Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
6. Kejujuran Untuk Aji


__ADS_3

Seminggu sudah usia pernikahan Dian dan Raya. Dan saatnya kini keduanya kembali ke aktifitas masing-masing. Dian kembali sekolah dan Raya kembali kuliah seperti biasa.


"Yank, kamu pulang kuliah jam berapa?" tanya Dian di sela sarapan pagi mereka.


"Gue cuma ada dua mata kuliah. Palingan gak lama pulangnya."


"Aku jemput ya, Yank? Aku juga gak full lagi belajarnya. Ya?"


Raya mengangguk.


" Ntar chat aku kalo kamu udah mau pulang ya?" kata Dian lagi.


Raya mengangguk lagi.


Selesai sarapan Dian mengantar Raya ke tempat kuliahnya lebih dulu sebelum berangkat ke sekolah dengan motornya.


" Peluk dong, Yank. Masak sama suami duduknya jauh gitu. Kenapa gak di ujung besinya aja sekalian, duduknya." protes Dian saat menyadari Raya duduk agak menjauh, seolah menjaga jarak dengannya.


Raya terkekeh geli. Akhirnya Raya pun menempel ketat dipunggung Dian dan memeluknya.


" Nah, ini baru istri aku." celutuk Dian. "Kan udah sah, Yank. Gak usah malu-malu lagi lah!"


Raya menghela napas berat. "Resiko punya suami bocah, harus bisa nahan emosi."


"Buruan jalan. Ntar telat." Raya menepuk pelan bahu Dian.


"Siap, Bos. Meluncur!"


Di sekolah, Dian melihat Laura di parkiran. Gadis itu menghampiri Dian yang selelsai memarkirkan motornya.


"Sayang, aku mau minta maaf..."


"Kita udah selesai. Gue harap lu gak ganggu gue lagi." kata Dian.


Tanpa menoleh ke arah Laura, Dian terus melangkah menuju kelasnya. Laura mengejar Dian dan berusaha menarik tangan cowok itu.


"Sayang. Tunggu. Aku belum selesai..."


Dian menghentikan langkahnya. Ditepisnya tangan Laura yang menggenggam tangannya.


"Jangan pernah panggil gue sayang. Gue bukan sayang lu lagi. Lu juga bukan orang yang berharga lagi buat gue. Jadi gue minta lu jauh-jauh dari gue karna gue gak mau liat muka munafik lu lagi. Paham?!"


Tatapan tajam Dian membuat Laura menunduk takut. Laura tidak pernah menyangka kalau Dian yang selama ini dikenalnya sangat penurut dan lugu ternyata bisa marah besar. Laura bergidik, ngeri.


Dian pergi meninggalkan Laura yang terdiam menunduk ditempatnya berdiri.


"Apa aku bisa menaklukkan hatimu lagi, Yan?" batin Laura.


Otor rese : Menurut Lo??? 🙄😒😤😤😤


Raya terpaku ditempatnya saat melihat Aji berjalan menghampirinya dengan wajah tersenyum tampan.


"Astaghfirullahaladziim!" Raya beristighfar dalam hati.


Gadis itu berusaha meredam bunyi jantungnya yang seakan berdetak lebih cepat. Gelisah campur gugup pun melanda hatinya.


"Assalamualaikum, Ay!" sapa Aji dengan mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam, Ji!"


"Kamu kemana satu minggu ini, Ay? Hp kamu gak aktif. Aku kerumah, kamunya gak ada. Ada masalah apa, Ay?" Aji langsung mencerca Raya dengan pertanyaan.


"Aku harus bicara terus terang sama Aji. Aku gak ingin menyakitinya lebih dalam lagi. Aku harus bisa!"


"Ji, ada yang mau aku bicarakan sama kamu."


Aji menatap dalam wajah gadis yang sangat dicintainya itu. Perasaannya tak enak.

__ADS_1


"Ada apa, Ay? Bicaralah! Aku akan mendengarnya."


Raya menunduk, tak berani menentang mata sendu milik Aji, cowok yang menjadi pacarnya selama tiga tahun ini.


