Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
Galau


__ADS_3

Dian uring-uringan di kelasnya. Anak-anak yang berada dekat dengannya dan yang mencoba mendekatinya, apalagi Laura, mendapat hardikan dan bentakan keras darinya.


"Heh, Mony*t! Bisa duduk gak lu? Pusing gue liat lu udah kayak Sarimin lagi ngamen." Dian melempar pulpen ke seorang siswi teman sekelasnya yang sedang bergosip dengan teman di bangkunya.


Dengan wajah merengut dan mulut bersungut-sungut siswi itu pergi kembali ke bangkunya.


"Kamu kenapa, sayang? Kayaknya galau banget." Laura mendekati Dian, mencoba mencari perhatian cowok ganteng itu.


"Gak ada urusannya ama lu! Pergi sono, biang penyakit!" bentak Dian, keras, mengagetkan Laura yang baru mau duduk disebelahnya.


"Ak...ak..."


"Pergi!!! Tau bahasa manusia gak lu!!!" hardik Dian, lebih keras lagi.


"Yan..."


Brakk!!!


Dian menggebrak meja, keras. Matanya tajam menatap Laura penuh amarah.


"Jangan pernah cari muka depan gue. Karna buat gue, selamanya lu udah gak punya muka lagi. Camkan itu!!!"


Selesai mengeluarkan segala kemarahan dan kekesalannya Dian pun pergi meninggalkan ruang kelasnya, menuju kebun belakang sekolah.


"Arrrgggh! Siaaaaallll!!!" Dian berteriak kesal. Untung saja suasana disekitar tempat itu sepi dan jauh dari ruang guru sehingga tidak ada orang yang mendengar teriakannya.


Tiba-tiba,


Tap!


Dian menoleh saat seseorang menepuk pundaknya.


"Lu kenapa, Yan?" Firman berdiri di sebelah Dian. Dibelakangnya, Doni, sahabatnya, memandanginya penuh tanya.


"Duduk dulu, yuk. Kita ngobrol yang tenang." Firman menarik tangan Dian agar duduk disebelahnya.


Tanpa sepatah kata Dian mengikuti ucapan Firman dan duduk disebelahnya.


"Tarik napas dulu, Yan."


Dian pun menarik napas.


"Bagus. Buang pelan-pelan."


Dian buang napas, pelan.

__ADS_1


"Good. Tarik napas lagi."


Tarik.


"Buang lagi."


Buang.


"Tar..."


"Stop!" cegah Dian, cepat.


"Gue gak lagi sesak napas, apalagi bengek. Lu kalo mau ngerecoki gue mending lu kabur sono." ucap Dian, kesal.


Firman nyengir.


"Calm down, bro. Sekarang lu cerita ke gue apa yang bikin lu kayak Hulk gini?" dan Firman pun kembali nyengir sembari mengacungkan dua jarinya melihat Dian melotot, marah.


"Raya mau pisah." lirih Dian berkata dengan wajah menunduk lesu.


"Hah?! Apa?!" Firman mengorek-ngorek lubang telinganya. "Bisa kerasan dikit gak ngomongnya? Kuping gue rada error nih." katanya lagi.


Dian mendengus kesal.


"Kuping lu bukannya error, emang budek beneran. Dasar bolot!" Dian menoyor kepala Firman, kesal.


"Emang lu ngapain kak Ray sampe dia mau pisah dari lu? Pasti lu mainnya kasar ya? Ngaku lu... aduhh!!" Firman mengusap-usap kepalanya yang terkena jitakan keras Dian.


"Kalo gak tau apa-apa jangan asal tuduh. Gue belum pernah ngapa-ngapain dia, gimana mau maen kasar." dengus Dian, masih dalam mode sebel.


"Serius lu?"


Dian mengangguk, jujur.


"Sumpeh lo?"


"Lebay!" Dian memutar bola matanya, jengah.


"Kok bisa?" Firman menatap Dian tak percaya. "Kak Ray gak mau lu ajak gituan ya?" tanyanya kepo.


"Lu biang keroknya, dodol!" Dian menatap Firman, kesal. Yang di tatap, balik menatap Dian dengan pandangan bingung.


"Tiap kali gue mau belah duren pasti lu recokin. Emang biang rusuh lu!"


Firman mengerutkan dahinya, masih belum mengerti.

__ADS_1


Pletakk!


Dengan geram dan penuh emosi Dian menggetok keras kepala Firman hingga benjol.


"Haish. Don, lu aja deh tanya nih cumi. Gue gak sanggup. Dari tadi asik di jitak, di getok, dituduh macem-macem lagi sama nih cumi. Dikira pala gue gak difitrahin apa?" Firman mendelik sebal ke arah Dian yang melengos cuek.


Doni terkekeh.


"Cerita ke kita masalah lu, Yan. Kali aja kita bisa kasih lu solusi." kata Doni, kemudian.


"Raya marah karna gue... gue..."


"Iya, elu..."


Firman dan Doni fokus mendengar.


"... gue... "


"... elu..."


Gue... cemburu sama bang Aji."


"Mamp*s lu!" umpat Firman, kesal karna sudah ia duga sebelumnya kalau 'cemburu' adalah penyebab Dian gundah gulana.


"Lu... kayak gak ada cowok lain aja yang bisa lu cemburuin, Yan. Bang Aji kan suami kak Mel, kok lu bisa cemburu sama dia?"


"Wajarlah gue cemburu sama bang Aji, dia kan mantannya bini gue."


"Iya, tau. Tapi kan sekarang kak Ray dan bang Aji udah punya kehidupan masing-masing. Gak mungkinlah mereka bakal balikan lagi."


Dian mengangguk.


"Iya sih, tapi..."


"Lu coba deh bujuk kak Ray, minta maaf. Yang tulus minta maafnya biar kak Ray luluh dan mau maafin lu. Gue tau kok kak Ray ngomong gitu karna udah gak sanggup lu teror terus sama kecemburuan lu." nasehat Firman dengan sorot mata tajam menatap Dian yang menunduk diam.


"Udah sono, pulang! Ngapain juga lu di sini. Gak ada kerjaan juga." usir Doni sambil mendorong tubuh tegap Dian, menyuruhnya pergi.


"Tapi Raya masih di kampus. Hari ini jadwal kuliahnya padat."


"Ya lu tungguin, oon! Kan lu mau minta maaf ama bini lu."


"Buruan berangkat sono!" Doni mendorong Dian, cepat.


Dian pun berlari ke kelas mengambil tasnya, lalu ke parkiran mengambil motornya. Karena memang sudah selesai ujian, makanya Dian bebas mondar-mandir di sekolahnya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim. Mudah-mudahan kamu mau maafin aku, Yank. Aku kan belum sempet belah duren sama kamu?!"


__ADS_2