Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
Pengenalan Diri


__ADS_3

Saya mohon maaf kalo cerita saya masih belum bisa memuaskan readers. Tapi saya akan mencoba untuk membuat cerita ini jadi lebih menarik.


Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar yang membangun.πŸ™πŸ™πŸ™


❀️❀️❀️


Namaku Raya Aulia. Umur 19 tahun. Baru saja lulus SMU. Dari kecil sampai lulus sekolah menengah atas, temanku rata-rata cowok semua. Bahkan teman mainku di rumah pun cowok. Teman cewekku paling hanya dua orang yang dekat. Itu juga orangnya pendiam dan kalem. Berbanding terbalik dengan aku yang cuek dan ceplas-ceplos.


Hobiku mendaki gunung (kalo bisa lewati lembah kayak ninja Hatori 🀭), dan traveling. Aku orangnya slow dan gak pedulian. Cuek bebek mah, kata orang.πŸ¦†


Aku belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Sebenarnya aku pun ingin merasakan yang namanya pacaran. Tapi, demi melihat tingkah konyol bin ajaib teman-teman cowokku, membuat aku berpikir ulang. Bukan apa-apa, tapi sikap tengil dan sok Don Juan mereka bahkan terkadang lebay (sok ganteng maksudnya.🀭), membuatku mengurungkan niatku. Lagi pula, belum ada satupun diantara mereka yang menarik perhatianku dan bisa membuat jantungku berdetak kencang.


Waktu masih SMP, pernah dua orang teman dekatku, Lena dan Melia, membuatku bingung. Kusangka mereka berdua gila karna sering cengengesan sambil melamun. Ternyata mereka lagi asik ngelamunin pacar mereka.


Flashback on


"Mel! Mel! Sadar, woy!" Kulambai-lambaikan tanganku di depan wajah Mel.


Bukannya sadar, Mel malah makin seram nyengirnya.


"Len, itu si Mel kayaknya kerasukan deh. Dia ketawa-ketawa sendiri. Ngeri gue." kataku ke Lena sambil bergidik ngeri saat melihat seringai Mel.


"Udah jangan di ganggu. Si Mel lagi mengkhayal." Sahut Lena.


Aku mengerutkan dahiku.


"Mengkhayal apa? Emangnya Mel mau beli apa?"


"Mel baru jadian ama pacarnya. Makanya dia mengkhayal lagi berduaan sama pacarnya."


"Eh?"


Dahiku pun makin berkerut.


"Apa orang yang sedang pacaran bisa jadi gila begini ya? Senyam-senyum sendiri, cekikikan sendiri, jadi sering melamun... hii. Ngeri gue!"


"Napa lo merinding gitu, Ray?" tanya Lena yang melihatku bergidik, ngeri.

__ADS_1


"Gak pa-pa. Lagi interaksi aja ama jin gue."


"Se... serius... lo?" Lena ikutan merinding.


Aku nyengir. Lena kabur tanpa jejak. Dan aku pun ngakak tanpa batas.


Disitulah aku mulai mengerti, kalo orang yang sedang jatuh cinta itu seperti orang gila. Senyum-senyum sendiri, ketawa-ketawa sendiri, nangis-nangis sendiri... Ujung-ujungnya aku yang gila melihat tingkah konyol Lena dan Melia.🀦


"Mending gak usah pacaran deh. Ngeri gue!"😱


Flashback off


Aku memang belum pernah pacaran. Tapi selalu jagain orang pacaran. (Bilang aja jadi obat nyamuk, susah amat😜)


Waktu umurku masih 9 tahun, aku di ajak tetanggaku, Vivi yang saat itu sudah berumur 19 tahun, ke rumah pacarnya nemenin dia pacaran. Aku ingat betul ketika Vivi bilang, dia diizinkan jalan sama cowoknya kalo ada aku. Dan itulah pertama kalinya aku jadi obat nyamuk.πŸ˜“


Dan waktu SMP. Aku bersahabat dengan Ardian, teman sekelas tapi beda umur dua tahun. Aku memanggilnya Abang, karna dia yang menyuruhku memanggilnya begitu. Aku pun sudah menganggapnya seperti abangku sendiri.


Ardian seorang playboy cap kaleng kerupuk. Pantang liat cewek jidatnya licin dikit. Dia yang sering gonta-ganti pacar, akunya yang capek. Ya iyalah. Soalnya aku yang jadi bahan cemburuan para pacar-pacarnya Ardian, apalagi para mantannya. Hadeeeh.πŸ™„


Kalo dipikir-pikir, wajar kalo mereka marah atau cemburu padaku. Gimana gak cemburu, setiap Ardian ngapelin ceweknya, aku ngintil mulu.


Aku juga bingung kenapa Ardian selalu maksa aku ikut dengannya. Bahkan tiap mau ngapel dia pasti ke rumahku dulu untuk menjemputku.🀦


Aku ingat waktu emak memarahiku karna selalu ikut Ardian ngapelin pacarnya.


Flashback on


"Kamu gak takut pacarnya Ardi marah dan cemburu liat kamu nemplok mulu sama Ardi, Ray?" tanya emak waktu aku minta izin malam itu ikut Ardian.


"Takut sih, Mak."


"Terus... kenapa kamu mau ikut dia?"


"Lah... Abang yang maksa aku ikut. Aku diancam gak diajarin kalo mau bikin tugas nanti." jawabku, lesu.


Emak tertawa.

__ADS_1


"Pernah gak kamu di maki sama salah satu pacarnya Ardian?" tanya emak penasaran. Emak memang tau kalo sahabat putrinya itu playboy cap burung gagak.πŸ˜€


"Pernah. Kebetulan cewek itu juga sekelas sama aku dan Abang."


"Terus? Gimana reaksi Ardian liat kamu di serang pacarnya?"


"Habis tuh cewek dikatain sama Abang. Aku aja gak tega liat muka tuh cewek sampe lecek gara-gara disemprot Abang. Kalah kain pel, Mak. Sadis si Abang mah."


"Berarti Ardian lebih memilihmu dari pada pacarnya itu, Ray."


"Entahlah, Mak. Aku sih gak pernah peduli dan gak mau tau urusan Abang sama pacar-pacarnya. Yang penting Abang bahagia, aku ikut senang." ujarku, jujur.


Emak mengangguk.


"Emak senang melihat persahabatan kalian, Ray. Kalian sudah seperti saudara kandung, saling melindungi. Emak juga sudah menganggap Ardian seperti anak emak sendiri."


"Teman-temanku yang lain juga ya, Mak?"


"He-eh. Saudaramu banyak, Ray. Laki semua."


"Ada yang perempuan, Mak. Si Lana."


"Haish. Lana yang mirip Mimi peri itu?"


Aku mengangguk sambil nyengir.


"Sama aja bo'ong, Ray. Biar lemah gemulai gitu, tetep aja casingnya laki." ujar emak


Aku pun terkekeh geli.


"Setidaknya Lana sikapnya kayak perempuan, Mak."


"Tetap aja Mak takut, Ray. Biar bagaimana pun bentukannya, Lana itu tetap laki-laki. Dan Mak gak mau kamu ajak dia menginap lagi di rumah kita."


"Loh... kenapa, Mak? Gak boleh pelit gitulah."


"Bukannya pelit, Ray. Kamu kan gak mungkin tidur bareng Lana, karna dia cowok. Terus... kalo dia tidur sama Dika. Dikanya yang takut tidur bareng dia." cerocos emak.

__ADS_1


Raya ngakak, lepas.


Flashback off


__ADS_2