
"Ma'af ya, Len. Gara-gara gue lu dapet tamparan alamat palsu." ucap Raya sedih sekaligus geli mengingat tamparan Laura yang salah sasaran, sambil mengelus pipi Lena yang memerah, memar.
Lena meringis, kecut.
"Gue gak pa-pa, Ray. Lo tenang aja." Lena mengelus lengan Raya, mencoba menenangkannya.
Raya melirik Laura, sinis.
"Ape lo?! Mau tampar gue juga?! Nih! Silahkan, kalo mampu!!!" tantang Raya sambil mendekatkan wajahnya ke Laura yang melotot kesal ke arahnya.
"Dasar pelakor sialan! Lo berani nantang gue?!" bola mata Laura makin membulat.
"Siapa takut!!" sahut Raya santai dengan tangan melipat di dadanya. Lena tersenyum angkuh di sebelah Raya, juga dengan posisi sama, tangan terlipat di dada.
"Yank! Kok kamu di...si...ni?" Dian yang mencari-cari istrinya dari tadi terkejut melihat Raya bersama Lena, juga Laura dan satu wanita yang tak ia kenal.
"Lo!!! Ngapain lo di sini sama bini gue?! Jangan berani macem-macem lo!!" Dian melotot, menatap Laura penuh intimidasi.
Dian menarik tangan Raya dan langsung memeluk pinggang Raya, erat, seolah takut ada orang yang akan menyakiti istri kesayangannya itu. Sedangkan Lena menyeringai ganas pada gadis di sebelah Laura yang juga tengah menatapnya kesal.
"Kamu gak pa-pa kan, Yank? Gak ada yang copot kan? Cewek tukang selingkuh itu gak nyakitin kamu kan?" pertanyaan beruntun Dian uraikan sambil meneliti setiap inci tubuh sang istri dengan posesifnya.
"Gak pa-pa, Bib. Gak ada yang berani macem-macem sama aku. Bibib tenang aja ya?" Raya membelai pipi mas suami dan tersenyum lembut dan di balas senyum tak kalah lembut dan manis dari sang suami.
"Yan?!" rengek Laura, jengah sekaligus iri melihat perhatian yang Dian berikan pada Raya.
"Kamu harus jelasin sama aku kenapa kamu bisa nikah sama cewek ini." rajuk Laura yang tidak terima ada cewek lain yang memiliki Dian.
"Kenapa gue harus jelasin ke elo? Lo bukan siapa-siapa gue." sahut Dian ketus.
"Kamu udah ninggalin aku, Yan! Apa kamu lupa?!!" sentak Laura penuh emosi.
Dian menyeringai sinis.
"Cewek pengkhianat kayak lo emang pantes di tinggalin. Dan itu seharusnya udah dari dulu gue lakuin." ketus Dian.
"Yan, aku minta maaf. Aku khilaf. Aku..."
"Penjelasan lo gak penting." Dian mengibaskan tangannya, tanpa menatap lawan bicaranya.
"Yuk Yank, kita pergi dari sini. Suasana di sini gak enak. Bau-bau Suketi." Dian menarik tangan Raya, mengajaknya pergi.
Raya dan Lena terkekeh mendengar ucapan tanpa filter Dian yang sengaja ia lakukan untuk menunjukkan bahwa Dian benar-benar membenci Laura.
"Lo mau kemana, cewek kampung?! Urusanmu denganku belum selesai!" Retta menarik kuat tangan Lena hingga gadis itu tersentak menabrak tembok.
"Aww!!" Lena pun mengaduh kesakitan.
"Apa-apaan lo?!" Raya gantian menyentak kuat tangan Retta.
"Jangan ikut campur lo pelakor!"
Plakk!!!
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Retta.
"Kau..." Retta membelalakkan matanya saat melihat sosok yang telah berani menamparnya.
"Maaf semuanya." ucap Sena penuh sesal.
Raya, Dian dan Lena menatap Sena penuh arti. Kasihan, sinis dan sedih.
"Tapi say..."
