
"Kenapa, bang? Pulang-pulang kok marah-marah. Ada apa?" Raya keluar dari dalam kamar dengan wajah segar dan rambut basah.
Lena dan Firman menoleh.
"Tumben lo mandi siang bolong gini, Ray? Mandi basah ya?" goda Lena.
Raya nyengir.
"Dimana-mana kalo mandi ya basah, kak. Yang mandinya gak basah itu sih elu... yang jarang mandi." Firman meledek Lena yang spontan merengut.
Hahahaha. Firman terbahak
melihat Lena merajuk. Raya juga tertawa ngakak.
"Lo lucu kalo lagi manyun gitu, kak. Bikin gue gemes liatnya." Firman menggeram dalam hati melihat Lena yang tampak begitu imut menurutnya.
"Berisik banget sih! Gue mau tidur nih." Dian keluar dari dalam kamarnya dengan bantal guling ditangannya.
"Yank! Bobo lagi yuk? Masih ngantuk." rengek Dian manja.
"Loh, kamu udah mandi, Yank? Keramas kok gak ngajak-ngajak?" Dian menatap rambut Raya yang basah.
"Kan aku pengen mandi bareng dan dikeramasin kamu." Dian mengerling sok imut.
Huekk!
Huekk!
Lena dan Firman kompak ber-huekk ria mendengar rengekan manjah Dian.🤭 Sedangkan Raya, wajahnya sudah memerah, malu atas sikap suaminya.
"Kalian tadi kenapa ribut-ribut? Kamu juga, bang... kenapa tadi marah-marah?" tanya Raya tanpa menggubris sang suami yang berbaring manja di pahanya sambil memeluk guling.
Firman melirik Lena yang diam membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Mau kak Len yang cerita apa aku?" Firman memberi pilihan pada Lena.
"Gak ada yang perlu diceritakan." ujar Lena tenang, berusaha menutupi kegelisahannya.
__ADS_1
Firman mendekatkan wajahnya menatap Lena tepat di depan gadis itu hingga hindung keduanya nyaris bersentuhan.
Lena yang kaget refleks memundurkan kepalanya menjauhi pria tanggung nan tampan tersebut.
Raya dan Dian saling pandang.
"Lo di tolak sama kak Len, Man? Aduh!" tanya Dian yang langsung digeplak palanya oleh sang istri.
Dian pun manyun.
"Kalo gak tau ceritanya jangan asal mangap lo. Gue cuma lagi kesel aja sama kak Len." Firman menendang ujung kaki Dian, kesal.
"Ya kali lo diem-diem suka sama kak Len terus menyatakan cinta lo dan di tolak kak Len. Secara lo jelek, dan pacarnya ganteng. Jelaslah kak Len gak bakalan mau lepasin bang Sena demi lo." cibir Dian.
"Bacot lo!" Firman melengos, kesal. "Kalo gue jelek, apa kabar dengan lo? Ngaca kalo ngomong. Muka lo ama gue sama, dodol!" umpat Firman.
Dian tergelak melihat Firman melotot kesal menatapnya.
"Bukan gitu dek, ceritanya. Aku sama abang tadi gak sengaja ketemu di mall..."
Raya dan Dian duduk tenang menunggu kelanjutan cerita Lena. Tapi gadis itu tampak gelisah dan ragu-ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Apa?!!"
"Biasa aja kali, Yan, jangan pake tereak. Lebay lu!" Firman menoyor kepala Dian, kesal. Yang di toyor merengut sambil mengusap-usap kepalanya.
"Gue liat tunangan bang Sena menghina kak Len." lanjut Firman lagi.
"Dan lo diem aja?"
"Gak usah sotoy kalo gak tau apa-apa. Duduk diem, dengerin aja." Firman menoyor kepala Dian lagi.
"Lo makin didiemin makin ngelunjak ya, Man. Gak takut kualat lo ama gue?" Dian melotot kesal menatap Firman.
"Kualat apaan? Duluan gue juga lahirnya dari lo." cibir Firman mengejek kembarannya yang gampang baper itu.
"Udah deh, Bib. Kita lagi fokus sama cerita Lena ini. Kamu jangan terlalu baper deh!" Raya menengahi perdebatan dua saudara kembar itu.
__ADS_1
"Cerita apaan nih?" Mel keluar dari kamarnya diikuti sang suami, Aji.
Dian refleks mengangkat tubuh sang istri hingga duduk dipangkuannya ketika Aji duduk di sebelah Raya.
Tawa pun pecah dari bibir Firman, Mel dan Lena saat melihat betapa posesifnya Dian pada sang istri sehingga tak rela saat sang mantan pacar duduk disebelahnya.
"Gitu amat cemburunya, dek. Aku aja istrinya Aji gak cemburu. Jangan baperan deh!" ledek Mel, geli dengan tingkah adik bungsunya.
"Tau tuh lu, Yan. Gak percayaan amat ama bini. Kasihan gue sama kak Ray." Firman ikut meledek saudara kembarnya.
"Loh, gue kan cum... mmfh! Mmfh!" Dian tak sempat membela diri karena Raya sudah lebih dulu menutup mulutnya. Ia berusaha memberontak, melepaskan bekapan Raya dimulutnya.
"Ngomong? Aku ngambek!" ancam Raya. Dian pun langsung diam, mengangkat tangannya tanda pasrah.
Setelah melepaskan bekapannya pada Dian, Raya pindah duduk di sebelah Lena dengan wajah cemberut, menahan malu. Sedangkan Dian diam menunduk tak berani melawan titah sang ratu.
Ke empat manusia yang menyaksikan kelucuan kedua pasangan suami-istri itu tergelak tak mampu menahan geli.
"Kak Ray, mending tinggalin Dian deh, daripada makan ati." usul Firman membuat bola mata Dian nyaris loncat keluar saat mendengar usulan tak berfaedah dari mulut lancang saudara kembarnya.
"Mending ama aku aja, yuk. Dijamin gak bakalan cemburuan." kata Firman lagi.
"Lo..."
"Biiiib?!"
Telunjuk Dian yang hendak menunjuk mukanya Firman menggantung ketika suara lembut Raya menegurnya.
Dian nyengir seraya mengangkat kedua tangannya. "Heee. Ampun, Yank. Peace ya?" rayunya.
Raya melengos. Perasaan kesal dan geli bercampur aduk di dadanya. Rasa sayangnya pada sang suami membuatnya mencoba bersabar menghadapi sikap kekanakan suami brondongnya. 🤦♀️
"Nasib lu, Ray. Miris gue liat lu. Yang sabar ya, Ray?" ujar Mel disertai geleng-geleng kepala diikuti Lena yang mengangguk-angguk. 😳
"Poor Raya!"
Hahahahahahaaaa. Tawa pun kembali pecah.
__ADS_1
Sesaat Lena melupakan kesedihannya karena dikhianati Sena. Kebersamaannya dengan kedua sahabatnya serta Firman, Dian dan Aji, sangat menghiburnya dan merilekskan suasana hatinya.
"Terima kasih ya Allah. Kau memberiku sahabat dan teman-teman yang begitu peduli padaku. Aku berjanji, akan selalu ada untuk mereka, seperti mereka yang selalu ada untukku." janji Lena dalam hati.