Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
12. Pengorbanan Ardi


__ADS_3

Dirumahnya, Raya sudah menceritakan semuanya pada suami brondongnya, Firdiansyah alias Dian.


Terlihat Dian mengepalkan tangannya, menahan geram. Raya yang paham akan sifat temperamen Dian, spontan mengusap-usap pelan bahu suaminya.


"Sabar, Bib. Kita harus bantu Mel menjelaskan ke mama dan papa soal ini." ujar Raya.


"Kenapa harus kita? Ini masalah yang dibuat Kak Mel dan bang Ardi, jadi mereka lah yang harus jelasin berdua ke mama papa." sahut Dian, dongkol.


Raya mengangguk, mengerti.


"Paham, Bib. Kita ntar nemenin mereka ngomong sama mama papa. Lena dan Firman nanti ikut juga."


"Emang Firman tau juga?" Dian menatap Raya penuh selidik. Raya menggeleng.


"Loh?" Dian mengernyit, bingung.


"Ntar juga Firman tau sendiri kalo kita udah disana."


Dian merengut, malas. Raya terkekeh.


Malamnya dirumah sang mertua,


"Assalamualaikum, ma. Pa. Dian pulang nih bawa mantu kesayangan."


Raya menepuk keras bahu lakinya.


"Lebay banget sih, Bib?!" sungutnya kesal dengan ulah Dian. Sang suami hanya terkekeh seraya nyengir.


"Wa'alaikumsalam."


Raya dan Dian masuk ke dalam rumah. Setelah salim dengan mama papa, mereka pun ikut bergabung di ruang tamu.


"Wah! Lagi pada ngumpul, nih!" seru Dian melihat Firman, Lena, Mel dan Ardi sudah duduk anteng diruang tamu.


"Udah lama, lu?" tanya Raya ke Lena.


"Baru aja datang."


"Sena gak ikut?"


"Gak. Dia lagi ada kerjaan."


Raya mengangguk-angguk.


"Kamu ngangguk-ngangguk aja, Yank. Emang tau bang Sena kemana?" tanya Dian.


"Enggak!"


"Huu!"


Dian manyun, dan Raya pun nyengir kuda.


Setelah makan malam, mereka berkumpul diruang keluarga.


"Om, Tante, saya ingin bicarakan sesuatu sama om dan Tante." Ardi memulai percakapan dengan wajah tegang.


"Mau ngomong apa, Ar? Ngomong aja." papa Mel menjawab.


"anu, om... mohon maaf sebelumnya kalo saya lancang."


Papa Mel mengangguk.


"Om... saya mau..."

__ADS_1


eeng iing eeennngggg...


Lena, Firman, Dian dan Raya saling bertukar pandangan. Begitu juga dengan mama dan papa Mel. Sedangkan Mel, tangannya dingin menahan rasa takut kalau-kalau sang papa ngamuk besar padanya.


Ardi menggenggam lembut tangan Mel seraya mengangguk pelan, mencoba menenangkan Mel. Padahal jantungnya jauh lebih deg-degan dari Mel.


"Kalo mau ngomong, cepetan. Ngantuk, nih!" celutuk Dian yang langsung meringis ketika sang istri mencubit keras pahanya.


"Sakit, Yank!" ringis Dian, pelan. Raya mendelik sewot seraya menaruh telunjuknya didepan mulut, menyuruh Dian diam.


"Gaya lu ngantuk, Yan. Biasanya juga begadang ampe pagi. Nge-game mulu." sindir Firman.


"Eh, itu dulu ya, sebelum gue nikah. Sekarang sih gue gak pernah lagi begadang, kan udah ada yang ngelonin. Heee!" seloroh Dian, asal.


Raya dan Firman melengos kompak, jengah dengan sikap tengil Dian. Sedangkan yang lain hanya senyam-senyum, geli.


"Sok banget, lu! Gue yakin, Kak Ray jijik ngelonin lu. Jijay, tau gak?!" ejek Firman.


"Sirik aja, lu! Kawin aja sana, kalo mau dikelonin kayak gue." cibir Dian.


"Ciih! Lu kira kucing pake dikawinin?" Firman melengos, kesal.


"Iya. Lu kawin aja ama kucing, biar lu kena cakar sekalian." ejek Dian lagi. Dan Dian pun ngakak melihat Firman melotot kesal.


Raya menepuk keras tangan Dian, menyuruhnya diam. Dasar tengil, Dian malah makin keras tawanya.


"Heh! Bisa diam gak kalian berdua? Ardi mau ngomong." papa menghentikan adu mulut antara Dian dan Firman.


Semua pun diam.


