
Brakk!!!
Firman menghempas kuat tasnya di meja. Untung aja tuh meja dari kayu. Kalo kaca, dijamin Firman dapet doorprize dari sang mama.
"Lo beg* banget sih, kak. Diem aja dikatain kayak gitu. Bales napa?!" Firman menatap kesal Lena yang menunduk, diam.
"Bang Sena juga! Dasar cowok brengs*k! Kalo aja lo tadi gak mohon-mohon minta ampun sama gue buat dia, udah gue permak muka si brengs*k itu." seperti lahar panas, kemarahan Firman membuncah. Wajahnya pun merah padam.
Melihat wajah sembab gadis itu dikarenakan habis menangis gara-gara di mall tadi membuat Firman makin menggeram kesal.
"Lo jangan coba-coba mau di rayu sama dia lagi, kak. Kalo gue liat lo masih jalan sama dia... awas lo!" kata Firman dengan nada penuh ancaman.
Lena sama sekali tak berani mengangkat wajahnya, menentang mata elang Firman yang ia tau terus menatapnya tajam.
"Kenapa juga Firman harus melihat hal yang memalukan ini? Akh, malunya gue!!"
flashback on
Lena berjalan santai keluar dari mall setelah mendapatkan buku yang dicarinya.
Tiba-tiba, matanya menangkap sepasang kekasih sedang bergandengan mesra memasuki mall. Lena menghela napas, berat.
Dan ketika mereka berpapasan, langkah ketiganya pun terhenti.
"Lena." wajah Sena memucat mendapati tatapan dingin gadis didepannya.
Lena hanya tersenyum sinis.
"Siapa dia, sayang? Mantan kamu?" tanya gadis yang tengah bergelayut manja di lengan Sena.
"Dia... dia..."
__ADS_1
"Aku tau dia mantan kamu. Kelihatan dari tatapan irinya melihat kemesraan kita." sindir si gadis dengan terus menatap tajam ke arah Lena.
"Len, aku..." Sena merasa bersalah melihat Lena yang diam dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Yuk sayang, kita pergi belanja. Buang-buang waktu liat mantan di sini. Ingat sayang! Mantan itu sampah, dan sampah itu harus dibuang pada tempatnya. Sekarang kamu cuma milik aku." dengan posesif gadis cantik itu memeluk erat lengan Sena.
"Maaf!" ucap Sena tanpa suara dengan wajah penuh penyesalan.
Lena menatap sinis pria yang masih resmi berstatus pacarnya itu. Sakit di hatinya jangan ditanya lagi. Berasa pengen jedotin ke tembok tuh jidat tunangan sang mantan. ðŸ˜
"Heh, gadis kampung! Jangan berharap untuk bisa deketin tunangan aku. Kamu gak pantes dapetin kak Sena. Aku tau kamu terus-menerus mengejar kak Sena seperti yang lainnya karena kekayaannya kan?" tatapan remeh penuh hinaan tampak dari mata perempuan cantik itu.
"Aku dan kak Sena sudah dijodohkan karena kami sama-sama dari keluarga ningrat, bukan rakyat jelata seperti kamu. Kalau kamu sadar diri sebaiknya kamu menjauh dari kak Sena sejauh-jauhnya. Dan bila perlu menghilang selamanya dari dunia ini. Mumpung bunuh diri gak bayar loh. Kalo bayar, susah nanti kamu dapat duitnya dari mana. Mau morotin kak Sena, sekarang kan dia udah jadi milik aku." si cantik tersenyum smirk. Kata-kata pedas penuh hinaan terlontar dari mulut seorang gadis cantik yang katanya keturunan ningrat itu.
"Sudah ngocehnya, hah?!" bentakan keras membuat ketiganya menoleh. Juga orang-orang yang entah sejak kapan berdiri kasak-kusuk melihat penghinaan yang ditujukan gadis yang ngakunya tunangan Sena, seperti nonton sinetron kesayangan mak-mak di tv pada Lena.
"Abang?!"
"Man?!"
"Iya. Ini gue. Kenapa?!" Firman berdiri gagah sambil berkacak pinggang. Wajah tampannya tampak kesal, menahan marah.
"Kamu siapa? Anak kecil jangan sok sibuk dengan urusan orang dewasa!" bentak gadis itu pada Firman.
"Seragam masih abu-abu sok-sok'an mau ikut campur. Kamu gak tau siapa saya?!" ketusnya lagi.
