
Setelah semua tempat sudah dibersihkan dan beberapa alat sudah disusun Raya dengan rapi, Raya pergi menemui Dian.
"Dek!"
Dian yang sedang mengganti ban motor pelanggan pun menoleh. Begitu juga dengan seorang gadis yang jongkok disebelahnya.
"Itu kakaknya, bang? Cantik, mirip sama Abang yang ganteng." tanya gadis itu, dengan senyum menggoda.
"Bukan! Dia istriku!" Dian lalu berdiri menghampiri Raya.
"Udah selesai, Yank?"
Raya hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Aku cuci tangan dulu, ya. Habis itu kita berangkat." Dian pergi mencuci tangannya.
"Kak, beneran Abang ganteng tadi suami kakak?" tanya gadis itu pada Raya. Rupanya dia penasaran dengan Dian yang dingin dan tak menanggapi kehadirannya dari tadi.
"Iya. Dia suami saya."
Gadis itu diam melongo.
"Kenapa tanya-tanya? Apa perlu saya tunjukkan buku nikah kami?" Dian menatap tajam gadis itu. Raya memegang tangan Dian.
"Maafkan saya, Kak. Saya kira Abang ini belum punya istri."
Raya tersenyum, mengangguk.
"Sekalipun saya belum punya istri, jangan..."
Raya menepuk pelan tangan Dian yang sudah tampak emosi.
"Kita pergi sekarang, yuk?" ajak Raya. "Bang Rio, titip bengkel ya, kita mau pergi dulu!" pamit Raya sambil menyeret Dian keluar dari bengkel. Rio mengangguk.
"Jangan emosi, Dek. Dia kan pelanggan, harus dihormati." nasehat Raya ketika mereka sudah diatas motor Dian.
"Makanya kamu jangan panggil aku Dek lagi, Yank. Aku suami kamu, ingat itu!"
Raya nyengir.
"Udah kebiasaan, Dek. Susah ngilanginnya."
Dian diam. Hatinya merasa kesal mendengar ucapan Raya yang seolah tidak menghargainya.
"Dek..."
Ciiitttttt.
Dian ngerem mendadak membuat tubuh mungil Raya terdorong hingga memeluk punggung Dian.
__ADS_1
"Cowok itu dengan cepat berbalik menghadap Raya dan menarik tengkuk gadis itu, dan
"Hmfh! Hm? Hmfh... Apaan sih lu, Dek?" Raya melotot marah saat terlepas dari Dian yang tadi tiba-tiba mencium bibirnya.
"Kenapa? Marah?" Dian balas melotot, kesal.
Nyali Raya pun ciut.
"Eng...enggak kok. Lu kan suami gue..."
"Kalo kamu tau aku suamimu, kenapa kamu masih panggil aku Dek?" Dian menatap Raya, tajam.
Raya bergidik, takut.
"Pokoknya mulai detik ini aku gak mau denger kamu panggil aku seperti itu lagi."
"Terus gue..."
"Dan jangan pake bahasa lu-gue lagi!"
Raya makin ciut.
"Jadi...aku panggilnya apa, dong?" tanya Raya sambil menunduk, tak berani menentang mata elang suaminya.
"Terserah!"
"Aku panggil Bibib aja, ya?"
"Itu lebih baik daripada kamu panggil aku, Dek!" ujarnya kemudian.
Raya tersenyum.
"Karna udah deal, sekarang kita lanjut lagi belanjanya. Yuk?"
"Emang kita mau kemana, Yank?"
"Ke pasar. Kita mau beli kompor, piring, gelas, dan kasur."
"Ekhem!"
"Kenapa, Dek...eh Bib?"
"Kasur untuk apa, Yank?" tanya Dian dengan nada menggoda.
"Untuk jedotin palamu yang mikirnya mesum mulu!" Raya merengut kesal. Dian terkekeh.
Sesampai di pasar Raya menyusuri tiap sudut toko di ikuti Dian dibelakangnya. Setelah mendapatkan barang yang di inginkan, Raya masuk ke toko mebel.
Dian yang melihat itu langsung mendahului Raya masuk ke dalam toko.
__ADS_1
"Kalo yang ini, biar aku yang pilih ya, Yank?"
Raya hanya menggelengkan kepalanya geli melihat Dian yang sangat antusias saat memilih kasur.
"Gak sekalian beli meja makan, Yank?"
"Gak ada tempat lagi, Bib. Udah, makannya lesehan aja, lebih praktis."
Dian mengangguk, mengerti
"Habis ini beli apa lagi? Tv?"
Raya menggeleng. "Nonton lewat ponsel aja kan bisa. Ntar kita pasang WiFi!"
Dian tersenyum, takjub dengan pemikiran gadis yang kini sudah menjadi istrinya itu. "Ternyata kamu sudah memikirkan semuanya dengan baik, Yank? Beruntungnya aku punya istri yang pengertian dan baik kayak kamu!"
"Yank, kita makan, yuk? Laper!" Dian menepuk pelan perut sixpacknya.
Raya mengangguk, setuju.
Dan mereka makan di salah satu rumah makan yang ada didekat sana.
"Loh, Yan? Lu gak sekolah, taunya malah pacaran disini. Ini pacar baru lu ya?" beberapa anak STM melihat Dian dan langsung duduk di dekat mereka.
"Ngapain lu semua disini? Bolos?" tanya Dian pada teman-temannya. Mereka pun mengangguk kompak.
"Mending gak masuk sekalian, kayak gue. Jadi gak perlu bolos." nasehat Dian.
"Lu gak usah ngalihin pembicaraan, Yan. Lu ngapain disini? Dan siapa cewek cantik ini?" tanya Doni, salah satu sahabat Dian. Matanya menatap Raya penuh selidik.
"Biasa aja liatnya!" Dian meraup jahil wajah Doni. "Ini bini gue." bisik Dian ditelinga Doni membuat cowok sipit itu melotot lucu, menatapnya tak percaya.
Dian menaruh telunjuknya di mulutnya, menyuruh Doni diam. Doni mengangguk, mengerti.
"Gue tunggu penjelasan lu!" bisik Doni. Dian memberi kode dengan jari jempol dan telunjuknya yang bertaut, membentuk huruf O.
"Apaan sih lu berdua main kode-kodean dari tadi? Bikin penasaran aja!" tanya Andre, curiga.
"Kepo!!!"
Andre merengut, lucu membuat pecah tawa teman-temannya dan Raya.
"Mendingan lu pada pesen, gih. Hari ini lu semua gue traktir!" kata Dian. Dan tanpa komando, empat anak ayam eh anak sekolahan itu berebut memesan makanan yang ingin mereka makan.
"Teman-teman kamu lucu, Bib. Aku jadi kangen masa sekolah dulu!" Raya terkekeh geli melihat ulah ajaib ke empat anak STM itu.
"Masa lalu jangan dikangenin. Kangenin aku aja yang sudah jadi masa depan kamu!" Dian mengedipkan matanya genit ke arah Raya.
"Iiihh!" Raya bergidik, geli.
__ADS_1
Dian terkekeh. "Kamu ngegemesin banget sih, Yank. Gemes banget!"
Dian menggigit bibir bawahnya, geram