Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
Sebuah Pernyataan


__ADS_3

Raya sedang asik tiduran sambil membaca novel yang tadi dipinjamnya dari kak Vivi, kakaknya Dada, di dalam kamar ketika Dada masuk ke dalam dan duduk di jendela yang terbuka lebar.


"Abang cari dari tadi taunya di sini."


Raya diam, asik dengan bacaannya.


Dada terus memperhatikan Raya. Entah kenapa, sejak dari kemarin bertemu Raya rasanya Dada ingin terus menatap gadis itu. Gadis kecilnya yang dulu begitu dekat dengannya.


"Ay!" panggil Dada.


"Hm."


"Kamu... beneran belum punya pacar?"


"Hm."


"Yang kemarin itu... beneran cuma temen, bukan pacar?"


"Hm."


Dada merengut, kesal. Pertanyaannya hanya dijawab deheman oleh Raya. Gadis itu tetap asik dengan novelnya.


Dengan cepat Dada merebut novel ditangan Raya. Raya pun bangun.


" Bang, ngapain..."


Deg


Deg


Deg


"Deg degan lagi. Hancur dah jantung gua!"


Dada menggenggam tangan Raya dan meremasnya lembut.


"Ay!"


"Iiy... iya, bang."


Dada tersenyum tampan. Suasana dirasakannya sangat romantis.


"Aku suka sama kamu, Ay."


"Mamp*s. Bang Dada nembak gue nih kayaknya." batin Raya, ge-er. Jantungnya terasa terus berdegup kencang.


"Ay! Mau gak kamu jadi pacar Abang?"


"Tuh kan?!"


Keduanya saling tatap. Dada terus menggenggam tangan Raya dengan mata menatap Raya lekat, menunggu jawaban dari gadis mungil itu.

__ADS_1


Hihihi. Raya cekikikan sambil menutup wajahnya dengan novel ditangannya, menyembunyikan wajah gelinya.


"Kok ketawa, Ay? Abang serius loh?!" Dada tersinggung dengan sikap Raya yang menertawakan pernyataan cintanya.


"Maaf, bang. Aku... aku... belum pernah ditembak cowok, jadi... lucu aja denger abang nembak aku..."


Dada mendengus, kesal. Dilepasnya pelan tangan Raya yang tadi digenggamnya.


"Abang marah, ya?" tanya Raya, pelan.


Dada merengut, membuang pandangannya ke arah lain, membuat Raya jadi tak enak hati.


"Bang. Maaf ya? Aku tadi cuma kaget..."


"Ganti baju sana. Kita mau jalan-jalan."


Dada keluar dari dalam kamar meninggalkan Raya yang melongo, menatap punggungnya.


"Cepetan, Ay. Aku tunggu lima menit. Lewat sedetik aku tinggal!" teriak Dada dari luar.


Tanpa hitungan detik, Raya pun segera berganti pakaiannya. Dan tak sampai lima menit, ia sudah berdiri tegak di depan Dada yang menunggunya di motor.


Dada segera menstarter motornya. Raya masih terpaku ditempatnya berdiri.


"Buruan naik. Perjalanan kita jauh."


Raya pun cepat-cepat naik, duduk di boncengan Dada.


"Emang kita mau kemana, bang?" tanya Raya.


Raya pun tidak berani bersuara. Dia hanya menatap sendu punggung cowok tampan yang dulu sangat dikaguminya itu.


Sepanjang perjalanan, Raya menatap kagum keadaan disekelilingnya.


"Udah lama banget aku gak lewat jalan ini. Dan sekarang semuanya sudah berubah. Tapi masih ada beberapa yang masih kayak dulu." gumam Raya.


Dada masih tetap diam sambil melajukan motornya. Dan sedetik kemudian,


"Astaghfirullah!" Raya berucap panjang dan spontan menarik kuat jaket Dada.


"Bang! Kok ngebutnya tiba-tiba sih? Aku kaget tau?!" Raya menepuk keras bahu Dada.


"Makanya kalo mau melamun tuh pegangan, biar gak jatuh." terdengar suara sinis dari Dada.


Raya mendelik.


"Paan nih cowok? Kok dia yang marah?!"


"Berhenti!!" sentak Raya, keras.


Shitttt!!!

__ADS_1


Brukk!


Raya pun terseret maju, menabrak punggung Dada, keras.


"Aduh!!"


Raya cepat-cepat memundurkan tubuhnya.


"Paan sih, bang! Ngomong dong kalo mau berhenti, jangan mendadak gini. Kebiasaan!" Raya bersungut-sungut, sewot.


Gantian Dada yang melotot mendengar gerutunya Raya. Dada pun membalikkan badannya menghadap gadis itu.


"Itu mulut ya..." tangan Dada menunjuk Raya dengan wajah kesal melihat Raya mencibir.


"Yang tadi nyuruh tiba-tiba berhenti siapa?!" tanya Dada geram, menahan emosi di dadanya.


"Yang tadi tiba-tiba ngebut siapa?!" balas Raya, tak kalah sewot.


"Huh! Kenapa mukanya jadi semakin imut gitu? Pengen ku em*t rasanya tuh bibir. Manyun mulu perasaan. Hehh! Bikin gemes aja." batin Dada, gemas.


"Kamu..." Dada melotot, sebal. "Masih mau ikut, gak? Kalo gak kita pulang aja."


"Ikut!" rengek Raya. Matanya mengerjab-ngerjap lucu, membuat Dada makin gemas.


"Ishh! Mancing-mancing nih bocil." lagi-lagi Dada hanya bisa membatin.


"Ya, udah. Cepat peluk, Abang mau ngebut."


"Oke." dengan cepat Raya memeluk Dada erat.


Dada tersenyum melihat tangan Raya yang melingkar diperutnya.


Dan setelah menempuh satu jam perjalanan Dada menghentikan motornya ditempat parkir yang tersedia.


"Mau ngapain kita ke sini, bang? Mau jemput siapa?" tanya Raya ingin tau setelah melihat sekelilingnya.


Dada mengajak gadis itu ke pelabuhan kapal feri.


"Gak ngapa-ngapain. Cuma pengen ke sini aja. Makan dulu yuk. Laper kan?" Dada menggandeng tangan Raya mengajaknya ke kantin yang ada di sana.


"Kamu pernah ke sini, Ay?" tanya Dada setelah memesan makanan untuknya dan Raya.


"Pernah. Waktu ikut ibu sama ayah juga yu' Eli ke Bogor naik kapal lewat pelabuhan ini."


Taklama makanan yang dipesan datang, dan mereka pun makan. Setelah makan Dada mengajak Raya berjalan masuk ke dermaga.


Raya cemberut melihat Dada asik berkelakar dengan temannya yang tadi bertemu mereka di depan pelabuhan.


"Kalo tau dicuekin kayak gini mending aku tidur aja di rumah. Bete aku." Raya menggerutu, kesal.


"Aya!"

__ADS_1


Raya menoleh.


"Zayn?"


__ADS_2