
ย ๐ตPagiku cerah
Matahari bersinar
Ku kecup bibir istriku, tersayang
Selamat pagi semua
Kunantikan dirimu
Di depan meja makan
Menantikan kamu siapkan sarapan
Istriku tersayang
Istriku tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Gak bisa bobo ganteng
Gak bisa kalo gak dipeluk
Istriku terimakasihku
Nyatanya diriku
Kadang buatmu marah
Namun segala maaf
Kau berikan๐ถ
"Morning kiss, honey!"
Usai menyanyikan 'Guruku Tersayang' versi sekolah yang digubahnya menjadi 'Istriku Tersayang', Dian mengecup singkat bibir sang istri yang masih tertidur.
"Yank, bangun. Kamu gak kuliah?" Dian menepuk-nepuk pelan pipi Raya.
"Masih ngantuk, Bib. Badanku juga pegel semua kamu ajak sparing semaleman." keluh Raya yang masih ngantuk berat.
Dian tersenyum smirk.
"Pas banget kalo gitu, Yank. Aku juga males ke sekolah, gak belajar lagi juga. Jadi kita bisa istirahat di rumah aja... Dan kita juga bisa ngelanjutin yang semalem." bisik Dian di akhir kalimatnya.
Raya mendengus, sebal.
"Juju udah somplak habis Mumu ubek-ubek semalem. Nyerinya belum ilang." sungutnya, kesal. Entah habis berapa ronde Dian menghajarnya.
Raya tak tau ia tidur jam berapa semalam sampai-sampai ia merasa masih sangat mengantuk padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Dian terkekeh melihat wajah manyun sang istri.
"Kamu udah dapet pahala banyak loh, Yank, udah nurutin mau suami. Kamu..."
"Mulai deh ceramah papah Abdel!" Raya memutar bola matanya, malas mendengar jurus jitu sang suami menaklukkan sang istri agar mau menuruti kehendaknya.
"Beneran deh, Yank. Kamu udah jadi istri yang solehah, pinter manjain suami." puji Dian. "Kayak semalem." bisiknya nakal membuat pipi Raya merona, blushing.
"Kalo gitu... hari ini Juju istirahat dulu, capek. Besok baru sparing lagi sama Mumu."
"Beneran, Yank?" mengkilat jidat Dian mendengar perkataan sang istri.
"He-eh."
__ADS_1
Lope-lope mata Dian berbinar melihat anggukan sang belahan jiwa.
"Yes! Bakalan ada season dua nih?!" sorak batin Dian, girang.
>>>
Otor imut : "Dasar bocah mesum. Bikin jijay. Hiii!!!" ๐ฑ๐ฑ
Dian : "Paan sih, thor?! Rese lu! Iri...bilang bos!!! ๐๐
Otor imut : "Efek baru bisa belah duren setelah berbulan-bulan digembok ya, Yan?" ๐
Dian : ๐ค๐ค๐บ๐บ๐บ**
Otor imut : ๐คญ๐คญ
>>>
Dan hari itu, sepasang suami istri yang baru mulai merasakan tumbuh benih cinta di hati masing-masing itu memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Dian, mengambil barang-barang mereka yang masih tertinggal.
Saat akan turun dari motor, Dian menahan tangan Raya.
"Yank..."
"Hm." datar Raya menyaut. "Masih cemburu?" ketus Raya.
Cepat-cepat Dian turun dari motornya, berbalik menghadap sang istri dan menggenggam tangannya erat.
"Gak. Aku akan berusaha gak cemburu. Tapi...kamu bantu aku ya? Jangan pancing kecemburuan ku." pinta Dian dengan mata mengerjab-ngerjab penuh harap. Bulu matanya yang lentik jadi melambai, lucu.
Raya tersenyum manis dan mengangguk. Mereka pun masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
tanya Raya khawatir saat melihat Mel sedang dipapah Aji hendak masuk ke kamar mereka.
Mel mengangguk, lemah.
"Ji, aku duduk di sana aja. Males di kamar, capek tiduran mulu." kata Mel.
Aji pun membantu Mel duduk. Raya ikut duduk di sebelah Mel.
"Aku buatin kamu susu dulu, ya? Nanti kamu minum biar bayinya sehat."
"Hm. Makasih." ucap Mel kaku.
Raya terus memperhatikan Aji dan Mel.
"Mama mana, kak?" tanya Dian saat tidak mendengar suara cempreng sang mama.
"Ikut papa dinas luar." jawab Mel.
Dian mengangguk, paham.
