
"Mau gak mau pokoknya lu harus jadi pacar gue sekarang. Titik!"
"Dasar tukang maksa. Ngebet banget pengen punya pacar." batin Lena mendengus kesal.
Firman tersenyum memandang wajah cantik Lena yang manyun. Lalu direngkuhnya tubuh gadis itu membawanya ke dalam pelukannya.
"Kita sama-sama sedang terluka. Bagaimanapun kita harus tetap melangkah maju. Bukankah lebih baik kita saling mendukung dan mengobati luka hati kita?"
"Dengan cara memaksa hati?"
Firman melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Lena dengan mata tajam menatap manik mata gadis itu.
"Kita berdua harus bisa move on dari hati yang gak mungkin bisa kita miliki. Kita harus saling membantu. Kamu mau?"
"Tapi..." Lena nampak ragu. "Sampai kapan..."
"Sampai kita menemukan pengganti mereka."
"Gimana kalo sesuatu terjadi pada kita?"
"Maksudnya?" Firman mengernyit bingung.
"Ya... misalkan elu malahan jatuh cinta beneran sama gue, atau sebaliknya?"
"Dasar nih mulut, asal mangap aja. Otak gue juga, kenapa bisa mikirin yang enggak-enggak?!" Lena menggetok kepalanya sendiri, menyesali pertanyaannya tadi.
"Gak pa-pa, dong. Malah bagus. Jadi kita gak perlu repot cari pasangan yang pas lagi." jawab Firman santai.
"Hah?!" Lena melongo, kaget. Ditatapnya lekat wajah tampan di depannya. "Gak salah ngomong nih bocah? Lempeng amat tuh congor kalo jeplak." gumamnya.
"Kenapa diam? Apa kamu... sudah jatuh cinta beneran sama aku?" goda Firman sambil menaik-turunkan alisnya yang tebal.
Lena mendelik sewot.
"Emang ya nih congor, kalo udah nyablak gak pake pikir dulu." Lena mencubit gemas bibir Firman yang spontan menarik tangan Lena yang langsung menarik tangannya dari genggaman Firman.
"Lu masih bocah, bang? Kalo mau move on, cari yang cantik, yang sepantaran atau dibawah lu umurnya. Jangan sama gue yang amburadul gini, mana nyaris apkir lagi umurnya. Sampai lima puluh tahun juga lu gak bakalan bisa move on dari Raya kalo lu pacarannya sama gue. Paham?!" tatar Lena.
Firman tersenyum tipis.
"Kayaknya aku udah beneran suka sama kamu. Kamu gimana?" tanya dengan nada menggoda.
Lena tersentak.
"Gak mungkin." ia pun geleng-geleng seraya meringis, gugup.
"Lu masih belum bisa move on dari Raya. Jangan bikin gue baper deh. Lu pikir bisa bohongin gue? Maaf. Gue bukan lagi bocah kayak elu, bro." Lena menepuk-nepuk pelan bahu Firman.
"Ckk. Bocah ini udah bisa bikin bocah ama lo. Mau nyoba?" Firman mendengus kesal.
"Heh?! Bocah mesum, lu!" bentak Lena dengan mata melotot dan tangan berkacak pinggang.
Cup!
Lena terdiam, kaku. Tangannya gemetar meraba bibirnya yang mendapat kecupan mendadak dari Firman.
"Emang bocah mesum. Dasar!"
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Lena memukul tubuh tinggi tegap Firman dengan brutal. Firman yang dipukul hanya mengaduh sambil terkekeh menerima gebukan super Lena.
"Habis kamu bilang aku bocah bocah dari tadi. Kan aku jadi pengen nunjukin kalo aku yang kamu bilang bocah ini udah bisa bikin bocah juga." Firman membela diri. Dan ia pun kembali mengaduh saat Lena memukulnya dengan lebih brutal.
"Aduh! Sakit, Honey!" Firman menangkap tangan Lena dan mendekapnya di dadanya.
Blush!
Memerah pipi Lena mendengar bagaimana Firman memanggilnya. Dengan tertunduk malu Lena berusaha menarik tangannya dari dekapan Firman. Tapi genggaman Firman lebih kuat hingga Lena akhirnya merelakan tangannya terus dalam genggaman Firman.
Dan tanpa Lena duga Firman kembali memeluknya erat dan mencium pucuk kepalanya lembut.
"Mulai sekarang, di detik ini juga, kamu pacar aku. Pokoknya, kamu harus selalu ada buat aku. Dan aku pun akan selalu ada buat kamu." bisik Firman lirih.
Lena terdiam di dalam dekapan Firman. Wajahnya yang menempel di dada bidang Firman membuatnya bisa mencium aroma wangi maskulin dari tubuh cowok itu.
"Kamu mau kan jadi pacar aku?" tanya Firman sekali lagi.
Lena mengangguk perlahan. Perasaan malu dan ragu bergumul campur baur dipikirannya. Akankah dia mampu membantu Firman untuk menyembuhkan luka hati Firman dan dirinya sendiri?
