Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
Aku Butuh Kamu


__ADS_3

"Gak lama lagi aku akan pergi untuk waktu yang lama. Bisakah aku melepas rasa yang masih membelengguku hingga kini?"


Hufh!


"Bahkan hingga detik ini hatiku tetap memilihmu, kak Ray."


Firman mengusap wajahnya seraya menghempas nafas, pelan. Matanya lurus menatap sepasang suami-istri yang sedang berangkulan mesra sambil menatap laut dengan senyum


"Move on. Buang jauh pikiran lu buat suka sama istri orang. Dosa, bro!" sebuah tepukan pelan dibahunya menyadarkan Firman dari lamunannya.


Firman menoleh dan mendapati senyuman manis Lena.


"Kak..."


"Kenapa, bang? Cerita aja. Kak Len siap denger curhat kamu."


Firman menatap Lena penuh arti.


"Mau bantu gue gak, kak?" tanyanya.


"Boleh. Mau di bantu apa? Beli kolor lagi?" Lena sengaja menggoda pria tampan nan dingin itu.


Firman stay cool, bikin Lena mengerucutkan bibirnya.


Firman tergelak.


"Itu kenapa bibir dimonyongin kayak gitu? Kangen di cip*k bang Sena?" ledek Firman gak ada akhlak.


"Ngapain kangen dia? Kalo minta dicip*k lu pasti juga bisa ngasih kan?" jawab Lena santai seraya mengedipkan matanya genit, sengaja meledek adik sahabatnya itu.


"Sialan! Nih bocah tau aja gue kangen sama Sena." gerutu Lena dalam hati.


Senyum Firman terlihat sumringah.


"Oh, bisa! Bisa banget, kak. Beneran lo mau?" matanya pun berbinar-binar, girang.


Rona merah membias di pipi Lena. Niatnya meledek Firman, malah dia yang baper. 🤦


Lena melengos, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memanas, malu.


"Gak ah. Ntar lu minta ajarin gue lagi soal begituan. Lu kan belum pengalaman, bang." Lena balas meledek.


Firman tersenyum penuh arti.


Mmpf!


Bola mata Lena membulat. Tanpa aba-aba, apalagi permisi, Firman meraih tengkuk Lena dan mencium lembut bibir gadis itu.


"Mmh..."


Firman menahan kuat tengkuk Lena saat gadis itu berusaha mendorongnya dan melepas ciuman Firman. Dan itu membuat ciumannya pun semakin dalam.

__ADS_1


Dengan lihai bibir Firman bermain di bibir ranum milik Lena. Bukan hanya di bibir, lidahnya pun bergerilya hingga leher dan telinga gadis itu.


"Hemfh!" Lena menggigit bibirnya ketika bibir sexy Firman membuat tato abstrak dilehernya.


Saat tangan Firman mulai nakal, menyelusup masuk ke dalam kemeja Lena yang entah sejak kapan sudah terbuka dua kancingnya. Dengan cepat tangan gadis itu menahannya.


"Maaf!" ucap Firman lirih, menempelkan keningnya dengan kening Lena. Dan tangannya menggenggam erat tangan gadis itu.


"Hm." Lena hanya bisa berdehem tanpa mampu berkata. Ia merasa jantungnya terus berdegup tak beraturan.


"Mmfh! Mmh."


Lena memejamkan matanya saat Firman ******* kembali bibirnya dengan lembut.


"Kok gue jadi ketagihan ya?" batin Firman.


Lidah Firman terus bermain dengan lihainya, memaksa Lena untuk membuka bibirnya.


Tiba-tiba Lena mendorong kuat dada Firman hingga cowok ganteng itu pun terpundur ke belakang.


"Cukup!" desis Lena lirih. Wajahnya menunduk, menahan sesuatu yang bergejolak di dadanya.


"Loh? Kenapa? Bukannya lo yang minta tadi?" Firman masih terus menggoda Lena. Padahal dalam hatinya berusaha menahan debaran di jantungnya yang semakin berdetak heboh.


"Maaf, bang. Gak seharusnya gue minta yang enggak-enggak. Sekali lagi... maaf!"


