Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
Pernah Mencoba


__ADS_3

Sebenarnya saat di kelas X aku pernah naksir sama satu cowok. Dia kakak kelasku, yang kebetulan tempat dudukku di dekat jendela yang menghadap kelasnya.


Namanya Andriyan. Orangnya ganteng (itu menurutku loh. Kata Vian, masih gantengan dia. Berasa pengen tak sobek-sobek tuh mulutnya si Vian 😠).


Bibir mungilnya yang membulat penuh, membuatku gemas melihatnya. Kayak lagi liat mulutnya si tweety, burung kuning di film kartun favoritku.


Aku merasa aku langsung jatuh cinta pada saat pertama kali melihat Andriyan. Sikapnya yang dingin kaku, membuatku makin gemas saja dan berhasrat ingin memilikinya. Segala daya upaya aku kerahkan seluruh tenagaku untuk menarik perhatiannya.


Mungkin ini yang di bilang orang, bucin. Apapun itu, aku benar-benar menyukai Andriyan dan ingin dekat dengannya.


Aku gak tau apakah aku sudah benar-benar jatuh cinta pada Andriyan, atau hanya obsesiku belaka. Sikap Andriyan yang sok cool tapi butuh, membuatku terpacu untuk terus dekat dengannya.


Hampir tiap hari aku tongkrongin tempat dia biasa nongkrong, yaitu masjid. Ya, karna Andriyan seorang marbot dan guru ngaji di masjid itu. Kadang aku juga menjemputnya pulang les, meski dia menolak sih kalo aku jemput.😓


Segala macam cara sudah ku coba untuk mencari perhatiannya. Mulai dari minta bantu bikin pr, sampai sengaja datang kerumahnya dengan alasan pinjam buku (padahal beda kelas juga.🤦‍♀️).


Hampir satu semester aku memasang muka tembok di depan keluarganya, teman-teman, bahkan guru di sekolah. Dan hasilnya... gatot alias gagal total.


Andriyan menolakku.😭😭😭


Tapi bukan Raya namanya kalo gak bisa cepat move on. Dalam waktu singkat aku pun melupakan Andriyan. (Bukan melupakan sih, tepatnya... terpaksa melupakan.😓). Teman-temanku lah yang sudah berjasa membantuku melupakan sosok Andriyan.


Perlahan namun pasti, perhatianku beralih ke cowok yang sudah setia duduk sebangku denganku sejak di kelas X.


Namanya Zayn. Anaknya kalem, pembawaannya tenang. Cool abis pokoknya. Ditambah wajahnya yang berkarakter, dan body yang cukup keren (kata cewek-cewek di sekolah sih, Zayn mirip dengan artis Korea, Hyun Bin. Jangan tanya gue tau apa gak. Jawabnya... gak! 😁). Di kelas, cewek yang dekat dengan Zayn cuma aku. Mungkin karena aku tomboy, makanya Zayn tidak sungkan berteman denganku.


Bukan sengaja aku dekat dengan Zayn. Kami pun sebangku karna memang dia yang mau duduk disebelahku. Kami sebenarnya tidak dekat meskipun sebangku. Tapi semenjak aku memutuskan mundur dari usahaku mendekati Andriyan, disitulah kami mulai akrab. Dan itu ternyata itu memancing kecemburuan Andriyan.


Bingung kan? Sama. Aku juga bingung. Andriyan selalu cemberut dan kesal setiap melihatku sedang bersama Zayn. Entah apa masalahnya?

__ADS_1


Pernah dia mencegatku waktu aku mau pergi pipis ke toilet.


Flashback on


"Kenapa kamu gak pernah lagi ke masjid, Ray?" tanya Andriyan setelah menahan langkahku masuk menuju toilet.


"Aku solat di rumah."


"Di rumah kamu apa di rumah Zayn?"


"Eh?"


Ku tatap Andriyan, tajam.


"Kamu kan sekarang deket sama dia?"


"Aku kan sebangku sama Zayn, wajar kalo kami berteman dekat."


Aku pun mengernyit, bingung.


"Nih cowok sarap apa ya? Emangnya kenapa kalo gue pacaran sama Zayn. Emang lu siapa gue, Jailani?"


"Aku gak pacaran sama Zayn, Yan. Kami hanya berteman." jelasku, jujur dan sejelas-jelasnya.


"Bohong. Kalian berdua tampak akrab. Aku sering merhatiin kamu lagi becandaan sama dia kalo lagi berduaan di kelas."


Tettewwwww.


Si Jailani cemburu, pemirsah.😜

__ADS_1


Dengan membuang muka dan bibir melipat, aku menahan tawa. "Si tweety cemburu ternyata." batinku geli.


"Emang kenapa kalo aku suka becanda sama Zayn? Masalah buat lo!" ketusku.


"Jelaslah masalah. Aku kan suk..." Andriyan cepat-cepat menutup mulutnya.


"Apa?" tanyaku.


Andriyan diam. Salah tingkah dia.


"Pokoknya aku gak suka liat kamu dekat-dekat dengan Zayn. Titik." selesai berkata Andriyan langsung ngeloyor pergi.


"Sape lo berani larang-larang gue? Emak gue aja gak pernah ngelarang gue berteman ama siapa aja." cibirku ke arah Andriyan yang sudah menjauh.


Flashback off


Ini juga salah satu alasan kenapa aku jadi takut jatuh cinta. Takut patah hati. Dan untungnya aku, saat merasakan sakit atas penolakan Andriyan, aku tidak melakukan hal-hal ekstrim seperti yang orang lain lakukan. Bunuh diri misalnya. (Amit-amit jabang baby😬).


"Na'dzubillahi min dzalik."


Ku getok bergantian kepala dan dinding dengan tanganku beberapa kali. Gila!🤦


Sampai suatu hari, aku dan Zayn perang dingin. Dan sayangnya perang itu berkepanjangan hingga kami lulus sekolah.


Itulah untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakan kehilangan separuh jiwaku. Dan aku pun jadi patah semangat untuk melanjutkan hidupku.


Apakah aku sudah jatuh cinta pada Zayn? Atau aku hanya merasa kehilangan saja? Secara kedekatan kami memang sudah seperti orang pacaran.(tapi itu lagi-lagi kata Vian.🙄)


Tapi emang dasar aku orangnya gak gampang rapuh, aku pun dengan cepat melupakan semua kegundah-gulanaku.

__ADS_1


Tapi, haruskah sampai saat ini aku harus sendirian tanpa seorang yang bisa kuajak berkhayal untuk menemani di saat-saat menjelang tidurku?


Hmm! Bakal jadi perawan tua kalo begini terus nih?!😔😓


__ADS_2