
"Aku masuk dulu ya, Bib?"
"Hm. Ingat pesan aku, ya, Yank? Jangan melirik cowok lain!" Dian memberi Raya peringatan.
"Iya. Ntar aku merem aja terus biar gak bisa liat apa-apa."
Dian terkekeh mendengar perkataan istrinya.
"Gak gitu juga kali, Yank. Maksud aku, kamu jaga hati aku jangan sampai sakit."
"Iya, Bib. Aku ngerti, kok!"
"Bagus. Emang kamu istri Solehah, Yank. Seneng aku punya istri kayak kamu. Sini, Yank. Aku mau cium istri aku."
Dian menarik tangan Raya dan mau menciumnya. Tapi Raya mengelak.
"Jangan disini ah, Bib. Malu." ujar Raya, pelan.
"Kenapa malu, Yank? Aku kan suami kamu."
"Ini kampus, Bib, bukan rumah kita. Ntar dirumah aja kamu puas-puasin cium aku. Selebihnya juga boleh...eh!" cepat-cepat Raya menutupi mulutnya.
Wajah Dian pun cerah seketika. Dan Raya pun lemas. "Beneran salah ngomong aku tadi." batinnya berbisik pasrah.
"Beneran ya, Yank? Aku jemput kamu nanti. Kamu chat aja kalo udah mau pulang, ya?"
Raya pun mengangguk, mengiyakan.
Cup!
Masih sempat-sempatnya Dian mencium pipi Raya sebelum pergi.
"Ihh! Nakal!" Raya ngedumel, pelan.
Dian tersenyum sambil memegang pipi Raya yang memerah merona, malu.
"Aku pergi dulu ya, Yank?"
Raya mengangguk, mengiyakan. Setelah Raya salim, dian pun pergi.
Tak jauh dari tempat Raya berdiri, Aji menghembuskan napas kasar.
"Apakah kamu sudah melupakanku, Ay?" Aji menunduk, sedih.
Sesampai di sekolahannya, Dian memarkirkan motornya ditempat yang biasanya. Kemudian dengan santai Dian berjalan menuju kelasnya.
"Yan!"
Laura menghampiri Dian, dan langsung memeluk lengannya.
"Kita baikan, ya?"
Dian mengernyit.
"Aku masih sayang ama kamu, Yan. Aku cinta sama kamu. Kita pacaran lagi, ya?"
Mata elang Dian menyipit, lalu menggeleng keras.
"Kenapa, Yan? Kamu gak cinta lagi sama aku? Kamu gak sayang lagi ama aku?" Laura menatap dalam mata Dian.
"Masak kamu gak suka lagi ama aku, Yan? Kan kamu cinta mati sama aku?"
"Emangnya lu Luna Maya, sampe gue segitu tergila-gilanya ama lu? Ngaca!!!" Dian menyeringai, sinis. Dikibasnya kasar tangan Laura yang memeluk lengannya.
Laura tersentak kaget, tak menyangka Dian akan menolaknya.
"Maafin aku, Yan! Aku benar-benar menyesal. Aku janji, aku gak akan mengkhianati kamu lagi..."
"Maaf lu udah basi! Sampai kapan pun gue gak bakal sudi balikan ama lu!"
__ADS_1
"Yan, maaf! Apa kamu beneran gak mau maafin aku?" Laura menghiba memohon pada Dian agar mau memaafkannya dan menerimanya kembali menjadi kekasih Dian. Tangan Laura hendak mengamit tangan Dian lagi, tapi cepat-cepat ditepis Dian dengan kasar.
"Asal lu tau... Bini gue jauh lebih segalanya dari lu. Paham?!" kata Dian penuh penekanan saat menyebut soal istrinya.
Laura ternganga, diam menatap punggung Dian yang berlalu tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
"Dian...sudah punya...istri?" Laura melongo.
"Yan! Tunggu!"
Laura berlari mengejar Dian.
"Jelasin sama aku maksud ucapanmu tadi! Kamu gak benar-benar sudah menikah, iya?"
"Iya!"
"Yan!" sentak Laura. "Kamu..."
"Dengar ya, tukang selingkuh! Lu kira gue gak bisa dengan mudah move on? Sape elu?!!" Dian melotot tajam ke Laura.
"Apa kamu sudah menghamili gadis lain makanya kamu harus menikahinya, Yan? Apa kamu juga selingkuh..."
"Jangan pernah lu memfitnah istri gue. Dia bukan cewek bobrok kayak lu! Mengerti?!!" Dian menunjuk wajah Laura yang kecut, takut.
"Akan aku laporkan kamu ke kepala sekolah kalo..."
"Sekalian aja ke Bupati... atau ke Presiden! Laporin aja!"
Dian melenggang santai meninggalkan Laura yang terpaku ditempatnya.
"Seberapa cantiknya sih istrinya Dian? Sampai Dian bisa melupakan kenangan kami selama ini?"
