
Brukk!
"Aduh!!"
"Maaf. Eh..." Aji gelagapan. Karna terburu- buru ia menabrak Raya yang sedang memasak. Aji pun salah tingkah.
"Kenapa, Ji? Kok kayaknya buru-buru?" tanya Raya.
"Aaa... eh... anu Ay, itu... si Mel muntah-muntah. Aku tadi mau bikin teh lemon buat ngilangin mualnya." Aji berkata gugup.
"Ooo. Morning sickness itu, biasa di alami perempuan hamil." jelas Raya.
Aji menatap Raya lekat.
"Kok kamu tau, Ay? Apa kamu juga sedang mengalaminya? Kamu hamil, Ay?"
Raya nyengir, seraya menggeleng. Aji masih terus menatapnya, lekat.
"Aku baca di internet, Ji." ujarnya, malu. Aji tersenyum geli.
"Belajar buat jadi ibu ya, Ay?" godanya.
Raya meringis, malu, sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tehnya biar aku yang bikin, Ji. Kamu temenin Mel aja sana."
"Makasih ya, Ay. Aku ke kamar dulu."
Raya mengangguk. Ia pun segera membuat lemon tes untuk Mel dan mengantarnya ke kamar Mel yang ada disebelah kamarnya.
Tok tok tok
Raya mengetuk pintu kamar Mel. Aji keluar dari dalam kamar.
"Masuk, Ay."
"Gimana, Mel? Masih muntah?" tanya Raya saat melihat Mel terbaring lemas di tempat tidur.
"Cuma mual doang, Ray. Tapi lemes juga." ujar Mel seraya meringis.
"Bawa ke dokter, Ji. Sekalian cek kandungan." usul Raya.
Aji mengangguk, mengerti.
"Gue titip absen ya, Ray?"
"Siip!"
Raya keluar dari kamar Mel dan menutup pintunya. Saat ia berbalik,
"Astaghfirullah! Bibib! Ngagetin aja!" Raya menepuk keras bahu Dian yang berdiri, bersandar di depan pintu kamarnya dengan tangan berlipat di depan dada.
"Ngapain kamu ke kamar kak Mel, Yank?" tanyanya ingin tau.
"Nganterin teh buat Mel. Tadi dia mual-mual."
"Bukan kepoin bang Aji?"
Raya spontan memutar bola matanya, malas. Dan tanpa bicara Raya berlalu kembali ke dapur melanjutkan memasaknya.
"Yank! Aku nanya kok gak dijawab?" Dian mengekori langkah Raya.
Raya diam saja. Dan selesai masak, Raya kembali ke kamarnya untuk mandi, kemudian berangkat ke kampus.
__ADS_1
"Yank?!" Dian masih saja mengikuti Raya.
"Jangan pancing emosiku, Bib. Ini masih pagi."
"Loh... aku gak mancing-mancing, Yank. Aku cuma nanya..."
"Aku gak mau ngomong sama kamu. Ngomong noh ama tembok!" dengus Raya kesal. Lalu pergi ke dapur dan sarapan dengan mertua dan yang lainnya tanpa menggubris Dian yang terus mengikutinya.
"Ma, Pa, Raya berangkat ke kampus. Assalamualaikum." pamit Raya pada kedua mertuanya.
"Wa'alaikumsalam. Loh Ray, gak bareng Dian?" tanya mama, bingung.
"Dian udah kesiangan, ma, kasian kalo harus nganterin Raya dulu. Biar Raya naik ojek aja."
Setelah Raya pergi, Dian buru-buru mengambil tas dan kunci motornya dan pamit pada semuanya. Dian hendak mengejar istrinya yang merajuk akibat ulahnya.
tit tit tiiiiiiiitttttttt.
"Yank, aku anterin ya?" Dian berhenti di depan Raya yang sedang menunggu ojek.
Raya melengos, buang muka.
"Yank?" Dian menarik tangan Raya.
"Munggungin suami, merengut, buang muka, marah sama suami dosa loh, Yank?"
Raya meringis. "Mulai deh pake jurus andalannya." gumamnya dalam hati.
"Ayok, Yank. Aku anterin kamu ke kampus." ajak Dian, kalem. Dan ia pun tersenyum penuh kemenangan ketika Raya naik ke atas motor.
"Istri yang baik!" sorak batinnya.
"Maafin aku ya, Yank. Aku cemburu liat kamu ngomong sama bang Aji."
"Hm."
"Hm."
"Yank, kamu marah ya sama aku?"
Raya diam.
"Yank... marah sama suami do..."
"Iya, aku tau! Makanya aku mau kita pisah aja biar aku gak kebanyakan dosa gara-gara marah mulu sama kamu." sahut Raya cepat.
"Yank!!!"
Brukk!!!
Raya terhuyung maju, menabrak punggung Dian, karna Dian mengerem mendadak.
"Bisa pelan-pelan gak sih ngeremnya? Sakit tau?!!" sungut Raya.
"Kamu kalo ngomong dipikir dulu napa, Yank? Aku kan udah minta maaf..."
"Palingan besok diulangi lagi." sindir Raya cepat. Dian menatap Raya, tajam.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Aku akan menurutinya. Kita pisah!"
"Bagus! Aku pergi!" Raya pun segera turun dari motor Dian.
"Tunggu!"
__ADS_1
Dian menahan langkah Raya.
"Biar aku anterin kamu ke rumah. Aku mau bilang ke ayah kalo kita..."
" Gak perlu. Ayah gak ada dirumah, lagi dinas luar."
Dian diam menatap kepergian wanita yang hampir enam bulan ini sudah menemani hidupnya.
"Haruskah pernikahan kami berakhir secepat ini? Tragis!" Dian mendesah, lemah.
π΅Ada apa kau bertemu dia?
Mungkinkah kau ingin bagi cintamu?
Jika memang kau bagi cintamu
Masih pantaskah kujaga hatiku?
Ingatkah semua kata yang kau ucap dulu?
Kau berjanji untuk setia
Kini kutanya ke mana janji itu kau buang?
Pernah sakit, tapi tak pernah sesakit ini
Karena pernah cinta, tapi tak pernah sedalam ini
Aku ingin semua cintamu hanya untukku
Memang 'ku tak rela kau bagi untuk hati yang lain
Jika memang kau bagi cintamu
Ke mana janji itu kau buang?
Ho-o-o ...
Kau buat 'ku menangis tanpa air mata
Sampai kuteriak pun sudah tak ada suara
Hu-u-u-u-u ...
Pernah sakit, tapi tak pernah sesakit ini
Karena pernah cinta, tapi tak pernah sedalam ini
Aku ingin semua cintamu hanya untukku
Memang 'ku tak rela kau bagi untuk hati yang lain
Hu-wo-o-o-o ...
(Pernah cinta)
Aku tak rela
Kau bagi untuk
Hati yang lainπΆ
πππ
__ADS_1