
Duet Firman dan Lena membuat baper bagi yang melihat betapa serasinya kolaborasi keduanya
Termasuk sepasang mata yang menatap nanar keduanya dari tempat duduknya.
"Maafkan aku, honey! Aku terlalu pengecut untuk mempertahankan cinta kita. Maafkan aku!"
"Sayang! Bukankah itu mantan kamu yang kampungan itu? Kok dia ada di sini?" Retta, tunangan Sena, menepuk pelan tangan Sena yang sedari tadi diam.
"Dan... apa hubungannya dengan bocah sok pahlawan itu? Jangan-jangan..." Retta terdiam sesaat.
"Jangan-jangan bocah itu... beneran selingkuhan mantan kamu, sayang. Kamu di selingkuhi, sayang? Aduuuh, kasihan. Ternyata mantan kamu gak hanya kampungan, tapi juga mura..."
"Diam kamu, Retta!" Bentak Sena tak terima Lena di hina. "Kalo kamu tidak tau apa-apa, jangan asal bicara." ketusnya lagi.
Mata indah Retta membulat. "Berani kamu bentak aku hanya karna cewek kampung itu? Aku ini tunangan kamu, Sena. Ingat itu!" teriak Retta, keras.
Tak dipedulikannya mata-mata yang melihat pertengkarannya dengan Sena. (Bener-bener gak tau malu. Katanya keturunan ningrat? Kalo bar-bar gini sih bener, keturunan temannya Tarzan ini mah. π€)
Sena yang malu saat menyadari bahwa orang-orang di sekeliling tengah menatap mereka dengan beragam ekspresi, langsung keluar ruangan.
"Dasar siluman mony*t! Bikin malu aja. Seandainya aku bisa menolak dari awal perjodohan ini... Akhhh!!!"
Sena meninju angin, menghempaskan kegalauan hatinya yang sakit karna merasa dirinya lemah sebagai seorang lelaki.
Akhirnya Sena pergi meninggalkan sekolah tempat Dian dan Firman, juga sepupu tunangannya, bersekolah.
π΄
π΄
π΄
Detik-detik pengumuman kelulusan dimulai. Wajah tegang pun menghiasi para siswa.
(pengalaman otor nih waktu kelulusan duluuuuuu banget. Keringat dingin campur deg-degan, dan untung aja gak sawan, otor komat-kamit baca mantra, "semoga lulus ya Allah! semoga lulus ya Allah!" sambil dalam hati bertanya-tanya, "lulus gak ya? lulus gak ya?" Udah kayak orgil otor ngomong sendiri. Maklum, otak otor kan memorynya cuma mampu nyimpen dua seperempat GB.π€π€)
Begitu juga dengan Firman dan Dian. Wajah keduanya pun tampak tegang, berharap-harap cemas.
Raya merasakan tangan Dian berkeringat dingin saat menggenggam tangannya.
"Rileks, Bib. Yakinlah kamu pasti lulus. Kamu kan sudah berusaha belajar dengan baik." sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Dian, Raya memberi mas suami semangat.
Dian mengangguk dan tersenyum. "Tapi tetep aja aku deg-degan, Yank." katanya, manja.
Raya tersenyum lembut. "Berdoalah." bisiknya pelan. Dian menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
"Aku pasti lulus, Yank. Aku kan siswa paling pintar di sekolah!" sahut Dian penuh percaya diri setelah tadi mengkerut, deg-degan, takut gak lulus.
"Percaya diri sekali anda!" Raya menatap sang suami sambil tersenyum geli. Dian cengar-cengir sambil menaik-turunkan alisnya, kocak.
Dan perkataan Dian pun terbukti. Namanya masuk tiga besar siswa meraih nilai terbaik, meski hanya juara tiga umum. Firman pun, meski tidak meraih juara umum tapi dia juara dua di kelasnya.
"Selamat ya, dek. Sukses selalu!" papa memeluk Dian erat. Begitu pun mama yang hanya bisa mendekap Dian erat dan menangis haru, tak mampu berkata-kata.
