
"Kita pulang ke bengkel, ya?" akhirnya Dian bersuara setelah sejak tadi keduanya saling diam.
"Hm."
Dian menghembuskan nafas, pelan. Kemudian melajukan motornya ke bengkel miliknya.
Sesampai di bengkel, Raya masuk ke dalam tanpa menunggu Dian yang tengah memarkirkan motornya. Dengan langkah gontai Dian berjalan masuk ke dalam bengkel dan duduk di dekat Rio yang sedang memperbaiki sebuah motor.
"Pengantin baru bukannya sumringah malah lecek mukanya. Gak di kasih jatah lo semalem?" goda Rio geli melihat wajah kucel Dian.
"Lebih parah malah, bang. Raya ngambek sama gue." keluh Dian, lesu.
"Kenapa lagi? Lo mainnya kasar ya?"
"Boro-boro, bang. Mau cium aja gue udah kayak maling."
Rio tergelak.
"Jadi... Raya ngambek gara-gara lo curi ciuman darinya?" tebak Rio.
Dian menggeleng, lemah. Lalu mengalirlah curahan hatinya. Rio mendengarkan sambil manggut-manggut.
"Mending lo selesaikan masalah kalian. Jangan sampai kalian berpisah cuma karena hal sepele. Gak lucu kan pernikahan kalian bubar gara-gara lo cemburu buta?" nasehat Rio campur meledek.
Dian meringis sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Ingat! Bersikaplah layaknya pria dewasa. Buat istri lo bahagia dan selalu nyaman di dekat lo. Tunjukkan bahwa lo tulus mencintainya. Dan satu lagi, beri dia kepercayaan. Jangan terlalu lama berlarut-larut dalam masalah. Ingatlah! Kunci kebahagiaan dalam rumah tangga adalah saling percaya, dan saling terbuka." lanjut Rio.
Dian mengangguk, paham.
"Makasih nasehatnya, bang. Gue ke dalam dulu, mau melunakkan hati bini gue. Syukur-syukur dia mau maafin gue secepatnya. Gue gak betah didiamin kayak gini. Susah bobo kalo malem, gak ada yang bisa di peluk." tukas Dian, tanpa malu-malu pada Rio.
Rio terkekeh.
"Buruan sono. Mudah-mudahan malam ini lo bisa ngegol." godanya dan diaminin Dian.
"Aamiin."
Tanpa menunggu lama lagi Dian bergegas masuk menuju dapur dimana Raya sedang memasak mie instan.
"Sayang..."
"Makan dulu. Abis itu baru ngobrol." Raya memberikan suaminya semangkuk mie soto lengkap dengan telurnya.
"Kamu gak makan?" tanya Dian saat melihat hanya satu mangkuk yang Raya siapkan.
"Nanti saja. Lagian stok mienya hanya tinggal dua bungkus, lupa beli lagi." ujar Raya apa adanya. Dia hanya duduk dan minum air putih.
"Kalo gitu, kita makan sama-sama. Aku suapin, ya?" Dian meniup mie yang masih panas.
"Gak usah. Aku udah mak... mm." Raya tak jadi menyelesaikan ucapannya karna Dian sudah menyuapinya dengan mie yang tadi ia tiup
Setelah menyuapi Raya, Dian pun gantian makan.
__ADS_1
"Mulai hari ini kita makannya sepiring berdua ya, Yank, biar romantis." ucap Dian sembari menyuapi Raya lagi.
"Gak ah. Gak kenyang kalo cuma sepiring." sahut Raya sambil mengunyah makanannya.
"Kan bisa nambah, Yank."
"Terserah."
Dian tersenyum. Dia tau sang istri masih marah. Namun Dian bersyukur Raya masih mau bicara dan menerima suapannya. Malahan lahap makannya, sampai-sampai Dian lebih banyak menyuapi istrinya daripada menyuapi dirinya sendiri.
Selesai makan, Raya mencuci mangkuk dan panci bekas merebus mie. Tiba-tiba sepasang tangan melingkar diperutnya.
Sesaat Raya terdiam. Dian memeluknya dari belakang dan menaruh dagunya di pundak gadis itu.
"Maafin aku ya, Yank. Aku salah udah nuduh kamu yang enggak-enggak sama bang Aji. Aku hanya cemburu, Yank." lirih suara Dian, berharap sang istri mau memaafkannya.
Raya melepaskan pelukan Dian, lalu membalikkan badannya menghadap suami mudanya itu. Dalam, raya menatap mata sang suami.
"Apa kamu gak mempercayai aku, Bib?" tanya Raya, pelan.
"Maaf, Yank."
Raya menghela nafasnya berat.
"Apa kamu sudah mencintai aku, Bib? Apa kamu yakin sudah menyukaiku?"
Dian menggenggam tangan Raya lembut.
"Aku yang gak yakin sama kamu, Bib."
"Maksud kamu? Kamu gak percaya kalo aku beneran cinta sama kamu, Yank?" Dian menatap Raya penuh kecewa.
"Sikap posesif kamu itu bukan cinta, Bib. Kamu hanya terobsesi sama aku. Kamu menganggap aku sama seperti mantan pacarmu. Aku bukan tukang selingkuh, Bib!"
