
"Mak, aku ke rumah Vian dulu, ya?" teriak Raya dari luar.
Sang ratu keluar dengan wajah garang. "Mau kemana kamu? Mancing lagi?"
Raya nyengir.
"Anak gadis itu kerjanya di rumah, bukannya kelayapan. Cuci piring, nyapu, ngepel, nyetrika, bukannya mancing."
"Emak ngomel ya?"
"Gak. Lagi kumur-kumur!" sahut emak ketus.
Raya terkekeh.
"Peace, Mak. Aku kan udah selesai cuci piring. Nyapu kan bagian adek."
Adek yang dimaksud adalah adik bungsu Raya yang perempuan.
Sang ratu pun diam.
"Mak!" panggil Raya. "Aku pergi, ya?"
Emak menghela napas.
"Mak?!"
Brumm. Brumm.
Raya dan emak kompak menoleh ketika ada suara motor memasuki halaman rumah.
"Assalamualaikum. Makcik, apa kabar?"
"Wa'alaikumsalam. Dada?! Alhamdulillah makcik sehat." Wajah emak tampak sumringah menyambut tamunya.
Cowok itu tersenyum lalu menyalami dan mencium punggung tangan emak. Kemudian beralih menatap Raya yang langsung gantian menyalaminya dan mencium punggung tangannya.
"Kapan pulang dari Palembang? Lagi libur, ya? Apa udah mau wisuda? Udah lulus kan?" emak nyerocos gak tanggung-tanggung.
Raya menepuk jidatnya, pelan.
"Mak, suruh masuk dulu napa. Bang Dada pasti capek. Haus kan ya, bang?" tegur Raya pada sang ratu.
Ardana, yang biasa dipanggil Dada, tersenyum tampan.
"Duh, makin ganteng aja kamu, Da. Udah punya calon istri belum? Pasti udah ya? Secara cewek-cewek di kampus kamu pasti cantik-cantik kan?"
"Mak! Iih, kepo banget sih!" Raya jadi gemas liat emaknya.
"Gak pa-pa, Ay. Makcik kangen kali ama Abang."
"Iya, iih. Kamu ini Ray, rese banget. Emang kamu gak kepo sama pacarnya abangmu ini?" dengan wajah tanpa dosa emak menatap Raya, lekat.
Raya melengos.
"Ngapain? Gak perlu tanya aku juga tau kalo bang Dada udah punya pacar. Ya kan, bang?" Raya melirik ke arah Dada.
"Sok tau. Emang kamu pernah liat Abang lagi pacaran?" Dada mengacak rambut Raya, gemas.
"Pernah."
"Kapan?"
"Waktu Abang kerumahnya kak Weni."
Dada spontan melengos, buang muka mendengar celutukan Raya membuat gadis itu terkekeh, geli.
"Sori, bang. Hee!" Raya cengengesan sambil mengacungkan dua jarinya, meminta maaf karena sudah mengungkit masa lalu Dada.
"Ray!"
Panggilan itu membuat Raya menoleh ke empunya suara. Begitu juga dengan emak dan Dada.
"Mak!" dengan cengiran khasnya, Vian menghampiri mereka dan salim sama emak.
"Pasti mau ngajak Raya mancing lagi?" tebak emak.
"Boleh ya, Mak?" Vian masih betah cengar-cengir.
Emak merengut.
"Jangan keseringan cengar-cengir, ntar gigimu kering." sungut emak pada Vian.
Vian terkekeh.
"Coba sekali-kali ajak Raya jalan kemana gitu, Yan. Ini malah ngajak mancing. Kamu kira si Raya umpan pancing?"
"Ish, emak. Masak Raya cantik gini disamain sama cacing. Gak level ya, Ray. Elu kan mirip weargen." celutuk Vian.
"Sialan lu. Gue getok ya?!" Raya melotot dan berpura-pura hendak menggetok kepala Vian menggunakan gagang pancingnya.
"Ampun, mbak jago. Becanda kali, Ray. Gitu aja marah." Vian menahan tangan Raya.
__ADS_1
"Yuk ah, berangkat. Ntar keburu sore." ajak Vian. Raya mengangguk, setuju.
"Mak, kami berangkat ya?" pamit Vian.
"Iya. Awas ya kalo pulang nanti gak bawa ikan, kalian berdua yang emak goreng."
"Siap, Mak!" ujar Vian.
Raya menoleh ke arah Dada yang sedari tadi hanya diam melihat mereka.
"Bang Dada, aku tinggal dulu ya? Hati-hati sama emak. Ntar rahasia Abang terbongkar."
Raya mengedipkan matanya, penuh misteri.
Dada mengernyitkan dahinya, tak mengerti.
"Emak kepo, bang. Abang yang sabar ya?"
Dada tertawa geli.
"Udah biasa kali, Ay. Makcik kan emang selalu kepo sama Abang." Dada mengingatkan Raya.
"O iya ya. Tapi emang dasarnya emak suka kepo sih." ungkap Raya, asal.
"Raya."
Raya menoleh ke emak.
"Apa, Mak?"
"Berangkat... atau emak pasung kamu?" ancam emak.
"Kabur, Yan!"
Tanpa hitungan detik Raya menarik tangan Vian dan mengajaknya pergi naik motor Vian tanpa menoleh lagi. Dan Vian pun langsung tancap gas sambil ngakak.
"Dasar bocah tengil. Tau bandel gitu, mending dulu lahirnya jadi laki aja. Perempuan kok tengil!" emak bersungut-sungut, kesal.
