
"Kurang ajar tuh si Sena. Awas aja kalo ketemu, gue bikin bakwan tuh cumi asin." geram Mel tak mampu menahan kesal.
Cerita tentang kejadian di depan pintu masuk mall membuatnya sungguh-sungguh emosi.
"Sabar, Mel. Inget kata dokter, jangan marah-marah. Nanti baby ikutan emosi." kata Aji sambil mengusap-usap bahu Mel, menyuruhnya untuk tenang.
Sedangkan Raya tampak tenang-tenang saja. Tapi disebelahnya, Dian meringis sambil menahan sakit.
"Aduh! Aduh! Sakit, Yank. Marah boleh. Tapi kira-kira dong kalo mau rem*s paha orang. Mana kukunya tajem-tajem lagi. Potong dulu napa tuh kuku. Nyeri nih!" omel Dian sambil menatap nanar pahanya yang memerah, bahkan berdarah terluka akibat rema*an kuat kuku sang istri.
"Eh! Maaf! Maaf, Bib. Aku tiup ya?" Raya spontan meniup luka Dian.
Raya gak sadar tindakan spontannya membuat Mumu bangun. Wajah Dian merona, menahan ketegangan yang ditimbulkan akibat tiupan maut Raya dipahanya. Sesak di celananya mulai terasa.
"Waduhh, gawat. Mancing kok gak liat sikon kamu, Yank. Mumu kan jadi pengen ketemu Juju."
"Udah, Yank. Udah, gak usah di tiup. Mending diobati anti septik biar gak infeksi." Dian menarik pahanya, dan tangannya mendorong pelan kepala istrinya agar bibir mungilnya yang mirip paruh tweety itu menjauh.
"Jadi pengen em*t tuh bibir." pikir Dian nakal, gemas membayangkan mencium bibir mungil sang istri. (emang dasar mesum nih laki. 🤦♀️)
"Bentar ya, Bib. Aku ambil kotak obat dulu." Raya pun berjalan menuju tempat penyimpanan kotak obat. Dian menghela napas lega.
Pletakk!
"Aduh!" Dian mengaduh sambil mengusap-usap jidatnya. Dilihatnya sebuah pulpen jatuh didekatnya setelah mampir di jidatnya tadi.
"Heh, laki mesum! Udin lo bangun ya gara-gara ditiup ama kak Ray tadi?" seru Firman cengengesan, menggoda Dian.
"Diem lo, anak kecil. Punya gue namanya Mumu ya, bukan Udin." protes Dian sambil melempar kembali pulpen tersebut ke Firman yang spontan menghindari lemparan tersebut sambil ngakak.
"Apa?! Mumu katanya?! Dasar Dian sengklek!" 🤭🤦♀️
"Enak aja lu ngatain gue anak kecil. Gue bukan Shiva, ya?" protes Firman.
"Emang lo siapa? Laddu Singh?" cibir Dian.
Cihh! Firman berdecih.
"Sok tua lo, Papa Zola!" ejek Firman.
"Dasar musuh kebenaran. Adu du!" Dian balas mengejek.
"Hati-hati kalo jeplak, Piccolo!"
__ADS_1
"Berisik lu, jin kura-kura."
Hahahaha.
Mel, Aji dan Lena tak kuasa menahan tawa melihat dua saudara kembar itu saling mencela.
"Ini kenapa pada berisik sih?" tanya Raya yang datang dengan kotak P3K ditangannya. Dan sebagai istri solehah ia pun langsung mengobati luka sang suami.
"Biasalah, Ray, kalo Abang sama adek udah ketemu. Gak heran lagi." kata Mel.
"Kamu ngapain lagi, Bib? Pasti ngomong macem-macem lagi sama Abang."
"Eh, enggak, Yank. Justru Firman yang mulai. Dia bilang punyaku namanya Udin. Padahal namanya Mumu ya, Yank? Gantengan Mumu kan Yank di banding Udin?" ujar Dian dengan memasang wajah polos.
Raya menepuk jidatnya, pelan. "Tuh kan, apa gue bilang. Jangan sampai Dian keceplosan soal Juju, ya Allah. Bisa-bisa bertelor gue, mengeram terus di kamar karena malu." Raya membatin dalam hati.
Raya diam tak menimpali ucapan sang suami yang kadang gak pake saringan kalo mangap, asal jeplak aja.
"Kapan sih dewasanya laki gue? Ya Allah, hamba mohon beri hamba kesabaran yang tak terhingga meladeni sikap ajaib suami hamba. Aamiin." pinta Raya penuh harap.
"Kak Ray, mau ganti suami gak? Hayuk, aku siap!" Firman dengan pedenya berdiri tegap sambil membenarkan kerah seragam sekolahnya.