"Om...izinkan saya... melamar Mel!"


jeng... jeng... jeng...


Semua diam. Tegang, menunggu jawaban sang papa.


deg


deg


deg


"Maafkan saya, Om! Saya khilaf!"


Semua diam, termasuk papa Mel. Dan Mel, gadis itu sesenggukan, menangis... dan juga takut melihat mata sang papa yang memerah.


"Saya mau menikahi Mel, Om. Saya benar-benar mencintai Mel, dan akan bertanggung jawab atas kesalahan saya dan Mel." janji Ardi, mantap.


"Bagaimana dengan orangtuamu, Ar? Apa mereka tau dan mau menerima Mel?"


Ardi diam.


flashback on


"Apa Ar? Kamu mau menikah dengan Mel?"


Wajah papa Ardi menegang, menahan amarahnya saat mendengar permintaan anak sulungnya tersebut.


"Iya, Pa. Aku mencintai Mel, dan ingin selalu bersama Mel."


"Tapi kamu kan tau kalau papa mau menjodohkanmu dengan anak teman papa, Ar?"


"Aku gak mau, Pa. Aku hanya mau dengan Mel, dengan ibu dari anakku."

__ADS_1


"Maksudmu..?"


"Mel sedang mengandung anakku, Pa. Mel hamil."


"Apa?!!"


Papa Ardi melotot marah. Matanya memerah, menatap Ardi, tajam.


"Tidak, Ar! Papa tidak mau punya menantu seperti Mel. Dia perempuan murahan, jangan mau kamu dibodohi sama dia. Apa kamu percaya kalau anak yang dikandungnya itu anak kamu?"


"Papa!!!" bentak Ardi. Lalu, "Maaf, Pa!" ucap Ardi yang merasa bersalah sudah membentak sang papa.


Papa Ardi tersenyum, sinis.


"Kamu sudah berani membentak papa, Ardi. Ajaran siapa itu? Ajaran perempuan nakal itu?" sindir papanya.


Ardi menghela napas berat.


"Mel bukan perempuan seperti yang papa katakan. Dia perempuan baik..."


"Kalau baik gak mungkin hamil, Ar!" sentak sang papa.


"Ini semua kesalahanku, Pa. Dan aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku." sahut Ardi, cepat.


"Kamu berani membantah papa, Ar? Kamu tau konsekuensinya bila membantah omongan papa, kan?" nada bicara papa penuh dengan ancaman.


Ardi mengangguk.


"Apa kamu siap meninggalkan rumah ini dan melepas nama keluarga?"


"Aku siap, Pa. Demi Mel dan anak kami." jawab Ardi mantap.


"Bodoh kamu, Ar! Kalau kamu pergi dari rumah ini, jangan harap warisan akan kamu dapatkan.” ancam sang papa, lagi.


"Aku tidak peduli. Bagiku Mel dan anakku lebih penting dari apapun.


"Kamu benar-benar sudah dibutakan cinta, Ar. Hanya karna perempuan murahan itu kamu rela meninggalkan keluarga."


Aku gak akan meninggalkan keluargaku seandainya papa mau menerima Mel, Pa. Dan walaupun aku tidak dirumah ini lagi, aku juga takkan melupakan kalian. Karna kalian keluargaku."


"Sudahlah, Ar. Bagi papa kamu bukan anak papa lagi setelah kamu memutuskan untuk menikahi wanita murahan itu." putus papa Ardi, keras.


Ardi hanya bisa mengusap wajahnya, kasar.


"Kalau begitu aku pergi, Pa. Maaf kalau aku belum bisa menjadi anak yang berbakti buat papa. Selamat tinggal."


Setelah mencium punggung tangan sang papa, Ardi pun pergi tanpa menoleh lagi.


"Dasar keras kepala. Kita lihat nanti seberapa kuat kamu bertahan diluar sana tanpa uang dariku." dengus sang papa dalam hati dengan wajah sinis.


flashback off


Semua terdiam mendengar cerita Ardi. Papa Mel menghela napas panjang, menahan rasa geramnya.


"Kalau mau ikut kata hati, om lebih marah dari papamu, Ar. Kepercayaan yang om kasih ke kamu sudah kamu sia-siakan."


Ardi menunduk, tak berani menentang mata papa Mel.


"Maafkan saya, Om."


"Sudahlah. Semua sudah terjadi, dan kalian harus menikah secepatnya."


Ardi mengangguk.

__ADS_1


"Maafkan Mel, Pa. Mel udah buat papa kecewa dan malu."


Mel menatap sendu papanya, penuh rasa bersalah.


__ADS_2