Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
13. Suami Pengganti


__ADS_3

Lena dan Raya terus menghibur Mel yang masih menangis, terpuruk, menyesali nasibnya.


"Kenapa kamu ninggalin aku, Ar? Apa kamu gak mau menerima anak ini? Aku akan menggugurkannya kalau itu bisa membuatmu kembali padaku, Ar. Aku akan buang anak ini segera. Kembali padaku, Ar! Kembali!!!"


Mel mengamuk secara membabi-buta dan berteriak-teriak. Raya dan Lena kewalahan menenangkannya. Sampai,


"Mel!!!" bentakan keras menggelegar mengagetkan semuanya.


Plakkk!!!


"Papa!!!" mama Mel berlari memeluk putrinya sambil menangis sedih.


"Kamu seharusnya mendoakan Ardi dan menjaga apa yang ditinggalkannya untukmu, Mel. Anakmu tidak berdosa. Dia darah dagingmu. Janganlah kamu menyalahkannya atas meninggalnya Ardi. Itu sudah takdir, Nak. Ingatlah, Ardi rela meninggalkan rumahnya demi kamu dan anak kalian."


Papa menatap sedih putri yang dicintainya.


"Tapi pa... anak ini akan lahir tanpa ayah..."


"Gak, sayang. Anakmu punya ayah. Kamu sudah sah jadi seorang istri." mama membelai rambut Mel, lembut.


Mel menatap bingung mama dan papanya, juga dua sahabatnya yang juga sama-sama bingung.


"Menikah? Mel menikah dengan siapa, Ma? Pa?" tanyanya.


"Keluarlah. Temui suamimu. Dia sudah menunggumu."


Diruang tamu,


Bismillahirrahmanirrahim."


Aji mengusap wajahnya, pasrah. Dia berusaha memantapkan hatinya atas pilihannya.


"Doakan agar aku tidak menyesalinya, Ar. Demi persahabatan kita."


flashback on


Aji tengah bersiap pergi menghadiri ijab qobul Ardi dan Mel ketika ponselnya berdering. Sena memanggil.


"Assalamualaikum, Sen. Tunggu gue lagi..."


"Ke rumah sakit **** sekarang, Ji. Ardi kecelakaan!"


"Astaghfirullahaladziim!"


Tanpa hitungan detik Aji langsung melarikan mobilnya ke rumah sakit.


"Ya Allah! Tolong selamatkan sahabatku. Jangan sampai seorang calon ibu menjadi janda sebelum menikah dan calon bayi menjadi yatim sebelum diakui ayahnya." doa Aji penuh pinta pada Sang Maha Kuasa.


Sepuluh menit kemudian, Aji menyaksikan wajah sahabatnya, Sena, yang nampak sangat layu.


"Kenapa Ardi bisa kecelakaan, Sen? Bukankah kalian pergi bersama?" tanya Aji, cemas.


"Ardi ditabrak ketika hendak menyeberang, membeli bunga untuk Mel. Dan yang menabraknya kabur tanpa jejak."


"Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Belum tau. Masih dalam penanganan dokter."


"Apa keluarga Mel tau, Sen? Saat ini mereka pasti sedang menunggu Ardi..."


"Keluarga pasien?" seorang dokter keluar dari ruang UGD. Sena dan Aji menghampiri sang dokter.


"Kami keluarganya, Dok!" sahut keduanya, kompak.


Sang dokter menatap lekat Aji dan Sena bergantian.


"Siapa yang bernama Aji Barata?" tanya dokter itu.


"Saya, Dok!" Aji menunjuk tangan.

__ADS_1


"Pasien ingin berbicara dengan Anda."


Aji menatap Sena yang mengangguk, menyuruhnya masuk ke dalam ruangan tempat Ardi dirawat. Aji pun masuk, dan terpaku melihat Ardi yang wajah dan tubuhnya sudah dibalut perban.


"Ar..."


"Ji!"


Mata Ardi terbuka pelan. Senyum tipis terukir diwajah pucatnya. Aji pun mendekat.


"Ji... tolong gantiin gue... menikah... lah... dengan Mel. Tolong jaga... Mel dan anak... gue... bilang... kalo gue... mencintai... mereka..."


"Ar?" panggil Aji, melihat Ardi diam tertidur.


"Ar?" Aji membangunkan Ardi dengan menggoyang pelan tubuh Ardi. Ia ingin mengklarifikasi maksud ucapan Ardi tadi. Tapi Ardi diam saja. Aji curiga.


"Ar?" digoyangnya lebih keras lagi, dan Ardi masih diam.


"Ardi!!!" pekik Aji saat menyadari Ardi sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.


"Bangun, Ar! Lu harus menikah sekarang! Bangun!!!" teriak Aji, keras.


Sena yang masuk bersama dokter dan perawat langsung menarik Aji menjauh, keluar dari ruang perawatan agar Dokter bisa menangani Ardi.


"Ardi gak boleh pergi, Sen. Dia yang harus menikahi Mel, bukan gue. Apa dia gak mau liat anaknya lahir?!!" Aji masih terus berteriak.


"Tenang, Ji. Istighfar. Dokter masih berusaha menolong Ardi. Lebih baik kita berdoa semoga Ardi baik-baik aja " Sena mencoba menenangkan Aji.


"Astaghfirullahaladziim. Astaghfirullahaladziim. Astaghfirullahaladziim."


"Bagaimana dengan Ardi, Dok?" tanya Sena cepat saat melihat dokter keluar dari ruangan.


"Maaf, mas. Kami sudah berusaha, namun Allah berkehendak lain. Pasien udah meninggal..."