Bugh! Sebuah bantal kursi mampir manjah di kepala Firman. Si pelaku melotot tajam ke arahnya.
"Loh? Masak langsung masuk kuburan, Yan? Gak lewat malaikat Izrail nih? Masak mau langsung tanem?" ceplos Firman yang senang menggoda kembarannya itu. Ia pun menghempaskan kembali pant*tnya di sofa.
"Gue malaikat pencabut nyawa lo kalo lo berani godain bini gue!" ancam Dian.
"Hiii! Gak berani gue. Ampun bro, peace ya?" Firman bergidik ngeri seraya mengangkat kedua tangannya.
Dian mendengus.
"Dek, ihh serem bingits. Kakak jadi takut." Mel terkekeh geli. Lena dan Aji juga tergelak.
"Gue emang nyeremin kalo ada yang berani ganggu milik gue. Siapapun orangnya. Meski dia Donald Trump sekalipun." mata Dian tajam menatap Aji.
"Itu matanya kenapa pelototin laki gue? Minta di colok?" tegur Mel saat menyadari kecemburuan sang adik pada suaminya.
"Serah gue dong. Mata, mata gue." dengus Dian, cuek.
"Aduhh!!! Sakit, ihh!!!" Dian berusaha melepaskan tangan yang menarik keras telinganya.
"Mau dapet SP dari aku? Lupa sama janji yang semalem?" tatapan penuh intimidasi Raya tujukan untuk sang suami tengil.
__ADS_1
Dian nyengir kuda. "Hee. Enggak, Yank. Ampun!" dengan mengatupkan kedua tangannya Dian memohon-mohon pada sang istri.
"Gak usah cemburu gitu, Yan. Abang dan Aya sekarang sudah punya kehidupan masing-masing. Percayalah, Aya itu cewek setia." Aji akhirnya bicara juga. (pegel ya Ji, dicemburuin bocah? 🤭)
"Maaf!" ucap Dian penuh sesal.
"Sudah. Sekarang kembali ke masalah Lena." Aji mengakhiri intermezzo mereka.
"Lo sebenernya udah putus belum sih Len, sama Sena?" tanya Aji.
Lena menggeleng pelan, tak bersuara. Tangan Firman terkepal melihatnya.
"Lo tau dia udah tunangan?"
Lena mengangguk. Lagi-lagi tanpa suara.
"Kurang ajar lu, bang Sena. Awas aja lo kalo ketemu gue lagi." geraman Firman penuh ancaman dalam hati.
"Kok lu gak cerita ke kita, Len?" Mel dan Raya saling pandang.
"Gue... sayang banget sama Sena, Mel. Ray. Waktu Sena jujur ke gue kalo dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya, gue awalnya minta putus. Gue gak mau diduakan. Tapi Sena mohon-mohon sama gue, gak mau putus. Sena janji akan menolak perjodohannya..."
"Tapi kok Sena udah tunangan aja? Kalo dia nolak gak sampai tunangan, kan?" tanya Raya tak habis pikir dengan sikap Sena.
Lena menghela napas pasrah. "Sena bilang dia takut dibilang anak durhaka kalau menolak, dan terpaksa mau bertunangan dengan gadis itu." ungkap Lena jujur.
Ya, lebih baik jujur. Toh teman-temannya sudah mengetahui semuanya. Setidaknya dengan jujur beban di hati Lena terasa lebih plong.
"Sebaiknya lo jauhi bang Sena, kak Len. Jangan sampai lo dipanggil pelakor. Ingat, penghuni kebun binatang itu tunangan bang Sena, dan lo hanya pacar gelapnya." Firman memberi peringatan, menyadarkan Lena akan status hubungannya dengan Sena.
"Firman benar, Len. Gue akan bilang Sena biar gak usah ngehubungin lo lagi. Lo berhak bahagia, Len. Anggap aja lo gak jodoh sama Sena." sambung Aji.
Lena mengangguk, mengiyakan.
"Lo gak usah sedih, Len. Kita akan selalu ada kok buat lo." Mel merangkul bahu Lena. Raya ikut juga, hingga mereka bertiga saling berangkulan.
"Kalo lo ketemu lagi sama nenek lampir itu, lo langsung hubungi gue ya? Gue gak mau lo diperlakukan kayak tadi sama si nenek lampir." kata Firman.
"Gue bantu lo." timpal Dian, diangguki Raya, Mel, dan Aji.
"Makasih ya, guys. Gue beruntung punya sahabat seperti kalian. I love you, guys!" Lena menangis terharu.
"We love you too, sista!!!"
__ADS_1