Dada tertawa geli.
"Aya lucu ya, makcik. Cocok ama pacarnya."
"Siapa?" tanya emak. "Vian?"
"Iya. Yang tadi... pacarnya Aya, kan?"
"Gak. Bukan. Vian itu sahabatnya Raya. Mereka berteman dari SMP."
"Masak sih?" Dada melongo.
"Mana ada cowok yang mau sama Raya sih, Da? Anaknya tengil gitu. Temen-temen Raya cowok semua, Da. Gak ada satupun yang jadi pacarnya. Makcik jadi takut Raya itu gak normal." emak bergidik, ngeri.
"Belum nemu yang cocok kali Aya-nya, makcik."
"Iya juga kali ya." emak manggut-manggut.
"Tapi, Da..."
"Hm?" Dada menatap makcik.
"Sampai Raya lulus sekolah, baru sekali makcik dengar Raya suka sama cowok."
"Tuh kan, makcik. Berarti Aya masih suka sama cowok."
Emak mengangguk.
"Iya, sih. Tapi... itu udah lama banget."
"Kapan?"
"Waktu Raya masih berumur 3 tahun. Dan cowok itu kamu."
Tettewwwww
Dada pun terdiam.
****
Ditempat pemancingan,
"Cowok tadi siapa, Ray?" tanya Vian setelah keduanya sudah duduk tenang setelah melempar joran.
"Bekas tetangga gue di rumah lama dulu."
"Kayaknya udah dewasa banget."
"Hm. Calon dokter."
"Wuihh. Keren tu, Ray!"
Raya mengangguk, setuju.
__ADS_1
"Lo gak naksir ama tuh cowok."
"Gue bukan levelnya dia. Dia calon dokter, gue pengangguran."
"Kerjaan lo banyak, Ray."
"He-eh. Nyuci, nyapu, nyetrika."
Vian terkekeh.
"Makanya... kalo di suruh kuliah, tuh kuliah. Biar selevel sama calon dokter."
Raya menoleh.
"Apa hubungannya, coba?!" sahut Raya, cepat.
"Bang Dada tuh ke rumah mau main, Yan. Dia tiap libur kuliah emang sering main ke rumah gue. Sejak kecil kita emang udah deket banget." jelasnya lagi.
"Deket dari kecil kan bagus kalo deket ampe sekarang. Biar lo punya pasangan, Ray."
"Ngomong apa sih?" Raya menatap Vian, bingung.
"Maksud gue, waktu kecil kan tuh cowok lo panggil Abang, gedenya kan bisa lo panggil sayang." Vian menaik-turunkan kedua alisnya, menggoda Raya.
Raya mendelik.
"Sialan lo!" umpatnya kesal sambil melempar cacing ke arah Vian yang ngakak, lepas.
Vian menatap dalam Raya yang tampak sumringah saat mengangkat pancingnya yang berhasil mendapatkan ikan.
"Ray."
"Hm."
"Sudah saatnya lo buka diri."
"Eh?" Raya melotot.
"Maksud gue... sudah saatnya lo buka hati untuk menerima kehadiran seorang cowok di hati lo." ujar Vian.
"Gak ada cowok yang mau ama gue."
"Kata siapa?" tanya Vian.
"Ya kata gue lah."
Vian mencibir.
"Ada yang mau, lo nya o'on."
"Siapa?"
"Zayn."
Raya melongo.
"Gak usah pura-pura beg*. Lo tau Zayn naksir lo, eh malah lo suruh dia pacaran sama Lala. Dodol lo!" sungut Vian.
"Lah Zayn nya mau. Dia aja yang munafik bilangnya gak mau..."
"Emang dia gak mau sama Lala."
"Kalo gak mau, kenapa dia pergi jalan bareng Lala gak bilang-bilang gue?!" tanpa sadar Raya membentak Vian, keras.
Vian mengangguk, paham.
"Tenyata itu masalah yang bikin lo berdua salah paham. Iya iya iya."
Raya melengos.
"Itu bukan salah paham. Itu fakta sebenarnya. Zayn memang munafik. Dia bilang gak suka sama Lala, tapi pergi berduaan. Pake sumpah-sumpah bilang gak mau, nyatanya... rayuan di chat-nya ngalahin rayuan pulau kelapa. Apa namanya itu kalo bukan munafik? Padahal kalo dia ngomong jujur juga gue gak akan marah."
Vian diam. Membiarkan Raya melepaskan semua uneg-uneg yang selama ini dipendamnya dalam hati.
"Sampai kapan pun gue gak bakal mau maafin dia. Sakit hati gue. Selama ini gue udah dibegoin sama dia. Gue kira dia gak 'error' kayak lo-lo pada. Ternyata, sama saja. Keong racun!"
Vian terkekeh.
"Gak boleh dendam. Zayn sekarang makin ganteng loh. Udah jadi pak tara dia."
"Bodo amat. Mau jadi pak tara kek, mau jadi pak tani kek, bukan urusan gue." sahut Raya cepat.
"Beneran gak kangen Zayn?"
"Gak."
Vian menghela napas.
"Dasar kepala batu."
"Biarin."
__ADS_1
Vian geleng-geleng kepala melihat kekerasan hati sahabatnya itu.
"Miris gue liat lo, Ray. Apa harus selamanya lu sendirian tanpa seorang yang bisa jadi tempat pelabuhan hati lo?"