
Dara nyengir saat menyadari sepasang mata tengah menatapnya tajam.
"Lu napa cengar-cengir gitu, Ra? Liat cowok ganteng bilang-bilang dong ama kita." Mona yang sedari tadi memperhatikan tingkah Dara ikut-ikutan menoleh ke arah yang Dara lihat.
"Hee." Dara masih terus nyengir. Mona merengut.
"Udah nyengirnya. Kering tuh gigi lu." sungutnya dongkol.
Dara terkekeh.
"Aya!"
Panggilan itu membuat Dara dan teman-temannya menoleh. Seorang pria sudah berdiri di dekat mereka. Dara nyengir lagi. Dan teman-temannya pun mangap berjamaah saat melihat sosok keren tengah tersenyum tampan.
"Bang Dada."
Dara garuk-garuk kepalanya, kikuk.
"Kok disini? Gak sekolah? Bolos?" tanya Armada.
"Eh, anu bang... udah pulang. Tadi guru rapat."
"Beneran?" tanya tanya Armada sangsi. Soalnya Dara terlihat gugup.
"Bener, bang." Mona yang nyaut. "Kita kan mau ujian akhir."
Armada mengangguk, mengerti.
"Kalo gitu kita pulang. Kebetulan Abang mau ketemu makcik dan om." ajak Armada.
Tanpa menunggu persetujuan Dara, Armada menggandeng tangan Dara, mengajaknya pergi.
"Tapi bang... temen-temen aku..."
"Mereka bisa pulang sendiri, kan? Udah gede, juga."
Akhirnya Dara hanya bisa pasrah sambil menatap sendu teman-temannya yang melongo melihatnya.
"Bang Dada lagi libur ya kuliahnya?" tanya Dara setelah sudah duduk dibonceng Armada dimotornya.
"Hm."
"Ngapain tadi di mall? Sendirian lagi."
"Nyari kaos buat wall climbing."
"Masih suka panjat dinding ya?"
"Hm."
Dara tersenyum.
"Ay, emangnya kamu gak pernah lagi ikut panjat dinding?"
"Gak. Aku tuh sukanya naik gunung. Enak. Adem. Banyak anginnya."
Armada mengangguk setuju.
"Bang Dada lama ya liburnya?"
"Satu bulan."
"Kapan pulang ke sini?"
"Kemarin."
"O."
Armada tersenyum. "Masih aja suka ngomong gitu." dalam hati Armada tertawa geli.
Sesampai di rumah Dara,
__ADS_1
"Assalamualaikum. Mi, aku pulang sama bang Dada." setengah berteriak Dara mengucap salam. Dibelakangnya, Armada geleng-geleng kepala melihatnya.
"Wa'alaikumsalam. Bisa gak volume suaranya dikontrol, Ay. Anak gadis kok suaranya udah kayak toa. Berisik." Mimi Ima keluar sambil ngomel-ngomel.
Dara meringis, cengengesan.
"Assalamualaikum, makcik."
"Wa'alaikumsalam... Dada! Kapan dateng?" Mimi surprise melihat Armada. Cowok ganteng itupun salim, mencium punggung tangan Mimi.
"Kemarin, makcik."
"Masuk, yuk. Kita ngobrol di dalam." Mimi menggandeng Armada, mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Tadi aja ngomel-ngomel. Sama bang Dada, sok imut. Dasar mak-mak labil." Dara ngedumel pelan.
"Ngomong apa kamu, Ay?" Mimi menatap Dara tajam.
"Hah? Eh... gak pa-pa, Mi. Aku lagi ngapalin rumus kimia." dalih Dara, kikuk.
"Ooh. Mimi kira kamu lagi protes."
"Gak. Mana berani aku. Mimi selalu benar!" Dara mengacungkan jempolnya.
"Bagus. Anak baik. Pertahankan terus itu." Mimi menunjuk Dara dengan gaya ala Cherrybelle.
"Susah dapet Mak gaul. Narsisnya ngalahin ABG labil."
Dara mengusap wajahnya, pasrah. Armada melipat bibirnya, menahan tawa melihat ekspresi Dara yang sangat lucu menurutnya.
"Gimana kuliah kamu, Da? Udah mau lulus ya?" tanya Mimi.
"Udah lulus, makcik. Bulan Juni nanti wisuda."
"Wah, udah jadi dokter, nih. Boleh dong ntar makcik berobatnya gratis."
"Mi, bang Dada tuh sekolah kedokterannya pake duit, bukan pake daun. Ayah Zaenal susah loh nyari duitnya."
"Tuh kan, Dada aja ngangguk."
"Iya deh, iya. Kalo gak diiyain bakal lama debatnya." sahut Dara pasrah.
Mimi nyengir.
"Yang waras ngalah aja." Dara ngedumel, pelan.
"Kamu bilang apa, Ay?" Mimi melotot, seram.
"Gak. Gak ada. Aku laper."
