
"Makasih ya, Ji. Gak mampir dulu?"
Dengan tangan mengepal keras dan geraham yang menggertak geram, Dian menahan amarahnya saat melihat sang istri pulang di antar laki-laki lain.
"Lain kali aja, Ay. Soalnya aku harus nemenin Mel beli susu hamil." tolak Aji.
"Ya udah deh. Sekali lagi, makasih." ucap Raya. Aji mengangguk.
"Yan, Abang pulang ya?!" pamit Aji pada Dian yang sedang memperbaiki sebuah sepeda motor.
"Hm." Dian cuma berdehem, cuek, pura-pura sibuk dengan alat tempurnya.
Raya melirik kesal ke sang suami. "Pasti cemburu lagi." batinnya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." bang Rio yang jawab. Sedangkan Dian diam saja.
Setelah mengucapkan salam Raya langsung ngeloyor masuk ke dalam ruko tanpa menegur mas suami yang sudah bisa ia tebak isi hatinya tanpa melihat raut wajahnya yang sudah pasti butek keruh.
Rio terkekeh melihat Dian yang cemberut. Dia paham betul apa yang ada dipikiran bosnya itu.
"Jangan ngeledek gue, bang. Gue tau lo lagi ngetawain gue." sungut Dian, ketus.
"Hehe. Baper amat lu, Yan!" Rio tergelak.
"Emang lo gak cemburu kalo liat bini lo pulang di antar sama cowok lain?" dengus Dian, kesal karna Rio masih saja tertawa.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak kalo lo gak mau perang dingin lagi ama bini lo, Yan. Ntar lo kedinginan beneran, baru nyahok." nasehat Rio.
Dian diam mencerna ucapan Rio.
"Kalo Raya niat selingkuh, gak mungkin dia mau di antar pulang dan di lihat sama lo. Mikir?!!"
"Bener juga sih. Tapi... tetep aja aku cemburu. Bang Aji kan mantannya ayang beb." batin Dian bergejolak.
"Tapi... pria tadi itu mantan pacarnya Raya, bang. Dia juga suami kak Mel." ungkap Dian.
"Apalagi itu. Buang jauh pikiran negatif tentang Raya dari otak kotor lo. Beri kepercayaan kalau Raya adalah istri yang setia dan gak akan ngeduain elo. Percayalah padanya." kata Rio bijak.
Dian mengangguk, mengiyakan.
"Itu kepala jangan cuma ngangguk doang. Pahami apa yang gue bilang tadi. Biar Raya gak merasa tertekan lo cemburui terus. Paham?!"
"Iya, bang. Gue akan berusaha untuk gak cemburuan lagi. Gue gak mau jadi udang goreng di pojok kamar."
Rio tersenyum sambil mengangguk. "Bagus. Mudah-mudahan malam ini aman dan lancar proses Dian junior biar cepat otw." kelakar Rio.
Dian nyengir malu. "Doa'in aja, bang." katanya.
Rio mengangguk seraya mengacungkan jempolnya.
Dian baru selesai solat dan melipat sajadah ketika Raya masuk ke dalam kamar sambil menenteng laptopnya.
"Bib, udah punya rencana mau lanjutin kuliah kemana?" tanya Raya. "Nih ada brosur dari kampus. Kali aja kamu minat kuliah bareng aku." Raya mengambil brosur yang disimpannya di tas.
Dian mengambil brosur dan membacanya. "Ntar kamu bantu aku daftar ya, Yank." pintanya pada sang istri.
"Kamu mau ambil jurusan apa?"
"Tehnik."
"Tehnik mesin lagi, bib? Gak bosen kamu?" tanya Raya heran.
Dian tersenyum.
__ADS_1
"Aku dari dulu emang suka banget ngotak-atik motor, Yank. Kamu juga tau itu kan? Karena itu aku gak bakalan bosen bergelut dengan mesin. Sama kayak aku yang gak akan bosen gelut sama kamu." ujar Dian, sedikit ngegombal.
"Cihh! Badrun! Kalo gombal paling bisa." Raya berdecih, geli. Makin hari suaminya ini makin gencar dan lihai menggombalinya.
Dian tertawa. Lalu ia berbaring memeluk pinggang Raya yang sedang sibuk menonton drakor di laptopnya.
"Gak pa-pa kan, sama istri sendiri." ujarnya sambil mengecup perut datar Raya.
"Awas aja kalo ketahuan ngegombalin cewek lain."
"Emang kenapa?" pancing Dian sambil mencuil-cuil dagu sang istri.
"Aku sunat si Mumu sampe abis!" ancam Raya.