"Yank, aku ke kamar dulu, ya? Mau ngepak barang yang mau di bawa. Barangmu mau sekalian di beresin?" kata Dian sambil mengelus rambut Raya penuh sayang.
"Iya. Barang aku udah aku beresin kemarin, Bib. Tinggal di bawa aja. Aku mau ngobrol dulu ama Mel."
"Baiklah. Habis ngepakin barang ntar aku buatin kamu jus. Mau?"
"Boleh."
Dian tersenyum. Sebelum pergi ke kamarnya ia sempatkan mencium kening sang istri. Merona wajah Raya menahan malu saat melihat Mel senyam-senyum ke arahnya.
__ADS_1
"Makin mesra aja nih pengantin tujuh bulan. Jangan-jangan... udah mau nyusul gue ya?!" goda Mel.
Mel yang tadinya merasa lemas tak bergairah menjadi bersemangat menggoda sahabat sekaligus adik iparnya itu.
Raya meringis, malu.
"Akhirnya jebol juga pertahanan lo, Ray. Kapan kalian belah durennya?" tanya Mel kepo. Tak henti-hentinya ia menggoda sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Paan sih, lo? Saru, iih!" wajah Raya memerah lagi. Mel tergelak melihat Raya yang tersipu malu.
"Kayaknya bener nih, Dian junior on the way."
"Siapa yang on the way, Mel?" tanya Aji yang tiba-tiba datang dengan segelas susu ditangannya.
"Nih, minum dulu." Aji menyodorkan susu itu pada Mel, lalu duduk di sofa berhadapan dengan Mel.
Mel meminum susunya di iringi tatapan Aji. Setelah Mel menghabiskan susunya, Aji mengambil gelas ditangan Mel sambil membersihkan sisa susu di bibir Mel dengan tisu.
"Sekarang cerita... siapa yang on the way?" tanya Aji sambil menoleh ke Raya.
Mel terkekeh saat ikut melirik Raya yang duduk di sebelahnya. Yang di lirik melotot.
"Itu Ji, Lena katanya mau on the way kemari. Mau curhat kayaknya." ujarnya sambil cengengesan melihat Raya menghela nafas lega.
"Lho Ay... mana Dian?" tanya Aji saat tak melihat Dian duduk di dekat mereka.
"Di kamarnya lagi beresin buku yang mau di bawa ke ruko."
Taklama Dian duduk di sebelah Raya sambil menyodorkan segelas jus jeruk pada istrinya.
"Minum, Yank. Haus kan?" katanya.
"Makasih, Bib." ucap Raya yang langsung meminumnya dengan senang hati.
"Kalian gak kuliah ya?" tanya Dian, yang ditujukan pada kakak dan Abang iparnya. "Lu udah dua hari gak kuliah, kak, ditambah yang kemaren." ujarnya lagi.
"Kayaknya kakak cuti dulu deh kuliahnya, dek. Gak kuat kalo pagi-pagi udah lemes gini." kata Mel.
"Udah bilang sama mama-papa?"
"Biar Aji nanti yang bilanginnya."
Dian menoleh ke Aji.
"Bang Aji udah selesai kuliahnya? Udah mau wisuda?" tanya Dian pada Abang iparnya.
"Rencananya mau melamar kerja di mana?"
"Di..."
"Gak usah kepo." sahut Mel cepat. "Aji udah kerja sambil kuliah. Kamu tuh yang harus cepat lulus sekolahnya. Gak lucu kan kalo lu masih sekolah udah punya buntut?" ledek Mel.
"Ish. Minggu depan gue udah mau kelulusan, kak. Lanjut kuliah, rencananya gue juga mau sambil kerja biar bisa nabung buat calon Dian junior. Ya, Yank?" Dian merangkul bahu sang istri yang dari tadi diam.
"Tuh Ji... yang mau on the way. Mau nyaingin gue." Mel meledek adik dan adik iparnya.
"Mel, iih! Mulutnya... tak sentil ya?!" Raya merengut, sebal terus digodain Mel. Pipinya merona karna malu.
"Ucapan adalah do'a, Yank. Kali aja ucapan kak Mel di denger sama Allah dan langsung dikabulkan. Aminin aja napa, Yank?"
Raya menghela napas, berat. "Iya, deh. Aamiin." ucapnya pasrah.
"Aamiin ya rabbal'alamiin." sambung Dian.
Mel dan Aji tertawa geli melihat pasangan didepannya.
__ADS_1
"Mudah-mudahan kamu selalu bahagia, Ay."