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Baiklah. Kita coba ya?"
Senyum Firman merekah. Pelukannya ditubuh Lena makin dipererat.
"Hekh! Bang..." Lena menepuk-nepuk punggung Firman, keras. "Aku... gak... bisa napas." setengah ngap-ngap Lena berkata.
"Udahan dong meluknya, Malu tau?!" Lena menggeliat, berusaha melepaskan diri dari pelukan Firman.
"Malu sama siapa? Gak ada orang kok, hanya ada kita berdua di sini." kata Firman. Kepalanya menoleh ke sekeliling mereka. Dan memang sepi, tidak ada orang lain selain mereka.
"Tetep aja... lepas." Lena mendorong Firman agak kuat hingga pelukannya pun terlepas. Lena menggerak-gerakkan badannya yang terasa ngilu.
Krek
Krek
Krek
Bunyi tulang Lena. Firman terkekeh melihat gaya tengil gadis dihadapannya.
"Benar-benar gak ada jaimnya nih cewek. Kayaknya gue cepet bisa move on nih!" guraunya pada hatinya.
"Bang, lu ngajak gue..." Lena terdiam saat jari Firman menempel di bibirnya.
"Kita sekarang sepasang kekasih. Jadi gak ada bahasa lo-gue lagi. Dan jangan panggil Abang lagi."
"Terus... panggil apa?"
"Panggil aku, Bee. Karena kamu Honey-ku." wajah tampan Firman tampak semakin kiyut di mata Lena kala ia tersenyum saat ini.
"Loh... emang dari orok tuh bocah udah tampan kan? Beg* lu diumpetin dulu napa, Len? Grogi punya pacar brondong yang gantengnya gak ketulungan?" Lena menepuk jidatnya pelan.
"Kenapa, Hon? Masih belum yakin sama aku yang akan bisa membuatmu move on dari mantanmu yang ganteng itu? Apa aku kurang ganteng?" Firman memegang dagu Lena agar menatapnya.
__ADS_1
"Bukan gitu. Aku takut malah aku yang gak bisa bantu kamu move on dari..."
Cup!
"Kita gak bakalan tau kalau kita belum mencobanya, Hon. Yakinkan saja hati bahwa kita bisa melalui semuanya sama-sama. Ya?" Firman menggenggam tangan Lena dan menciumnya lembut.
Wajah Lena pun kembali menghangat. Dengan malu-malu ia mengangguk.
Firman menggeram.
"Haish. Kenapa kamu bisa lucu gini sih, Honey. Ngegemesin tau gak?!" Firman mencubit gemas pipi sang kekasih.
"Sakit, bang!" sungut Lena dengan bibir mengerucut, manyun.
"Heh?!" Firman melotot mendengar panggilan Lena.
Lena yang langsung menyadari kesalahannya hanya bisa nyengir. "Maaf... Bee!" ucapnya malu-malu.
Firman tersenyum, tambah gemas.
Cup!
"Lucunya pacarku."
Cup!
"Bikin gemes."
Cup!"
"Jadi pengen cium."
Cup!
Cup!
Cup!
Lena yang mati-matian mengelak, berusaha menjauhi wajahnya yang menjadi sasaran ciuman membabi-buta Firman, pacarnya yang baru.
"Tolong!!! Ada bocah mesum cium-cium gue!!! To loooong!!!" jerit Lena, lebay. "Mmf..."
Firman gelagapan. Refleks dia menutup mulut Lena dan menoleh kiri-kanan, takut ada yang mendengar jeritan alay sang pacar gak ada akhlak. ðŸ¤
"Diem, ihh! Ntar dikira orang aku mau perkosa kamu lagi." Firman menggerutu, ngedumel kezel.
"Mmf.. mmfh..." Lena menepuk kuat tangan Firman agar melepaskan mulutnya yang di bekap.
"Diem ya, Hon? Kalo masih teriak-teriak kayak tadi, aku akan cium kamu lebih lebih lebih..."
"Paan sih, bang? Emang itu mau lu kan?" Lena melepaskan diri dari pegangan Firman, kemudian lari menjauhi si tampan itu.
"Apa katamu?!" mata Firman melotot tajam. "Minta di hukum kamu ya, Hon? Awas ntar kalo ke tangkep!" dengan nada mengancam firman berlari mengejar Lena yang sudah ngacir duluan sambil tertawa ngakak.
Keduanya pun berkejar-kejaran di atas pasir laut bak Rahul dan Anjali. (Kuch Kuch Ho Ta Hai, dong. wkwkwk)
Hidup harus terus berjalan. Begitupun cinta yang sudah hilang, saatnya mencari yang lebih sayang.
Semangat berjuang, Firman dan Lena! Semoga cepat bersatu dan bahagia menyertai cinta kalian selamanya.
__ADS_1
Kalian pasti bisa!!! 💪💪💪💪