"Aku minta maaf, Ji. Aku sekarang sudah menikah."


Jeggerrrrr!


Bak petir disiang bolong, Aji terperangah mendengar pengakuan Raya.


"Kamu... gak serius kan, Ay? Kamu cuma ngeprank aku kan, Ay?" Aji menatap Raya, tak percaya.


"Ay!!!" Aji mengguncang-guncang bahu Raya, kuat.


"Sakit, Ji!" desis Raya, pelan.


"Maaf, Ay! Maaf!" Aji melepaskan cengkeramannya dibagi Raya.


"Aku gak bermaksud nyakitin kamu, Ay. Aku hanya tidak mempercayai apa yang kamu katakan tadi."


"Maaf, Ji! Maaf!" Raya menunduk lagi. Tak sanggup ia melihat wajah pria yang dicintainya itu sedih.


"Kenapa kamu gak bilang ingin menikah cepat, Ay? Aku kan bisa memintamu ke orangtuamu?"


" Bukannya gitu, Ji. Aku..."


"Jangan bilang kamu hamil, Ay! Siapa yang menghamilimu? Jawab jujur, Ay!" Aji menatap nanar gadis di depannya. Ia benar-benar kecewa mendengar semua pengakuan Raya. Apalagi ternyata bila Raya memang hamil dengan orang lain. Berarti selama ini Raya sudah membohonginya dan selingkuh dibelakangnya.


"Aku bukan wanita murahan, Ji. Kamu mengenalku. Dan kamu tau bagaimana aku." Raya tersinggung dengan ucapan Aji.


"Lalu apa?" Aji menatap Raya penuh amarah. " Gak mungkin kamu menikah karna dijodohkan, Ay. Ayah dan ibu tau tentang kita. Gak mungkin mereka memaksamu untuk menikah?"


"Tapi memang itu yang terjadi, Ji."


"Apa masalahnya sampai kamu harus dipaksa menikah, Ay?"


"Jadi kamu menikah dengan Dian, Ay?"


Raya mengangguk, pelan. Aji menarik napas, dalam-dalam. Hatinya hancur dengan kenyataan yang ada kini. Wanita yang sangat ia cintai kini sudah bukan miliknya lagi.


"Apa kita masih bisa terus bersama, Ay?" Aji berharap Raya masih mencintainya.


"Maafkan aku yang sudah menyakitimu, Ji. Tapi aku gak mau karna kita akan banyak orang yang lebih sakit hati. Banyak perasaan yang harus aku jaga, Ji. Dan aku harus siap menjalaninya."


Aji menatap dalam wajah kekasihnya yang kini tak bisa ia miliki. Bahkan memeluk dan membelainya seperti dulu pun kini sudah tak mungkin lagi. "Raya sudah jadi milik orang lain. Ingat itu, Ji!"


"Aku gak mau kita berpisah, Ay!"


Raya menghempas napas panjang.


"Kita gak mungkin bisa kayak dulu lagi, Ji. Aku sudah punya suami, dan aku harus menjaga nama baik suamiku."


"Tapi kalian menikah karna terpaksa, Ay. Kamu bisa minta cerai sama Dian. Lagian Dian masih terlalu muda untuk menjadi suamimu. Dia gak akan bisa..."


"Gak bisa apa?"


Raya dan Aji spontan menoleh ke sumber suara.


"Dek!"


Aji menoleh ke arah Raya.


"Bahkan kamu masih memanggilnya adek, Ay. Apa kamu yakin dia bisa membahagiakan kamu?" kata Aji.


"Bang Aji, gue minta maaf karna sudah mengambil Kak Ray dari lu. Tapi sekarang Kak Ray istri gue, jadi tolong bang Aji hargai gue sebagai suaminya." ujar Dian, pelan. Dari tadi Dian menahan diri agar tidak emosi melihat betapa Aji meremehkannya.


Aji menatap Dian, kesal.

__ADS_1


"Lu kurang ajar, Yan. Lu tau gak betapa gue sangat mencintai Raya. Dia satu-satunya wanita dihidup gue setelah kepergian mama gue. Dan sekarang lu rebut Raya dari gue. Lu bajingan, Yan. Bangs*t!"


