Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
Si Tukang Maksa


__ADS_3

Raya menatap sahabatnya yang terduduk lesu sambil bersandar di sandaran bangku. Saat ini Raya dan Lena duduk di taman kampus. Mel untuk sementara tidak bisa bergabung dengan mereka di kampus karena sedang cuti kuliah. Tapi mereka tetap bisa bertemu di rumah Mel yang juga rumah mertua Raya.


"Masih belum mau cerita?" tanya Raya.


Lena masih diam.


"Ya udah. Nggak pa-pa. Lain kali aja kita..."


"Apa gue emang gak pantes di cinta ya, Ray?" tanya Lena lirih. Raya menoleh dan menatap lekat wajah sang sahabat.


"Siapa yang ngomong gitu? Abang? Apa Sena?" Raya balik tanya. Lena menggeleng, cepat.


"Gue merasa sial dalam soal asmara, Ray. Apa gue gak berhak bahagia?" keluh Lena, lesu


Raya menggenggam lembut tangan Lena.


"Gak boleh ngomong gitu. Setiap orang berhak bahagia. Begitupun elu." hibur Raya.


Lena diam menunduk.


"Apa lu punya perasaan sama abang?" tanya Raya hati-hati, karena nampaknya Lena belum mau terbuka soal perasaannya pada Firman.


"Gak tau. Gue sendiri juga bingung."


Raya mengernyit.


"Terus... yang Dian liat kemaren... beneran?" tanya Raya penasaran.


Lena terlihat kikuk. Tangannya saling meremas kuat.


"Gu... gue..."


Raya diam menunggu.


"Gue... juga bingung sama perasaan gue, Ray. Gak tau kenapa waktu Abang peluk gue rasanya nyaman banget. Sampai gue gak sadar dan membalas ciumannya." ujar Lena dengan masih menunduk. Akhirnya dia mengaku juga.


"Lu menikmatinya?"


Lena mendongak. Wajahnya memerah. Kemudian ia menunduk lagi. Raya masih menatap lekat sang sahabat.


"Gue menikmati banget ciuman Abang, Ray." ucap Lena lirih. Lalu ia mengangkat wajahnya lagi.


"Gimana ngomongnya ya, Ray?" Lena menatap langit. "Ciuman Abang beda banget dari Sena. Lebih lembut dan bikin gue hampir mati lemas."


Raya tersenyum simpul.


"Untung aja gue gak pingsan waktu itu. Jujur, gue merasa tulang-tulang gue nyaris copot dari badan gue." cerita Lena.


"Terus?"


"Makanya gue refleks balas ciuman dia..."


"Tanpa ada rasa cinta?"


Lena melongo, tak paham.


"Kalian ciuman tanpa ada perasaan cinta?" tanya Raya lebih detail.


Lena diam. Apakah Firman cinta padanya? Lena tidak berani berandai-andai. Dia sendiri bingung dengan perasaannya.


"Apa lu melakukannya hanya untuk melampiaskan rasa kangen lu sama Sena, Len?"


Lena masih diam.


"Tetapkan hati lu, Len. Lu berhak bahagia." Raya menepuk pelan bahu Lena.


"Apa menurut lu... Abang suka sama gue, Ray?" tanya Lena, ragu.


Raya tersenyum lembut.


"Abang belum pernah dekat dengan cewek, Len. Apalagi sampai menciumnya. Kecuali elu, Len. Lu satu-satunya perempuan yang dekat dengannya dan merasakan first kissnya."


"Tapi... itu bukan berarti Abang cinta sama gue kan, Ray? Gak mungkin..."


"Apa menurut lu Abang cowok yang suka cium-cium sembarang cewek? Gak mungkin kan? Lu tau gimana Abang kan, Len?" sambar Raya sebelum Lena selesai berkata.


Lena mengangguk.


"Kalo suatu hari nanti Abang bilang dia suka ama lu gimana, Len?" tanya Raya tiba-tiba, membuat Lena tersentak kaget.


"Gak mungkin, Ray!" cepat Lena menggeleng keras.


"Loh? Mungkin aja, Len. Kita..."

__ADS_1


"Abang sudah punya seseorang yang disukainya."


Raya diam.


"Abang sering curhat tentang cewek yang dia suka. Sudah lama dia menyukai cewek itu."


"Lu tau siapa cewek yang disukai Abang, Len?" tanya Raya penasaran.