Firman mencibir.
"Sape lo? Artis? Pejabat? Ratu adil? Atau... penghuni kebun binatang yang suka jerit-jerit, ngamuk-ngamuk sambil narik-narik pagar kawat?" dengusnya seraya mengejek.
"Gue rasa, lo emang penghuni kebon sih. Soalnya kalo ningrat pasti tau tata krama. Gak mungkinlah seorang keturunan ningrat teriak-teriak di tempat umum." sindir Firman lagi.
__ADS_1
"Judesnya lu, bang. Anaknya siapa sih nih?!" Lena melipat bibirnya, tertawa dalam hati.
Beberapa orang yang melihat mereka ada yang cekikikan mendengar sindiran Firman. Sebagian lagi senyam-senyum gak jelas. Bahkan beberapa cewek jingkrak-jingkrak sambil menutup mulutnya speechless akan ketampanan cowok yang hampir menerima kelulusan SMU itu. Sedangkan Lena dari tadi menarik-narik tangan Firman agar berhenti marah-marah.
"Yang seharusnya sadar diri tuh elo, bang. Lo pacarannya sama kak Len, kenapa tunangannya sama dia? Kalo mau selingkuh milih-milih juga kali, bang. Masak temennya Tarzan lo jadiin tunangan. Huh! Pasti dia doyannya pisang. Selera lo rendah, bang!" ejek Firman, ketus ke Sena.
"Apa-apaan kamu boc..."
"Diem!!!" Firman menunjuk tunangan Sena dan menatapnya tajam, membuat gadis itu mengerut takut, berlindung di balik punggung Sena.
"Sebagai keturunan ningrat, tolong lo perbaiki akhlak dan tata krama lo. Melihat sikap songong lo tadi, gue yakin semua yang di sini gak bakalan percaya kalo lo masih keturunan ningrat. Kalo keturunan jal**g sih, pas banget. Gak ada akhlaknya." caci Firman.
"Sayang! Kamu kok diem aja liat aku di hina sama dia? Belain napa?" gadis itu mencak-mencak, merajuk manja pada Sena agar membelanya di depan Firman dan Lena.
Tapi Sena tak bergeming, tetap fokus menatap Lena dengan tatapan penuh rasa bersalah. Namun apa mau dikata, ia terpaksa menuruti kehendak orang tuanya yang sudah menjodohkannya dengan gadis terhormat keturunan ningrat yang ternyata akhlaknya sama seperti penghuni kebun binatang seperti yang dikatakan Firman.
"Udah, bang. Yuk pulang, yuk. Malu di liat orang." Lena terus membujuk Firman, mengajaknya pulang. Tapi tak dipedulikan pria tanggung itu.
"Dan buat lo, bang... mulai detik ini gue gak mau liat lo deketin kak Len lagi. Jarak kalian paling dekat hanya sepuluh meter. Lewat batas... abis lo sama gue!" ancam Firman sambil menunjuk muka Sena.
"Man, gue..."
"Hari ini tunangan lo yang gak ada akhlak sudah menghina kak Len. Jangan sampai gue denger keluarga lo yang lain ikut ngebully kak Len, ya? Awas lo!" Firman memberikan peringatan terakhir pada Sena.
Dan belum sempat pria tampan itu berucap, Firman sudah menarik tangan Lena.
"Yuk kak, kita pulang. Cowok cemen minim iman kayak dia gak perlu lo tangisi. Ntar gue cari buat lo cowok yang jauh lebih ganteng, lebih tajir, lebih keren... dan pasti jauh lebih baik akhlaknya dari si Sena. Yuk!"
Lena ngikut aja waktu Firman menggenggam tangannya, pergi dari tempat itu. Ketika ia hendak menoleh ke arah Sena, Firman malah merangkulnya, menahan pipinya agar tak menoleh pada pria yang sudah berkali-kali menyakitinya itu.
Sena terpaku menatap kepergian Lena, tak peduli pada tunangannya yang menghentak-hentakkan kaki sambil menutup wajahnya, malu, saat menyadari banyak pasang mata tengah menatapnya dengan beragam ekspresi.
__ADS_1
"Maafin aku yang tidak berani berjuang untuk cinta kita, Na. Firman benar, kamu harus mendapatkan pria yang jauh lebih baik daripada aku. Ku mohon maafkan aku, Lena honey!" bisik batin Sena penuh sesal.
flashback off