"Ardi!!!"


"Kenapa takdirku harus seperti ini?"


flashback off


"Bang!"


Aji menoleh. Dian dan Firman tersenyum haru menatapnya.


"Makasih atas pengorbanan bang Aji. Tolong jaga kak Mel sepenuh hati Abang." ucap Firman.


"Kalau pun bang Aji terpaksa, tolong jaga kak Mel sampai ia melahirkan." sambung Dian.


Aji tersenyum kaku.


"Insyaallah seumur hidupku aku akan menjaga Mel dan anaknya. Karna aku sudah berjanji pada Ardi akan menjaga dan menyayangi Mel dan anaknya selamanya." ujarnya sungguh-sungguh.


"Itu bukan perkara mudah, Bang. Kita semua tau pernikahan ini terjadi karna bang Ardi sudah pergi meninggalkan kita."


Aji mengangguk, mengerti.


"Aku tau. Dan aku akan mencoba menjalaninya pelan-pelan. Dan insyaallah aku mampu." ucap Aji, mantap.


"Aamiin." ucap Firman dan Dian bersamaan.


"Kami percaya bang Aji bisa melakukannya." kata Dian diangguki Firman.


Aji pun mengangguk, tersenyum.


"Terima kasih sudah mau menerimaku menjadi Abang ipar kalian. Bantu aku memantapkan hatiku untuk membahagiakan Mel." pinta Aji pada Dian dan Firman yang kini sudah menjadi adik iparnya.


"Pasti, bang!"


Malamnya, dikamar pengantin, Mel dan Aji duduk bersebelahan dan saling diam.

__ADS_1


"Kenapa lu mau nikahin gue, Ji? Lu kasihan sama gue?" tanya Mel ingin tau, setelah lama mereka diam. Bagaimana pun pasti ada alasan yang membuat Aji mau menikahinya.


"Seharusnya lu gak perlu berkorban. Gak seharusnya Ardi menyuruh lu menikah..."


"Aku ikhlas, Mel. Demi anak yang ada dalam kandunganmu..."


"Ini bukan tanggung jawab lu, Ji. Ini tanggung jawab gue dan Ardi. Dan karna Ardi udah gak ada, jadi sekarang ini tanggung jawab gue." ujar Mel.


Aji melirik Mel.


"Kamu sekarang tanggung jawabku, Mel."


Mel menoleh, menatap Aji, tajam.


"Apa yang lu harapkan dari pernikahan ini, Ji? Kita ini sahabat. Kita sama-sama tau kalo kita tuh gak saling cinta. Apa lu siap hidup dengan orang yang sama sekali lu gak cinta dan gak cinta ama lu?"


"Sudah ku bilang, Mel, ini demi anak..."


"Makasih sebelumnya, Ji, tapi gue gak mau lu ngorbanin hidup lu hanya demi gue dan anak gue. Gue bisa membesarkannya sendiri..." Mel terdiam ketika Aji menaruh telunjuknya dibibir, Mel.


"Jangan pernah berharap aku akan membatalkan pernikahan ini, Mel. Mulai detik ini kamu istriku, dan anak ini anak kita. Kita akan membesarkannya dan menjaganya bersama. Kalian berdua tanggung jawabku, dan aku akan menjaga kalian dengan segenap jiwa dan ragaku."


"Tapi, Ji..."


"Fokuslah dengan kehamilanmu. Jaga kesehatanmu dan juga bayi kita. Mari sama-sama kita belajar bertanggung jawab. Aku yakin cinta akan tumbuh dengan sendirinya."


"Apa lu yakin, Ji? Gue tau lu masih cinta ama Raya..."


"Raya masa lalu. Sekarang kau istriku, masa depanku. Ingatlah! Kita berdua harus sama-sama move on."


Mel terdiam sesaat. Lalu, "Apa gue bisa melupakan Ardi, Ji?" tanyanya sangsi.


"Pelan-pelan, Mel. Kenanglah yang baik dan lupakan yang buruk. Kita mulai hidup yang baru. Semangat!" Aji menggenggam lembut tangan Mel yang tersenyum haru.


"Mudah-mudahan pilihanmu menghadirkan Aji untuk jadi penggantimu itu bukan pilihan yang salah, Ar. Selamat jalan, sayang."


Dikamar Dian,


"Yank!"


Raya yang bersiap tidur, menoleh ke arah Dian yang baru masuk ke dalam kamar.


"Hm."


"Apa kamu cemburu liat bang Aji menikah dengan Kak Mel?" tanya Dian hati-hati.


"Hah?" Raya melongo.


"Yank?!" rengek Dian manja.


"Bersikaplah dewasa, Bib. Kalo cemburu itu liat-liat dong. Aku ini istri kamu, dan Aji Abang iparmu."


"Kali aja kamu masih punya perasaan sama bang Aji."


Hufh! Raya menghela napas kesal.


"Kamu kira menikah itu main-main, Bib? Kamu gak percaya sama aku?"


" Bukan gitu, Yank. Maksudku..."


"Sudahlah, Bib. Aku capek kamu cemburui terus. Susah kalo punya laki bocah, bawaannya curiga mulu. Mending tidur." Raya pun tidur membelakangi Dian.


"Yank?" Dian menarik bahu Raya agar tidur menghadapnya. Tapi Raya tak bergeming.


"Yank?" panggil Dian lagi. "Tidurnya hadap sini dong?!"


"Bobo'! Besok sekolah!" sahut Raya tanpa menoleh.


Hufh! Dian mengusap wajah, pasrah.

__ADS_1


__ADS_2