
"Bib, kapan ya kita bisa punya anak? Aku juga pengen merasakan hamil dan di manja kayak Mel." Raya memeluk dan bersandar manja di bahu sang suami.
"Kamu gak hamil juga aku manjain terus, Yank. Tunggu aja yang sabar. Yang penting berdoa, dan usahanya jalan terus."
Raya duduk menatap sedih mas suami.
"Kamu... gak mau ya aku hamil dan punya anak dari aku, Bib?" tanyanya sedih.
"Siapa bilang?" Dian balas menatap sang istri. "Aku mau banget, Yank. Gak sabar pengen denger junior panggil aku Daddy."
Senyum geli terukir di bibir Raya. "Kalo panggilnya Daddy, ntar si junior namanya Ucup dong?" kelakarnya sembari ngakak.
Dian melongo sejenak. Tiga detik kemudian baru ngeh dia. "Sa ae, penggemar Sopo-Jarwo." sahutnya sembari ikutan ngakak.
Dian lalu memeluk sang istri, erat. "Percayalah, Yank. Allah pasti punya rencana yang lebih baik untuk kita. Suatu hari nanti pasti kita akan punya Ucup, jadi Mommy n Daddy."
Raya tertawa.
"Aku geli di panggil Mommy, Bib." akunya.
"Terus... mau di panggil apa? Mama, ibu, bunda, atau..."
"Ntar aja mikirnya. Jadi juga belum." ujar Raya. Dian mengangguk, membenarkan.
"Tapi tetep kita harus usaha terus, Yank. Yuk, mulai usaha, yuk!" ajak Dian. Raya tertawa geli.
"Modusmu, Bib... Ada-ada saja." kekehnya. Dian nyengir.
"Lanjut, Yank!!!"
Dian pun langsung mengeksekusi baju pasangan halalnya. Menikmati keindahan tubuh istrinya tanpa memberi jeda, apalagi berhenti. Dua jam, Dian cukup membuat Raya hampir mati lemas, keenakan.
Sparing ranjang yang hangat dan penuh kenikmatan. Membuang rasa sejuk dari suasana villa yang mulai sejuk.
💞
💞
💞
Di ruang tamu, sepasang kekasih sedang curi-curi pandang. Malu-malu miaw kata orang mah. ðŸ¤
"Hon?!" panggil sang pacar laki.
"Hm "
"Jawabnya jangan gitu dong."
Lena menatap sang pacar dengan tatapan bingung.
"Terus... jawabnya musti gimana?"
Firman menggenggam lembut tangan sang kekasih. "Iya, Bee. Gitu jawabnya. Paham?"
Lena mengangguk.
"Ulangi ya?" kata Firman. "Hon!" panggilnya.
"Iya, Bee." jawab Lena seraya bergidik.
__ADS_1
"Kok gemetar, Hon? Dingin ya? Sini Bee peluk." Firman hendak menarik Lena ke dalam dekapannya. Tapi gadis itu buru-buru menahan tubuh tegapnya.
"Aku bukan kedinginan."
"Lalu?"
"Aku geli."
"Geli?" Firman nampak berpikir. "Kenapa?" tanyanya. Lena menggeleng.
"Gak mungkin aku kasih tau kalo aku geli panggil dia Bee. Bisa ngambek akut dia." batin Lena.
"Hon?!"
"Gak pa-pa, Bee. Tiba-tiba aja inget makanan di kantin kemarin, jadi eneg." Lena beri alasan.
"Emang makanan apa yang bikin Hon eneg?" tanya Firman lagi.
"Lupa aku nama makanannya. Soalnya aku gak suka sama makanan itu." bohong Lena lagi.
"Mending bohong dikit daripada Firman ngamuk tau gue gak suka dengan panggilan sayangnya. Mamp*s gue." lagi-lagi Lena berbatin ria.
"Hon?!"
"Iya, Bee." (huek!) Lena melipat bibirnya.
"Hon gak lagi hamil, kan?" tanya Firman curiga.
"Hah?!!" Sontak mata Lena melotot lebar. "Kalo ngomong di pikir dulu, bang. Aku tersinggung tau gak?!" merah padam wajah Lena mendengar pertanyaan Firman.
"Maaf, Hon. Habis kamu aneh banget hari ini." ucap Firman penuh sesal.
"Honey, Bee minta maaf kalau sudah menyinggung honey. Maafin ya?!" mata Firman mengerjab lucu.
Lena menghela napas pelan.
"Bee."
"Iya, Hon."
Lena diam sejenak. Matanya menatap dalam mata Firman.
"Bang, bisa gak kita panggilannya yang kayak semula aja. Terus terang, aku kurang sreg dengan panggilan itu. Kedengarannya alay banget, makanya aku eneg."