Dian memeluk Raya, erat. "Maafkan aku yang sudah egois ini, Yank. Tapi jujur, aku benar-benar mencintaimu. Aku gak tau sejak kapan aku punya perasaan itu. Tapi yang pasti ini bukan obsesi. Aku tulus mencintai kamu, Yank!"
Raya mencoba melepaskan diri dari pelukan Dian, tapi dekapan Dian malah makin erat.
"Please, Yank! Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki diri dan hubungan kita. Aku janji hal ini tidak akan terulang lagi. Aku akan selalu percaya sama kamu dan gak akan cemburuan tanpa alasan." pinta Dian penuh harap.
"Yaaank!" lirih memelas suara Dian.
Tiba-tiba Dian jongkok, bersimpuh di kaki Raya sambil memegang dan mencium tangan istrinya itu.
"Maafin aku, Yank! Aku mohon kamu maafin aku! Aku janji gak lagi-lagi, Yank. Aku gak mau pisah sama kamu. Please, Yank?!!"
Raya menarik tangan suaminya, menyuruhnya berdiri. Diusapnya lembut pipi sang suami.
"Janji ya sama aku kalo kamu akan jadi suami yang baik, yang sayang sama aku dan akan bersikap dewasa dalam bersikap." pinta Raya.
Dian tersenyum dan mengangguk. "Aku akan berusaha untuk jadi suami yang baik buat kamu, Yank. Aku janji!" ucapnya mantap.
"Makasih."
__ADS_1
Keduanya pun saling berpelukan erat, membuang perasaan kesal yang dipendam sejak kemarin, berganti dengan rasa lega karena beban dihati sudah hilang.
Dian melepas pelukannya dan menatap dalam wajah sang pujaan hati. pria itu tersenyum manis dan dibalas dengan senyuman manis dari sang istri.
"I love you so much, Yank." bisik Dian tepat ditelinga Raya.
Geli campur bergidik yang Raya rasakan saat bibir Dian menyentuh telinganya. Desir halus di dadanya menimbulkan perasaan aneh dihatinya.
Perlahan Dian menunduk, mengecup lembut bibir sang istri. Tangannya yang satu memegang tengkuk Raya, dan satunya lagi memeluk pinggang ramping gadis itu.
Ciuman yang berawal dari kecupan, perlahan namun pasti menjadi sebuah ciuman yang lebih dalam.
Lum**an lembut dari bibir Dian membuat Raya melenguh, lirih. Permainan lidah Dian di dalam rongga mulutnya makin bikin Raya seakan pasrah dengan keadaan.Pun ketika bibir dan lidah itu mulai menyusuri leher, dan menggigit pelan cuping telinganya, makin Raya dibuai angan.
"Boleh aku melakukannya sekarang, Yank?" bisik Dian, yang tak sadar suaranya terdengar begitu sexy ditelinga Raya.
Gadis itu hanya diam.
"Yank?"
Raya masih diam. Dian menatapnya penuh harap.
"Nungguin ya?!" ledek Raya, membuat Dian gemas dan segera menerkam dan mencium istrinya.
"Boleh ya?" pintanya lagi.
"Ehm." anggukan kecil Raya membuat Dian kembali mengul*m lembut bibir sang istri.
"Akh!" Raya terpekik pelan saat tiba-tiba Dian mengangkat tubuh kecilnya dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka tanpa melepaskan ciumannya.
Pelan, Dian membaringkan Raya di spring bed yang terletak di lantai kamar. Dengan tak sabar dan wajah penuh gairah Dian membuka kaos yang melekat ditubuh Raya. Sesaat Dian terpana. Dua bukit kembar milik Raya nampak menantang Dian untuk segera merem*s dan menghisapnya.
Masih dengan pandangan takjubnya, Dian membuka pengait sarung yang menutupi bukit kembar itu.
Glek! Dian meneguk kasar salivanya. Ia sampai tak melihat rona malu di pipi Raya akibat tatapannya itu.
"Baru liat ini saja si Mumu udah blingsatan. Gimana kalo Raya aku telan**ngin?" batin Dian saat merasakan celananya sesak.
Tanpa membuka kancing seragamnya terlebih dahulu, Dian melepaskan dengan cepat seragam beserta kaos putih polos yang ia pakai.
Blush! Pipi Raya merona lagi.
"Kok mukaku rasanya panas banget ya? Padahal aku kan udah biasa liat Dian gak pake baju?"
Raya membuang pandangannya dari dada bidang dan perut sixpack Dian.
Dian tersenyum. Pelan disentuhnya pipi sang istri agar kembali menatapnya.
"Gak usah takut khilaf lagi. Aku sekarang milik kamu, Yank!" bisik Dian dengan suara seraknya.
Blushing lagi pipi Raya saat mendengar ucapan Dian yang sungguh membuatnya malu setengah mati mengingat ia pernah berkata seperti itu pada Dian dulu.
"Aku gak takut khilaf, Bib. Aku malahan bersyukur akhirnya bisa menikmati roti sobek punya kamu." batin Raya nakal.
__ADS_1