
Firman menatap Dian dengan tatapan membunuh.
"Lu apain Kak Ray, hah?! Jawab!"
"Gue gak ngapa-ngapain, kok. Beneran. Sumpah!" Dian mengacungkan dua jari tangannya membentuk huruf V.
"Bohong! Kalo gak kenapa-kenapa gak mungkin kalian harus nikah. Kurang ajar lu, Yan!" Firman menatap Dian, geram. Tangannya terkepal, menahan marah.
Ketika mendengar kabar kalo saudara kembarnya itu akan segera menikahi Raya, timbul kecemburuan di hati Firman. Selama ini Firman menyimpan rasa cintanya pada Raya. Firman menahan diri menunggu Raya putus dengan Aji dan berharap Raya menjadi miliknya. Tapi Dian dengan kurang ajarnya malah merebut Raya dari Aji, juga darinya.
"Beneran, Man. Waktu itu kita cuma pelukan doang..."
"Apa lu bilang, Yan?" mata Firman nyaris keluar, kaget mendengar pengakuan Dian.
"Gue belum selesai ngomong, curut!" Dian menjitak pelan jidat Firman.
"Semalam gue habis putus sama Laura. Gue mergokin dia lagi untuk kesekian kalinya. Kak Ray ngejar gue yang ngebut bawa motor. Dia nasehati gue dan bujuk gue agar gak cengeng hanya karna putus cinta. Kak Ray meluk gue untuk nenangin gue, Man. Demi Allah, kita gak melakukan hal yang tidak baik!" ucap Dian lagi.
"Beneran?" tanya Firman lagi, tak yakin.
"Demi Allah! Demi Rasulullah!"
Firman mengangguk. Ia percaya setelah Dian menyakinkannya dengan menyebut nama Allah dan rasul-Nya.
"Dian gak mungkin bohong kalo sudah berkata demi Allah! Kayaknya kali ini gue beneran harus mengalah dari Dian."
Firman terpaku, pasrah.
π π π
"Saya terima nikah dan kawinnya Raya Aulia binti Arya Pradana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana, saksi? Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah!"
Do'a pun dipanjatkan untuk kedua pengantin yang baru sah agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Aamiin.π€²
Di kamarnya,
"Gimana perasaan lu sekarang ketika sudah sah jadi adik ipar gue, Ray?" goda Melia pada sahabatnya itu. Disebelahnya, Lena cekikikan geli.
"Menurut lu? Gue mesti teriak-teriak, lompat-lompat kegirangan gitu?" sahut Raya, kesal.
Kedua sahabatnya terkekeh geli.
"Jangan cemberut dong, Ray! Lu sekarang udah jadi seorang istri, jadi lu harus bersikap layaknya seorang istri."
"Iya, Ray. Mulai sekarang lu statusnya berubah jadi nyonya Firdiansyah. Haa! Geli gue nyebutnya." Lena tertawa geli. Melia ikutan tertawa.
"Haish! Gue jadi istri apa jadi emak nih kalo lakinya si Dian. Alamat ngemongin dia nih tiap hari." gerutu Raya. Lena dan Melia ngakak, kompak.
"Yang sabar ya, Ray. Semoga lu bahagia selalu. Selamat ngemongin bayi gede, Ray!"
Melia dan Lena terus saja menggoda Raya yang merengut, kesal.
"Sayang, ayo keluar. Temui suamimu sekarang."
Raya menatap kedua sahabatnya yang hanya cengengesan, menggodanya. Raya pun hanya bisa menarik napas, pasrah.
* * * *
Raya duduk termenung di depan cermin. Kegalauan melanda hatinya. Pernikahan ini haruskah terjadi? Bagaimana hubungannya dengan Aji? Raya merasa bersalah sama Aji. Walau tidak sengaja, Raya sudah mengkhianati kekasihnya itu.
"Aku harus ngomong terus terang sama Aji. Dia harus tau semuanya dariku sebelum orang lain yang memberitahunya." tekad Raya.
Raya tidak mau terjadi salah paham antara dia dengan Aji. Kekasihnya itu orang baik. Raya tidak ingin membohonginya meski konsekuensinya mereka harus putus, karna mereka memang harus menyudahi hubungan yang sudah hampir tiga tahun terjalin itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ji! Aku sudah menyakitimu walaupun aku tidak menginginkan ini."
Raya menghela napas sambil mengusap wajahnya, kasar.
"Kenapa, Yank? Mikirin bang Aji?"
Entah sejak kapan Dian masuk ke kamar Raya dan berdiri dibelakangnya, sambil memperhatikan Raya yang duduk merenung.
"Dek, gue mau tanya ama lu. Boleh?"
"Kalo lu mau tanya soal Laura, gak perlu! Gue gak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Dan gak akan pernah lagi gue berhubungan dengan cewek tukang selingkuh itu." sahut Dian cepat.
Raya diam.
"Yank?" Dian memegang bahu Raya.
"Aji..."
"Biar aku yang ngomong sama bang Aji."
Raya membalikkan badannya, menghadap Dian yang berdiri di depannya.
"Kamu istriku, Yank. Dan kamu tanggung jawabku sekarang."
Raya diam menatap Dian.
"Sebaiknya kita tidur dulu. Kali aja bangun nanti pikiran kita jadi rileks." Dian membimbing Raya berjalan menuju tempat tidur.
"Apa kita harus tidur satu ranjang, Dek?"
"Kenapa emangnya? Kita kan udah sah! Gak ada yang larang kan?"
Raya diam. Sejujurnya ia belum siap untuk memulainya malam ini. Tapi ini kewajibannya, dan Raya harus ikhlas melakukannya.
"Gak usah berpikir macam-macam. Tidurlah. Aku akan jaga kamu!" Dian menatap lembut wajah istrinya.