"Pulang! Atau... aku batalkan rencana orangtua kita!" tatapan tajam dan ancaman Sena mampu membuat Retta mengkerut, takut.
"Tolong ajari tunangan lo tata krama, bang. Dan jaga dia. Jangan coba-coba berani mendekati apalagi menyakiti kak Len lagi. Atau... lo tau konsekuensinya." entah sejak kapan Firman sudah berdiri di dekat mereka. Tatapan tajam dan penuh intimidasi ia tujukan pada tunangan Sena.
"Kamu? Kalian?" seru Retta kaget melihat Dian ada dua. "Mereka kembar, Ra?" tanya Retta pada Laura. Dan diangguki gadis itu.
"Ternyata Dian itu kembar. Dan mereka sama-sama ganteng." sesaat Retta sempat terpesona dengan ketampanan kedua saudara kembar itu.
"Tapi... yang kemarin ngamuk-ngamuk siapa? Dian... atau si ganteng yang satunya?" Retta terus menatap lekat Dian dan Firman.
"Ah, pasti yang satunya lagi. Liat aja dari tatapan, sikap, dan wajah tegasnya, sama persis waktu dia marah-marah kemarin." Retta terus bermonolog sambil terus menatap cowok yang sedang mengintimidasi Sena.
Sena memandang Firman tak kalah tajam, seakan ingin mengorek isi hati cowok itu.
"Lo kok segitu perhatiannya sama Lena, Man? Apa lo suka sama Lena?" tanya Sena penuh selidik. Ia mencurigai perhatian Firman pada Lena. Dan ia tidak menyukainya.
Firman tersenyum smirk. "Kalo iya, kenapa? Lo cemburu?" ejeknya.
Sengaja ia menggenggam tangan Lena lalu mengecupnya mesra. Diperlakukan seperti itu, Lena yang seolah mendapat jackpot pun melongo bego.
"Lo udah bukan siapa-siapanya kak Len lagi, bang. Dan siapa saja berhak mendekati kak Len. Karena kak Len juga berhak bahagia."
Sena mengangguk dan tertunduk lesu. "Lo bener, Man." katanya lirih.
"Maafin aku yang gak bisa membahagiakanmu, honey. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu." ucap Sena, tulus. Ia pasrah dan mengikhlaskan Lena demi kebahagiaan gadis yang sangat dicintainya itu.
"Semoga lo bisa membahagiakan Lena, Man. Gue ikhlas Lena sama lo." Sena menepuk-nepuk bahu Firman.
"Pasti, bang!" ucap Firman, tegas.
π΅Ini salahku
terlalu memikirkan egoku
tak mampu buatmu
bersanding nyaman denganku
hingga kau pergi tinggalkan aku
Terlambat sudah
kini kau tlah menemukan dia
__ADS_1
seseorang yang mampu
membuatmu bahagia
ku ikhlas kau bersanding dengannya
Aku titipkan dia
lanjutkan perjuanganku 'tuknya
bahagiakan dia, kau sayangi dia
sepertiku menyayanginya
'Kan ku ikhlaskan dia
tak pantas ku bersanding dengannya
'kan ku terima dengan lapang dada
aku bukan jodohnya
Aku titipkan dia
lanjutkan perjuanganku 'tuknya
bahagiakan dia, kau sayangi dia
sepertiku menyayanginya
Dan 'kan ku ikhlaskan dia
tak pantas ku bersanding dengannya
'kan ku terima dengan lapang dada
aku bukan jodohnya ooo...
ooh... Aku titipkan dia
lanjutkan perjuanganku 'tuknya
bahagiakan dia, kau sayangi dia
sepertiku menyayanginya
'Kan ku ikhlaskan dia
tak pantas ku bersanding dengannya
Dan 'kan ku terima dengan lapang dada
aku bukan jodohnya π
__ADS_1
"Huaaaaaaa!!! Andai tak malu dengan mereka, aku pasti sudah jerit-jerit, menangis, tak rela kamu pergi, honey. Mungkin aku memang bukan jodohmu. Semoga kau dan Firman bahagia selamanya." jerit batin Sena.