Laura jadi penasaran. Selama ini Dian selalu patuh dengan apapun yang ia katakan. Tapi sekarang, Dian sama sekali tak memperdulikannya. Jangankan memandangnya, melirik pun enggak. Seakan Dian benar sudah melupakannya, juga cinta mereka.
Di kampus Raya,
"Ay!"
"Ay!"
"Maaf, Ji! Aku gak mau melanggar perintah suamiku agar menjauhimu. Maaf!"
Raya terus melangkah tanpa menoleh lagi. Aji terpaku ditempatnya lesu memandangi tubuh mungil Raya yang perlahan makin menjauhinya.
"Dan sekarang kau pun menjauhiku, Ay. Apakah kita tidak bisa dekat lagi seperti dulu, Ay?"
Dengan langkah gontai Aji berjalan menuju kelasnya.
"Hai, Len. Hai, Mel." sapa Raya saat melihat dua sahabatnya sudah duduk anteng dibangkunya.
Lena tersenyum seraya mengangkat tangannya. Raya mengernyit melihat Melia diam saja dengan wajah memerah seperti habis menangis. Raya melirik Lena. Yang dilirik hanya mengendikkan bahu tanda tidak tahu.
"Mel, lu kenapa? Apa yang..."
"Nggak pa-pa, kok! Gue baik-baik aja." Melia memaksa untuk tersenyum.
Lena dan Raya saling lirik.
"Lu jangan coba bohongin kita, Mel. Kita tau lu ada masalah."
"Beneran, Len. Gue gak pa-pa."
Raya menepuk bahu Melia, pelan. "Ceritakan, Mel. Mungkin dengan bercerita beban hati lu bisa sedikit berkurang."
Melia menatap sendu dua sahabatnya. Lalu menunduk, diam.
"Mel!"
"Semalam... gue udah berbuat dosa yang sangat gue sesali."
__ADS_1
Raya dan Lena saling lirik lagi.
"Gue... gue... udah melakukan "itu" sama Ardi!"
"Hah!" Raya melongo, dan gak sadar mulutnya menganga lebar.
"APA, MEL?!!!" pekik Lena, keras, membuat Raya tersentak kaget, mendengarnya. Refleks Raya memukul pelan tangan Lena.
"Ngagetin gue aja, lu! Budek nih kuping gue." sungut Raya kesal.
Lena nyengir.
"Sori, Ray! Refleks! Habis gue kaget."
"Gue juga kaget kali, Len. Tapi gak heboh kayak, lu!" Raya masih ngedumel. Lena meringis sambil mengacungkan dua jarinya. Raya menghela napas berat. Lalu menoleh ke arah Melia yang masih tertunduk, sedih.
"Lu yang tenang ya, Mel. Minta ampun sama Allah. Dan jangan lu ulangi lagi perbuatan itu." nasehat Raya.
"Tapi gue takut, Ray!"
Raya mengerutkan keningnya.
"Gue takut... mama dan papa pasti akan marah besar sama gue."
"Mudah-mudahan aja enggak, Mel. Asal lu janji gak akan mengulanginya lagi."
"Tapi... gue sekarang... hamil!"
"Astaghfirullah!" Raya istighfar dalam hati.
"APA?!! HAM... mmpf!"
Lena mengap-mengap karna Raya sudah membungkam mulut lemesnya.
"Mulutnya mau dibikin roti bakar isi mesis, ya?!" sungut Raya, sebal. Lena nyengir lagi.
"Peace, Ray! Peace!"
Lena mengacungkan jarinya lagi, tanda damai. Raya mendengus, kesal. Lalu kembali menatap Melia.
"Apa lu yakin, Mel?" tanya Raya.
Melia mengangguk pelan.
"Tadi pagi gue cek pake testpack gara-gara gue udah telat datang bulan, dan hasilnya..."
Raya mengusap wajahnya, pelan. Miris ia melihat nasib sahabat sekaligus kakak iparnya ini. Lena hanya diam, tak berani berkata. (takut suaranya gak bisa dikondisikan.ðŸ¤)
"Apa Ardi tau tentang ini?"
Melia menggeleng, lemah.
"Lu harus bicarakan sekarang sama Ardi, Mel. Ini menyangkut masa depan kalian dan calon anak itu."
"Tapi gue takut..."
"Makanya lu harus ngomong sama Ardi. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya."
Melia menunduk lagi.
"Biar gue yang ngomong sama Ardi! Kalo dia gak mau tanggung jawab, gue yang akan paksa dia." cetus Lena.
"Eh?"
Raya dan Melia menatap Lena.
"Maaf, Mel. Seharusnya gue ceritain dari dulu soal Ardi, sebelum kalian khilaf terlalu jauh. Tapi semua sudah terlanjur. Maafin gue, Mel!"
batin Lena, sedih.
__ADS_1