"Kok gue sedih ya denger kak Len ngomong gitu?"


"Gak pa-pa. Gue sih malah ikhlas banget ngasih cip*kan gue buat lo. Sumpah!" dengan senyum tengilnya Firman berkata sambil mengacungkan dua jarinya.


Lena merengut, kesal.


"Haish! Itu sih emang maunya elu, bang." gerutunya sebal.


Firman tertawa ngakak.


"Lo harusnya bangga kak, bisa nikmati first kiss gue." goda Firman dengan konyolnya.


Lena mencibir.


"First kiss apaan? Sekian kiss iya?!" dengusnya.


"Heh, gak percayaan! Beneran itu! Lo cewek pertama yang gue cium."


Lena mendelik, melotot menatap Firman, tak percaya, seraya geleng-geleng kepala.


"Kalo dirasakan dari cara lu tadi... gue sama sekali gak percaya ama yang lu bilang. Lihai gitu, udah ngalahin lihainya cip*kannya mamas Ji Chang Wook gue." gumam Lena sambil membayangkan adegan ci*man artis kesayangannya di film-film yang dimainkannya.


"Kok lu tau? Emang lu pernah di cip*k si muka plastik itu?" cibir Firman yang paling anti dengan segala yang berbau Korea. 🤭


Lena nyengir. Tangannya garuk-garuk kepala yang tiba-tiba terasa gatal.

__ADS_1


Melihat itu Firman tersenyum geli.


"Ya udah. Kapan aja lu kangen cip*kan ama nyamuk, lu hubungi gue. Gue siap kapan saja dan dimana saja." ceplosan konyol terus Firman lontarkan untuk menggoda sahabat dari kakaknya itu.


"Ji Chang Wook, bang, bukan nyamuk!" ralat Lena kesal karna Firman sengaja mengganti nama artis favoritnya dengan nyamuk. 🤦


Firman terkekeh.


"Keseleo dikit lidah gue, jangan baper deh."


Lena melengos.


Firman pun makin keras tawanya.


"Kok gue seneng ya liat dia kesel gitu? Apalagi kalo bibirnya manyun... berasa pengen gue em*t abis tuh bibir." Firman menggeram dalam hati.


"Kenapa gue jadi ketagihan cip*k kak Len ya?" Firman menepuk jidatnya, pelan.


"Serius amat! Lo berdua lagi pada ngapain?" tiba-tiba Dian datang dan duduk menghadap Lena dan Firman.


Seketika wajah ceria Firman langsung butek.


"Kepo!" dengusnya. "Kak Ray mana? Biasanya lo nempel mulu di ketek bini. Pasti dihukum gak dapet jatah nih?!" ledek Firman lagi.


"Masih kecil jangan ngomongin jatah, pamali. Lo belum cukup umur, belum pantes ngomong yang begituan." jawab Dian cuek.


"Emang Raya kemana, dek?" giliran Lena yang nanya.


"Mandi."


"Kok mandi lama banget?" tanya Firman makin kepo.


"Biasalah, bro... buat persiapan sparing ntar malem."


"Sparing?" Lena mengernyitkan dahinya, bingung.


"He-eh. Sparing antara Mumu dan Juju."


Jawaban ambigu Dian membuat Lena makin puyeng mencerna arti dari perkataannya.


Firman menepuk jidatnya pelan melihat Lena yang kebingungan.


"Udahlah, kak. Jangan dipikirin omongannya Dian. Dia kalo ngomong bau, isinya sampah semua. Mending kita jalan-jalan aja yuk?" Firman menarik Lena, bangun dari duduknya.


Dian tertawa melihat Firman yang tampak begitu kesal dengannya.


"Jangan sirik lo, Man! Cepetan nikah makanya, biar Imron lo bisa sparing kayak Mumu gue." Dian makin gencar menggoda kembarannya itu.


"Dasar laki mes*m!" dengut Firman, kesal.


"Terima kasih, brother." dengan gokilnya Dian sengaja membungkukkan badannya saat mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


"Jangan lupa pesen gue." sambungnya lagi.


"Bodo amat!!!"


__ADS_2