__ADS_1
Dengan penuh percaya diri Dian naik ke atas panggung setelah mencium dulu kening sang istri yang spontan tersipu malu saat menyadari banyak pasang mata melihat ke arah mereka, termasuk Laura. Juga salah satu keluarga siswa yang terkejut melihat sosok tampan Dian.
"Itu kan... bocah sok pahlawan yang kemarin? Ternyata tuh bocah pinter juga. Makanya songong." gumam Retta, sinis.
Retta menoleh ke arah sepupunya yang mencak-mencak seraya menghentak-hentakkan kakinya dengan wajah kesal.
"Kamu kenapa marah-marah, Ra? Ada apa?" tanya Retta bingung melihat sepupunya cemberut.
"Itu dia, kak. Cowok aku, yang sering aku ceritain ke kakak." sahut Laura dengan mata tak lepas menatap Dian yang berdiri gagah di atas panggung, sedang menerima piagam dan tropi dari kepala sekolah.
Retta melongo sesaat. "Ooh, ternyata si bocah songong itu mantannya Laura. Yang udah mutusin Laura sepihak, terus menikah dengan cewek lain, dan bikin Laura gagal move on? Ganteng sih. Tapi... bukannya dia kenal dengan cewek kampung itu? Atau jangan-jangan... istrinya mantan Laura itu... si cewek kampung!" beragam pertanyaan muncul di benak Retta.
"Itu Dian... mantan kamu, Ra?" tanya Retta. Laura mengangguk.
"Apa itu istri Dian?" tunjuk Retta ke arah Lena dan Raya yang duduk bersebelahan.
"Mungkin. Soalnya aku belum pernah bertemu orangnya." Laura terus menatap lekat ke arah tempat tadi Dian duduk.
"Yang mana istrinya Dian ya? Ada dua cewek di situ. Dua-duanya cantik. Huh! Biarpun secantik apa istri Dian, aku harus bisa merebut Dian kembali jadi milik aku. Karena Dian hanya milikku. Cuma milik aku!" seringai jahat muncul di sudut bibir seksi Laura. π
"Yang pake dress ungu itu istrinya Dian, Ra."
Laura menoleh ke Retta. "Kak Retta tau dari mana?" tanyanya ingin tau.
"Kakak pernah ketemu mereka di mall dan kami sempat bertengkar."
"Kenapa? Kakak kenal sama istri Dian?" rasa ingin tau Laura makin besar dan ia benar-benar tertarik dengan cerita Retta.
"Hah?! Serius, kak?!"
Retta mengangguk, yakin. Lalu mengalirlah cerita tentang pertemuan dan pertengkarannya dengan Lena, yang ia yakin benar itu istri Dian, mantan pacar Laura.
"Kamu sudah dibohongi Dian mentah-mentah, Ra. Dia udah nuduh kamu selingkuh, padahal dia yang selingkuh dengan mantannya Sena. Bahkan mereka sudah menikah. Pasti tuh perempuan lagi bunting, Ra. Kalo gak, gak mungkin mereka nikahnya diem-diem." hasut Retta.
Laura mengangguk-angguk. "Kakak benar. Aku harus menemui Dian. Dia harus menjelaskan yang sejelas-jelasnya sama aku. Aku gak terima diputuskan lalu di tinggal nikah." sahut Laura penuh emosi.
"Kakak pasti bantu kamu melabrak pelakor itu, Ra. Kakak juga dendam sama Dian karena sudah menghina kakak." sambut Retta penuh dendam.
Dan rencana keduanya untuk melabrak Dian dan istrinya pun di mulai saat Raya dan Lena pergi ke toilet.
Plakk!
"Aww!!!" Lena menjerit kaget saat sebuah tamparan keras mengenai pipinya.
"Apa-apaan ini?!" Raya menarik kasar tangan Laura yang tadi sudah menampar sahabatnya dan menatap marah gadis kurang ajar itu.
"Lo siapa? Main tampar sembarangan. Gak ada akhlak lo?!!" bentaknya.