Firman memang berbeda dengan Dian, saudara kembarnya. Tentang perasaan, Firman tak seterbuka Dian. Firman lebih suka memendam perasaannya sendiri dan tak mau berbagi dengan siapapun. Makanya tak ada yang tau siapa perempuan yang mampu menarik simpati pria tampan itu. Dan saat ini Lena bilang dia tau siapa wanita yang disukai Firman.


"Mungkinkah..." Raya mencoba menduga-duga.


"Len?"


"Kalo gue bilang cewek yang Abang suka itu elu, Ray, gimana kira-kira reaksi lu?"


Lena menatap dalam wajah cantik sang sahabat.


"Bukan kapasitas gue ngomongin rahasia Abang, Ray. Kalo lu kepo, tanya Abang aja langsung." Lena masih berusaha menutupi semuanya dari Raya.


Raya mengangguk, mengerti.


"Lu bener. Sebaiknya kita masuk sekarang. Bentar lagi jamnya pak Kholil. Gak mau di hukum karna telat masuk kelas kan?"


Lena mengangguk.


"Let's go now."




Hari sudah menunjukkan pukul empat belas lewat empat puluh lima menit. Lena berjalan lesu menyusuri trotoar menuju jalan pulang ke rumahnya.



Tit



Tit



Tiiiiitttttt




"*Abang*??"



Lena ikut berhenti ketika motor yang dikendarai Firman berhenti didekatnya.



"Naik." perintah Firman.



"Gak usah, bang. Tanggung, udah dekat." kata Lena sambil menunjuk rumahnya yang tinggal beberapa meter.



Tanpa banyak bicara Firman turun dari motornya, memakaikan helm yang sudah ia siapkan untuk Lena, lalu mengangkat tubuh semampai Lena duduk di atas jok motornya.



"Pegangan." perintahnya lagi.



Lena pun memegang ujung jaket Firman tanpa berani protes apalagi menolak. Padahal dalam hatinya ada segudang pertanyaan yang ingin ia tanyakan.



"Jangan pegangan di situ."



"Eh?!" Lena melirik kiri-kanan, bingung harus pegangan dimana. "*Masak gue harus pegangan di besi belakang jok*." gumam Lena dalam hati.

__ADS_1



"Pegangannya di sini." Firman menarik tangan Lena, melingkar diperutnya agar memeluknya.



"Haish. Kenapa adik manis ini bikin aku baper? Ya Allah, kuatkan jantung hamba biar gak potek lagi." Lena berkeluh dalam hati.



"Kita... mau kemana, bang?" tanya Lena setelah lama motor melaju dan mereka masih saling diam.



"Ntar juga tau. Peluk aja yang kenceng." tetep aja datar dan dingin sikap yang Firman tunjukkan.



Lena pun diam. Dan ia tersentak kaget dan spontan memeluk erat perut rata Firman saat cowok tampan itu menarik kuat gas motornya.



"Astagfirullahaladziim!!!" Lena pun berucap panjang.



Di depannya, Firman tersenyum penuh arti melihat tangan halus Lena yang melingkar dan memeluk erat tubuhnya. Sayangnya Lena tidak tau itu.



Lima belas menit kemudian, Firman membawa motornya memasuki sebuah pantai yang cukup terkenal di kota mereka. Karena hari kerja, pantai itu terlihat sepi pengunjung.



"*Ngapain Abang ngajak aku ke sini ya*?" Lena bertanya dalam hati.



Firman turun dari motor dan berdiri di hadapan Lena.



"Kamu mau gak jadi pacar aku?"



Singkat, padat dan jelas. Pernyataan Firman membuat Lena melongo beg\*. Mulutnya mangap kayak mulut ikan koi lagi napas.



"Hei!" Firman melambai-lambaikan tangannya di depan muka Lena.



"Astaghfirullahaladziim! Audzubillahiminasyaitonirojim bismillahirohmanirohim!" Lena pun berucap panjang.



"Waduhh. Gue masih manusia loh, belum jadi setan." celutuk Firman, dongkol campur geli.



"Maaf, bang. Keceplosan." Lena nyengir. "Habis lu ngomong ya gak pake aba-aba dulu, langsung terobos." sahutnya jujur.



Wajah tampan Firman kembali datar. "Lu kira gue wasit?" gerutunya.



Lena terdiam.



"Gimana? Lu mau gak jadi pacar gue?"



Lena masih diam, berpikir.



"Mau gak mau pokoknya lu harus jadi pacar gue sekarang. Titik!"

__ADS_1



😳😳🤦


__ADS_2