dian.
"Yank. Sini, Yank." panggil Dian pada sang istri sambil menepuk-nepuk ditempat sebelahnya duduk.
"Ayo dong, Yank. Aku nyanyi ini buat kamu loh." rengek Dian karena Raya diam saja di tempatnya dengan bibir mengulum senyum.
"Cihh!" Firman berdecih. "Gelik gue liat lo makin kolokan, Yan. Jijik. Hiii!" Firman bergidik ngeri melihat kemanjaan saudara kembarnya pada sang istri.
"Jangan sirik lo. Mending lo mainin aja gitarnya." dengus Dian, cuek.
Jreng jreng jreng
🎵Di hidup ini
T'lah kusinggahi banyak cinta
Namun tak pernah aku temui cinta
Sekuat aku menginginkan dia
Hal hebat kurasakan
Kini dicintai seseorang
Yang 'ku pun mencintai
Itu sempurna
Takkan siakan dia
Belum tentu ada yang seperti dia
Satu dunia tahu aku bahagia
Banyak pasang mata saksinya
Takkan duakan dia
Belum tentu esok 'kan masih ada
Kesempatan tak datang kedua kalinya
Hargai dan jaga hatinya
(Dian mendekap mesra istri tercintanya dan mencium lembut pucuk kepalanya. 😘)
Dalam diamku
Kupanjatkan s'lalu doa untuknya
Jodoh bukan soal sempurna
Namun yang mampu tangguh 'tuk bertahan
Dan berjuang
Takkan siakan dia
Belum tentu ada yang seperti dia
Satu dunia tahu aku bahagia
Banyak pasang mata saksinya
(Dian merem*s lembut tangan Raya lalu menciumnya. 🤗)
Takkan duakan dia
Belum tentu esok 'kan masih ada
Kesempatan tak datang kedua kalinya
Hargai dan jaga hatinya
(Dian dan Raya kompak bernyanyi.)
Takkan siakan dia
__ADS_1
Belum tentu ada yang seperti dia
Satu dunia tahu aku bahagia
Banyak pasang mata saksinya
Tak akan duakan dia
Belum tentu esok 'kan masih ada
Kesempatan tak datang kedua kalinya
Hargai dan jaga hatinya
Hatinya
Takkan siakan dia
Takkan siakan dia
Takkan siakan dia
jreeennnggg...
Firman mengakhiri petikan gitarnya.
"Pinjem, bang." Raya mengambil gitar di tangan Firman.
"Emang kamu bisa, Yank?" tanya Dian sangsi melihat sang istri yang sok-sok'an memetik gitar sembarangan.
"Ajarin, bang." Raya menarik tangan Firman. Dan cowok itu pun mendekat, duduk di sebelah Raya. Firman memegang jari-jari lentik Raya, mengajarinya kunci dasar gitar.
"Ini tangan apa-apaan, pegang-pegang bini gue." Dian menepis tangan Firman di jari-jari sang istri.
Raya tidak memperdulikan tatapan protes suami yang tak suka melihat kedekatannya dengan saudara kembarnya sendiri.
jreeennnggg... jreeennnggg
🎶Kanda jangan marah-marah
Takut nanti lekas tua
Dinda setia orangnya
Takkan pernah mendua
(Raya bernyanyi sambil mengeringkan matanya, menggoda suaminya. 😉)
Dari jutaan bintang
Kanda paling gemerlapan
Dari segenap pria
Dan Dian pun melongo takjub, tak menyangka ternyata sang istri bisa bermain gitar. Senyum tampan tersungging dari bibir seksinya.
jreeennnggg
Raya kembali memetik gitarnya.
🎵Pelukan sayang dari hati
kini tak terbendung lagi
yang telah lama aku nanti
kau pujaan hati
Kau genggam erat tangan ini
seakan tak ingin kau pergi
kau peluk erat tubuh ini
kau pujaan hati
Biarkanlah kata sayang
'kan slalu terucap
biarkanlah kata cinta
'kan slalu ku dengar
karna kaulah kekasih hati
yang selama ini yang aku cari
Kau genggam erat tangan ini
seakan tak ingin kau pergi
kau peluk erat tubuh ini
kau pujaan hati
Biarkanlah kata sayang
'kan slalu terucap
biarkanlah kata cinta
__ADS_1
'kan slalu ku dengar
karna kaulah kekasih hati
yang selama ini yang aku cari
Biarkanlah kata indah
'kan slalu terucap
biarkanlah kata mesra
''kan slalu ku dengar
karna kaulah kekasih hati
yang selama ini... mengisi hati🤗😘
Suara merdu dan dentingan gitar Raya mampu membuat sang suami terpana takjub menatapnya.