"Waduhh! Gak bisa ngadon bareng Juju lagi dong si Mumu?" Dian pura-pura bergidik.
'Makanya... jangan pernah berani coba-coba."
"Enggak, Yank. Mumu udah cocok sama Juju. Hanya Juju yang Mumu mau." ujar Dian. Pelukannya pun dipererat.
"Yank."
"Hm."
"Kamu lagi ngapain sih, Yank?" Dian melirik laptop Raya. Matanya membelalak melihat foto yang tengah ditatap sang istri sambil senyum-senyum dari tadi.
"Kok ada foto cowok lain di laptop kamu, yank? Foto siapa itu?" Dian bangun dan duduk, lalu mengambil laptop di tangan Raya.
"Cihh. Plastik!" dengus Dian.
Raya nyengir. "Gak pa-pa dia plastik, yang penting kamunya ori." gombal Raya.
"Cieee... ketularan gombal dia." celutuk Dian sambil menoel dagu sang istri. Keduanya pun tertawa berbarengan.
"Yank."
"Hm."
"Tadi... kok bisa pulang bareng bang Aji?" tanya Dian.
Raya tersenyum dikulum. "Pasti udah gatel dari tadi dia pengen nanyanya." gumamnya dalam hati.
"Tadi sehabis kuliah aku sama Lena pulang ke rumah mama, disuruh sama Mel. Kangen katanya, pengen curhat."
"Curhat apa? Kak Mel ada masalah sama bang Aji?" tanya Dian.
"Mel sama Aji baik-baik saja, Bib. Jangan berpikiran jelek ah! Mel tadi cuma pengen nunjukin foto USG baby-nya."
"Terus kenapa kamu gak bilang dulu sama aku? Kan aku bisa jemput kamu di sana?"
"Aku udah telpon kamu, tapi gak di angkat. Coba lihat di hp kamu."
Dian mengambil ponselnya, dan ia pun nyengir saat melihat enam panggilan tak terjawab dari Raya.
"Maaf, Yank. Aku tadi sibuk bantu bang Rio di bengkel." ucapnya penuh sesal.
Raya hanya menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Terus... kenapa gak pulang bareng kak Len?" tanya Dian lagi.
"Lena gak bawa motor. Dia tadi pulang di antar Firman."
Dian menganggap-angguk, mengerti.
Raya diam, melamun.
"Kok bengong, yank?" Dian duduk menghadap Raya. Tangannya membelai lembut pipi sang istri.
"Bib, calon baby-nya Mel lucu loh. Imut."
"Emang udah kelihatan bentuknya? Laki apa perempuan?" tanya Dian antusias mendengar tentang calon ponakannya.
"Udah masuk tujuh bulan, udah berbentuk bayi, cuma kayaknya si baby masih belum mau nunjukin dia cewek apa cowok."
"Maksudnya?" tanya dia , bingung.
"Itunya ditutupin sama baby, jadi belum diketahui jenis kelaminnya."
"Ooh." Dian mengangguk paham.
"Bib!"
"Hm."
"Kita kapan ya bisa punya baby juga? Aku juga pengen ngerasain hamil." lirih Raya berkata.
Dian memandang sang istri sambil senyam-senyum.
"Yuk kita buatin yuk, yank." ajak ya dengan wajah sumringah.
Raya meringis.
"Buatinnya hampir tiap hari, tapi gak jadi-jadi juga. Ada yang salah kali, bib?"
"Gayanya kali kurang hot, Yank. Ntar kita coba gaya helikopter, atau... gaya enam sembilan." seru Dian, heboh.
Raya mengerutkan keningnya, bingung. "Gaya apaan tuh?!" tanyanya heran.
"Yuk kita coba, yuk!" Dian mendekatkan wajahnya ke sang istri. Refleks Raya pun menjauhi Dian.
"Jawab dulu apa itu yang kamu bilang tadi, Bib."
Dian mesem-mesem gak jelas, membuat Raya merengut masam.
"Hal itu gak bisa dijelasin, Yank, tapi dipraktekkan."
"Ish. Itu sih emang maunya kamu, Bib." dengus Raya. Dian nyegir, nakal.
"Tapi... kayaknya Mumu cuti dulu deh, Bib."
"Loh? Kenapa?"
"Juju lagi ileran."
Dian melongo.
>>>
otor imut : 😓😓😓
Dian : "Kok Lo yang sedih, thor? Nyindir gue nih?" 😒
otor imut : " Padahal gue penasaran banget ama gaya helikopter lo, Yan." 🙈
__ADS_1
Dian : "Mumu apalagi, thor. Udah nancep tinggi dia mah." 🤦😓
otor imut : 🤣🤣🤣