"Ya udah. Yuk Da, kita makan dulu. Udah lama kan gak makan masakan makcik?" Mimi menyodorkan piring pada Armada.
"Makasih, makcik. Kebetulan aku kangen masakan makcik, apalagi sayur asemnya. Di sana aku belum pernah nemu rasa sayur asem seenak buatan makcik."
"Jangan bikin makcik besar kepala ah, Da. Jadi ge-er. Hee." Mimi terkekeh, malu-malu.
"Serius, makcik. Aku gak bohong."
"Ya udah, kalo gitu kamu makan sayur asem nya sepuasmu. Ya?"
"Siap, makcik."
Dara mendengus. "Aku udah kayak anak tiri, disisihkan. Hiks!"
"Makan dulu, Ay. Ntar sayur asemnya abis loh aku makan. Enak sih."
"Abisin aja, bang. Gak pa-pa. Bang Dada jarang kan makan masakan Mimi, kalo aku mah tiap ari. Udah mendarah daging. Ampe bosen."
Dara mengisi piringnya dengan nasi dan telor ceplok balado.
"Emang kamu mau makan masakan siapa kalo bukan masakan Mimi, Ay? Abahmu pulangnya seminggu sekali loh. Emang sanggup kamu puasa seminggu sekali?" sindir Mimi.
__ADS_1
Dara nyengir.
"Ampun, Mi. Maksud aku, bang Dada aja yang ngabisin sayur asemnya, aku makan yang lain aja. Hee."
Mimi mencibir.
"Sok-sok'an bosen. Padahal paling doyan. Tiap giliran Yossy pulang, pasti tinggal nasinya aja. Lauknya udah kamu emilin." dengus Mimi.
Dara nyengir lagi.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Dada terbatuk karna tersedak.
"Minum, Da. Minum." Mimi memberi segelas air putih pada Armada.
"Kamu... kuat juga makannya ya, Ay? Gak nyangka badan cungkring gini makannya kuat juga." ledek Armada. Dan ia pun tertawa geli melihat Dara merengut, kesal.
"Ishh, main keroyokan nih ngebully nya?" rajuk Dara.
Mimi dan Armada tertawa, kompak.
"Jangan merajuk. Tambah jelek entar." olok Armada. Dara makin dower bibirnya, dan Mimi juga Armada makin keras tawanya.
"Kamu makin ngegemesin aja, Ay. Bikin Abang pengen gigit kamu." batin Armada, nakal.
"Oh ya, Mi. Ntar malem, boleh gak aku keluar. Ada temen yang ultah." Dara meminta izin Miminya.
Setelah makan mereka ngobrol-ngobrol diruang tengah.
"Sama siapa perginya? Sama Vian?" tanya Mimi. Dara mengangguk.
"Boleh. Tapi pulangnya jangan malem-malem."
"Asiyaap, Mi." wajah Dara terlihat sumringah.
"Vian itu pacarmu, Ay?" tanya Armada, penasaran. "Kamu ternyata sudah bukan Aya yang dulu lagi, Ay. Kamu sekarang sudah gadis remaja."
Armada menatap Dara lekat.
"Aya mana punya pacar, Da. Temannya laki semua. Makcik aja bingung si Aya nih laki apa perempuan sih?" Mimi garuk-garuk kepala, pura-pura mikir.
"Bukan apa-apa, Da. Makcik takut Aya tuh gak normal. Teman ceweknya cuma si Mona doang. Itu juga sebelas dua belas ama Aya, tomboy."
Armada lagi-lagi tak dapat menahan geli melihat Dara merengut.
"Ishh. Lucu banget nih bocah." geram hati Armada.
"Mi, bukannya aku gak suka sama cowok, cuma..."
" Gak ada cowok yang mau sama kamu?" potong Mimi. "Gimana mau sama kamu kalo kamunya banyak bodyguard gitu. Takut kali cowok yang mau deketin kamu."
Dara nyengir.
"Dengerin dulu napa sih? Aku tuh bukannya gak mau pacaran, tapi liat semua temenku yang cowok rata-rata tengil semua, jadi aku takut aja jadi salah satu korban patah hati." Dara memberikan alasannya.
"Tidak semua laki-laki gesrek kayak teman-temanmu, Ay. Masih banyak kok yang baik." kata Armada.
"Susah, bang. Nemu yang kayak Abah tuh satu di antara tujuh belas juta cowok."
"Heh, Ay. Abahmu tuh limited edition. Cuma khusus tercipta buat Mimi."
"Mulai deh kepedean tingkat dewanya kumat." cibir Dara.
"Jangan sirik." Mimi memeletkan lidahnya.
"Diih!!! Ganjen!" sungut Dara, bete.
Armada tertawa geli.
"Inilah alasanku suka dengan keluarga ini. Keluarga yang selalu saling meledek, tapi juga saling melindungi, hangat dan riang. Membuat aku betah berlama-lama disini. Kalianlah keluarga kedua setelah keluargaku dirumah." bisik batin Armada.
__ADS_1