"Aaa... peluuuk!" Dian menghambur memeluk sang istri yang terkekeh geli dengan tingkah manja suaminya.
Keduanya pun berpelukan sambil tertawa-tawa dan bercanda sambil bermesraan tanpa menggubris pria jomblo yang terbengong-bengong menatap mereka penuh rasa iri.
"Alay, lebay, tapi bikin iri. Jujur... jiwa jomblo gue meronta-ronta. Honeyyyy!!! I miss you!!!" batin Firman berteriak gusar.
Disaat Firman tengah menatap iri kemesraan adik kembarnya dengan sang istri, tiba-tiba dari arah depan terdengar orang mengucap salam.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Dian, Firman dan Raya saling pandang. Aji dan Mel datang bersama seorang tamu tak diundang. (sek sek sek. Kayak judul lagu ya? Tamu tak di undang... hm.🤔🤔)
Wusssss...
Bak torpedo, Firman melesat berlari ke dalam, menuju kamar Lena. Tak peduli dengan beberapa pasang mata yang memandang heran kearahnya.
"Kak Len!!"
Brak! Brak! Brak!
"Kak Len!!"
Brak! Brak! Brak!
"Buka pintunya, kak!!" Firman menggedor-gedor pintu kamar Lena.
Terdengar langkah kaki dari dalam kamar. Dan taklama pintu kamar terbuka. Tapi belum sempat si empu kamar bertanya, Firman sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar dan buru-buru mengunci pintunya.
Lena memicingkan matanya dengan tangan berlipat di dadanya menatap Firman.
"Ada apa? Kayak dikejar polisi aja lu."
"Kamu jangan keluar dari kamar ini."
"Hah?! Kenapa?"
"Bang Sena ada di luar."
"Masak sih?" Lena hendak keluar kamar, tapi Firman menarik tangannya.
"Mau kemana? Keluar lihat Sena? Masih mendam perasaan sama dia?" tanya Firman bertubi-tubi. Matanya menatap tajam Lena.
Dahi Lena mengernyit. "Emang gak boleh?" tanyanya santai.
"Gak."
"Kenapa?"
Firman mengusap-usap tengkuknya, bingung mau ngomong apa.
Lena kembali melangkah ke arah pintu. Dan saat ia hendak membuka pintu, Firman menahan tangannya.
"Aku gak mau kamu ketemu bang Sena."
"Kena..."
"Aku cemburu!"
Lena terdiam.
Firman menarik tangan Lena dan mendekapnya di dadanya.
"Aku gak mau kamu mengingatnya lagi, apalagi ketemu sama dia. Aku gak suka!" ujar Firman lirih.
Lena terdiam di dekapan Firman.
"Aku gak mau kamu pergi ninggalin aku, hon." Firman mencium pucuk kepala Lena.
"Pokoknya mulai detik ini gak ada alasan apapun yang buat kamu pergi dari aku. Jangan pernah menghindar kalo masalah kita belum selesai. Deal?" Firman memegang kedua pipi Lena, menatapnya lembut.
"Bukannya kamu yang menghindar dari aku?" Lena balas menentang tatapan Firman.
"Aku minta maaf." ucap Firman penuh sesal. "Jangan pernah ninggalin aku ya, hon? pintanya lirih.
"Tunggu aku. Aku akan memintamu pada ayahmu. Jangan pernah lelah menungguku pulang ya?" Firman memegang kedua bahu Lena.
Lena menatap sendu wajah tampan di depannya. Senyumnya terukir indah seiring anggukan perlahan kepalanya menyanggupi permintaan sang kekasih.
Senyum tampan mengembang di bibir Firman. Bahagia memuncah di dadanya. "I love you, honey. I love love love love you so much!"
__ADS_1
Keduanya pun tersenyum bahagia. Firman tak ingin melepas kesempatan yang ada. Perlahan namun pasti, wajahnya semakin mendekat hingga bibirnya menempel di bibir Lena. Lum*tan lembut ia berikan pada sang gadis hingga Lena terbuai menikmati sentuhan manis di bibirnya.
"Ehm... I... love... you... to... my bee!"