Akhirnya Raya pun tidur setelah Dian menyelimuti dan mengusap-usap punggungnya layaknya menidurkan bayi.
Dian membelai rambut dan wajah Raya yang tengah terlelap. Dian ikut berbaring disamping Raya.
"Selamat malam, Yank. Semoga kamu mimpi indah." Dian mengecup lembut kening Raya. Ia pun akhirnya tertidur sambil memeluk Raya.
Paginya,
Raya merasakan beban berat diatas perutnya dan menghimpit kakinya.
"Masyaallah! Aku lupa kalo aku punya bayi gede sekarang." Raya mengusap wajahnya, lemas.
"Dek, bangun. Dek!" Raya menepuk-nepuk pelan pipi Dian.
"Hm." Dian hanya mendehem dan makin mempererat pelukannya.
"Dek, bangun. Lu gak sekolah, ya?"
"Gak. Aku gak mau sekolah. Aku mau kerja aja biar bisa nafkahin kamu."
Raya menarik tubuh atletis Dian agar bangun dari tidurnya.
"Jangan ngelindur lagi. Udah siang, buruan mandi. Ntar lu telat kesekolahnya."
" Aku libur, Yank. Papa udah minta izin sama kepala sekolah. Lagian kami juga udah selesai UAS, gak belajar penuh." Dian menjelaskan dengan mata masih tertutup.
"Ya, udah. Kalo gitu cepetan mandi, habis itu sarapan."
Raya berdiri dan hendak keluar dari kamarnya. Tapi dengan cepat Dian merangkul pinggangnya dan memeluk Raya.
"Aku masih ngantuk, Yank. Aku bobo lagi ya?" pintanya manja.
Raya menepuk jidatnya, pelan. βGini nih resikonya nikah ama bocah. Jadi emak duluan dah gue!"
"Ya udah. Lu tidur aja lagi, kalo perlu gak usah bangun lagi."
__ADS_1
"Eh?!"
Mata Dian langsung melotot.
"Kamu nyumpahin aku mati, Yank? Emang kamu siap jadi janda sekarang?" Dian menatap Raya kesal. Yang ditatap hanya melengos cuek.
"Kalo udah takdirnya, mau gimana lagi. Palingan juga gue kawin lagi. Masak sih gak ada yang mau jadi suami janda kembang kayak gue." dengan santai Raya melangkah menuju pintu kamarnya.
Dian menarik tangan Raya hingga gadis itu terjatuh di pelukan Dian.
"Aku gak akan mati sebelum aku bisa membahagiakan kamu, Yank. Kita akan tua dan mati bersama."
Keduanya saling menatap. Jarak yang hanya beberapa senti membuat keduanya bisa mendengar degup jantung masing-masing.
"Ka...kalo gitu, buruan mandi sana. Lu bau jigong, tau gak?" Raya mendorong Dian, pelan. Raya tak sanggup menentang mata elang Dian lebih lama. Ia takut tak bisa mengontrol hatinya.
Cup!
Dian mencium cepat bibir Raya. "Morning kiss, Yank. I love you!"
Raya melongo. Dian mengedipkan matanya, genit. Raya pun bergidik, lalu buru-buru keluar dari kamarnya. Dian tertawa geli melihat tingkah istrinya.
"Kamu ternyata ngegemesin juga, Yank!" gumam Dian, gemas.
Karna Dian libur sekolah, akhirnya Raya pun ikutan libur kuliah. Dan ternyata Mel, sahabat sekaligus kakak iparnya sudah meminta izin untuknya pada pihak kampus.
"Kok lu gak bilang ke gue kalo lu udah izin ke pihak kampus, Mel?" protes Raya keras.
βLu kan mau nikah, dan sekalian bulan madu, Ray. Jadi gue ambil inisiatif sendiri." jawab Mel santai.
"Bulan madu pala lu peyang. Gak ada bulan madu. Adanya bulan mati." sungut Raya kesal.
Sejujurnya ia tidak menginginkan pernikahan ini. Raya punya Aji. Dan Raya masih mencintai Aji.
"Udah, Ray. Lu pasrah aja nerima takdir lu. Mungkin memang Dian jodoh lu." Lena menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
"Tapi Aji..."
Mel dan Lena saling pandang.
"Lu harus ngomong yang sebenarnya sama Aji. Ini bukan salah lu. Mungkin memang takdir lu seperti ini."
Raya mengangguk, mengerti.
"Maafkan aku, Ji!"
"Ray, cerita dong gimana malam pertama lu ama Dian. Seru gak?" Lena mengganti topik pembicaraan.
"Kepo banget. Emang lu belum pernah nyoba bareng Sena?" ledek Raya.
"Ish, dosa, Ray. Belum boleh begituan gue. Belum sah kayak lu!" sahut Lena cepat.
Raya terkekeh.
" Kali aja lu khilaf, Len. Secara lu ama Sena lengketnya ngalahin pengantin baru."
"Gue masih waras kali, Ray. Sena juga masih dalam batas wajar gilanya."
Ucapan Lena mengundang tawa dua sohibnya.
"Syukurlah. Berarti lu masih bisa nikmatin malam pertama kalo udah sah nanti." goda Raya, lagi.
"Emangnya lu semalem udah belah duren, Ray?" tanya Mel, penasaran karna Raya bukannya bercerita malah menggoda Lena.
"Belum. Hee!" Raya nyengir, malu.
"Kenapa? Kan udah sah?"
"Gue takut Dian minta gue yang ajarin dia. Secara Dian kan masih berudu."
"Sialan, lu. Lu kira adek gue metamorfosanya katak."
__ADS_1
Ketiganya pun ngakak, kompak.