"Temen lo tuh yang gak ada akhlak. Dia sudah rebut cowok gue!" Laura, yang tadi menampar Lena, balas membentak tak kalah keras.
Lena dan Raya saling tatap.
"Maksudnya apa, Len?" tanya Raya penasaran. Lena hanya mengendikkan bahunya tanda tidak tau.
__ADS_1
"Jangan pura-pura bodoh lo, cewek kampung! Setelah kamu dicampakkan Sena, kamu selingkuh dengan pacar Laura. Gara-gara kamu selingkuh dengan pacar sepupu saya, dia diputuskan sepihak oleh pacarnya dan difitnah. Dasar pelakor murahan!" caci Retta, garang.
"Denger ya, keturunan ningrat. Gue gak tau siapa yang lo maksud. Gue gak pernah ngambil cowok orang. Yang ada juga cowok gue yang lo ambil. Jadi, siapa yang pelakor?!" ketus Lena.
"Dian! Dia cowok gue yang lo rebut!" Laura menatap Lena nanar, seakan ingin menelannya bulat-bulat.
"Ray, kayaknya nih cewek salah jurusan. Coba lu cek, kali aja kemiringan di otaknya udah tujuh satu derajat." seru Lena gokil.
Raya tergelak sambil mengangguk-angguk.
"Dasar kampungan tak tau diri. Lo pasti sudah hamil duluan makanya nikah buru-buru, diem-diem lagi. Ngaku lo!" tuduh Laura yang diangguki Retta.
Raya dan Lena tertawa ngakak mendengar tuduhan Laura yang asal jeplak.
"Lo pasti Laura, ya? Mantan Dian, tukang selingkuh, dan sekali diputusin Dian terus ngemis-ngemis pengen balikan?" tanya Raya ingin memastikan bahwa yang berdiri didepannya sekarang adalah mantan pacar sang mas suami.
"Kalo iya, kenapa? Kaget ya liat gue yang cantiknya paripurna!" dengus Laura angkuh.
Raya terkekeh.
"Lo kaget gak, Len?" tanya Raya ke Lena.
"Gak tuh. B aja." jawab Lena santai.
Raya tersenyum smirk, menatap Laura.
"Akhirnya gue ketemu juga sama cewek gak tau malu itu, Len. Dulu gue penasaran banget secantik apa cewek yang bikin Dian segitu bucin taraf internasional sama ceweknya. Ternyata dugaan lu bener, cantiknya b aja. Gak ada yang spesial. Malah banyak kurangnya."
"Kurang apa, Ray?" pancing Lena.
"Kurang iman, alias gak ada akhlak. Juga tukang selingkuh, murahan. Asli gue bingung, kok bisa ya Dian bucin gitu? Jampi-jampinya bagus nih. Boleh dong, ikutan berguru?" ejek Raya.
Lena ngakak.
"Lu mah gak perlu jampi-jampi, Ray. Sekarang Dian udah bucin akut ama lu. Secara tiap menit minta dikelon mulu." kata Lena. Raya terkekeh geli sambil mengangguk-angguk.
"Laki gue emang manja, Len. Tapi gue syukaaaa!!!" jerit Raya, alay ala-ala JengKelin.
Keduanya pun tertawa ngakak tanpa memperdulikan wajah cengo dua cewek yang tadi salah alamat. (lu berdua tadi dikasih alamat palsu sama Ayu Ting Ting ya, Ra? Retta?" π€)
"Jadi yang mana istrinya Firdiansyah? Niatnya untuk mempermalukan, malah gue di bikin mati kutu kayak gini. Apa dosa gue, ya Allah?" jerit batin Laura, malu.
>>>
otor imut : "Nih buat lu π©βπ», Ra?" πΆπΆ
Laura : "Apaan nih?"π€
otor imut : "Cermin ajaib. Biar lu bisa liat masa depan, dan mudah-mudahan lu bisa tobat dan bisa menghargai orang lain."
Laura : πππ
>>>
__ADS_1