
Raya menatap Dada, lekat.
"Emang bang Dada gak punya pasangan buat pergi ke pesta itu?"
Ardana menggeleng. Raya tersenyum.
"Makanya, bang. Punya pacar jangan di umpetin, ntar basi." ejek Raya.
Dada ikut tersenyum.
"Paling bisa kamu, ya?!" Dada mengacak gemas rambut Raya.
"Loh... bener kok. Sayang kan kalo cantik-cantik diumpetin. Kalo aku sih ogah. Emang tuh cewek hasil nilep, makanya diumpetin?"
"Hahahaha!" Dada ngakak.
"Kebiasaan nih mulut, nyerocos gak pake rem." Dada mencubit gemas bibir Raya yang spontan manyun.
"Biasa aja tuh bibirnya, jangan cemberut gitu. Gemes Abang tau gak?"
Cepat-cepat Raya pun menutup mulutnya. Dan Dada kembali ngakak.
"Jadi deal ya, kamu ikut Abang ke rumah?" pinta Dada untuk kesekian kalinya.
Hampir dua jam pria tampan itu merayu Raya agar ikut dengannya, menginap dirumahnya dan pergi menemaninya ke pesta pernikahan temannya yang juga abang teman Raya sewaktu masih sekolah dasar.
"Kok masih mikir sih, Ay? Takut pacar kamu marah ya?" tanya Dada sedikit kesal melihat Raya yang terlihat enggan ikut dengannya.
"Aku gak punya pacar, bang. Ntar emak..."
"Abang udah ngomong dan minta izin sama makcik, dan diizinin kok."
"O. Oke kalo gitu. Kita berangkat." kata Raya yang langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menggubris Dada yang melongo, menatapnya beg*.
"Nih cewek kok ajaib banget, ya? Bentar bilang enggak, eh sedetik kemudian bilang iya. Benar-benar menguji nyali nih cewek." batin Dada, gemas.
"Ay! Ngapain ke kamar?" tanya Dada.
"Nyiapin baju ganti, bang. Emangnya Abang mau aku ke pestanya bang Dani pake celana jeans?"
"Emang kamu punya gaun?" tanya Dada, sangsi.
Dari balik tirai kamarnya, kepala Raya pun nongol sembari nyengir.
"Sudah ku duga." Dada menepuk jidatnya, pelan.
"Ya sudah. Ntar kita ke butik beli gaun. Kamu bawa aja baju untuk ganti di rumah nanti."
__ADS_1
"Uhm." Raya mengangguk, mengerti.
Dan sekarang Raya sudah duduk anteng di boncengan Dada. Dan ketika melewati sebuah butik Ardana pun menghentikan motornya.
"Yuk Ay, turun." ajak Ardana.
Ragu-ragu Raya pun turun dari motor. Saat masuk ke dalam butik, Raya hanya melongo melihat sekeliling butik.
"Ambil aja gaun yang sesuai dengan seleramu, Ay. Nanti Abang bantu pilih mana yang cocok buat kamu." kata Dada.
Raya masih berdiri ditempatnya.
"Ay?"
Raya menoleh. Dan ia pun meringis saat bersitatap dengan Dada. Pria tampan itupun menghela napas.
"Pasti dia bingung, nih!" pikir si tampan.
"Ayo Abang bantu pilihkan."
Dada menarik tangan Raya dan mengajaknya memilih baju yang akan ia pakai untuk ke pesta nanti.
"Nih. Cobain sana di kamar ganti." Dada memberi sebuah gaun cantik pada Raya.
"Uum..." Raya meneliti baju yang diberi Dada padanya.
Lima belas menit kemudian,
"Ay! Kok gak keluar-keluar? Abang pengen liat, Ay?!"
"Ah, anu... aku..."
"Keluar, Ay. Atau... Abang masuk ke dalam?" ancam Dada.
Taklama, pelan-pelan dengan wajah menunduk dan tangan kanan menutupi bagian dadanya serta tangan kiri menarik kuat gaun bagian bawah yang memang agak pendek, Raya pun keluar dari kamar pas dengan kikuk.
Hampir tersedak Dada menahan tawa melihat tingkah Raya.
"Sudah. Sana masuk lagi." perintah Dada. Raya pun masuk lagi.
"Nih. Coba yang ini." tangan Dada yang memegang gaun yang berbeda masuk ke dalam kamar pas.
"Eh..."
"Pakai. Atau Abang yang pakaikan!"
Terdengar helaan napas kesal dari dalam kamar. Dada cekikikan dari tempatnya duduk.
__ADS_1
"Kamu harus jadi yang tercantik di pesta nanti, Ay." batin Dada.
Dan, Dada pun nahan napas.
"Nah, ini baru pas. Pasti nanti bakal banyak cowok yang melirik kamu di pesta nanti, Ay." puji Dada saat melihat gaun pilihannya sangat cocok di tubuh mungil gadis itu.
Raya nyengir.
"Iya sih, bang. Gak ketat dan pendek kayak tadi. Cuma... risih. Aku gak biasa pake baju kayak gini."
"Mulai sekarang dibiasakan. Biar kamu jadi cewek tulen."
"Heh!" mata Raya melotot, seram. "Aku cewek asli, bang. Gak kw." serunya kesal.
Ardana terkekeh.
"Maksud Abang biar kamu lebih feminim dikit, Ay. Jangan pake jeans mulu, sekali-kali pake rok." ujar Dada.
Raya melengos. Dia paling tidak suka kalo cara berpakaiannya diatur-atur. Baginya, berpakaian itu harus yang nyaman. Raya nyaman memakai jeans dan kaos, dan itu memang baju favoritnya sejak kecil.
"Bukannya Abang mengatur kamu, Ay. Jangan marah dong, Abang kan cuma ngasih saran. Maafin Abang bikin kamu kesel?" Dada memegang kedua pipi Raya yang memasang wajah masam, seolah bisa membaca pikiran gadis itu.
"Ay? Jangan ngambek, dong. Abang minta maaf ya?""
"Kalo mau pulang buruan. Kalo gak mau, aku pulang sendiri aja." Raya kembali masuk ke kamar ganti. Taklama keluar lagi setelah berganti pakaiannya kembali.
"Iya, iya. Kita pulang sekarang. Tapi Abang bayar baju ini dulu." Dada berjalan ke kasir sambil menggenggam tangan Raya. Takut kalo Raya merajuk dan balik kerumahnya.
Di tengah perjalanan,
"Ay, besok kita ke pantai, yuk. Abang tau pantai yang bagus di B." ujar Dada setelah lama saling diam.
"Mending kita nyari jambu hutan, bang. Udah lama aku gak makan jambu hutan. Jadi kangen rasanya." request Raya.
"Kangen rasa jambu hutannya atau kangen Abang gendong waktu nyebrang sungai?" goda Ardana.
"Masih inget aja sih, bang Dada." Raya menepuk keras bahu Ardana hingga pria itu mengaduh.
"Aduh sakit, Ay! Emang Abang nyamuk ditepuk segitu kerasnya?" protes Dada.
Hehehe. Raya terkekeh.
"Sori, bang. Sengaja."
"Bales dendam ya?"
Raya pun nyengir.
__ADS_1