Firman diam.
"Bang."
Firman masih diam.
"Kamu marah?" tanya Lena hati-hati.
"Aku baru sadar sekarang. Ternyata aku alay banget ya? Rupanya tadi yang bikin kamu eneg itu gara-gara panggilan sayang kita." Firman berkata sendu. Lena diam menunduk.
"Maafkan aku kalo udah buat kamu gak enak hati. Mungkin aku memang gak akan pernah bisa menggantikan bang Sena di hati kamu." ujar Firman lagi-lagi sendu.
Lena melongo. "Kok jadi salah paham gini ya?!" pikirnya bingung.
"Gak gitu, bang. Aku..."
__ADS_1
"Baiklah, kak Len. Kita kembali saja seperti awal kita ketemu. Kamu, temannya kakakku. Dan aku, adiknya sahabatmu. Dan sekali lagi aku minta maaf untuk semua kesalahanku."
"Bang..."
"Maaf, kak. Aku mau tidur dulu. Ngantuk!" tanpa memberi kesempatan untuk Lena bicara, Firman bergegas pergi masuk ke kamarnya.
"Maksud aku tadi, aku lebih suka memanggilmu Abang. Bukannya kembali jadi kakak-adik lagi?!"
Lena terpaku menatap punggung Firman hingga menghilang masuk ke dalam kamar.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membujuk Abang ya? Dia pasti tersinggung banget." Lena memutar otak mencari jalan keluar untuk masalahnya.
"Kenapa bengong, Len? Baru datang bukannya istirahat malah bengong sendirian di sini." Raya yang baru turun dari kamarnya menghampiri dan duduk di samping Lena
"Gue baru buat kasus tadi, Ray." ujar Lena lesu.
"Abang kenapa? Ngambek?" tebak Raya. Lena mengangguk.
"Kok bisa?"
"Dia marah gue gak mau panggil dia dengan panggilan kesayangannya." lirih suara Lena yang tertunduk lesu.
"Lu kan biasa dulu panggil Sena dengan panggilan sayang kalian, Len. Kok sama Abang lu gak mau?" tanya Raya, mengingatkan Lena dengan masa lalunya bersama Sena.
"Justru itu, Ray. Firman manggil gue sama seperti Sena. Gue gak mau itu, karena Firman berbeda dengan Sena."
"Ya, emang."
"Makanya, gue mau hubungan gue tuh lebih spesial sama Firman. Dan gue bisa secepatnya move on dari Sena. Tapi kalo Firman ngambek gini, gue... hm." Lena mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Jangan dong, Len. Baru juga satu Minggu kalian jadian, masak udah nyerah?"
"Terus? Gue harus ngapain?"
Raya tersenyum teduh, menenangkan sahabatnya itu.
"Lu bujuk Abang. Beri dia pengertian, dan cari solusi terbaik agar lu berdua tidak lagi bertengkar hanya gara-gara panggilan sayang." Raya memberi semangat untuk sang sahabat.
"Dan gue juga mau kasih usul buat lu. Boleh?"
"Apa itu?"
"Gimana kalo lu sama Abang saling panggil mama-papa."
"Ckk. Kira-kira dong kalo ngasih usul, Ray. Lu aja yang udah nikah gak panggil mama-papa, masak gue harus panggil gitu?" Lena menolak mentah-mentah usul Raya. (ya iyalah. Dia sendiri gak mau di panggil mama, malah nyuruh Lena di panggil begitu. Dasar lu, Jubaedah! 😜)
"Yaa, Len. Padahal mesra loh panggilan kayak gitu?!" Raya nampak kecewa.
"Kalo mesra, lu aja minta Dian panggil lu kayak gitu. Gue mah ogah!" Lena geleng-geleng, tetap menolak.
"Len???"
"Ogah. Mending gue pergi tidur. Good night, selamat malam." Lena berjalan menuju kamarnya sambil tangan melambai, tanpa menoleh ke Raya yang masih merengek.
"Dekkk!!! Bini lu mewek tuh di depan!!!" teriak Lena sebelum masuk ke kamarnya.
"Berisik, Mumun!!!" Raya melempar bantal kursi ke arah Lena, tapi gadis itu sudah terlebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Terdengar tawa keras dari dalam kamar.
"Dasar cewek labil. Tadi sedih, sekarang ngakak sendiri. Besok gue anter lu ke psikiater buat cek otak lu. Kalo aja udah berkurang tiga setengah persen!" Raya ngedumel sendirian.
__ADS_1
Otak lu yang harus di cek, Ray. Ngomong sendiri kayak orang gila. 🙄