Bugh!


Bogem mentah mendarat keras diwajah Dian. Darah pun mengalir disudut bibirnya yang pecah


"Ji!" sentak Raya keras.


"Lu gak pa-pa, Dek?" tanya Raya cemas sambil memegang pipi Dian dan mengusap darah yang mengalir disudut bibir itu.


Dian tersenyum seraya menggeleng pelan. "Aku gak pa-pa, Yank." Dian memegang tangan Raya.


Aji yang melihat hal itu semakin tak terima. Ia merasa dipecundangi oleh Dian.


"Sialan lu, Yan. Raya itu punya gue, bukan punya lu!"


Aji hendak memukul Dian lagi, tapi Raya dengan cepat menghalanginya.


"Pukul aku, Ji. Aku juga salah dalam hal ini." Raya menunduk pasrah.


Aji menatap Raya, sayu.


"Kamu tinggalkan saja dia, Ay. Dia tidak pantas untukmu. Aku yang lebih berhak menjadi suamimu!" bentak Aji, keras.


"Maafkan aku, Ji. Dian suamiku sekarang dan selamanya akan jadi suamiku. Pantas atau tidaknya Dian hanya aku yang berhak menilainya." jawab Raya, tenang.


"Ay, apa kamu sudah melupakan tentang kita selama ini? Kamu tau aku sangat mencintaimu kan, Ay? Tolong jawab, Ay! Apakah aku gak berarti apa-apa buat kamu? Apa arti hubungan kita selama tiga tahun ini, Ay?" Aji terus memaksa Raya untuk berpikir kembali.


Raya diam, tak bersuara.


"Katakan kalau kau masih mencintaiku, Ay! Katakan kalau kau tidak menginginkan pernikahan ini. Katakan, Ay!"


Dian menatap Raya, lekat. Hatinya merasa tak tenang. Antara dia dan Raya memang belum ada rasa apa-apa. Tapi, haruskah pernikahan mereka berakhir sekarang?


"Gak! Aku gak mau pisah. Pernikahan ini hanya untuk sekali seumur hidup!" Dian menggelengkan kepalanya, cepat.


"Aku akan membuat kamu mencintaiku, Yank. Dan aku janji akan membahagiakan kamu!" janji Dian dalam hati.


"Maaf, Ji. Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Dan aku hanya ingin menikah sekali untuk seumur hidup. Maafkan aku yang telah mengecewakanmu. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik karna kamu orang baik." Raya menangkupkan kedua tangannya, memohon maaf pada Aji.


Aji mengusap wajahnya kasar.


Argh!!!


Aji berteriak kesal. Matanya tajam menatap Dian, seakan ingin membunuh cowok ganteng itu.


"Baiklah, Ay! Mungkin ini sudah takdir. Semoga Dian bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang suami yang baik dan bisa membahagiakanmu. Kalau suatu saat aku mendengar Dian menyakiti hati bahkan fisikmu, detik itu juga aku akan merebutmu kembali dari tangannya!" ujar Aji.


Aji menoleh ke Dian


"Camkan itu, Yan! Sehelai rambut pun lu gak boleh menyakiti Raya. Gue gak akan segan-segan mengambil Raya dari lu kalo lu berani lakukan itu." Aji menunjuk wajah Dian.


"Gak akan, Bang. Gue janji akan menjaga dan memperlakukan Kak Ray seperti istri gue sendiri."


"Heh! Emangnya gue istri siapa, Dek?" Raya melotot, kesal mendengar ucapan Dian.


"Ya istri aku lah, Yank. Masak istrinya tetangga!" seloroh Dian seraya nyengir kuda.


"Mesenge!" 😒


Raya merengut kesal. Dian pun tergelak melihat wajah manyun sang istri.


"Gemes aku liat kamu manyun kayak gitu, Yank. Jadi pengen...ish!" Dian mendesis ketika Raya mencubitnya, keras.


Aji membuang pandangannya ke arah lain.


"Semoga kamu selalu bahagia, Ay!"

__ADS_1


__ADS_2